Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Optimalisasi Pajak Hotel

Optimalisasi Pajak Hotel

Ratings: (0)|Views: 128 |Likes:
Published by Agung Septiawan

More info:

Published by: Agung Septiawan on Nov 06, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

 
Spirit Publik 
Volume 5, Nomor 1Halaman: 85 - 98ISSN. 1907 - 0489April 2009
Optimalisasi Pajak Hotel dan Restoran Dalam Rangka MeningkatkanPendapatan Asli Daerah (PAD) di Kota Bukittinggi
Optimization Hotels and Restaurant Tax to Increase Regional Tax Income (PAD) in Bukittinggi City
Roni Ekha Putera
Program Studi Ilmu Administrasi NegaraFISIP Universitas Andalas Padang(Diterima tanggal 15 Desember 2008, disetujui tanggal 19 Januari 2009)
Abstract
This research aims to identify tax maximization of hotels and restaurants to increase Locally Raised Revenue of Bukittinggi City. Data collection used documentation and in-depth interview. The research showed thatBukittinggi City could improve Locally Raised Revenue and exeed its target. However, the government realizedthat the obedience of tax payers is the key factor to materialized its target. The government also realized that behaviour of tax payers are main challenges for the government to maximize its income from taxing the hotelsand restaurants, since Indonesian government has been implementing Tax Law Regulation which uses self-asessment system.
 Keywords: Regional Tax Income, Local Government, Hotels and Restaurants Tax.
85
 
Spirit Publik 
Volume 5, Nomor 1Halaman: 85 - 98ISSN. 1907 - 0489April 2009
Pendahuluan
Sebagai negara kesatuan, Indonesiamempunyai fungsi dalam membangunmasyarakat adil dan makmur sesuai denganamanat Undang-Undang Dasar 1945 aliniakeempat. Dengan demikian, segenap potensi dansumber daya pembangunan yang ada harusdialokasikan secara efektif dan efisien melaluisuatu proses kemajuan dan perbaikan secaraterus-menerus yang disebut pembangunan.Pembangunan daerah merupakan bagian integraldari pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat baik morilmaupun materil.Untuk pembangunan tersebut dibutuhkandana yang cukup besar. Hal ini juga sebagai penentu sukses tidaknya daerah dalammelaksanakan otonomi daerah sebagaimanaamanah yang tertuang dalam Undang-undang No.32 tahun 2004 dan Undang-undang No. 33 Tahun2004. Dari kedua undang-undang tersebut, daerahmemiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan sendiri,mengelola dan menggunakan keuangan sendiriyang cukup memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerahnya denganmenggunakan prinsip kemandirian dalammenjalankan proses pembangunannya.Lebih lanjut, prinsip-prisnsip yangterkandung dalam Undang-undang Nomor 33tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusatdan daerah telah memberi arah kepada pemberiandukungan pemerintah, baik Pemerintah Pusat,selanjutnya disebut Pemerintah, terhadapPemerintah Daerah dalam hal melaksanakan pembangunan yang disertai oleh kejelasanmengenai pembiayaan dan sumber-sumbe pendapatan daerah. Peluang yang dimaksudadalah bahwa Pemerintah Daerah memilikikewenangan luas atas segala urusan terkaitdengan pembangunan daerah, dan yang menjadi perhatian daerah adalah keleluasaan untuk mengelola urusan keuangan sendiri. Dalam halini daerah juga dituntut untuk mampu mencari pendapatan sendiri untuk keberlanjutan pembangunan di daerah masing-masing.Untuk mendukung tanggung jawab yangdilimpahkan, Pemerintah Daerah memerlukansumber pembiayaan fiskal. Undang-Undang No.32 Tahun 2004 menjelaskan bahwa daerahdiberikan hak untuk mendapatkan sumber keuangan yang antara lain: berupa kepastiantersedianya pendanaan dari Pemerintah sesuaidengan urusan pemerintah yang diserahkan,untuk tujuan tersebut Pemerintah Daerah harusmemiliki kekuatan untuk menggali potensisumber-sumber PAD dan Pemerintah harusmentransfer sebagai pendapatan dan ataumembagi sebagian pendapatan pajaknya denganPemerintah Daerah. Untuk itu kehadiran Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 menguatkanUndang-Undang No. 25 Tahun 1999 yangmenerangkan tentang prinsip-prinsip kebijakan perimbangan keuangan secara jelas (PenjelasanUU No. 32/2004. Halaman 130-220). Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 menjelaskankapasitas fiskal daerah merupakan sumber-sumber pembiayaan pembangunan di daerah dan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kapasitasfiskal merupakan sumber pendanaan daerah yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah danDana Perimbangan.Salah satu fenomena yang mencolok darihubungan antara sistem Pemerintah Daerahdengan pembangunan adalah ketergantunganPemerintah Daerah yang tinggi terhadapPemerintah. Hampir semua provinsi danKabupaten/ Kota memiliki ketergantungan fiskalmencapai 70 % - 80 % terhadap transfer dana perimbangan dari pusat.
Tabel 1. Komposisi Peneriman Pemerintah
85
 
