Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
filsafat-positivisme

filsafat-positivisme

Ratings: (0)|Views: 92 |Likes:
Published by Adrie Keefe Raaiq

More info:

Published by: Adrie Keefe Raaiq on Nov 11, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

 
FILSAFAT POSITIVISME(Tinjauan Aspek Ontologis, Epistemologis, Aksiologis)Oleh Erwin Dwi Edi WibowoPENDAHULUAN
Positivisme pertama kali digagas oleh seorang berkebangsaan Perancisyang bernama Augus Comte yang hidup pada tahun 1798 – 1857. Comte melihatsatu hukum universal dalam semua ilmu pengetahuan yang kemudian ia sebutsebagai 'hukum tiga fase'. Melalui hukumnya ia mulai dikenal di seluruh wilayah berbahasa Inggris (
 English-speaking world 
); menurutnya, masyarakat berkembangmelalui tiga fase: Teologi, Metafisika, dan tahap positif (atau sering juga disebuttahap ilmiah). Ia kemudian dikenal sebagai orang pertama yang mengaplikasikanmetoda ilmiah dalam ilmu sosial.Untuk memahami pemikiran Auguste Comte, kita harus mengkaitkan diadengan faktor lingkungan kebudayaan dan lingkungan intelektual Perancis. Comtehidup pada masa revolusi Perancis yang telah menimbulkan perubahan yangsangat besar pada semua aspek kehidupan masyarakat Perancis. Revolusi ini telahmelahirkan dua sikap yang saling berlawanan yaitu sikap optimis akan masadepan yang lebih baik dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi dansebaliknya sikap konservatif atau skeptis terhadap perubahan yang menimbulkananarki dan sikap individualis. Lingkungan intelektual Perancis diwarnai oleh duakelompok intelektual yaitu para peminat filsafat sejarah yang memberi bentuk  pada gagasan tentang kemajuan dan para penulis yang lebih berminat kepadamasalah-masalah penataan masyarakat. Para peminat filsafat sejarah menaruh perhatian besar pada pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah sejarah memilikitujuan, apakah dalam proses historis diungkapkan suatu rencana yang dapat
 
diketahui berkat wahyu atau akal pikiran manusia, apakah sejarah memiliki maknaatau hanyalah merupakan serangkaian kejadian yang kebetulanDalam karya besarnya, Comte mengklaim bahwa dari hasil studi tentang perkembangan intelektual manusia sepanjang sejarah kita bisa menemukan hukumyang mendasarinya. Hukum ini, yang kemudian dikenal sebagai Law of ThreeStages, yang setiap konsepsi dan pengetahuan manusiawi pasti melewatinya,secara berurutan adalah kondisi teologi yang bercorak fiktif, kondisi metafisisyang bercorak abstrak, dan saintifik atau positive. Bagi Comte, pikiran manusia berkembang dengan melewati tiga tahap filsafati, yang berbeda dan berlawanan.Dari tiga tahap pemikiran manusia ini, yang pertama mestilah menjadi titik awal pemahaman manusia dalam memahami dunia. Tahap kedua hanyalah menjaditahap transisi saja. Sedangkan tahap ketiga adalah tahap akhir dan definitif dariintelektualitas manusia. Pengaruh terhadap pemikiran Comte tentang Hukum TigaTahap bisa dilacak pada iklim intelektual abad delapan belas dimana banyailmuan sampai pada simpulan tentang tahapan-tahapan sejarah. Beberapa diantara pemikir yang berpengaruh adalah Turgot, Quesnay, Condorcet, dan Robertsonyang berpandangan tentang multi-tahap perkembangan ekonomi dalam sejarahmanusia. Menjelang penemuan Hukum Tiga Tahap, Comte telah akrab denganskema yang mirip yang diadopsi oleh Condorcet dari karya Turgot SecondDiscourse on Universal History, dan oleh Saint-Simon dari Condorcet.Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwasatu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalamanaktual-fisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapanteori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisisdihindari. Positivisme, dalam pengertian diatas dan sebagai pendekatan telahdikenal sejak Yunani Kuno dan juga digunakan oleh Ibn al-Haytham dalamkaryanya Kitab al-Manazhir. Sekalipun demikian, konseptualisasi positivismesebagai sebuah filsafat pertama kali dilakukan Comte di abad kesembilanbelas.
 
Sebenarnya kata positive tidak hanya digunakan oleh Comte. Kata initelah umum digunakan pada abad delapan belas, khususnya pada paruh kedua. Namun Comte adalah orang yang bertanggung jawab atas penerapan positivisme pada filsafat. Filsafat positivistik ini dibangun berdasarkan dua hal, yaitu filsafatkuno dan sains modern. Dari filsafat kuno, Comte meminjam pengertianAristoteles tentang filsafat, yaitu konsep-konsep teoritis yang saling berkaitan satusama lain dan teratur. Dari sains modern, Comte menggunakan ide positivistik a la Newton, yakni metode filsafati yang terbentuk dari serangkaian teori yangmemiliki tujuan mengorganisasikan realitas yang tampak. Sebagaimana diakuiComte sendiri, ada kemiripan antara antara filsafat positivistik (philosophie positive) dan filsafat alam (natural philosophy) di Inggris. Pemilihan terhadapfilsafat positivistik sebagai nama bagi sistem pemikiran yang dibangunnya karenafilsafat positivistik hanya mencoba untuk menganalisis efek dari sebab-sebabsebuah fenomena dan menghubungkannya satu sama lain.
PEMBAHASANPositivisme sebagai aliran filsafat
Positivisme adalah paham atau aliran filsafat ilmu pengetahuan modernyang memicu pesatnya perkembangan sains di satu sisi dan menandai krisis pengetahuan dan kemanusiaan Barat di sisi lain. Positivisme adalah suatu aliranfilsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuanyang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Paham inimemandang bahwa paradigma positivisme adalah satu-satunya paradigma yangditerapkan untuk menyatakan kesahihan ilmu pengetahuan. Maka dari itu segalasesuatu yang dinyatakan oleh para ilmuwan dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan jika mengikuti paradigma tersebut. Suatu pernyataan dapat dikatakanilmu pengetahuan apabila kebenarannya dapat dibuktikan secara empiris. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Sesungguhnyaaliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untu

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->