Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sts

Sts

Ratings: (0)|Views: 368|Likes:
Published by Mariana Ade Cahaya

More info:

Published by: Mariana Ade Cahaya on Nov 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

 
 
PENDEKATAN KONSEPSAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM)DALAM PEMBELAJARAN
MATA KULIAH : PENGAJARAN BIOLOGI
Oleh:NUNI RISMAYANTI NURQALBI (1200981)RANTI AN NISAA (12012090)BIOLOGI 1BPROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGIPROGRAM PASCASARJANAUNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIABANDUNG2012
 
 
 
PENDEKATAN KONSEP SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM)DALAM PEMBELAJARAN
1.
 
Sejarah Perkembangan STM
 Istilah STS untuk pertama kali diciptakan oleh John Ziman dalam bukunya
“Teaching and Learning About Science and Society”.
Ziman mencoba mengungkapkanbahwa konsep-konsep dan proses-proses sains yang diajarkan seharusnya relevan dengankehidupan siswa sehari-hari (Galib, 2001).
 
Yager dan Roy (Galib, 2001) menyatakan sejarah singkat STS sebagai berikut.Mulai tahun 1970, beberapa universitas di AS, Cornell, Penn State, Stanford, dan SUNY-Stock Brook, secara resmi memulai program yang menawarkan pelajaran pada bidangstudi yang sekarang disebut STS/STM. Hal yang sama juga dilakukan pada konsorsiumuniversitas di Inggris. Kemudian secara berangsur beberapa negara dan lembaga lainbekerja sama, menjadi penelitian utama universitas, dan sekitar 100 lembaga menjadikanSTM sebagai bidang akademik. Sebagai suatu momentum perkembangan STM, padatahun 1977 muncul sebuah proyek yang disebut
 Norris Harms’ Project Synthesis
denganempat tujuan utama, yaitu: (1) mempersiapkan siswa untuk menggunakan sains bagipengembangan hidup dan mengikuti perkembangan dunia teknologi; (2) mengajar parasiswa untuk mengambil tanggung jawab dengan isu-isu teknologi/masyarakat; (3)mengidentifikasi tubuh pengetahuan fundamental sehingga siswa secara tuntasmemperoleh kepandaian dengan isu-isu STM; dan (4) memberikan suatu gambaran yangakurat kepada siswa tentang peersyaratan dan kesempatan dalam karir yang tersediadalam bidang STM.Setelah proyek tersebut dilaporkan pada tahun 1981 (Harms dan Yager dalam Galib,2001),
The National Science Teachers Association (NSTA),
berinisiatif melakukan suatupenelitian untuk meningkatkan mutu program pendidikan sains. Dalam hal itu, STMmerupakan salah satu bidang penelitian awal pada tahun 1982-1983 dan juga tahun 1986.Sejak itu, STM menjadi fokus bagi sekolah sains untuk mengidentifikasi tujuan-tujuanbaru, kurikulum baru, modul-modul, strategi pembelajaran yang baru, dan bentuk-bentuk baru untuk evaluasi. Hal itu telah digunakan dalam pembaruan pendidikan sains di Iowasejak dimulai suatu program Chautauqua NSTA-NSF pada tahun 1983 (Yager dalamKing). Dan sekarang, sudah lebih dari 1.700 guru, khususnya pada kelas 4-9 telahmengembangkan dan memperkenalkan modul-modul STM dalam ruang kelas sainsmereka. Dalam tahun 1990 di AS, STM telah diperkenalkan pada 2000 fakultas dan 1000SLTA dalam bentuk pelajaran (Harms dan Yager dalam Galib, 2001).Pendekatan STM merupakan merupakan pendekatan pembelajaran, dikembangkanberdasarkan pada filosofis kontruktivisme baru diperkenalkan di Indonesia pada awaltahun 1990-an yang telah diuji coba dan dilakukan di berbagai sekolah di Jawa Barat dandaerah lain di Indonesia(http://pelangi.dit-pp.go.id).
2.
 
Hakikat Pendekatan STM
Salah satu hakekat pendidikan adalah proses mengarahkan anak pada pertumbuhanyang makin sempurna. Melalui pendidikan anak diharapkan dapat diarahkan secara
 
 
terprogram untuk mencapai penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentudemi tugas-tugas profesional dan hidup. Dalam hal ini, pendidikan mengarahkan anak pada hal yang bersifat
occupation-oriented 
atau
training for life.
Pendidikan sains memiliki peran yang penting dalam menyiapkan anak memasukidunia kehidupannya. Sains pada hakekatnya merupakan sebuah produk dan proses.Produk sains meliputi fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Sedangkan proses sainsmeliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yangmencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap. Olehkarena itu, sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas pengamataneksperimen dan induksi.Sains melandasi perkembangan teknologi, sedangkan teknologi menunjangperkembangan sains. Sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upayamemperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam serta untuk aktivitas invention(penemuan) berupa rumus-rumus. Sedangkan teknologi merupakan aplikasi sains yangterutama dalam kegiatan invention, berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhikebutuhan masyarakat. Dalam hal ini, pengembangan sains tidak selalu dikaitkan denganaspek kebutuhan masyarakat, sedangkan pengembangan teknologi selalu dikaitkandengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian sains, teknologi dan masyarakatmerupakan bagian yang tak terpisahkanDalam kurikulum pendidikan nasional tahun 2006, pendidikan sains merupakankelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemberian mata pelajaransains bagi anak dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi ilmu pengetahuan danteknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri. Prinsippengembangan kurikulum didasarkan bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa,berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yangdemokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebutpengembangan kompetensi peserta didik harus disesuaikan dengan potensi,perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.Dalam realitasnya, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang secara dinamis.Semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkansecara tepat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menjamin relevansi dengankebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usahadan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilanberpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasionalmutlak harus dilaksanakan.Dengan demikian, pembelajaran sains semestinya dapat dikaitkan denganpengalaman keseharian anak. Sebagai bagian dari anggota masyarakat, anak dapatdibiasakan untuk menemukan masalah dalam lingkungan lokal maupun secara global, danmerumuskan solusi ilmiah yang mengaitkan dengan konsep sains yang sedangdipelajarinya. Pembelajaran sains dapat berekspansi keluar dari sekedar mempelajaripengetahuan menuju ke penggunaan pengetahuan dan keterampilan dalam menyelesaikanmasalah-masalah praktis yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-sehari. Ketika

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->