Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Renungan Tuguran Kamis Putih

Renungan Tuguran Kamis Putih

Ratings: (0)|Views: 348 |Likes:

More info:

Published by: Sesarius Bimo Wijayanto on Nov 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/16/2013

pdf

text

original

 
1 |
Tuguran Kamis Putih
RENUNGAN TUGURAN KAMIS PUTIH5 APRIL 2012
Doa Pembukaan
Ya Yesus, perkenankanlah kami mengikuti jalan penderitaan dan kesengsaraan-Mu, kesepiandan kesunyian-Mu, kesedihan dan kegentaran-Mu. Semoga usaha ini mendatangkan rahmat danberkat bagi kami, bukan karena jasa dan usaha kami, melainkan karena jasa dan belas kasih-Mu,penderitaan dan sengsara-Mu. Terpujilah Engkau, selama-lamanya. Amin
Warisan agung : perjamuan dan pembasuhan kaki
Yesus membuka dan mempersiapkan jalan salib-Nya dengan peristiwa perjamuan malamterakhir. Perjamuan malam terakhir menjadi bekal dan warisan, sekaligus jalan untuk menujukenikmatan rohani bagi para pengikut-Nya. Inilah yang menjadi pusat meditasiku yang pertama hari ini.Aku masuk dalam perjamuan Tuhan bersama para murid-Nya. Di dalam perjamuan inilah Yesusmewujudkan bentuk cinta yang total, berupa penyerahan diri-Nya menjadi makanan dan minumanrohani kita, umat-Nya. Sebelum menyerahkan diri-Nya menjadi santapan rohani yang mendatangkankenikmatan rohani bagi jiwa manusia, Yesus menyerahkan diri-Nya sebagai hamba yang membasuh kakipara murid-Nya. Yesus yang adalah seorang Guru dan Tuhan, telah menyerahkan diri sebagai hambayang membasuh kaki! Kewibawaan Yesus terletak pada kerendahan-Nya yang serendah-rendahnya,bahkan
ndlosor, ngesot,
melayani dan membasuh kaki. Padahal, membasuh kaki dalam tradisi Yahudimerupakan pekerjaan seorang budak! Namun Yesus mengangkat karya itu menjadi teladan pelayanan!Dalam perjamuan malam terakhir, Yesus memberikan warisan dan bekal perjalanan menujukenikmatan rohani sejati. Bekal ini berupa tubuh-Nya sebagai makanan dan darah-Nya sebagai minuman.Antisipasi terhadap peristiwa ini digambarkan oleh Yohanes dengan sangat mengesankan! Dialah rotihidup yang mengenyangkan jiwa yang haus
akan kenikmatan rohani. “Akulah roti hidup, barangsiapa
datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-
Ku tidak akan haus lagi!”
(Yoh 7:35). Dengan terus terang Yesus menjelaskan maksud pernyataan-Nya itu dengan menegaskan,
“Da
ging-Ku benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman, barangsiapa makandaging-Ku dan minum darah-Ku ia tinggal di dalam Aku dan
Aku di dalam dia”
(Yoh 7:55-56). Kitamerasakan kerinduan Yesus untuk menyelamatkan manusia dengan menawarkan dan menyerahkanhidup-Nya: daging-darah-Nya menjadi santapan rohani kita. Dengan menyantap hidup-Nya, tubuh-darah-Nya, Dia tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Dia!Merenungkan sikap Yesus ini, kita semakin menyadari betapa besar cinta-Nya kepada kitasemua! Maka, kita makin merasa sebagai orang berdosa yang membuat Yesus menyerahkan dirimenjadi tebusan bagi dosa semua orang. Marilah kita menempatkan diri sebagai orang berdosa dihadapan Yesus yang penuh cinta. Bahkan Dia rela menyerahkan hidup-Nya untuk menebus danmenghapus dosa itu.Menyadari akan kasih-Nya yang begitu besar, membasuh kaki dan menyerahkan diri, kitamerasa diri sebagai yang kotor, jorok, dan menjijikkan. Namun, Dia makin berjongkok dan merebut kaki
 
