karena minimnya modal, maka Islam mewajibkannya untuk memilih beberapaalternatif usaha di bawah ini :
a.
Mengupahkan (
isti’jar
) kepada orang lain untuk mengelola modal ini. Iamenjadi pemilik usaha tersebut, sedangakan invistor menjadi pengelolanyadengan transaksi
ijarah
. Dalam hal ini pemilik usaha menanggung kerugianusaha dan berhak mendapatkan keuntungan, sedangkan pengelolanya akanmendapatkan upah sesuai dengan kesepakatan bersama baik usaha yangdijalankan itu untung ataupun rugi selama kerugian itu terjadi di luarkemampuannya sesuai dengan hukum kepemilikan.
b.
Menyerahkan modal ini kepada pihak lain –seperti bank misalnya- untukmengelolanya dengan akad
wakalah
(mewakilkan) dengan upah tertentu yangdijamin oleh pemilik modal, baik usaha tersebut beruntung ataupun rugiyang terjadi di luar kemampuan
wakil
(yang diwakilkan). Dalam usaha inipemilik berhak mendapatkan keuntungan dan menanggung kerugian usahasesuai dengan hukum kepemilikan, karena hasil harta itu untuk pemiliknyabegitu pula dengan kerugiannya menjadi tanggung jawab pemilik selamatidak ada orang lain yang menyebabkan kerugian ini seperti yang telahdijelaskan sebelumnya.
c.
Menyerahkan modal ini kepada pihak lain –seperti bank misalnya- untukmengelolanya dengan akad
mudharabah
(sistem bagi hasil) di mana
mudharib
(pengelola) mendapatkan bagian dari keuntungan riil bukan keuntunganperkiraan. Jika tidak ada keuntungan, maka
mudharib
tidak mendapatkanapa-apa karena ia telah melakukan
mukhatarah
(spekulasi)dengan kerjanyabegitu pula dengan pemilik modal telah melakukan
mukhatarah
(spekulasi)dengan modalnya.Dalam akad ini setiap kerugian mentadi tanggung jawab pemilikmodal atau dinamakan deposan dan begitu pula dengan keuntungannyakecuali jika ada bagian dari keuntungan yang diberikan –sesuai dengantransaksi- kepada bank sebagai mudharib. Sebab deposan adalah pemilikmodal dan
mudharib
adalah
wakil yang diberikan wewenang untukmengelola dengan keuntungan yang diketahui (
ribh ma’lum
) bukan denganupah yang diketahui (
ajr ma’lum
) seperti halnya
wakil
yang tidak diserahiwewenang tesebut.Hukum ini berlaku baik bank tersebut menginvestasikannya denganakad
mudharabah
ataupun
wakalah
. Maka simpanan tetap mejadi milikdeposan yaitu
muwakkil
(yang mewakilkan) dalam akad
wakalah
dan pemilikmodal dalam akad
mudharabah
, oleh karena itu simpanan itu menjadi jaminanpemiliknya bukan jaminan
wakil
atau
mudharib
karena keduanya di berikandana tersebut bukan sebagai pinjaman (
ghoiru madin
).Hal ini sesuai dengan kaidah syar’iyyah yang
qoth’i
yaitu bahwakerusakan dan kerugian harta menjadi tanggung jawab pemiliknya selamakerugian dan kerusakan ini tidak disebabkan oleh
wakil
atau
mudharib
(pengelola). Sebagai imbalannya pemilik menanggung resiko usaha jugaberhak mendapatkan keuntungan setelah membayar upah
wakil
ataukeuntungan
mudharib
.Tetapi jika pemilik modal atau pemilik simpanan meminjamkan danatersebut kepada bank dengan akad
wadi’ah naqdiyah
(deposito uang) atau disebut
wadi’ah naqishah
, maka bank menjadi pemilik dana tersebut. Oleh karena itu –sesuaidengan hukum kepemilikan- bank berhak mendapatkan keuntungan dari dana
Leave a Comment