Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Al Imamah Dan Al Khilafah

Al Imamah Dan Al Khilafah

Ratings: (0)|Views: 184|Likes:
Published by titokpriastomo

More info:

Published by: titokpriastomo on Nov 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/18/2013

pdf

text

original

 
Latar Masalah
Masalah
imamah 
telah lama menjadi salah satu "menu tetap" dalam ajangperdebatan para mutakallimin dari berbagai
 firqoh 
(madzhab aqidah) dalamIslam, terutama antara pihak sunni dan syi'ah. Untuk mempertahankanpendapat mereka, para pemuka dari masing-masing golongan seringmenyediakan bab tersendiri tentang
imamah 
dalam kitab-kitab aqidahmereka
1
. Para ulama Sunni -yang menganggap
imamah 
sebagai masalah
 furu' 
(cabang)- merasa 'terpaksa' untuk menyelipkan masalah
imamah 
ini diantara isu-isu aqidah, bukan karena menganggapnya sebagai bagian dariaqidah, akan tetapi, hanya dalam rangka merespon beberapa syubhat yangdilontarkan oleh
 firqoh 
lain seperti khawarij, mu'tazilah dan terutamaimamiyah,
 firqoh 
yang meletakkan
imamah 
ini sebagai salah satu pilar(rukn) aqidah.
2
Para pakar hukum (fuqaha') sunni juga meletakkan bab
imamah 
dalam berbagai karya fiqh
3
, di samping ada juga kitab-kitab yangsecara khusus membahas masalah
imamah 
sebagai sebuah objek kajianfiqhiyah
4
.Di tengah perdebatan yang ada, tak terhitung ulama
 – 
baik ahli kalammaupun ahli fiqh- yang menyatakan kewajiban
imamah 
dan
nashbul imam 
(mengangkat imam) dalam kitab-kitab mereka. Sebagai contoh, dalam kitab
al-Fiqh 'alal Madzahibil Arba'ah 
, al-Jazairi menyatakan:"Para imam (madzhab)
rahimahumullah 
telah sepakat bahwa
imamah 
itufardhu dan bahwa kaum muslimin harus memiliki seorang
imam 
yangmenegakkan syi'ar-syi'ar agama,..."
5
 Hanya saja, terdapat sebagaian orang yang memiliki kebiasaanmenambahkan keterangan berupa kata "(
khilafah 
)" di belakang kata
imamah 
,
 
atau kata "(
khalifah 
)" di belakang kata
imam 
 
dalam teks-teks
1
Kitab-kitab aqidah dari kalangan sunni yang memuat bab imamah misalnya: al-Mu'tamad fii Ushulid Diin karya Abu Ya'la; Matholi'ul Anwar dan Mishbahul Arwaholeh Al Baidhowi, Nihayatul Iqdam oleh Asy Syahrastani, Ushuluddiin oleh AlBaghdadi, Al-Irsyad oleh Al Juwaini, Ma'alimu Ushulid Din oleh Ar Razi, Al Iqtishodoleh Al Ghozali, Al-Maqolat oleh Al-Asy'ari, Showa'iqul Muharriqoh oleh Al-Haitsami,al-Muqoddimatuz Zahra oleh Adz Dzahabi, ad-Durrah dan al-Fashl fil Milal walahwa' wan nihal oleh Ibnu Hazm, dll.
2
Musthafa Hilmi, Al-Khilafah fi al-Fikr as-Siyasi al-Islami (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2004) h. 318
3
Contoh kitab fiqh yang mengandung bab imamah antara lain: al-Muhalla karyaIbnu Hazm, Raudhatuth Thalibin karya An Nawawi, Tuhfatul Muhtaj-nya IbnuHajar, Nihayatul Muhtaj-nya Ar-Ramli, mughnil Muhtaj-nya asy-Syarbini, FathulWahab-nya Syaikh Zakariya al-Anshari, Raddul Muhtar oleh Ibnu 'Abidin, al-FiqhulIslamiy karya Wahbah Az-Zuhaili, dll
4
Kitab-kitab fiqh siyasah yang secara khusus merinci masalah imamah misalnya:al-Ahkamus Sulthoniyyah karya Al Mawardi dan juga Abu Ya'la, Ghiyatsul Umamkarya Al Juwaini, Tahrirul Ahkam oleh Ibnu Jama'ah.
5
Abdur Rahman al-Jazairi, al-Fiqh 'ala al-Madzahib al-Arba'ah (Kairo: Dar al-Hadits, 2004) h. 321
 