Spirit Publik 
Vol. 5, No. 1, April 2009 Hal. 85 - 98
Daerah : 1999/2000 -20011999/00(100%)2000(%)2001(%)
Propinsi100.00100.00100.00PAD37.2232.3032.23Dana BagiHasil18.6615.9425.89DAU/DAU44.1251.7641.88Kabupaten/Kota100.00100.00100.00PAD10.319.044.99Dana BagiHasil12.3911.3122.43DAU/DAK77.3079.6572.58Sumber : Departemen Keuangan Tahun 2003Melihat tabel yang dikemukakan di atas,menurut Kuncoro (2003: 519-562).Ketergantungan fiskal terlihat jelas pada relatif rendahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dandominannya transfer dari pusat. Adalah ironis,meskipun undang-undang telah menggarisbawahititik berat otonomi daerah adalah kabupaten dankota, namun justru Kabupaten dan Kota lah yangmengalami tingkat ketergantungan yang lebihtinggi dibanding propinsi.Pengaruh relatif rendahnya PendapatanAsli daerah dan dominannya transfer dari pusatseperti ini menjadi kendala dalam pemberdayaankesanggupan pemerintah daerah dalam mengurus persoalan pembangunan daerah dengan keinginanmasyarakat lokal. Hal ini tentu saja menyebabkanadanya kecenderungan yang memberangus pelaksanaan prinsip-prinsip Otonomi Daerahsendiri dalam pelaksanaan pembangunan daerah.Untuk itu cara yang tepat untuk mengurangikomposisi Dana Perimbangan yang nyaris 80%dari total sumber penerimaan daerah harusditekan melalui peningkatan PAD, salah satunyayaitu optimalisasi pengelolaan keuangan daerah.Pengelolaan sumber-sumber penerimaankeuangan daerah berasal dari berbagai macamsektor, baik sektor riil maupun sektor fisik, yaitu pertanian, perdagangan, industri, perhotelan danrestoran, air bersih, listrik dan gas, angkutan dankomunikasi, dan sumber penerimaan lainnyayang signifikan dan sesuai dengan karakteristik daerah.Dalam Undang-Undang No.33 tahun2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat danDaerah, pajak dan retribusi daerah merupakansumber pendapatan daerah disamping penerimaan yang berasal dari Pemerintah Pusat berupa subsidi / bantuan dan bagi hasil pajak dan bukan pajak. Sumber pendapatan daerah tersebutdiharapkan menjadi sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, serta meningkatkan danmemeratakan kesejahteraan masyarakat.Untuk itu perlu dikembangkanoptimalisasi dalam penggalian potensi pajak daerah sebagai salah satu penerimaan daerahyang memberi kontibusi besar dalam APBD propinsi dan APBD kota/ kabupaten. Peningkatan pendapatan ini biasanya tidak selalu identik dengan peningkatan tarif pajak dan tarif retribusi,langkah optimalisasi yang lebih damai adalahmelalui perluasan dari konstitusi yang telah adamelalui pembentukan Perda (Peraturan Daerah)yang bertujuan untuk memperbaiki sistem perpajakan daerah.Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak, adalah iuran wajib yang dilakukan olehorang pribadi atau badan kepada Daerah tanpaimbalan langsung yang seimbang, yang dapatdipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahanDaerah dan pembangunan Daerah (UU No. 34Tahun 2000, pasal 1 ayat 6). Pajak daerah dalamhal ini adalah pajak yang dipungut olehPemerintah Daerah, antara lain Pajak Hotel danRestoran, Pajak Penerangan Jalan, dan Pajak Kendaraan Bermotor. (Penjelasan UU No. 34tahun 2000). Pajak Bumi dan Bangunan sebagai
86

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->