Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword or section
Like this
2Activity
×

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
45937183 Memperbaharui Sikap Agama Terhadap HIV AIDS

45937183 Memperbaharui Sikap Agama Terhadap HIV AIDS

Ratings: (0)|Views: 3,282|Likes:
Published by Rico Sitohang

More info:

Published by: Rico Sitohang on Nov 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/07/2013

pdf

text

original

 
1
EDITORIAL
MEMPERBAHARUI SIKAPAGAMA-AGAMA TERHADAP MASALAH HIV/ AIDS
Lingkup persoalan HIV/ AIDS bukanlah semata-mata persoalan medis, yang mana lembaga-lembaga keagamaan tidak mempunyai kompetensi untuk melakukan tindakan apapun terhadapmasalah yang ditimbulkan oleh virus ini. Pada masalah ini terdapat dimensi sosial yang pentingdiperhatikan ketika berupaya menghambat laju penyebaran dan pendampingan pada orang-orangyang terinfeksi (sering disingkat ODHA: Orang Dengan HIV/ AIDS). Untuk maksud ini mutlak dibutuhkan keterlibatan masyarakat untuk bersama-sama menghadapi masalah yang terkait dengankualitas hidup manusia dan komunitasnya.Sayangnya mengenai persoalan HIV/ AIDS ini terdapat persepsi dan sikap tertentu yangberkembang didalam masyarakat yang tidak mendukung upaya-upaya pencegahan meluasnyapenyakit ini, bahkan sebaliknya, pada banyak kesempatan dan dalam taraf tertentu menambahpenderitaan ODHA dan keluarganya.Ada peran aktif yang sesungguhnya dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga, pimpinan,imam, maupun para pengajar agama yang terjun langsung didalam kehidupan masyarakat yangmana hal itu terlambat dilaksanakan karena berbagai salah persepsi terhadap persoalan ini.
Salah Persepsi
Hingga saat ini masih banyak umat beragama yang beranggapan bahwa AIDS adalahpenyakit yang dialami seseorang sebagai hukuman dari Tuhan, sebagaimana Tuhan pernahmenghukum umat Nabi Luth (seperti yang terekam di dalam kitab suci agama Kristen dan Islam),atau itu suatu karma dari perbuatan buruk. Oleh karena itu di beberapa kalangan muncul rasaantipati terhadap ODHA, menganggap mereka sebagai orang yang amoral yang sedangmenanggung akibat perbuatannya. Tidaklah sedikit cerita yang mengisahkan bagaimana ODHAdikucilkan dan 'dihukum' oleh masyarakat hingga mengalami kesakitan berkepanjangan dankesepian sampai ajal menjemput. Padahal diantara para ODHA adalah istri-istri yang budiman dananak-anak yang suci. Tidak sedikit pula gambaran bagaimana lembaga-lembaga agama,ruhaniawan, alim ulama yang dalam kasus lain begitu peduli, namun untuk kasus ini jangankanmengklarifikasi pandangan masyarakat tentang HIV/ AIDS tapi justru membiarkan begitu sajakematian dalam penderitaan berkepanjangan. Sangat mungkin ketidakpedulian itu berlatar belakangketidaktahuan.
 
2Ketidaktahuan menimbulkan kegelapan hati dan jauh dari tindakan bijak, yang terutamatampak dalam aksi pengucilan terhadap para ODHA. Masyarakat yang terlibat aksi pengucilanterhadap ODHA kemungkinan beranggapan, pertama karena kekhawatiran akan tertular penyakitini menyentuh atau bertatapan saja dapat menyebabkan terinfeksi virus ini. Kedua, sebagaikelanjutan dari anggapan bahwa ODHA adalah orang yang sedang menanggung akibat daritindakan yang melanggar susila maka orang yang menemani ODHA pun dianggap sebagai bagiandari 'orang yang amoral' atau orang yang setuju dengan tindakan-tindakan amoral. Ternyataprasangka melahirkan prasangka juga. Tanpa disadari akhirnya muncul anggapan pemikiran bahwamasalah HIV/ AIDS adalah masalah moral. Masalah menjadi berlarut-larut karena tokohmasyarakat (dan khususnya tokoh-tokoh agama) membiarkan diri dalam ketidakpahaman terhadapHIV/ AIDS.Akibat aksi 'penghukuman' yang dilakukan masyarakat ini, jarang orang yang beresikotertular virus ini dengan sukarela memeriksakan darah atas kesadaran sendiri, akibatnya paraODHA tidak dapat berperan aktif dalam menghambat penularannya kepada orang lain.Ketika masyarakat mulai menyaksikan dalam berbagai laporan media tentang anak-anak danpara istri yang setia-budiman menjadi ODHA, hal ini tidak dengan sendirinya menimbulkandorongan pada masyarakat untuk mengoreksi sikap-sikap mereka. Demikian juga pihak-pihak yangdianggap kompeten untuk berbicara masalah moralitas tidak dengan sendirinya menjadi terusik untuk mengklarifikasi pandangan-pandangannya dan menyampaikan pada masyarakatpendukungnya.
Dimana Peran Agama?
Dalam perspektif religius, masalah HIV/ AIDS adalah suatu peringatan pada setiap orang,bahwa ada krisis dalam penyelenggaraan kehidupan bersama. Mungkin akarnya berada didalamkehidupan keluarga yang tidak berhasil membangun pembelajaran bagi anggota-anggotanyasehingga memunculkan karakter yang rapuh untuk menghadapi banyaknya pilihan yangmempertaruhkan kualitas kehidupan. Mungkin juga struktur sosial-ekonomi yang diwarnaiketidakadilan sehingga, (dalam struktur yang timpang ini) memunculkan lapangan pekerjaan yangsangat riskan dalam melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, dimana kalangan yang tidak beruntung sering terjebak di dalamnya.Dalam situasi ini tidak pada tempatnya lembaga-lembaga agama bersikukuh dengan kacamata hitam-putihnya menuntut apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan oleh umat ataumasyarakat. Dengan menghakimi situasi masyarakat termasuk mengadili para ODHA, agama-agama tidak bisa memberi peran apa pun ditengah ketidakadilan yang sangat menyulitkan ini.
 
3Banyak problem kemanusiaan yang terlambat ditanggapi agama-agama, salah satunya adalahpermasalahan HIV/ AIDS.Tidak ada cara lain bagi institusi-institusi keagamaan selain memperbaharui wacana yangdikembangkan agar lebih bisa menjadi berkat, rahmat dan memberi damai dalam kehidupan. Agamasudah seharusnya menjadi ‘obat’ bagi masalah kehidupan (termasuk masalah HIV/ AIDS),bukannya menjadi ‘racun’ yang memperburuk masalah[]SalamRedaksi

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->