Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
BAB I (Repaired)

BAB I (Repaired)

Ratings: (0)|Views: 442 |Likes:
Published by dwie_adjah

More info:

Published by: dwie_adjah on Nov 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/22/2014

pdf

text

original

 
1
BAB IPENDAHULUAN1.1
 
Latar Belakang
Penggunaan infus merupakan salah satu bagian dari pengobatan yang digunakan untuk memasukkan obat atau vitamin kedalam tubuh pasien. Infeksi dapatmenjadi komplikasi utama dari terpi intravena ( IV ) terletak pada system infuse atautempat menusukkan vena (darmawan, 2008). Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik dari iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan olehkomplikasi dari terapi intravena. Plebitis dikarakteristikan dengan adanya dua ataulebih tanda nyeri, kemerahan, bengkak, indurasi, dan teraba mengeras di bagian venayang terpasang kateter intravena, (La rocca, 1998). Plebitis dapat menyebabkanthrombus yang selanjutnya menjadi tromboplebitis, perjalanan penyakit ini biasanyajinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas kemudian diangkut dalam alirandarah dan masuk kejantung maka dapat menimbulkan gumpalan darah seperti katupbola yang bisa menyumbat atrioventrikular secara mendadak dan menimbulkankematian, (Sylvia, 1995).Secara sederhana plebitis berarti peradangan vena. plebitis berat hampir selaludiikuti bekuan darah, atau trombus pada vena yang sakit. Banyak faktor telahdianggap terlibat dalam patogenesis plebitis, antara lain: faktor-faktor kimia sepertiobat atau cairan yang iritan, faktor-faktor mekanis seperti bahan, ukuran kateter,lokasi dan lama kanulasi serta agen infeksius. Faktor pasien yang dapatmempengaruhi angka plebitis mencakup, usia, jenis kelamin dan kondisi dasar (yakni.diabetes melitus, infeksi, luka bakar). Suatu penyebab yang sering luput perhatianadalah adanya mikropartikel dalam larutan infus dan ini bisa dieliminasi denganpenggunaan filter. (Darmawan,2008).
 
2
Pemberian obat melalui wadah cairan intravena merupakan cara memberikanobat dengan menambahkan atau memasukan obat ke dalam wadah cairan intravenayang bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadarterapeutik dalam darah, (Mulh, 2006). Dalam penyuntikan obat atau pemberianinfuse IV, dan pengambilan sampel darah) merupakan jalan masuk kuman yang potensial kedalam tubuh, pH dan osmololaritas cairan infus yang ekstrim selaludiikuti resiko plebitis tinggi, (darmawan, 2008). Infeksi plebitis dapat terjadi melaluicairan intravena dan jarum suntik yang digunakan atau di pakai berulang-ulang danbanyaknya suntikan yang tidak penting misalnya penyuntikan antibiotika, (Simonsen,1999). Menurut Binvko, 2003. Semakin jauh jarak pemassangan terapi intravena makarisiko untuk terjadi plebitis akan semakin meningkat. Faktor lain yang akanmeningkatkan risiko terjadinya plebitis adalah cairan dengan osmolalitas tinggi danpemakaian balutan konvensional. Jumlah kejadian plebitis menurut Distribusi Penyakit Sistem Sirkulasi DarahPasien Rawat Inap, Indonesia Tahun 2006 berjumlah 744 orang (17,11%), (Depkes,RI, 2006). Kejadian plebitis di ruang rawat penyakit dalam di RSCM Jakarta.Sebanyak 109 pasien yang mendapat cairan intravena. Ditemukan 11 kasus flebitis,dengan rata-rata kejadian 2 hari setelah pemasangan, area pemasangan di venametacarpal, dan jenis cairan yang digunakan adalah kombinasi antara Ringer Laktatdan Dekstrosa 5%, (Pujasari, 2002). Teknik sterilisasi di Rumah sakit sangat berpengaruh dengan tingkat kejadianplebitis misalnya kurang sterilnya pada saat melakukan tindakan keperawatan padapasien yang sedang dirawat, misalnya pada saat pemasangan infuse. Apabila ada saatmelakukan pemasangan infus alat-alat yang akan digunakan tidak menggunakanteknik sterilisasi akan mengakibatkan plebitis seperti pembengkakan, kemerahan,
 
3
nyeri disepanjang vena. Hal ini sangat merugikan bagi pasien karena infus yang seharusnya dilepas setelah 72 jam kini harus dilepas sebelum waktunya karenadisebabkan oleh alat-alat bantu yang digunakan untuk memasang infus tidak menggunakan teknik sterilisasi, (Klikharry, 2006).
1.2
 
Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskanmasalah penelitian sebagai berikut :1.
 
Bagaimana penggantian infus di RS. Wava Husada Kepanjen?2.
 
Bagaimana angka kejadian plebitis di RS. Wava Husada Kepanjen ?3.
 
 Adakah hubungan penggantian infus setiap tiga hari dengan angka kejadianplebitis di RS. Wava Husada Kepanjen?4.
 
Berapa
odds rasio
kejadian plebitis berdasarkan penggantian infus setiap tiga hari diRS.Wava Husada Kepanjen ?
1.3
 
 Tujuan Penelitian
1.3.1
 
 Tujuan umum
 
Untuk mengetahui adakah hubungan kebijakan penggantian infus setiap tigahari terhadap angka kejadian plebitis.1.3.2
 
 Tujuan khusus1.
 
Mengidentifikasi penggantian infus di RS Wava Husada Kepanjen.
 
2.
 
Mengidentifikasi angka kejadian plebitis di RS Wava Husada Kepanjen.
 
3.
 
Mengidentifikasi hubungan penggantian infus setiap tiga hari dengan angkakejadian plebitis di RS Wava Husada Kepanjen.
 
4.
 
Mengidentifikasi
odds rasio
kejadian plebitis berdasarkan penggantian infus setiaptiga hari di RS.Wava Husada Kepanjen.
 

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Elalia Evie liked this
Sarah Anindita liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->