Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Psikologi Teknologi dan Kohesi Bertetangga (Simposium Internasional UNTAR)

Psikologi Teknologi dan Kohesi Bertetangga (Simposium Internasional UNTAR)

Ratings: (0)|Views: 31 |Likes:
Published by Juneman Abraham
Masih Rekatkah Kita Dalam Bertetangga? Pengaruh Dimensi Penerimaan Teknologi Mobile Phone Terhadap Kohesi Bertetangga


Melisa Roringpandey
Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara

Juneman
Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara
Jl. Kemanggisan Ilir III No. 45
Kemanggisan/Palmerah, DKI Jakarta 11480



Abstrak: Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pesat teknologi mobile phone telah mengurangi interaksi tatap muka individu dengan lingkungan sosialnya, dan hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kerekatan sosial. Penelitian ini merupakan studi elaboratif lebih lanjut mengenai dimensi-dimensi dari penerimaan teknologi mobile phone yang menyebabkan melemahnya kohesi bertetangga. Desain penelitian ini adalah non-eksperimental, korelasional prediktif. Penelitian dilakukan terhadap 375 mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta (182 laki-laki, 193 perempuan; Musia = 20.86 tahun, SDusia = 1.42 tahun), dengan teknik penyampelan convenience, insidental. Data penelitian dianalisis dengan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kohesi bertetangga diprediksikan oleh persepsi menyenangkan (perceived playfulness) terhadap teknologi mobile phone. Korelasinya berarah negatif. Persepsi menyenangkan itu diramalkan oleh persepsi kegunaan (perceived usefulness), persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use), dan persepsi kualitas isi (perceived content quality). Korelasinya berarah positif. Diskusi, implikasi, dan rekomendasi dari hasil penelitian ini diuraikan dalam artikel ini.

Kata kunci : kohesi, tetangga, penerimaan teknologi, mobile phone, psikologi, perkotaan
Masih Rekatkah Kita Dalam Bertetangga? Pengaruh Dimensi Penerimaan Teknologi Mobile Phone Terhadap Kohesi Bertetangga


Melisa Roringpandey
Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara

Juneman
Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara
Jl. Kemanggisan Ilir III No. 45
Kemanggisan/Palmerah, DKI Jakarta 11480



Abstrak: Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pesat teknologi mobile phone telah mengurangi interaksi tatap muka individu dengan lingkungan sosialnya, dan hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kerekatan sosial. Penelitian ini merupakan studi elaboratif lebih lanjut mengenai dimensi-dimensi dari penerimaan teknologi mobile phone yang menyebabkan melemahnya kohesi bertetangga. Desain penelitian ini adalah non-eksperimental, korelasional prediktif. Penelitian dilakukan terhadap 375 mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta (182 laki-laki, 193 perempuan; Musia = 20.86 tahun, SDusia = 1.42 tahun), dengan teknik penyampelan convenience, insidental. Data penelitian dianalisis dengan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kohesi bertetangga diprediksikan oleh persepsi menyenangkan (perceived playfulness) terhadap teknologi mobile phone. Korelasinya berarah negatif. Persepsi menyenangkan itu diramalkan oleh persepsi kegunaan (perceived usefulness), persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use), dan persepsi kualitas isi (perceived content quality). Korelasinya berarah positif. Diskusi, implikasi, dan rekomendasi dari hasil penelitian ini diuraikan dalam artikel ini.

Kata kunci : kohesi, tetangga, penerimaan teknologi, mobile phone, psikologi, perkotaan

More info:

Published by: Juneman Abraham on Nov 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

 
Proceedings of International Conference:
Sustainable built environment in the tropics: New technology, new behaviour?
School of Architecture, Tarumanagara University,Jakarta, Indonesia, 12-13 November 2012.
Masih Rekatkah Kita Dalam Bertetangga? Pengaruh Dimensi PenerimaanTeknologi Mobile Phone Terhadap Kohesi Bertetangga
Melisa Roringpandey
Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina Nusantara
Juneman
Jurusan Psikologi, Fakultas Humaniora, Universitas Bina NusantaraJl. Kemanggisan Ilir III No. 45Kemanggisan/Palmerah, DKI Jakarta 11480
 Abstrak:
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pesat teknologi mobile phone telahmengurangi interaksi tatap muka individu dengan lingkungan sosialnya, dan hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kerekatan sosial. Penelitian ini merupakan studi elaboratif lebih lanjut mengenai dimensi-dimensi dari penerimaan teknologi mobile phone yang menyebabkan melemahnyakohesi bertetangga. Desain penelitian ini adalah non-eksperimental, korelasional prediktif. Penelitiandilakukan terhadap 375 mahasiswa dari berbagai universitas di Jakarta (182 laki-laki, 193 perempuan;
usia
= 20.86 tahun, SD
usia
= 1.42 tahun), dengan teknik penyampelan convenience,insidental. Data penelitian dianalisis dengan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kohesi bertetangga diprediksikan oleh persepsi menyenangkan (perceived  playfulness) terhadap teknologi mobile phone. Korelasinya berarah negatif. Persepsi menyenangkanitu diramalkan oleh persepsi kegunaan (perceived usefulness), persepsi kemudahan penggunaan(perceived ease of use), dan persepsi kualitas isi (perceived content quality). Korelasinya berarah positif. Diskusi, implikasi, dan rekomendasi dari hasil penelitian ini diuraikan dalam artikel ini.
Kata kunci :
kohesi, tetangga, penerimaan teknologi, mobile phone, psikologi, perkotaan
1. Pendahuluan
 Kerekatan bertetangga sesungguhnya merupakan modal sosial bangsa Indonesia.LampungPost memberitakan bahwa kegiatan gotong royong, kegiatan bersama membangunrumah warga, dan kegiatan lainnya dapat mempererat hubungan atau interaksi dengantetangga atau lingkungan dekat rumah [1].Namun demikian, dewasa ini kerekatan sosial dalam kehidupan bertetangga nampak mengalami pelemahan. Contoh kasus: AntaraJatim memberitakan karyawan bank ditemukantewas dibunuh, dipendam di lahan halaman belakang rumah korban, dan ditemukan setelahbeberapa hari korban menghilang [2]. Menurut sejumlah tetangga, korban tidak begitu akrabdengan mereka. Baru diketahui bahwa korban meninggal setelah terciumnya bau tidak sedapdi lahan pekarangan korban. Kasus berikutnya, pada Oktober 2010 terjadi perkelahian antartetangga yang berujung pidana. Kasus ini terjadi karena hal yang sederhana, yakni seorangmahasiswi yang sedang menjaga warung ibunya disangka oleh tetangganya memandang kearahnya secara terus menerus. Tetangga ini memukuli mahasiswi tersebut dan terjadiperkelahian antara ibu korban dan tetangganya, dan kasus ini dibawa sampai ke polsek karenatetangga lainnya tidak dapat berhasil melerainya [3]. Kasus lain, tetangga tidak mengetahui
 Naskah ini selengkapnya dapat dibaca pada Proceeding halaman 290
 ISBN 978-602-19369-4-8
 
