Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Penggabungan Laporan Keuangan Dan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah

Penggabungan Laporan Keuangan Dan Laporan Kinerja Instansi Pemerintah

Ratings: (0)|Views: 32 |Likes:
Published by Arief Hakim P Lubis

More info:

Published by: Arief Hakim P Lubis on Oct 31, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

pdf

text

original

 
 J
URNAL
 
A
KUNTANSI
 
P
EMERINTAHVol. 2, No. 2, November 2006Hal 1 - 15
Penggabungan Laporan Keuangan dan Laporan KinerjaInstansi Pemerintah:Perkembangan dan Permasalahan
Akhmad Solikin, SE, Ak, MA[1]
Abstract:
Before enactment of Government Regulation Number 8/2006, Accountability Report and Financial Report are disclosed separately. In order to implement performancebudgeting, it is mandatory to combine governmental accounting system and performance management system. Since in Indonesia those systems are in early stepof development, such combination still has numbes of problems. This article willelaborate problems of current system and try to offer recommendation derived fromliterature reviews.
 Kata Kunci: Laporan Keuangan, Laporan Kinerja, Laporan Tahunan, PenggabunganLaporan Keuangan dan Kinerja, Sistem Akuntansi Pemerintah (SAP), SistemAkuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP)
A.
 
Pendahuluan
Sejalan dengan perkembangan gagasan yang terjadi di berbagai negara, peranannegara dan pemerintah bergeser dari peran sebagai pemerintah (
government 
)menjadi kepemerintahan (
governance
). Pergeseran peran tersebut cenderungmenggeser paradigma klasik yang serba negara menuju paradigma yang lebih
 
memberikan peran kepada masyarakat dan swasta. Berdasarkan PeraturanPemerintah Nomor 101 Tahun 2000 disebutkan bahwa dalam paradigmakepemerintahan yang baik (
good governance
) terdapat prinsip-prinsip profesionalitas,akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efisiensi, efektivitas, dansupremasi hukum (Suhadi & Fernanda, 2001). Dalam bahasa yang lebih sederhana,terdapat tiga prinsip utama dalam kepemrintahan yang baik yaitu partisipasi,transparansi, dan akuntabilitas (Simanjuntak, 2005). Tiga prinsip itu berlaku universal.Selain tiga prinsip itu, ada ahli yang menambahkan satu unsur lagi, misalnya hakasasi manusia (
human rights
) atau
rule of law
(Seger dan Billah, 2006).Perkembangan wacana di tingkat global tentang
new public management 
(NPM) jelasberpengaruh pada perkembangan wacana
good governance
di Indonesia (Solikin,2005). Hal ini ditambah lagi dengan pelajaran yang dapat diambil dari krisis ekonomiyang dimulai dari krisis keuangan tahun 1997. Berkaitan dengan krisis tersebut,Indonesia dan negara-negara lain di kawasan, banyak diceramahi tentang kurangnyatransparansi dan pentingnya tata pemerintahan yang baik. Menurut penilaian Stiglitz(2006), Indonesia sungguh-sungguh meresapi pesan-pesan tersebut dan mulai adaperubahan cara berpikir.Perubahan cara berpikir tersebut kemudian berbuah dengan penerbitan peraturanperundangan untuk melaksanakan tata pemerintahan yang baik. Sebagai contoh,dalam rangka lebih meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdayaguna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab, pemerintah mengeluarkanInstruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 (Inpres 7/1999) tentang Akuntabilitas KinerjaInstansi Pemerintah. Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) tersebut dipandangperlu untuk mengetahui kemampuan setiap instansi dalam pencapaian visi, misi dantujuan organisasi. Pada praktiknya, LAKIP menggantikan Laporan Tahunan yang harusditerbitkan oleh instansi pemerintah. Pada awalnya, gerakan ini diawali dari BadanPengawasan keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang kemudian melibatkanKementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN, dulu KementerianNegara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan AparaturNegara) serta Lembaga Administrasi Negara (LAN).Dalam kaitan dengan pengelolaan keuangan negara, pemerintah dengan persetujuanDPR RI telah berhasil menetapkan paket perundang-undangan di bidang keuangannegara, yaitu Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 (UU 17/2003) tentang KeuanganNegara, UU Nomor 1 tahun 2004 (UU 1/2004) tentang Perbendaharaan Negara, danUU Nomor 15 tahun 2004 (UU 15/2004) tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Ketiga UU tersebut menjadi dasar bagi reformasidi bidang keuangan negara, dari administrasi keuangan (
financial administration
)menjadi pengelolaan keuangan (
financial management 
). Reformasi keuangan negaraini dipelopori oleh Departemen Keuangan, sesuai dengan tugas dan fungsinya.Meskipun berpijak dari cara berpikir dan cita-cita yang sama, tetapi karenadikembangkan oleh instansi yang berbeda, pada tahap awal, tampaknya kedua jenislaporan ini berjalan sendiri-sendiri. Dengan disajikan terpisah dan dilaporkan kepadapihak-pihak yang berbeda, tidak dapat dipetik manfaat maksimal dari penyusunan
 
