Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mahkum Fiih Dan Mahkum 'Alaih

Mahkum Fiih Dan Mahkum 'Alaih

Ratings: (0)|Views: 498|Likes:
Published by Gilar Dbara

More info:

Published by: Gilar Dbara on Nov 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/30/2012

pdf

text

original

 
A.PENDAHULUAN
Manusia sebagai mahluk Allah SWT yang diamanatkan untuk menjadi khalifah dimuka bumi ini telah diberi hak dan kewajiban untuk menjaga bumi ini. Segala aspek kehidupannya tidak boleh seenaknya sendiri haruslah berdasarkan hukum-hukum yangtelah Allah SWT buat dan selalu berniat untuk mendapat ridho-Nya. Dalam menaungikehidupannya di muka bumi ini, manusia telah diberi oleh Allah SWT petunjuk-petunjuk  baik perintah atau larangan yang terkandung dalam Al-quran agar kita tidak tersesatmenuju jalan yang sesat sehingga terjerumus ke jalan hina berujung neraka. Perintah danlarangan merupakan suatu hukum yang harus kita patuhi agar kita selamat di dunia danakhirat nanti.Allah SWT sebagai pembuat hukum (Hakim) menjadikan perbuatan seorang
mukallaf 
sebagai objek hukum (Mahkum Fiih) serta
mukallaf 
atau orang yangdikenai/dibebankan kepadanya suatu hukum sebagai subjek hukum (Mahkum ‘Alaih).Dalam makalah ini kami hanya membahas tentang subjek dan objek kajian hukum atatMahkum Fiih dan mahkum ‘Alaih.
B.PEMBAHASAN1.Mahkum Fiih
Mahkum Fiih adalah Objek hukum, yaitu perbuatan seorang
mukallaf 
yang berhubungan dengan hukum syari’ (Allah dan Rasul-Nya), yang bersifat tuntutanuntuk mengerjakan, tuntutan untuk meninggalkan pekerjaan, memilih suatu pekerjaan, dan yang bersifat syarat, sebab, halangan, ‘azimah, rukhsah, sah, serta batal.
1
Semua titah atau hukum syari’ ada objeknya. Objeknya itu adalah perbuatan
mukallaf 
itu sendiri. Hukum itu berlaku pada perbuatan bukan pada zat. Umpamanya“daging babi”. Pada daging babi itu tidak berlaku hukum, baik suruhan atau larangan.
1
Drs. H. Nasrun Haroen, M.A.
Ushul Fiqh I,
hal 292
1
|
Page
 
Berlakunya hukum larangan adalah pada “memakan daging babi”, yaitu pada perbuatan memakan bukan pada zat daging babi itu.Hukum syara’ terdiri atas dua macam, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i.hukum taklifi jelas menyangkut perbuatan
mukallaf 
, sedangkan sebagian hukumwadh’I ada yang tidak berhubungan dengan perbuatan
mukallaf 
seppertitergelincirnya matahari untuk masuknya kewajiban shalat zhuhur. Tergelincirnyamatahari itu (sebagai sebab) adalah hukum wadh’i. dan karena tidak menyangkut perbuatan
mukallaf 
, maka ia tidak termasuk objek hukum
2
.Para ulama pun sepakat bahwa seluruh perintah syari’ itu ada objeknya yaitu perbuatan mukallaf. Dan terhadap perbuatan mukallaf tersebut ditetapkannya suatuhukum:Contoh:1.Firman Alloh dalam surat al baqoroh:43
(
Artinya:”
 Dirikanlah Sholat 
Ayat ini menunjukkan perbuatan seorang mukallaf,yakni tuntutanmengerjakan sholat,atau kewajiban mendirikan sholat.2.Firman Alloh dalam surat al an’am:151
(
Artinya:”
 Jangan kamu membunuh jiwa yang telah di haramkan oleh Allohmelainkan dengan sesuatu (sebab)yang benar”
Dalam ayat ini terkandung suatu larangan yang terkait dengan perbuatanmukallaf,yaitu larangan melakukan pembunuhan tanpa hak itu hukumnya haram.3.Firman Alloh dalam surat Al-maidah:5-6
2
Prof. Dr. H. Amir Syarifudin
ushul Fiqh Jilid I,
hal 350-351.
2
|
Page
 
 5-6
Artinya:”
 Apabila kamu hendak melakukan sholat,maka basuhlah mukamu dantangan mu sampai siku siku”
Dari Ayat diatas dapat diketahui bahwa wudlu merupakan salah satu perbuatanorang mukallaf,yaitu salah satu syarat sahnya sholat.Dengan beberapa contoh diatas,dapat diketahui bahwa objek hukum itu adalah perbuatan mukallaf.Para ulama Ushul Fiqh menetapkan beberapa syarat untuk perbuatan sebagaiobjek hukum;1.Perbuatan itu sah dan jelas adanya; tidak mungkin memberatkan seseorangmelakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan seperti “mencat langit”2.Perbuatan itu tertentu adanya dan dapat diketahui oleh orang yang akan mengerjakanserta dapat dibedakan dengan perbuatan lainnya.
3.
Perbuatan itu sesuatu yang mungkin dilakukan oleh
mukallaf 
dan berada dalamkemampuanya untuk melakukan.Para ulama ushul fiqh sepakat dalam hal tidak dituntutnya seorang
mukallaf 
melakukan perbuatan yang tidak mampu untuk dilaksanakannya. Yang menjadi dasar ketentuan ini adalah firman Allah dalam Al-quran surat Al-baqarah ayat 286;
“Allah tidak membebani seseorang kecauli semampunya”
Allah menginginkan kemudahan atas hambanya bukan kesulitan, dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 185 Allah berfirman
)
 Allah menghendaki untuk mu kemudahan dan tidak menghendaki darimu kesulitan.
1.1.Syarat-syarat Mahkum Fiih
3
|
Page

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->