Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
TORAJA

TORAJA

Ratings: (0)|Views: 51 |Likes:
Published by Coppermine Boedi

More info:

Published by: Coppermine Boedi on Nov 07, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

 
 
Suku Toraja
(ans/liputan6.com/IM)
Bagi suku Toraja, “Rambu Solo” adalah upacara untuk memakamkan leluhur atau orang tua tercinta. Tradisi leluhur inisekaligus menjadi perekat kekerabatan masyarakat Torajaterhadap tanah kelahiran nenek moyang mereka.Suatu malam di dataran tinggi Tanah Toraja. Saat itu, malam kian larut ketika sang bulan memancarkan pantulan cahayanya. Di sekeliling halaman Tongkonan ataurumah adat Tana Toraja terlihat sanak saudara dan para keluarga mendiang Ne NeLai Sumule berkumpul menandai dimulainya pembukaan ritual pemakaman adatToraja. Suasana pun menjadi sakral ketika mereka bersama-sama melantunkan syair kesedihan dalam tarian Mabadong. Tarian ini menyimbolkan ratapan kesedihanmengingat jasa mendiang semasa hidupnya serta sebagai ungkapan dukacita bagiorang-orang yang ditinggalkannya.Tana Toraja di Sulawesi Selatan adalah daerah yang indah. Wilayah kabupaten inididominasi dataran tinggi. Hamparan pegunungan dan perbukitan pun seolahmenjadi saksi bisu asal muasal kehidupan manusia di sana. Di kaki pegununganKandora, misalnya beragam kisah dan legenda mengiringi munculnya masyarakatToraja.Syahdan sekitar 15 abad yang lalu, sekumpulan imigran dari Teluk Tongkin, daratanTiongkok, berlabuh di kawasan pegunungan sebelah barat Sulawesi Selatan. Paraimigran asal Tiongkok ini akhirnya memilih menetap dan membaur dengan penduduk asli di pedalaman. Akulturasi atau percampuran budaya mereka inilahyang kemudian sering disebut kebudayaan Toraja.Tak mengherankan, bila di Tana Toraja banyak dijumpai rumah yang menyerupai perahu Tiongkok yang biasa disebut Tongkonan. Rumah adat ini dilengkapi denganlumbung tempat menyimpan padi sekaligus sebagai lambang kebesaran dankesejahteraan masyarakat Toraja.Status kebangsawanan orang Toraja mudah dikenali, terutama saat merekamelakukan ritual pemakaman orang yang meninggal dunia. Berbeda denganmasyarakat biasa, para bangsawan suku Toraja jika meninggal dunia jenazahnyadiawetkan terlebih dahulu sebelum dikuburkan. Ciri lainnya, jenazah bangsawan
 
 biasanya dimakamkan di atas tebing maupun gua-gua di wilayah Tana Toraja besertaharta benda kesukaan mereka.Saat prosesi pemakaman adat Toraja yang dinamakan upacara “Rambu Solo”.“Rambu Solo” adalah ritual yang sangat panjang dan melelahkan. Sebab kematian bukanlah akhir dari segala risalah hidup. Maka, suatu kewajiban bagi keluarga untuk merayakan pesta terakhir sebagai bentuk penghormatan kepada arwah yang akanmenuju ke alam baka.Kini, malam semakin larut. Ritual demi ritual pun telah dijalankan. Sekarang saatnya pihak keluarga melangsungkan ritual Ma`tundan atau membangunkan arwah. Seiringdimulainya Ma`tundan, suasana duka kembali tergurat di wajah sanak saudara danorang-orang terdekat dari mendiang. Air mata pun jatuh bercucuran sebagai wujudorang yang mereka cintai bakal pergi selamanya.Bunyi-bunyian lesung dan bambu tersebut dilakukan bersamaan dengan prosesi pemindahan jasad mendiang dari rumah duka untuk disinggahkan ke rumah adatTongkonan untuk disemayamkan selama satu malam.Maka, sanak saudara dan keluarga bahu-membahu mengangkat peti jenazah yang beratnya mencapai 100 kilogram untuk dinaikkan ke dalam rumah adat. Menurutadat Toraja prosesi ini melambangkan penyatuan kembali jenazah dengan paraleluhurnya. Di dalam rumah adat, peti berisi jasad mendiang itu harus dijagasemalam suntuk oleh sanak keluarga.Hari pun berganti, kini saatnya melanjutkan prosesi pemindahan peti jenazah. Panasterik matahari pun tak mengurangi warga sekitar untuk menghormati yangmeninggal. Mereka telah berkumpul di lumbung rumah adat untuk melanjutkan prosesi pemindahan peti jenazah dari rumah adat ke lumbung padi.Maka tarian penghormatan pun dilakukan. Kain merah dibentangkan sebagailambang kebesaran suku Toraja. Sanak saudara dan warga bahu-membahumengantarkan peti jenazah ke bawah lumbung. Ketika peti mati diturunkan, sorak-sorai bergema di antara penduduk. Warga mencoba mengatasi beban berat yang bertumpu di atas pundak mereka. Kain merah atau lamba-lamba ini dibentangkansebagai simbol jalan yang harus dilalui jenazah.Akhirnya, sampailah peti jenazah di lumbung yang letaknya tepat di bawah rumahadat. Dalam keyakinan masyarakat Toraja, peletakan jasad ke dalam lumbung selama
 
tiga malam itu menandakan jasad mendiang telah menuju pada fase kematian yangsebenarnya.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->