Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
101Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Epistemologi

Epistemologi

Ratings:

4.82

(17)
|Views: 30,574|Likes:
Published by Maulana wahid A
Its describe about epistemology of science in bahasa indonesia
Its describe about epistemology of science in bahasa indonesia

More info:

Published by: Maulana wahid A on Jan 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

 
MEWWUJUDKAN INTEGRASI KEILMUAN:PENDEKATAN EPISTEMOLOGISOlehDr. U. Maman Kh., M.Sc.(Dosen Fakultas Sains dan Teknoologi UIN)Pendahuluan
Konsep “Integrasi” merupakan salah satu bentuk hubungan antara agama --yang direfleksikan dengan kepercayaan pada Tuhan Sang Pencipta -- dengan sainsyang bersifat profan. Hubungan antara sains dengan keyakinan agama mengalami pergulatan sejarah yang sangat panjang. Barbour memetakan hubungan tersebutmenjadi: konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Dengan latar belakangkeagamaan yang kental, Barbour mengakui bahwa ia lebih memilih pola integrasi,yang diartikannya sebagai “kemitraan yang sistematis dan ekstensif antara sains danagama.”
1
Artinya, seperti dalam tradisi “natural theology,” kedalaman eksplorasi sainsterhadap alam semakin membuktikan keyakinan terhadap Tuhan, bukan sebaliknya penguasaan sains berbanding terbalik dengan keimanan.Makna integrasi dalam bahasa yang lebih islami dapat dikatakan bahwaketinggian kemampuan seseorang menguasai sains modern yang ditandai dengantingginya profesionalisme berhubungan secara linier dengan tingginya keperibadianIslam (
 sykhsiyyah Islamiyah
) dan penguasaan
tsaqofah
Islam sebagai patokan setiaptindakan dalam kehidupan. Pemisahan sains dari keimanan, tulis Mutahhari,menyebabkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki. Keimanan mesti dikenali lewatsains; keimanan bisa tetap aman dari berbagai takhayul melalui pencerahan sains.Keimanan tanpa sains akan berakibat fanatisme dan kemandekan.
2
Upaya mewujudkan integrasi keilmuan seperti digambarkan Barbour – memang menjadi masalah tersendiri. Sains modern cenderung berkembang denganwatak sekular-materialistik yang kental sebagai akibat luasnya pengaruh tradisi
1
Ian G. Barbour,
 Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama
, terjemahan E.R. Muhammad(Jakarta: Mizan, 2002) hal. 42.
2
Jalaluddin Rakhmat,
 Psikologi Agama: Sebuah Pengantar 
(Bandung: Mizan, 2003) hal. 57
1
 
 positivisme. Di samping itu, sains dan teknologi telah mengalami spesialisasisedemikian rupa dengan kecenderungan pragmatis, yakni penguasaan sains danteknologi di tingkat hilir tanpa memperhatikan landasan-landasan filosofis yangmenjadi dasar bangunan sebuah sains. Di kalangan perguruan tinggi Islam, sepertiUIN, IAIN dan STAIN, upaya mewujudkan integrasi keilmuan berhadapan dengan pemahaman Islam yang terpilah-pilah akibat semangat kompartementalisasi yangsemakin tinggi. Menurut catatan Azyumardi Azra, kompartementalisasi yang cukupkental di lingkungan IAIN melahirkan mahasiswa yang memiliki pemahaman yangterpilah-pilah tentang Islam. Mereka yang memilih Fakultas Ushuluddin, misalnya,kurang apresiatif terhadap syariah; mereka yang memasuki Fakultas Tarbiyyah,sangat lemah dalam bidang pemikiran kalam atau filsafat Islam, dan seterusnya.
3
Adanya jurusan-jurusan dan Fakultas baru di lingkungan UIN (pengembangandari IAIN) tidak mustahil bukan mewujudkan integrasi keilmuan melainkan hanyamembuka jurusan-jurusan baru yang tidak terkait satu sama lain. Kekhawatiran inicukup beralasan. Universitas Al-Azhar di Mesir, sejak tahun 1961, selain memilikifakultas-fakultas agama, juga memiliki fakultas-fakultas umum, seperti kedokteran, pendidikan, bisnis, ekonomi, sains, pertanian, dan lain sebagainya. Usaha ini sebagaiupaya “pemaduan kembalibidang-bidang agama dengan bidang-bidang sekuler.Hanya saja, keberhasilan “pemaduan kembali” itu masih dipertanyakan mengingatkompartementalisasi yang semakin menajam, bukan hanya antara kajian Islamdengan disiplin “sekular”, melainkan di antara berbagai cabang ilmu Islam sendiri.
4
Pendekatan Epistemologis
Integrasi keilmuan akan berhasil manakala berbagai rumpun kajian danspesialisai, baik bidang-bidang umum maupun agama, dibangun dalam akar yangsama, dalam proses perumusan ilmu itu sendiri. Integrasi keilmuan harus dibangun pada tatanan epistemologis, bukan hanya pada tataran aksiologis. Islam bukan hanya
3
Azyumardi Azra,
 Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru
(Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu, 1999) hal. 168
4
 
