• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Silahkan download e-book ini di halaman download pada situs
 Judul : Fatwa Majma’ al Buhuts al Islamiyah tidak Berlaku terhadap Bank Bankkonvensional Judul asli : Fatwa Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah la Tanthabiqu ‘ala Wada’i al-Bunukal-IslamiyahPenulis : Dr. Husein Hamid Hasan(Guru Besar fakultas hukum Universitas Kairo)Sumber : Majalah Iqtishad al-Islami (edisi 260 – 261)
Penerjemah : Tim Pakeis
Beberapa mas media memberitakan tentang fatwa bunga bank konvensionalyang dikeluarkan oleh
 Majma’ al Buhuts al Islamiyah
(Lembaga Riset Islam).Fatwa ini telah menyalahi keputusan yang dikeluarkan oleh
 Majma’ al Buhutsal Islamiyah
(Lembaga Riset Islam) sendiri pada tahun 1965, juga menyalahikeputusan seluruh lembaga fiqh dan ekonomi dalam setiap konferensi dan seminaryang membahas bunga bank konvensional.Pada waktu yang sama, obyek fatwa
 Majma’ al Buhuts al Islamiyah
(LembagaRiset Islam) tersebut adalah bank–bank yang menerima dana dari para nasabahsebagai
wakil
mereka untuk menginvestasikannya secara langsung dalam usaha-usaha yang dibolehkan oleh syara’. Dan jenis ini tidak terjadi pada bank-bankkonvensional baik bank komersial ataupunbank-bank khusus, karena bank-banktersebut menerima dana dari para nasabah sebagai peminjam dan harusmengembalikannya kepada para pemiliknya. Sedangkan undang-undang yangberlaku melarang bank-bank ini untuk menginvestasikan secara langsung simpanantersebut. Dan satu-satunya jalan bagi bank ini adalah adalah meminjamkannyakepada para nasabah dalam bentuk kredit berbunga.Oleh karena itu saya berinisiatif untuk menjelaskan secara terperinci fatwa inidan saya yakin bahwa bank yang disebutkan dalam fatwa adalah khayalan dan tidakada dalam kenyataan.Dan jika bank-bank seperti itu ada dengan merubah undang-undang yangberlaku sehingga undang-undang mengizinkan bank-bank tersebut untuk menerimadana nasabah sebagai
wakil
dari mereka untuk diinvestasikan secara langsungdalam usaha yang dihalalkan, maka itu berarti bank-bank tersebut sudah islami,dengan syarat hukum dan ketentuan
wakalah
(mewakilkan) diterapkan, yaituseorang
mudi’
(penyimpan dana) adalah pemilik dana tersebut, ia berhakmendapatkan seluruh keuntungannya dan bertanggung jawab terhadap resikoinvestasinya dan seorang wakil berhak mendapatkan upah tertentu (
ajr ma’lum
) ataudengan presentase dari dana investasi.Oleh karena itu, tulisan singkat ini bermaksud menjelaskan fatwa ini,obyeknya dan pelanggarannya terhadap hukum syara’.
Pertanyaan dan fatwa
Fatwa tersebut berkenaan dengan pertanyaan yang diajukan oleh Dr. HasanAbbas Zaki kepada Syekh al Azhar. Isi pertanyaannya sebagai berikut:Kepada yang terhormat
Dr. Muhammad Sayyid Thonthowi Syekh al Azhar 
 
 Assalamualaikum wr. wb.Perlu diketahui bahwa para nasabahThe Exange of Arabic International Coorforation Bank(Bank Syarikah al Masyrifiyah al ‘arabiyah ad dauliyah)menyimpan dananya pada bank iniuntuk diinvestasikan dalam usaha-uaha yang masyru’ (dibolehkan) dengan keuntunganyang telah ditetapkan di muka dalam jangka waktu yang telah disepakati antara pihak bankdengan nasabah. Oleh karena itu kami mengharapakan pandangan syar’i (hukum islam)terhadap masalah ini.
Kemudian Syekh Azhar melimpahkan pertanyaan ini kepada
 Majma’ alBuhuts al Islamiyah
untuk dikaji, yang kemudian mengeluarkan jawabannya sebagaiberikut :
Para nasabah yang berhubunagan denganThe Exange of Arabic InternationalCoorforation Bank (Bank Syarikah al Masyrifiyah al ‘arabiyah ad dauliyah)atau denganbank lain, di mana para nasabah menyimpan dananya pada bank ini sebagai wakil merekauntuk diinvestasikan dalam usaha-usaha yang masyru’ (dibolehkan) dengan keuntunganyang telah ditetapkan di muka untuk untuk mereka dalam jangka waktu yang telahdisepakati antara pihak bank dengan nasabah. Kegiatan ini hukumnya halal tidak diragukankarena tidak ada dalil dari kitab dan sunnah yang melarang suatu muamalah yangkeuntungan usahanya ditetapkan dimuka selama kedua belah pihak ridha dengan muamalahini.******** 
Saya akan menjawab fatwa ini dalam tiga bagian, yaitu pertama dasar – dasarkeuangan dalam islam, kedua jawaban global terhadap fatwa dan ketiga jawabanterperinci terhadap fatwa dan kesimpulannya.
Bagian Pertama : Dasar-dasar keuangan dalam Islam
1.
Kewajiban bekerja
Islam menganjurkan untuk bekerja dan berusaha dan menjadikan bekerjasebagai amal ibadah, usaha produksi sebagai keta’atan, dan kesejahteraansebagai kewajiban karena hal tersebut adalah kekuatan yang diperintahkan olehAllah swt untuk memerangi
mu’tadin
(orang yang melakukan kejahatan).Seorang muslim menggunakan hasil usahanya untuk memenuhikebutuhannya yang
masyru’
(dibolehkan) dan menggunaknnya dalam hal-hal
thoyyibat
(baik) bukan pada hal-hal
muharromat
(yang diharamkan). Begitu pulaia harus menggunakannya dalam batas kewajaran dan tidak berlebih-lebihansehingga seorang muslim bisa menyimpan sisa hasil usahanya untuk memenuhikebutuhan-kebutuhannya yang lain.
2.
Kewajiban menginvestasikan simpanan.
Menabung harta (tidak diinvestasikan) termasuk penimbunan walaupuandikeluarkan zakatnya karena harta tesebut tidak beredar, tidak dikelola untukproses pembangunan dan tidak menambah produksi barang dan jasa.Oleh karena itu seorang muslim harus menginvestasikannya dan secaralangsung oleh dirinya sendiri, dengan begitu ia berhak mendapatkankeuntungan (
 gunm
) harta yang diinvestasikan dan menanggung kerugian usaha(
 gurm
) sesuai kesepakatan para ulama. Karena hasil harta itu menjadi hakpemiliknya begitu pula dengan kerugiannya menjadi tanggung jawab pemilik sesuai dengan hukum kepemilikan- selama tidak ada orang lain yangmenyebabkan kerugian ini karena kelalaian terhadap harta tersebut (
ta’addi
) ataukecerobohannya dalam mengelolanya dan menjaganya (
taqshir 
) sesuai denganketentuan akad dalam syari’at. Jika pemilik modal tersebut tidak bisa mengelolanya sendiri karena tidakada keahlian, keterbatasan waktu atau usahanya kurang menguntungkan
 
