Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Filsafat Pendidikan Menurut John Locke Dan John

Filsafat Pendidikan Menurut John Locke Dan John

Ratings: (0)|Views: 471 |Likes:
Published by anon_351721395

More info:

Published by: anon_351721395 on Oct 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2013

pdf

text

original

 
Filsafat Pendidikan Menurut JohnLocke dan John Dewey
(Oleh: Koko Istya Temorubun, ss)Pendahuluan
Dalam tugas ini kami membahas pertama-tama tentang pemikiran-pemikiran JohnLocke dan John Dewey seputar manusia dan dunia pendidikan dari segi filsafati.Pemikiran John Locke dan John Dewey tentang filsafat pendidikan berangkat dari pemikirannya tentang manusia. Karena itu sebelum membahas mengenai pandangan mereka tentang pendidikan terlebih dahulu kami menguraikan sedikittentang manusia sebagai bagian dari pokok pemikirannya tentang filsafat pendidikan.Berdasarkan pandangan mereka kami mencoba melihat relevansinya bagi perananguru dalam proses mengajar dan peranan siswa dalam proses belajar.
I. Filsafat Pendidikan Menurut John Locke dan John Dewey1. John Locke1.1. Pokok Pikiran Filosofis John Locke
Pemikiran filosofis John Lucke menampilkan perhatiannya yang begitu besar bagikondisi natural alam dan manusia. Maksudnya John Lucke menampilkan sistem pemikiran filosofis yang berbasis pada kondisi natural. Pemikiran Lucke tentangalam dan manusia ditempatkannya dalam konteks pengalaman sebagai dasar dari perkembangan hidup manusia.Locke mengaskan bahwa tak ada realitas lain yang lebih tinggi dari pada duniaempiris. Dunia itu berisi kualitas-kualitas primer yang menjadi dasar dan pembentuk manusia. Tanpa
 sustratum
material yang ada dalam alam, manusia tak dapat membayangkan adanya kualitas-kualitas sekunder yang ditangkap oleh pancaindra dan yang direfleksikan oleh akal budi. Tak ada realitas lain yang lebihtinggi dari pada dunia indrawi. Hal ini berarti, alam menjadi sumber pengalamandan pengetahuan manusia. Semua pengetahuan manusia dapat tergantung pada penglihatan aktualnya dan pengalaman indrawinya dengan obyek-obyek material.Dalam kontak tersebut, pancaindra menangkap obyek-obyek itu, dan dengan bantuan akal budinya, obyek-obyek itu dianalisa dan direfleksikan. Oleh sebab itu, bagi John Locke sendiri, menolak adanya faktifisasi obyek meterial, identik denganmenyangkan eksistensi pengetahuan.Pandangan Locke tentang manusia berangkat dari penolakannya terhadap teoriinnatisme[1]yang mengakui adanya ide-ide bawaan dari diri manusia. Ia berpendapat bahwa manusia tidak dapat menghasilkan pengetahuannya dari dirinya
 
sendiri.[2]Ketika lahir, manusia bagaikan kertas putih yang baru dan belum terisi. Dalam dirinya tidak ada ide yang diwariskan oleh Allah, tak ada ide tentangkebenaran moral dan kebaikan,[3]bahkan kecenderungan atau kebiasaan-kebiasaan  bawaan. Akal budi masih kosong. Namun dalam situasi yang kosong itu, manusiasadar bahwa ia tidak bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi eksistensinya.Dalam usaha untuk mewujudkan eksistensinya tersebut, manusia mulai membangunkontak dengan lingkungan sekitarnya dan membentuk dalam dirinya pengalaman- pengalaman akan setiap obyek yang dihadapinya. Konsekuensinya, akal budimanusia mulai terisi dan ia menjadi person yang rasional.Penolakan Locke atas ide bawaan mendukung usaha individu dalam kebutuhannyauntuk mendapatkan pengetahuan dari pengalaman.[4]Menurutnya, seorang dapatmenjadi budak atau bebas ditentukan oleh hak-hak kodrati seperti hak hidup,kebebasan dan hak milik.[5]Dengan demikian, Locke menampilkan karakter dasar manusia sebagai makhluk rasional dan moral.[6]Menurut Locke, secara kodratimanusia itu baik dan tanpa cela. Dalam kondisi alamiahnya itu, ia menjadi personyang bebas untuk menentukan dirinya dan menggunakan hak miliknya tanpatergantung pada kehendak orang lain.[7]Namun dalam kebebasannya tersebut,manusia harus tinggal dan membentuk satu masyarakat politis, di mana seluruhanggotanya memiliki hak dan kebebasan yang sama. Serentak juga ia sadar bahwasemua manusia sama. Dalam kebersamaan tersebut, mereka mempercayakankekuasaan kepada penguasa dengan syarat bahwa hak-hak kodrati itu dihormatioleh penguasa-penguasa tersebut[8]dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaanhidup.
1.2. Pandangan John Locke Tentang PendidikanA. Tujuan Pendidikan
Dalam pandangannya tentang filsafat ilmu pengetahuan, Locke mengemukakantentang beberapa tujuan dari pendidikan, yakni
 pertama
, pendidikan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran setiap manusia (bangsa). Oleh sebab itu,sebagai bagian akhir dari pendidikan, pengetahuan hendaknya membantu menusiauntuk memperoleh kebenaran, keutamaan dan kebijaksanaan hidup.[9] 
 Kedua,
pendidikan juga bertujuan untuk mencapai kecerdasan setiap individudalam menguasai ilmu pengetahuan sesuai dengan tingkatannya. Dalam konteks itu,Locke melihat pengetahuan sebagai usaha untuk memberantas kebodohan dalamhidup masyarakat.[10] Setiap manusia diarahkan pada usaha untuk  mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya.
 Ketiga,
 pendidikan jugamenyediakan karakter dasar dari kebutuhan manusia untuk menjadi pribadi yangdewasa dan bertanggungjawab.[11]Dalam arti ini, pengetahuan dilihat oleh JohnLocke sebagai sarana untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang bermoral.[12]Seluruh tingkah laku diarahkan pada usaha untuk membentuk pribadi manusiayang baik, sesuai dengan karakter dasar sendiri sejak diciptakan.
 Keempat 
, pendidikan menjadi sarana dan usaha untuk memelihara dan membaharui sistem pemerintahan yang ada.[13]
B. Hakekat Pendidikan
 