 Ibid 
. hal. 244
2
 
ditempatkan pada kriteria etik sebagai “polisi lalu lintas” terhadap hasil-hasil kerjasains melainkan harus ditempatkan pada bangunan sains itu sendiri.“Epistemologisecara etimologis berasal dari dua suku kata, yakni:“epistem” (Yunani) yang berarti pengetahuan atau ilmu (pengetahuan) dan ‘logosyang berarti ‘disiplin’ atau teori. Dalam Kamus
Webster 
disebutkan bahwaepistemologi merupakan “Teori ilmu pengetahuan (
 science
) yang melakukaninvestigasi mengenai asal-usul, dasar, metode, dan batas-batas ilmu pengetahuan.”
5
 Mengapa sesuatu disebut ilmu? Apa saja lintas batas ilmu pengetahuan? Dan, bagaimana prosedur untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat ilmiah?Pertanyaan-pertanyaan itu agaknya yang dapat dijawab dari pengertian epistemologiyang sudah disebutkan. Filsafat, tulis Suriasumantri, tertarik pada cara, proses, dan prosedur ilmiah di samping membahas tentang manusia dan pertanyaan-pertanyaan diseputar ada, tentang hidup dan eksistensi manusia.
6
Kumpulan data tidak memilikiarti apa-apa tanpa adanya proses dan prosedur yang memiliki standar ilmiah.Epistemologi merupakan bagian dari filsafat pengetahuan yang membahastentang cara dan alat untuk mengetahui, tulis Hollingdale. Ia mendefinisikanepistemologi secara sederhana sebagai “Teori mengenai asal usul pengetahuan danmerupakan alat untuk mengetahui”
7
Kata-kata “to know” (untuk mengetahui) dan“means” (alat-alat) menjadi kata kunci dalam poses epistemologis. Bagaimana kitadapat mengetahui sesuatu, serta metode (teknik, instrumen dan prosedur) apa yangkita gunakan untuk mencapai pengetahuan yang bersifat ilmiah? Inilah inti pembahasan yang menjadi perhatian epistemologi.Epitemologi atau teori ilmu pengetahuan juga sering diartikan sebagai cabangfilsafat yang mencurahkan perhatian terhadap dasar, lingkup, dugaan-dugaan sertaketentuan umum yang terandal untuk mengklaim sebagai ilmu pengetahuan. Hamlyn
5
 
Webster’s New World Dictionary of the American Language
(Cleveland and New York: TheWorld Publishing Company, 1962). Webster menyebutkan epistemologi merupakan: “The theory of science that investigate the origins, nature, methods, and limits of knowledge.”
6
Jujun S. Suriasumantri,
 Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer 
(Jakarta: Pustaka Sdinar Harapan, 1988) hal 28-30
7
R.J. Hollingdale,
Western Philosophy
(London: Kahn & Averill, 1993) hal. 37. Iamenegaskan, epistemologi merupakan: “The theory of the nature of knowing and the means by whichwe know.”
3

Activity (101)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
junijingga liked this
Leeyh liked this
Ria Baroez liked this
Anggi Yk liked this
Saryono Yono liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->