karena minimnya modal, maka Islam mewajibkannya untuk memilih beberapaalternatif usaha di bawah ini :
a.
Mengupahkan (
isti’jar 
) kepada orang lain untuk mengelola modal ini. Iamenjadi pemilik usaha tersebut, sedangakan invistor menjadi pengelolanyadengan transaksi
ijarah
. Dalam hal ini pemilik usaha menanggung kerugianusaha dan berhak mendapatkan keuntungan, sedangkan pengelolanya akanmendapatkan upah sesuai dengan kesepakatan bersama baik usaha yangdijalankan itu untung ataupun rugi selama kerugian itu terjadi di luarkemampuannya sesuai dengan hukum kepemilikan.
 b.
Menyerahkan modal ini kepada pihak lain –seperti bank misalnya- untukmengelolanya dengan akad
wakalah
(mewakilkan) dengan upah tertentu yangdijamin oleh pemilik modal, baik usaha tersebut beruntung ataupun rugiyang terjadi di luar kemampuan
wakil
(yang diwakilkan). Dalam usaha inipemilik berhak mendapatkan keuntungan dan menanggung kerugian usahasesuai dengan hukum kepemilikan, karena hasil harta itu untuk pemiliknyabegitu pula dengan kerugiannya menjadi tanggung jawab pemilik selamatidak ada orang lain yang menyebabkan kerugian ini seperti yang telahdijelaskan sebelumnya.
c.
Menyerahkan modal ini kepada pihak lain –seperti bank misalnya- untukmengelolanya dengan akad
mudharabah
(sistem bagi hasil) di mana
mudharib
(pengelola) mendapatkan bagian dari keuntungan riil bukan keuntunganperkiraan. Jika tidak ada keuntungan, maka
mudharib
tidak mendapatkanapa-apa karena ia telah melakukan
mukhatarah
 (spekulasi)dengan kerjanyabegitu pula dengan pemilik modal telah melakukan
mukhatarah
 (spekulasi)dengan modalnya.Dalam akad ini setiap kerugian mentadi tanggung jawab pemilikmodal atau dinamakan deposan dan begitu pula dengan keuntungannyakecuali jika ada bagian dari keuntungan yang diberikan –sesuai dengantransaksi- kepada bank sebagai mudharib. Sebab deposan adalah pemilikmodal dan
mudharib
adalah
 
wakil yang diberikan wewenang untukmengelola dengan keuntungan yang diketahui (
ribh ma’lum
) bukan denganupah yang diketahui (
ajr ma’lum
) seperti halnya
wakil
yang tidak diserahiwewenang tesebut.Hukum ini berlaku baik bank tersebut menginvestasikannya denganakad
mudharabah
ataupun
wakalah
. Maka simpanan tetap mejadi milikdeposan yaitu
muwakkil
(yang mewakilkan) dalam akad
wakalah
dan pemilikmodal dalam akad
mudharabah
, oleh karena itu simpanan itu menjadi jaminanpemiliknya bukan jaminan
wakil
atau
mudharib
karena keduanya di berikandana tersebut bukan sebagai pinjaman (
 ghoiru madin
).Hal ini sesuai dengan kaidah syar’iyyah yang
qoth’i
yaitu bahwakerusakan dan kerugian harta menjadi tanggung jawab pemiliknya selamakerugian dan kerusakan ini tidak disebabkan oleh
wakil
atau
mudharib
(pengelola). Sebagai imbalannya pemilik menanggung resiko usaha jugaberhak mendapatkan keuntungan setelah membayar upah
wakil
ataukeuntungan
mudharib
.Tetapi jika pemilik modal atau pemilik simpanan meminjamkan danatersebut kepada bank dengan akad
wadi’ah naqdiyah
(deposito uang) atau disebut
wadi’ah naqishah
, maka bank menjadi pemilik dana tersebut. Oleh karena itu –sesuaidengan hukum kepemilikan- bank berhak mendapatkan keuntungan dari dana
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...