seperti di atas, sehingga mereka biasa "mengubah" kutipan seperti itumenjadi:"Para imam
rahimahumullah 
telah sepakat bahwa
imamah 
(
khilafah 
) itufardhu dan bahwa kaum muslimin harus memiliki seorang
imam 
(
khalifah 
) yang menegakkan syi'ar-syi'ar agama,..."Melihat kebiasaan memberi sisipan seperti itu, seorang penulis status di FB,Sigit Kamseno namanya, menganggap pelakunya sebagai pewaris perbuatanumat-umat terdahulu yang hancur karena kebiasaan menambah kata didalam tanda kurung untuk memaknai suatu istilah di dalam kitab-kitabmereka. Masih menurutnya, tujuan penambahan itu adalah untuk"menggiring persepsi umat". Mungkin yang dimaksud semacam melakukan"penyesatan persepsi" (
misleading 
) atau pendistorsian makna ketikamenyandingkan kata
imam 
 
dengan
 
khalifah 
 
dan
 
imamah 
 
dengan
 
khilafah 
,karena
 – 
sejauh pengetahuan beliau- konsep
imam-imamah 
itu tidakkongruen dengan konsep
khalifah 
khilafah 
. Beliau mengatakan:"Diantara penyebab kerusakan ummat terdahulu, Adalah kebiasaanmenambah kata di dalam kurung utk pemaknaan suatu istilah di dalamkitab2 mereka. Tujuannya adalah utk menggiring persepsi umatnya. Akibatburuk dari kebiasaan ini adalah distorsi thd makna yg sebenarnya. Ternyata kebiasaan ini mewaris pd orang2 yg seringkali menambah kata"(khilafah)" setelah kata '
imamah 
', atau menambah kata "(khalifah)" setelah
 
kata 'imam' Seolah konsep
imamah 
mesti berarti khilafah. Tujuannyasama, menggiring persepsi umat, Padahal makna dari dua kata tsb tdklahsama."Faktanya, hal seperti itu memang banyak dilakukan. Salah satu contohnyaadalah penulis di situs HTI yang menukil dan menerjemahkan beberapabaris kata dalam al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah sebagai berikut:
“Umat Islam telah sepakat mengenai wajibnya akad
Imamah 
[Khilafah], jugatelah sepakat bahwa umat wajib mentaati seorang Imam [Khalifah] yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah mereka, yang mengatururusan mereka dengan hukum-hukum Syariah Islam yang dibawa olehRasulullah SAW..
.”
6
Padahal kata khilafah dalam tanda kurung itu tidakada dalam teks aslinya.Hal yang serupa juga dilakukan oleh penerjemah kitab
al-Ahkam as- Sulthoniyyah 
karya Al-Mawardi yang diterbitkan oleh Darul Falah, Jakarta.Dalam buku itu, penerjemah mengimbuhkan keterangan (
khalifah 
) hampirdi belakang seluruh kata
imam 
. Terdapat pula kata
khilafah
 
 yang diberiketerangan
 
(
imamah 
). Sekedar contoh: Pada halaman satu tertulis:"
sesungguhnya 
imam (khalifah) 
diproyeksikan untuk mengambil alih peran kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia".
Padahal, dalam kitabaslinya, hanya disebutkan kata (
imam 
), tidak ada keterangan ().Pada halaman empat tertulis: "
kemudian orang-orang Anshor mengurungkan keinginannya terhadap jabatan 
khilafah
(imamah) 
dan mundur daripadanya 
".
7
Padahal dalam kitab aslinya hanya tertulis
khilafah 
saja
.
6
Anonim, Jawaban Tuntas Pertanyaan Berulang Seputar Khilafah dan Hizbut Tahrir,(
), diakses pada 18 Oktober 2012
7
Al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthoniyah Hukum-hukum Penyelenggaraan NegaraDalam Syariat Islam, alih bahasa oleh Fadli Bahri, Lc. (Jakarta: Darul Falah, 2006),h. 1 dan 4
 
