Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Keutamaan Karakter Dan Nilai Pancasila

Keutamaan Karakter Dan Nilai Pancasila

Ratings: (0)|Views: 89 |Likes:
Published by Juneman Abraham

More info:

Published by: Juneman Abraham on Nov 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/04/2013

pdf

text

original

 
i
 
Prosiding SNaPP2012: Sosial, Ekonomi, dan Humaniora ISSN 2089-3590
253
 
OMPATIBILITAS
EUTAMAAN
ARAKTER 
D
ENGAN
N
ILAI
-
NILAI
P
ANCASILA
:P
ERSPEKTIF
ONTRAK 
P
SIKOLOGIS DAN
ONTRAK 
S
OSIAL
 
1
Juneman,
2
Fhardian Putra,
3
Eko Aditya Meinarno
1
Jurusan Psikologi, Universitas Bina Nusantara, Jl. Kemanggisan Ilir III No. 45 Jakarta 11480
2,3
Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Kampus Baru UI Depok 16424
e-mail:
1
  juneman@binus.ac.id  ,
2
  fhardian89@gmail.com ,
3
 meinarno@ui.ac.id 
 
Abstrak 
. Dalam artikel ini, peneliti berargumentasi bahwa kegagalan (bila ada)dari pendidikan nilai di Indonesia disebabkan karena gagal dipahaminya pendidikan karakter dan Pancasila masing-masing sebagai kontrak psikologis(informal, tidak tertulis) dan kontrak sosial. Oleh karena itu, penelitian inimelakukan penyelidikan empiris terhadap hubungan antara kedua basis kontrak, yakni keutamaan karakter dan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini menggunakandesain korelasional, dengan sampel 1000 mahasiswa sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta (449 laki-laki, 551 perempuan; M 
usia
= 17,79 tahun; SD
usia
= 1,01tahun). Hasil penelitian menunjukkan adanya kompatibilitas berupa korelasi positif antar sejumlah dimensi Keutamaan/Kekuatan Karakter dan Keber-Pancasila-an yang diteliti. Sebagai penelitian awal yang bersifat indigenous, penelitian inimemberikan perspektif baru dalam memandang pendidikan karakter.
Kata kunci
: karakter, Pancasila, kontrak, nilai
 
1. Pendahuluan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan semakin memperkuat kurikulum pendidikan karakter mulai 2013 (Joewono, 2012). Penulis telah berperan serta dalamdiskursus akademik mengenai pendidikan karakter, dengan memperlihatkan: (1) perdebatan filosofis dan akademis seputar pendidikan karakter, termasuk diferensiasiterminologis dan modelnya (Juneman, 2010), (2) bahwa pendidikan karakter merupakansalah satu gagasan tematis dalam mazhab psikologi positif (Juneman, 2009), (3) bahwa psikologi sosial dapat berkonvergensi dengan ilmu pendidikan untuk merajut proses pendidikan berkarakter dan berbudaya (Juneman, 2010), serta (4) bahwa tingkatidentifikasi individu terhadap nilai-nilai Pancasila dapat diukur dengan sebuah skala psikologis (Meinarno & Juneman, 2012). Berbagai pendekatan teoretis dan pengukurantelah berupaya memberikan kontribusi pemahaman ontologis dan epistemologiskarakter dan nilai (misalnya, Shimp, 2007; Shryack, Steger, Krueger, & Kallie, 2010).Salah satu minat riset terpenting psikologi dalam hal pendidikan karakter adalahmengenai penjelmaan keutamaan karakter menjadi tindakan berkarakter, dan hal inisering dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan karakter. Urgensi minatriset ini tidak hanya berangkat dari kegelisahan akademik, tetapi juga dari kebutuhan praktis, sebagaimana direpresentasikan dalam pernyataan Sarwono (2012) berikut ini:
"Tentu saja metode indoktrinasi model Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pada era Soeharto sudah ketinggalan zaman. Namun, mengawal Pancasila dengan metode-metode yang lebih cerdas dan egalitarian harus diciptakan, dikembangkan, dan dipraktikkan ...."
Salah satu karya yang paling komprehensif dalam menjawab kegelisahantersebut adalah karya Berkowitz dan Bier (2007). Kesimpulan kajian kepustakaan
 