Menurut Locke, seluruh pengetahuan pada hakekatnya berasal dari pengalaman.Apa yang kita ketahui melalui pengalaman itu bukanlah obyek atau benda yanghendak kita ketahui itu sendiri, melainkan hanya kesan-kesan pada pancaindra kita.Dalam bukunya
 An Essay Concerning Human Understanding,
Locke berpendapat bahwa ide datang dari dua sumber pengalaman, yaitu pengalaman lahiria(
 sensation
) dan pengalaman badaniah (
reflektion
).[14]Kedua pengalaman ini saling menjalin. Locke melukiskan bahwa pikiran sebagai sesuatu lembaran kosong yangmenerima segala sesuatu dari pengalaman. Materi-materi diperoleh secara pasif melalui pancaindra dan dengan aktivitas pikiran materi-materi itu disusun menjadisuatu jaringan pengetahuan yang disebutnya sebagai
reflection
.[15]Materi-materiyang berada di luar kita menimbulkan di dalam diri kita gagasan-gagasan dari pengalaman lahiriah. Oleh Locke, gagasan-gagasan ini diberdakan atas gagasan-gagasan tunggal (
 simple ideas
) dan gagasan-gagasan majemuk (
complex ideas
).Gagasan-gagasan tunggal muncul kepada kita melalui pengalaman, tanpa pengolahan secara logis sedangkan gagasan-gagasan majemuk timbul dari perpaduan gagasan-gagasan tunggal.C
. Metode Pendidikan
Pada dasarnya Locke menolak metode pangajaran yang biasa disertai denganhukuman. Baginya, tata krama dipelajari melalui teladan dan bahasa dipelajarimelalui kecakapan.[16]Dengan demikian metode yang ditawarkan Locke adalah pelajaran melalui praktek. Metode harus membawa para murid kepada praktek aktivitas-aktivitas kesopanan yang ideal sampai mereka menjadi terbiasa.[17]Anak-anak pertama-tama belajar melalui aktivitas-aktivitas yang dilakukan, barukemudian tiba pada pengertian atau pengetahuan atas apa yang ia lakukan.
D. Kurikulum Inti
John Locke menegaskan kurikulum harus diarahkan demi kecerdasan individual,kemampuan dan keistimewaan anak-anak dalam menguasai pengetahuan dan bukan pada pengetahuan yang biasa diajarkan dengan hukuman yang sewenang-wenang.Kurikulum bagi kaum miskin hendaknya difokuskan pada ibadat yang teratur demimemperbaiki kehidupan religius dan moral, pada kerajinan tangan dan ketrampilan pertanian, pada pendidikan kesenian, dengan suatu maksud bahwa para murid harus belajar membaca, menulis dan mengerjakan ilmu pasti.[18]Menurut Locke perkembangan kepribadian yang baik terdiri dari tiga bagian:kebajikan, kebijaksanaan dan pendidikan. Pendidikan ini mencakup membaca,menulis dan ilmu menghitung, bahasa dan kesusastraan, pengetahuan alam, pengetahuan sosial dan kesenian.[19]Ia juga menekankan studi geografi, aritmatika, astronomi, geometri, sejarah, etika, dan hukum sipil.
2. John Dewey2.1. Pandangan Filosofis John Dewey
[20]Pandangan Dewey tentang manusia bertolak dari konsepnya tentang situasi

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Ting Ting Fiona liked this
Antoxx Felox liked this
Nora Ali liked this
Say CLalu Ctia liked this
Atiem Gatas liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->