2 |
Tuguran Kamis Putihhati kita, merengkuh jemari jiwa, dan kemudian menuangkan air sejuk pembersihan dalam telapaksukma. Bukan hanya itu, setelah segalanya dikerjakan dalam cinta pelayanan yang tulus murni, Diaseolah merangkul kita, memeluk dan mendudukkan kita di kursi yang tertata rapi untuk suatuperjamuan abadi. Dia Sang Kekasih jiwa, bukan saja membersihkan dan membasuh, melainkan jugamnyerahkan diri-Nya menjadi tebusan bagi dosa!Gemetar kita menatap mata-nya yang lembut penuh damba untuk meraih jiwa agar selamatdalam jiwa-Nya.
Deg-deg
-an jantung kita merasakan pelukan mesra Sang Sahabat yang tidakmenganggap kita sebagai hamba, melainkan sahabat yang boleh duduk sealtar dalam perjamuan-Nya.Napas kita serasa tersengal menahan sukacita tiada tara yang ditawarkan dalam jalan yang tak terduga!Hasrat kita tertantang untuk tegar dalam prakarsa-Nya. Kita belajar berucap seperti bunda-nya,
“Terjadilah padaku menurut kehendak
-
Mu!”
 Dalam penyerahan kepada-Nya yang terlebih dahulu telah menyerahkan hidup-Nya untuk kita,kita berpekik ceria dalam sukacita:(didoakan bersama)
Tuhan, hidup ini ternyata begitu indah, sekalipun wajahku basah oleh air mata duka.Tuhan, betapa indah hidup ini, sekalipun jiwaku memerah berlumuran darah amarah dangelisah.Tuhan, hidup ini terlalu indah, kendati robek dan terkoyak oleh pisau derita!Tuhan, hidup ini, karena kehalusan-Mu, sebab kejernihan-Mu, oleh ketulusan-Mu yangberjongkok pasrah menyerahkan kerinduan yang halus dan kudus di hati yang luka oleh beritadan derita!Kerinduan-Mu bukan hanya mengiris jiwa menangis, melainkan menorehkan kelembutan yangmenawan, sehingga meski terasa sakit, namun indah dan nikmat dalam kepasrahan di atasmeja altar perjamuan-Mu.Di sana, Engkau sendiri bukan hanya diiris dan ditoreh, melainkan diremas dan digilas, menjadi roti dan anggur kehidupkan, dari daging dan darah-Mu yang remuk-redam dan mengalirkankehidupan kekal kepada insan yang percaya.Tuhanku dan Allahku, Kekasih jiwaku, semoga aku pun rela saling membasuh kekotoran yangmencemarkan jiwa-jiwa kami.Semoga aku pun ikhlas diremas-ditumbuk hancur menjadi gandum bakal roti persembahan bagi kehidupan.Semoga aku pun tulus digilas-diperas lumat menjadi anggur bahan persembahan demi cintakepada-Mu.Terpujilah Engkau yang telah membasuh hatiku dengan Roh-Mu dan mempersatukan aku dalam perjamuan kasih Santapan Rohani!
Perjamuan: perayaan yang membangun jemaat
Marilah merenungkan perjamuan Yesus yang bercorak eklesial-personal. Artinya, perjamuanyang merupakan warisan Yesus Kristus itu bukan hanya bernilai secara pribadi, melainkan bernilai bagi
 
3 |
Tuguran Kamis Putihkita sebagai anggota Gereja, dalam kebersamaan sebagai umat. Pusatnya sama, yaitu Yesus Kristus yangmenyerahkan diri kepada kita, dan kita kenangkan dalam perjamuan Ekaristi.Sambil merenungkan 1Kor 11:17-34, marilah kita mencoba menghadirkan umat semua sebagaisahabat-sahabat kita dalam Kristus yang mengangkat kita maupun secara pribadi sebagai sahabat-Nya.Justru karena kita diangkat sebagai sahabat-sahabat-Nya, maka kita diberi warisan agung Ekaristisebagai bekal untuk mengikuti jalan salib-Nya yang terjal dan tidak mudah untuk diikuti. Membaca teksitu, dengan akal budi kita menemukan satu gambaran jelas terhadap pribadi Yesus Kristus yangmewariskan Ekaristi ini kepada kita. Rupanya, ini merupakan antisipasi Yesus kepada kita. Buakn hanyasupaya kita bersatu erat secara pribadi dengan-Nya; melainkan supaya kita mempunyai bekal yangmenguatkan kita dalam mengikuti Dia menuju kehidupan kekal, kenikmatan rohani abadi.Dalam injil Lukas, Yesus menegaskan bahwa untuk dapat dan layak mengikuti Dia, kita harusmemeluk dan memanggul salib kita setiap hari. Untuk dapat dan kuat memanggul salib kita sehari-hari,tidak ada kekuatan lain yang dapat menopang kita selain kekuatan Dia sendiri yang telah menyelesaikantugas-Nya memanggul salib menuju Golgota, puncak pengharapan manusia akan kebangkitan!Kekuatan-Nya dapat kita serap dan santap selalu, bahkan setiap hari juga, melalui Ekaristi. Inilah yangdiingatkan oleh St. Paulus kepada umatnya di Ko
rintus, juga kepada kita, “ Tuha
n Yesus, pada malamwaktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-
mecahkannya dan berkata: ‘Inilah Tubuh
-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi
peringatan akan Aku!’ Demikian juga ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini
adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-
Ku; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’”
(1Kor 11:23-25).Meresapkan surat ini, kita semakin menyadari betapa Ekaristi merupakan kekuatan kita untukmelangkah mengikuti Dia. Ekaristi bukan hanya untuk para imam, tetapi untuk semua pengikut-Nya.Yang dikatakan oleh St. Paulus itu tidak seberapa kuat dengan yang dikatakan oleh Yesus sendiri.Sebagaimana dicatat ole
h St. Yohanes, Yesus sendiri mengatakan, “Barangsiapa maka
n daging-Ku danminum darah-Ku tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam d
ia … Ia akan hidup selama
-
lamanya” (Yoh 6:56,
58). Penegasan-penegasan ini semakin menguatkan pengharapan dan iman kita serta kasih kita kepada-Nya. Alangkah bahagianya kalau kita semua, umat beriman, menyadari misteri ini dan kemudian dengangembira selalu ambil bagian di dalamnya.Sebagai umat, kita sendiri bertekad untuk mewartakan misteri ini dan menghayati Ekaristisebagai kekuatan kita dalam perjalanan mengikuti jalan salib-Nya. Alangkah indahnya, kalau umatmengalami hal yang sama dan merasa kerasan dalam merayakan Ekaristi, serta mengalami kekuatandarinya. Hal ini akan terjadi kalau terdapat kerja sama antarumat beriman, sebab Ekaristi bukanperayaan pribadi sendiri-sendiri, malinkan perayaan bersama umat beriman sebagai warga Gereja.Dengan demikian, bersama-sama seluruh umat mendapat sumber kekuatan dari Ekaristi untukmenapaki jalan salib Yesus dengan lebih setia dan gembira.(didoakan bersama)
Yesus, Sang Kekasih jiwaku, dengan makan sedapnya daging-Mu dan minum manisnya darah-Mu, Engkau tinggal di dalam aku dan aku di dalam Engkau!

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->