Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
234Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Definisi Kecerdasan Emosional

Definisi Kecerdasan Emosional

Ratings:

4.5

(4)
|Views: 28,835 |Likes:
Published by raihanctym
Definisi Kecerdasan Emosional
Definisi Kecerdasan Emosional

More info:

Published by: raihanctym on Jan 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/18/2013

pdf

text

original

 
Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Spritual Auditor TerhadapKinerja Auditor Dalam Kantor Akuntan PublikOleh:Fathul Huda SufnawanDosen Pembimbing:Iwan Triyuwono SE,.M.Ec.Ak.PhD.ABSTRAKSIPenelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kecerdasan emosional dan spiritualterhadap kinerja auditor dalam Kantor Akuntan Publik. Pengukuran kecerdasan emosional dankinerja menggunakan instrumen kuisioner yang di adopsi dari Cooper dan Sawaf (1998),sedangkan untuk pengukuran kecerdasan spiritual menggunakan instrumen yang diadopsi dariKhavari (2000). Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Regresi Berganda, uji Fdigunakan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emsional dan spiritual auditor secarabersama-sama terhadap kinerja auditor, dan uji t digunakan untuk mengetahui pengaruhkecerdasan emosional dan spiritual auditor secara terpisah terhadap kinerja auditor.Hasil analisis meunujukkan bahwa kecerdasan emosional dan spiritual auditor berpengaruhsignifikan terhadap kinerja auditor baik secara bersama-sama ataupun secara terpisah. Akantetapi kecerdasan spiritual memberikan kontribusi dan pengaruh yang lebih besar terhadapkinerja auditor dibandingkan dengan kecerdasan emosional auditor (Beta 0,744 > Beta 0,251).Berdasarkan hasil analisis, juga menunjukkan pengaruh yang sangat besar dalam mendorongkinerja optimal auditor yaitu 76,8% (R Square = 0,768). Sedangkan 23,2% dapat di sebabkanoleh variabel lain di luar penelitian ini seperti: Kecerdasan intelektual auditor, sarana danprasarana dalam Kantor Akuntan Publik dan lain-lain. Besarnya pengaruh tersebut, dapatdisebabkan, dalam tempat kerja selain permasalahan tekhnis pekerjaan, juga banyak terdapatpermasalahan yang menyangkut konflik dan dilemma etis, dan berbagai ragam persolaan yangterkait dengan kondisi mental kejiwaan auditor. Sehingga dalam menyelesaikan permasalahantersebut diatas harus lebih banyak dengan memakai pendekatan kecerdasan emosional danspiritual dari pada keahlian intelektual, karena permasalahan tersebut tidak dapat di atasi hanyadengan kecerdasan intelektual auditor semata.Kata kunci:
Pemetaan Kecerdasan, Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual dan Kinerja
 
The Effect of Emotional and Spiritual QuotientUpon Auditors Performance In Public Accountant Office(Kantor Akuntan Publik)By:Fathul Huda SufnawanAdvisory Lecturer:Iwan Triyuwono SE,.MEc. Ak. PhD.ABSTRACTThis research was aimed at analyzing the effect of emotional and spiritual quotient uponauditors’ performance in Public Accountant Office. The emotional quotient and performanceinstruments, which measure the variables are adopted from Cooper and Sawaf (1998), otherwisespiritual quotient instruments are adopted from Khavari (2000). Multiple Regression analysis wasapplied in the research, F test was employed to examine the effect of all independent variablesupon auditors’ performance, and t test was employed to examine the partial effect.The result show that the auditors performance significantly affected by emotional andspiritual quotient, both together and partial. But spiritual quotient give more contribution influence
 
to auditors’ performance than emotional quotient (Beta 0,744 > 0,251). Base on the result,emotional and spiritual quotient also show very significantly influence, in case to increase auditors’ optimum performance until 76,8% in Public Accountant Office (R Square = 0, 768). The rest, 23,2% was cause by other variables from out side this research like: auditors’ intelligence quotient,Public Accountant Office facility, and etc. This cause there are to much conflict and ethicaldimentional problem, and various psychological problem which have to face by auditor in thePublic Accountant Office, beside some job technical problem. So in this case auditor must usedemotional and spiritual quotient approach more than intelligence skill, because that problemcannot be solve by auditor intelligence quotient only.Key word:
Quotient Mapping, Emotional Quotient, Spiritual Quotient and Performance.
 
BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang
Semakin mengglobalnya arus informasi dan transportasi yang disertai makin meningkatnyapula perdagangan dipelbagai belahan dunia, yaitu dengan dibentuknya berbagai macam bentukperjanjian perdagangan multilateral dan internasional yang bersifat bebas(GATT,WTO,AFTA,APEC).Mengakibatkan banyak terjadinya perpindahan tenaga kerja asing darinegara maju seperti: Eropa, Jepang dan Amerika menuju negara lain di Asia termasuk diIndonesia. Hingga saat ini tidak dapat kita pungkiri bahwa globalisasi ekonomi dibidang liberalisasiperdagangan telah mulai banyak membawa pesaing ataupun tenaga ahli yang kompetendibidangnya dari pelbagai mancanegara memasuki pasar domestik dengan kandunganpengetahuan tingkat dunia.Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, dan termasuk dalam salah satu negaradengan jumlah penduduk yang terbesar di dunia, serta posisi yang potensial dalam kawasan AsiaTenggara, menjadikan Indonesia sebagai ladang bisnis yang menjanjikan sebagai sasaran pasarberbagai produk dan jasa. Sehingga diperkirakan ketika terwujudnya perjanjian multi lateral AFTA(
 Asean Free Trade Center Area
) dan APEC, Indonesia akan dibanjiri oleh banyak produk danpekerja (auditor) profesional dari luar negeri.Dalam menghadapi Indonesia baru yang mampu bersaing dalam era globalisasi yaitu AFTAdan APEC, diperlukan Sumber Daya Manusia, terutama sekali auditor dalam negeri yangberkualitas, yang diharapkan mampu bersaing dengan auditor dari luar negeri. Akan tetapi jikakita melihat praktek yang terjadi tidaklah demikian. Hal ini tercermin dari sikap pemerintahIndonesia yang lebih suka menggunakan jasa auditor asing, yang dipandang lebih mampu secarateknis dan indepeden dalam melaksanakan jasa audit terhadap beberapa perusahaan yangterkena kasus. Tantangan lain yang harus dihadapi dalam abad 21 maraknya terjadi skandalmanipulasi dan kecurangan atas laporan keuangan, serta berbagai kasus pelanggaran etikalainnya yang secara langsung atau tidak langsung melibatkan para auditor didalamnya, baikdalam maupun luar negeri1. Berbagai bukti tersebut diatas menunjukkan kepada kita bahwaadanya: 1).Penurunan kualitas citra Sumber Daya Manusia akuntan atau auditor, 2).Persainganantara auditor dan Kantor Akuntan Publik dalam dan luar negeri yang sudah semakin ketat, dan3).Mulai adanya peralihan kepercayaan terhadap kinerja auditor dan Kantor Akuntan Publik diIndonesia. Dimana masalah-masalah tersebut harus segera diatasi.Memasuki abad 21, legenda atau paradigma lama tentang anggapan bahwa IQ(
Intelligence Quotient 
) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan, yang juga sering dijadikanparameter keberhasilan dan kesuksesan kinerja Sumber Daya Manusia, digugurkan olehmunculnya konsep atau paradigma kecerdasan lain yang ikut menentukan terhadap kesuksesandan keberhasilan seseorang dalam hidupnya. Hasil survei statistik dan penelitian yang dilakukanLohr, yang ditulis oleh Krugman dalam artikel “
On The Road on Chairman Lou“
(
The New York Times 26/6/1994
), menyebutkan bahwa IQ ternyata sesungguhnya tidak cukup untukmenerangkan kesuksesan seseorang. Ketika skor IQ dikorelasikan dengan tingkat kinerja dalamkarier mereka, taksiran tertinggi untuk besarnya peran selisih IQ terhadap kinerja hanyalah
 
sekitar 25%, bahkan untuk analisis yang lebih seksama yang dilakukan
 American Psycological Press
(1997) angka yang lebih tepat bahkan tidak lebih dari 10% atau bahkan hanya 4%. Hal iniberarti bahwa IQ paling sedikit tidak mampu 75%, atau bahkan 96% untuk menerangkanpengaruhnya terhadap kinerja atau keberhasilan seseorang. Serta menurut penelitian yangdilakukan Goleman menyebutkan pengaruh IQ hanyalah sebesar 20% saja, sedangkan 80%dipengaruhi oleh faktor lain termasuk di dalamnya EQ. Sehingga dengan kata lain IQ dapatdikatakan gagal dalam menerangkan atau berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang(Goleman, 2000).1
 