254
|
Juneman,
et al.
 Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan PKM: Sosial, Ekonomi, dan Humaniora
 
mereka terhadap 109 penelitian yang antara lain diperoleh dari pangkalan data
 ERIC 
,
 PsycINFO
,
 HealthSTAR
, dan
Social Science Index
sebagai berikut (h. 29):
"
Character education can work when implemented with fidelity and broadly, and has a veryrobust impact. Effective character education tends to include: professional development; student interactive pedagogical strategies; an explicit focus on character/ethics; direct training of social and emotional competencies; modeling of character; aligned classroom/behavior management  strategies; and community service and/or service learning 
."
Hasil-hasil penelitian di Indonesia perihal pendidikan karakter dapatmengkonfirmasi temuan Berkowitz dan Bier tersebut, dan karenanya tidak dipaparkanulang dalam tulisan ini. Tulisan ini justru akan mengangkat sebuah perspektif alternatif dalam bagaimana kita harus memandang pendidikan karakter, termasuk pendidikanPancasila, yakni dengan menggunakan (1) konsep psikologi, yakni Kontrak Psikologis,dan (2) konsep sosiologi, yakni Kontrak Sosial. Penulis juga melakukan studi empirisuntuk menguji kompatibilitas antara keutamaan karakter yang dikemukakan Petersondan Seligman (2004) dan nilai-nilai Pancasila.
2. Kontrak Psikologis dan Kontrak Sosial
Kontrak psikologis merupakan sebuah konsep dalam lapangan psikologi industridan organisasi (PIO). Kontrak psikologis didefinisikan sebagai keyakinan pekerjamengenai obligasi resiprokal (kewajiban timbal balik) antara pekerja denganorganisasinya, dalam hal mana obligasi tersebut didasarkan atas janji yangdipersepsikan oleh pekerja meskipun tidak selalu direkognisi/diketahui oleh agen-agenorganisasi (rekruter, penyelia/supervisor, manajer HR, dsb) (Morrison & Robinson,1997). Menurut sejarahnya, kontrak psikologis berasal dari konsep psikologi klinis,yakni "kontrak psikoterapi", yang dianggap sebagai aspek tak teraba (
intangible
) darirelasi kontraktual antara psikoanalis dengan pasien (Meckler, Drake, & Levinson, 2003;Schalk & Roe, 2007). Konsep ini diaplikasikan dalam dunia kerja, dan disinonimkandengan "kontrak tidak tertulis" (
unwritten contract 
), yaitu jumlah seluruh harapanmutualistis antara pekerja dan organisasi, termasuk hal-hal apa yang seyogianyadiberikan dan diterima oleh masing-masing pihak. Dalam hal ini, pihak manajemen"berjanji" untuk menempatkan pekerja dalam situasi motivasional di mana kebutuhan pekerja akan afeksi, agresi, dependensi, dan pencapaian tujuan-tujuan ego dapatdipenuhi secara memadai. Sebagai ganti (pertukaran) dari kesempatan pemenuhankebutuhan yang diberikan organisasi tersebut, pekerja berjanji untuk seterusnyamengeluarkan upaya untuk bekerja secara produktif yang menguntungkan organisasi.Ada dua penyebab dasar terjadinya pelanggaran kontrak psikologis, yakni pengingkaran (
reneging 
) dan inkongruensi (Turnley & Feldman, 1999). Pengingkaranterjadi bilamana organisasi secara sengaja melanggar janji kepada pekerja, baik karenatujuan tertentu ataupun karena situasi-situasi tak terduga. Sebaliknya, inkongruensiterjadi bilamana pekerja dan organisasi memiliki pemahaman yang berbeda berkenaandengan hal yang dijanjikan kepada pekerja. Dalam hal ini, organisasi merasa telahmemenuhi komitmennya kepada pekerja, namun pekerja mempersepsikan bahwaorganisasi telah gagal menjaga atau memenuhi janjinya.Dalam perkembangannya, nuansa psikologi klinis diperluas dengan perspektif  psikologi sosial dan kognitif (Rousseau, 2003). Metafora untuk mutualisme dalamkontrak psikologis adalah "
meeting of the minds
", yakni momen perjumpaan ketika

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->