Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kajian Penggunaan Ruang Pada Upacara Akad Nikah Bekasi 2

Kajian Penggunaan Ruang Pada Upacara Akad Nikah Bekasi 2

Ratings: (0)|Views: 74 |Likes:
Published by Jin Pohon Pinus

More info:

Published by: Jin Pohon Pinus on Oct 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

 
ANALISIS PENGGUNAAN RUANG PADA UPACARA AKAD NIKAH DI BEKASI
Waridah Muthi’ah
 NIM. 27110047
TUGAS 1 DESAIN DAN LINGKUNGAN BINAAN
1.
 
PENDAHULUAN1.1.
 
LATAR BELAKANG
Dalam konsep budaya tradisional, pernikahan selalu dipandang sebagai salah satu tahap yangpenting dalam kehidupan seseorang. Pernikahan tidak hanya dipandang dalam perspektif penyatuan dua manusia sejalan dengan fungsi biologis dan reproduksi. Dalam ranah kultural,pernikahan dihubungkan dengan pembentukan keluarga sebagai unsur terkecil pembentukmasyarakat, penyatuan dua keluarga, hingga dikaitkan dengan fungsi yang memiliki latar belakangkosmis.Dalam pernikahan, terdapat satu tahapan yang dipandang sebagai inti prosesi pernikahan itusendiri, yakni akad nikah. Keberadaan akad nikah dalam upacara pernikahan tradisional di masakini dapat dipandang sebagai upaya penggabungan tuntutan agama dengan tahap-tahap prosesipernikahan sebelum dan sesudahnya yang lebih mencerminkan nilai dan makna kultural. Akantetapi, dalam pelaksanaan akad nikah sendiri, nilai-nilai kultural yang dianut masyarakat jugamemegang peran penting. Hal ini terlihat utamanya pada tradisi pembagian ruang dan susunanacara dalam prosesi akad nikah yang berbeda-beda pada tiap daerah.Di daerah Bekasi yang secara tradisional mewarisi tradisi Betawi yang kental dengan pengaruhArab dan Cina, prosesi akad nikah tidak hanya menjadi acara pengesahan perkawinan secaraagama. Dengan populasi yang mayoritas menganut agama Islam, upacara akad nikah tradisionalBekasi memenuhi syariat Islam. Akan tetapi, bukan berarti prosesi akad nikah sama sekali bebasdari nilai-nilai kultural. Nilai ini tampak antara lain dalam susunan prosesi menuju dan setelah akadnikah, pembagian ruang antara keluarga mempelai perempuan dan mempelai laki-laki, sertakelengkapan-kelengkapan lain seperti mas kawin dan busana.Pembagian ruang dalam prosesi akad nikah tradisional Bekasi memiliki keunikan tersendiri, akantetapi pembahasan mengenai hal ini jarang didapatkan. Dengan demikian, perlu dilakukan kajiantersendiri mengenai hal tersebut dengan menimbang latar belakang kebudayaan dan nilai yangdianut oleh masyarakat setempat.
1.2.
 
FOKUS KAJIAN
Makalah ini akan mengkaji prosesi akad nikah di salah satu daerah sub-etnis budaya Betawi, yakniBekasi, dengan difokuskan pada analisis mengenai penggunaan ruang dan keterkaitannya dengannilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Bekasi, dihubungkan dengan konsep primordial padamasyarakat tradisional.
 
Dengan menimbang latar belakang di atas, muncul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:a.
 
Bagaimanakah latar belakang sub-etnik Bekasi?b.
 
Bagaimanakan prosesi akad nikah dalam tradisi Bekasi dan unsur yang mempengaruhinya?c.
 
Bagaimanakah pembagian ruang dalam upacara akad nikah?d.
 
Bagaimana hal tersebut merepresentasikan nilai yang dianut oleh masyarakat dikaitkandengan konsep primordial?
2.
 