Bahkan, kita bisa menemukan bahwa sang penerjemah langsungkonversikan kata
khilafah
kedalam kata
 
imamah 
 
tanpa keterangan apapun, dan itu terjadi belasan kali. Sekedar contoh: dalam edisi Arab terdapatfrase: "
lazima kaaffatal ummah an ya'rifuu ifdhoo'al 
khilafah
 
ilaa mustahiqqihaa bishifatihi 
".
8
Kalimat ini diterjemahkan menjadi, "
seluruh umat tanpa kecuali wajib mengetahui sifat-sifat orang yang mendapat amanah 
imamah 
(kepemimpinan) ini".
Perhatikan bagaimana kata
khilafah
 diterjemahkan begitu saja menjadi
imamah 
 
tanpa keterangan
.
 Lantas benarkah bahwa tindakan seperti itu merupakan usahapendistorsian makna yang setara dengan perbuatan nista kaum-kaumterdahulu yang telah mengutak-atik kitab mereka? Dan benarkah konsep yang diwakili oleh istilah
imamah 
itu berbeda dengan konsep yangterkandung dalam istilah
khilafah?
Kita akan berusaha membuktikanbahwa anggapan tersebut sepenuhnya salah,
wabillaahit taufiiq 
Makna Imam dan
Imamah 
secara Bahasa (lughowi)
 Tolak ukur pembahasan kita adalah kata
imam 
dan
imamah 
, sedang yangakan kita hukumi adalah kata
khalifah 
dan
khilafah 
, dari segi apakah iasemakna dengan
imam 
dan
imamah 
. Semuanya kita pelajari sebagai istilah yang dipakai oleh para ulama sunni dalam karya-karya akidah maupun fiqhmereka, bukan dalam konteks yang lain. Namun sebelumnya, ada baiknyakita meninjau terlebih dahulu makna bahasa dari kita-kata kunci yang kitabahas kali ini.
Imam 
dan
imamah 
berakar dari kerja
amma 
(
). Dalam kamus
Lisanul 'Arab 
dijelaskan bahwa kata kerja
amma 
(
)
 
memiliki makna "mendahuluiorang lain" atau "menempatkan diri pada posisi di depan orang lain"yanglain.
10
. Dalam kalimat misalnya :
amma Zaidun al-qouma 
atau
amma Zaidun bilqoumi,
kedua bentuk kalimat itu memiliki satu makna, yaitu Zaidmenempatkan diri atau berjalan di depan sekelompok orang(
taqoddamahum 
). Keadaan atau hal ihwal dimana Zaid berada di depansuatu kaum inilah yang disebut
imamah.
11
 
Maka dari itu, orang yangberada di depan pada saat sholat berjama'ah disebut
imam 
,
ia
 
bertindak
8
Al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthoniyyah wa al-Wilayat ad-Diniyyah, ditahqiq olehAhmad Abdus Salam (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2006), h. 17; lihat juga: Al-Mawardi, al-Ahkam as-sulthoniyyah, ditahqiq oleh Ahmad Jad (Kairo: Dar al-Hadits, 2006), h. 39; lihat juga: Al-Mawardi, Kitab al-Ahkam as-Sulthoniyyah waal-Wilayat ad-Diniyyah, ditahqiq oleh Dr. Ahmad Mubarok (Kuwait: Maktabah DarIbn Kutaibah, 1989), h. 21
9
Al-Mawardi, al-Ahkam as-Sulthoniyah Hukum-hukum Penyelenggaraan NegaraDalam Syariat Islam, alih bahasa oleh Fadli Bahri, Lc. (Jakarta: Darul Falah, 2006),h. 22
10
Maka sangat naif sekali jika ada orang yang ingin mengetahui makna istilah"imam" yang menjadi isu perdebatan para ulama ahli kalam dalam kitab-kitabmereka, tetapi yang ia baca justru kitab tafsir Al-Qur'an karya Ibnu Katsir, denganharapan ia akan menemukan penjelasan makna imam yang dipakai para ahli kalamitu dari semua kata "imam" yang ada di dalam Al-Qur'an. Ini sama naifnya denganorang yang ingin memahami istilah "dho'if" yang dipakai oleh para ulama haditstapi tidak mencari tahu di kitab-kitab musthalah hadits, ia justru membolak-balikkitab tafsir Al-Qur'an dan membaca penjelasan makna dho'if di manapun kata itumuncul di ayat Al-Qur'an. Maka dapat diduga bahwa dia tidak akan menemukan jawaban yang
nyambung 
dengan apa yang dimaksud oleh para ulama hadits..
11
Lihat: Ibnu Mandzur, Lisanul 'Arab, Juz I (Beirut: Dar ihya' at-Turots al-'Arobiy,1999) h. 213

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->