dua jenis laporan tersebut.Dalam UU 17/2003 disebutkan bahwa masalah yang tidak kalah pentingnya dalamupaya memperbaiki proses penganggaran di sektor publik adalah penerapananggaran berbasis prestasi kerja. Dalam rangka penerapan anggaran berbasis kinerjatersebut,perlu dilakukan penyatuan sistem akuntabilitas kinerja ke dalam sistempenganggaran. Apabila kedua hal tersebut tidak disatukan, dapat terjadi duplikasidalam penyusunan rencana kinerja dan rencana anggaran. Lagipula, sistem anggaranberbasis kinerja tentu saja memerlukan informasi yang dihasilkan oleh sistemakuntabilitas kinerja. Dengan penyatuan rencana kerja dan anggaran kementeriannegara/lembaga/perangkat daerah, sekaligus dapat terpenuhi kebutuhan untukanggaran berbasis pretasi kerja dan pengukuran akuntabilitas kinerja instansi yangbersangkutan (Nasution, 2004).Dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 (PP 8/2006)tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah kebutuhan akanpenggabungan kedua jenis laporan tersebut cukup terpenuhi. Bahkan Penjelasan PPini juga menyebutkan perlunya pengintegrasian sistem akuntabilita instansipemerintah dengan sistem perencanaan strategis, sistem penganggaran, dan sistemakuntansi pemerintahan. Sistem yang sangat terintegrasi tersebut diharapkan dapatmenggantikan Inpres 7/1999.Meskipun sudah menjawab sebagian masalah, kemungkinan masih ada masalah lainyang belum terpecahkan atau setidaknya untuk mengoptimalkan manfaat daripenggabungan kedua jenis tersebut. Paper ini berusaha memotret masalah yangmasih ada. Agar potret yang disajikan lebih utuh, terlebih dahulu dibahas mengenaiperkembangan ide mengenai laporan kinerja dan laporan keuangan pemerintah.Potret kondisi sekarang tersebut kemudian diperkaya dengan studi literatur terkaitdengan isi (
content 
) dari laporan akuntabilitas.Uraian dalam paper ini dibatasi pada pelaporan keuangan dan kinerja pada instansipemerintah pusat, sehingga tidak membahas pelaporan keuangan pada pemerintahpropinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
B.
 
Pelaporan Akuntabilitas Kinerja
Menurut Soedarjono (1997) usaha-usaha untuk menerapkan pelaporan kinerjapemerintah dapat ditelusuri sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun1997/1998 Memang secara faktual, peraturan yang berkaitan baru ditetapkan dalambentuk Inpres 7/1999.Dalam Inpres 7/1999 tersebut disebutkan bahwa Laporan Akuntabilitas KinerjaInstansi Pemerintah merupakan alat untuk melaksanakan akuntabilitas kinerja instansipemerintah. Tujuan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah adalah untukmendorong terciptanya akuntabilitas kinerja instansi pemerintah sebagai salah satuprasyarat untuk terciptanya pemerintah yang baik dan terpercaya. Sedangkan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->