KAJIAN PROSESI PERNIKAHAN TRADISIONAL DALAM SUB-ETNIK BEKASI2.1. SUB-ETNIK BEKASI
Sub-etnik Bekasi merujuk pada masyarakat penghuni wilayah Bekasi dengan latar belakang kulturBetawi. Adapun suku Betawi, menurutwww.kampungbetawi.com,adalah sebutan bagi sukubangsa yang mendiami Jakarta dan sekitarnya. Penyebutan sub-etnik Bekasi dilakukan untukmembedakan kebudayaan Bekasi dengan kebudayaan sub-etnik Betawi yang lain. Perbedaan inimuncul dari segi kultural, yakni latar belakang masyarakat Bekasi yang juga mengalamipercampuran dengan Jawa dan Sunda; dari segi kesejarahan, yakni perjalanan sejarah Bekasi mulaimasa Neolitikum hingga era reformasi; dan dari segi administratif, yakni masuknya Bekasi sebagaiwilayah Jawa Barat. Bekasi yang terletak di pinggiran Jakarta, dan masuk wilayah administratif JawaBarat, membuat masyarakat Bekasi sering disebut sebagai Betawi-Ora, yang berarti pengusungkebudayaan Betawi tapi bukan-Betawi. Akan tetapi juga berbeda dengan wilayah lain di JawaBarat, Bekasi juga bukan pengusung kebudayaan Sunda.Menurut Sagiman MD dalam Sopandi (2005:8), penduduk Betawi telah mendiami Jakarta dansekitarnya sejak era Neolitikum, yakni sejak abad ke-15 SM. Bukti keberadaan mereka ditemukandi situs Buni, kecamatan Babelan, Bekasi. Pada masa berikutnya, Bekasi menjadi bagian darikerajaan Salakanegara pada abad ke-2 M, yang bermula dari Dukuh Pulasari Pandeglang di pesisirbarat ujung pulau Jawa. Kerajaan Salakanegara ini didirikan oleh perantau dari India Selatan, dankemudian menjadi akar kerajaan Tarumanegara yang berkuasa hingga abad ke-7 atau ke-8.Keberadaan daerah sekitar Bekasi sebagai daerah pelabuhan yang penting tidak hanya ditunjukkanoleh Prasasti Tugu dan Ciaruteun, tetapi juga dari keberadaan kawasan candi di Karawang yangmenunjukkan bahwa pada masa itu, Bekasi dan sekitarnya tak hanya menjadi pusat perdagangandan pusat kerajaan, tetapi juga pusat keagamaan.Menurut Jakob Sumardjo (2002:75), secara kasar terdapat tiga arus besar budaya Indonesia, yaknibudaya Jawa agraris-sawah yang bercorak kehinduan, budaya Melayu ladang-kelautan yangkeislaman, dan budaya Indonesia Timur ladang-peramu yang kekristenan. Berdasarkan kaitandengan arus kebudayaan ini dan cara pandang mengenai dunia yang bersifat kosmos, Sumardjo(2002: 18-37) membagi pola pikir kosmik masyarakat Indonesia menjadi kesatuan dua, kesatuantiga, dan kesatuan lima/kesatuan sembilan.Kesatuan dua adalah cara pandang masyarakat yang mendasarkan segalanya dalam kerangkaoposisi biner, yang biasanya terdapat pada masyarakat peramu, pemburu, dan pengumpulmakanan
(food gathering).
Prinsip kesatuan tiga terdapat pada masyarakat ladang yang lebihkompleks, setengah produktif dan setengah konsumtif. Prinsip ini berpijak bahwa ada kekuatanperantara yang berada di tengah diagram oposisi biner, yang merupakan hasil refleksi danpersonifikasi mereka akan kekuatan alam. Sedangkan prinsip kesatuan lima dianut oleh masyarakatsawah yang produktif. Dalam masyarakat sawah yang mengutamakan etos kerja, hierarki ruang
 