Kasus besar yang paling menarik perhatian dan menimpa dunia akuntansi di awal abad 21adalah kasus manipulasi laporan keuangan dan persediaan pada Enron corp. dengan KAP multinasional Arthur Andersen & Partners yang merupakan anggota dari
the big five
atau KAP dengansalah satu jaringan dan omzet pendapatan terbesar di seluruh dunia, yang berakibat bubarnyaArthur Andersen & partners. Di Indonesia juga pernah terjadi hal yang sama yaitu pada kasusPT.Kimia Farma Tbk, terjadinya
overstated 
pada laba bersih per 31 Desember 2001.2
 
SQ dapat dinamakan juga dangan Religius Quotient (kecerdasan religius atau kecerdasanruhaniah), karena dalam penerapannya SQ adalah tidak dapat dipisahkan dengan keyakinanberagama seseorang walaupun antar agama mempunyai konsep yang berbeda tentang bentukSQ, akan tetapi esensinya sama yaitu keyakinan akan keberadaan dan peran serta Tuhan dalamsetiap aktivitas kehidupan manusia.3
 
Integritas mengharuskan auditor jujur dan terus terang dalam batasan kerahasiaan obyekpemeriksaan Kode Etik Akuntan Indonesia.Prinsip objektivitas menetapkan suatu kewajiban bagiauditor untuk tidak memihak, jujur secara intelektual dan bebas dari konflikkepentingan.
Pedoman Kode Etik Akuntan Indonesia.Appendix A 1994. hal:346.
 4
 
Prof.Dr.Muhammad Yacub M.Ed. dalam jurnalnya yang berjudul:
Suatu opini mengenai reformasi sistem pendidikan nasional 
berpendapat dan juga menekankan akan pentingnyareformasi dan perubahan sistem pendidikan nasional yang mensinergikan IQ, EQ, CQ dan SQdalam segala bidang mulai dari filsafat/tujuan pendidikan sampai ke pemerintahan danmanajemen pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan substansi pengajaran secaranasional, regional dan lokal.Selengkapnya lihat http://
. 2001Terjadinya pergeseran atau perubahan paradigma dimana kesuksesan seseorang tidaklahlagi ditentukan oleh IQ atau kemampuan tekhnis, ICCA mengeluarkan satuan tugas khusus “
TheSkill for 21 century task force
” untuk meneliti masalah yang berhubungan dengan perubahankualifikasi para akuntan di abad 21. Satuan tugas tersebut menemukan bahwa di abad 21 ini paraakuntan (auditor) yang dibutuhkan, haruslah memiliki beberapa kompetensi dan kualifikasi antaralain, sebagai berikut (Bulo, 2002:22):
Keterampilan akuntansi: Kemampuan untuk menganalisa data keuangan, pengetahuanperpajakan, audit, sistem teknologi informasi dan pengetahuan tentang pasar modal.
Keterampilan komunikasi: Kesanggupan mendengar dengan efektif, berbicara danmenulis dengan jelas, mengerti kebutuhan orang lain, kemampuan mengungkapkan,mendiskusikan mempertahankan pandangan, memiliki empati dan mampuberhubungan dengan orang dari negara, budaya dan latar belakang sosio ekonomi yangberbeda.
Keterampilan negosiasi.
Keterampilan interpersonal: Untuk memotivasi dan mengembangkan orang lain,mendelegasikan tugas, menyelesaikan konflik, kepemimpinan, mengelola hubungandengan orang lain dan berinteraksi dengan berbagai macam orang.
Kemampuan intelektual: Logika, deduktif dan pemikiran abstrak, mengidentifikasi danmenyelesaikan masalah dan sanggup menyelesaikan dilema etis.

Activity (234)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Egi Marlindo liked this
Yuli Yani liked this
Yudistira liked this
Winang Mahmud liked this
Nurvina Labuku liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->