berapa jumlah anak Akeng yang membunuh istrinya, dengan alasan, "Meski tinggalberdekatan, tapi kami tidak mengenal keluarga mereka" [4].Putnam menyatakan bahwa dalam dekade terakhir, masyarakat Amerika menjadi kurangterlibat dalam aktivitas kewargaan dan komunitas semakin berkurang, serta kurang percayakepada orang lain yang tidak dikenal (
unknown others
) [5]. Hal ini dapat dipahami, danberdasarkan pengamatan peneliti, hal serupa terjadi pula di kota-kota besar di Indonesia.Canggihnya teknologi
mobile phone
membuat interaksi antar pribadi (
 face-to-face, body-to-body interaction
) semakin berkurang. Dampaknya, kohesivitas bertetangga menjadimelemah. Kohesivitas merupakan sebuah kelekatan antar anggota kelompok atau komunitas.Beberapa teori mempertimbangkan kohesivitas sebagai sebuah ketertarikan personal [6].Dalam terminologi yang lain, kohesi sosial juga disinonimkan dengan
 social bonding 
atau
 social attachment 
. Kohesi sosial terdapat dalam kelompok besar maupun kecil. Dari berbagailiteratur, ada tiga karakteristik kohesi sosial, yaitu (1) komitmen individu untuk norma dannilai umum, (2) kesalingtergantungan yang muncul karena adanya niat untuk berbagi (
 shared interest 
), dan (3) individu yang mengidentifikasi dirinya dengan kelompok tertentu,sebagaimana dinyatakan Maxwell [7], kohesi sosial merupakan:
the processes of building shared values and communities of interpretation, …, and generallyenabling people to have a sense that they are engaged in a common enterprise, facing shared challenges, and that they are members of the same community.
Dalam sebuah penelitian yang dikutip dari
 Ninemsn
, ditemukan bahwa telepon seluler yangpada awalnya diperuntukan sebagai alat berkomunikasi, lambat laun berkembang fungsinyasebagai alat hiburan, yang dapat menyebabkan seseorang egois dan anti sosial saatmenggunakannya [8].Melihat fenomena di atas, peneliti mengajukan rumusan masalah: "Apakah terdapathubungan antara dimensi penerimaan teknologi mobile dengan kohesi bertetangga?" Disamping manfaat teoretis di bidang psikologi perkotaan, peneliti mengharapkan adanyamanfaat praktis. Orangtua dapat memberikan edukasi tentang penggunaan
mobile phone
padaanaknya sedemikian sehingga anak dapat mengelola penggunaan
mobile phone
-nya dan tetapbersosialisasi secara baik dengan tetangga. Sekolah dapat memasukkan materi ajar mengenaipentingnya kerekatan bertetangga meskipun hidup di tengah perkembangan pesat teknologi
mobile phone
.
2. Tinjauan Pustaka
 Kohesi bertetangga adalah kondisi psikologis dalam mana individu merasa masuk dalamkomunitas di dalam lingkungannya; individu merasa menjadi bagian komunitas di dalamlingkungannya; individu mempunyai ketertarikan untuk hidup tetap di dalam lingkungantersebut, dan interaktif dalam kehidupan bertetangganya [9]. Komitmen yang ada di dalam
 sense of community
membuat individu dalam komunitas memiliki identitas sosial sebagaianggota dari kehidupan bertetangganya (Herek & Glunt, 1995, dalam [9]).Penerimaan teknologi
mobile phone
didefinisikan sebagai kesediaan untuk menggunakan
mobile phone
secara sukarela dalam menjalankan dan mendukung aktivitasnya [10]. Adabanyak model yang dikembangkan untuk mengukur penerimaan sistem informasi olehpengguna, salah satunya adalah
Technology Acceptance Model 
(TAM). Model TAMdikembangkan oleh Davis dan Venkatesh [11]. Berikut ini adalah dimensi-dimensipenerimaan teknologi yang disintesiskan dari berbagai literatur:
 Naskah ini selengkapnya dapat dibaca pada Proceeding halaman 290
 ISBN 978-602-19369-4-8

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->