menjadi penting, sehingga memunculkan kesadaran mengenai posisi berdasarkan mata angin,
dengan keberadaan ‘pusat’ yang memiliki kekuasaan besar.
Masyarakat Bekasi yang pada masa awal termasuk dalam masyarakat Sunda yang berciri ladang-kelautan, yang pada masa kerajaan Hindu Buddha mendapat pengaruh corak agraris. Integrasiantara kedua hal tersebut dapat dilihat pada pembangunan candi di wilayah yang dekat pantai,yakni Karawang, yang tidak bersesuaian dengan konsep candi sebagai representasi Meru, yaknigunung yang menjadi pusat dunia. Pada perkembangan selanjutnya, konsep ini mengalamipergeseran seiring dengan memudarnya kekuatan Hindu Buddha di wilayah ini dan kembalinyatradisi bercorak Sunda di Bekasi. Hal ini dikuatkan oleh kedatangan bangsa Melayu yang jugaberciri ladang-kelautan, serta masyarakat Cina dan Arab yang merupakan perantau yang bersifatbahari (kelautan). Pola kesatuan tiga yang semula dianut oleh masyarakat Sunda, termasuk Bekasi,mendapat pengaruh pola kesatuan lima yang dianut di Jawa.Setelah kerajaan Padjajaran lenyap oleh serangan kesultanan Banten, maka kesatuan-kesatuankampung asli Sunda yang tetap menganut paham kesatuan tiga, muncul kembali ke permukaan.(Sumardjo, 2002: 36). Pola inilah yang kemudian lebih memasyarakat dalam kultur Bekasi.Terutama dengan menimbang kaitan kultural dengan pedagang-pedagang asing sehubungan
dengan letak Bekasi di daerah pesisiran, Bekasi tidak mengenal konsep ‘pusat’ sebagaimana dianut
di kota-kota Islam dengan latar belakang Hindu-Buddha di Jawa. Masyarakat bekasi, sebagaimanamasyarakat Betawi, cenderung lebih bersifat egaliter dan bebas.
2.2. FUNGSI PERNIKAHAN DALAM KULTUR BEKASI
Dalam budaya tradisional, pernikahan merupakan salah satu tahap inisiasi dalam prosespendewasaan seseorang. Melalui pernikahan, seseorang benar-benar dianggap sebagai manusiayang mandiri, yang bergerak dari posisi yang semula sebagai subordinat dari sebuah unitpembentuk masyarakat yang dinamakan keluarga, membentuk unit baru yang terlepas dari unitkeluarga asal. Dalam unit baru ini, seseorang bergerak menjadi subjek utama dengan predikatsebagai kepala keluarga atau ayah dan kepala rumah tangga atau ibu. Keberadaan keluargamenjadi penting dalam masyarakat tidak hanya dalam fungsi reproduktif, tetapi juga fungsipedagogis berkenaan dengan penanaman nilai-nilai kultural dalam pembentukan anak sebagaianggota masyarakat.Namun, pernikahan dan pembentukan keluarga baru tidak membuat ikatan seseorang dengankeluarga asalnya putus begitu saja. Lewat pernikahan pula, dua keluarga yang berbeda menjalinhubungan kekerabatan. Khususnya dalam masyarakat yang menganut sistem ambilineal, yangmemandang hubungan kekerabatan dari ayah dan ibu sama kuatnya, ikatan antarkeluarga inimenjadi sangat penting.
2.3. PROSESI PERNIKAHAN TRADISIONAL BEKASI
Gaya pengantin tradisional Bekasi dikenal dengan sebutan Penganten Kembang Gede. Padadasarnya, gaya pengantin yang berkembang di Bekasi merupakan varian dari gaya pengantinBetawi, yang diwarnai oleh tradisi Islam (Arab), Cina, dan Eropa. Namun, pada perkembangannya,

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->