kerjasama antara keduanya, dan keuntungan tersebut di tentukan di muka dalam tempo waktuyang telah disepakati oleh para nasabah”.Paragrap di atas mengandung tiga permasalahan:Permasalahan
pertama
: bahwa jawaban tersebut berhubungan langsung dengan bank yangbertanya, juga bank-bank yang lain.
Kedua
: sifat bank sebagai
wakil
bagi para nasabahnya, danyang
ketiga
: bentuk investasi yang dibolehkan.Kita akan membahas ketiga permasalahan ini, dan khususnya yang kedua dan ketigayang merupakan inti permasalahan.Permasalahan
pertama
: Jawaban ini mencakup seluruh bank yang mempraktikkan sistem riba.Di sini tidak ada perbedaan antara bank penanya dengan bank-bank konvensional lainnya. Inimenunjukan bank tersebut tidak mempunyai karakteristik tersendiri, walaupun sebenarnya adaperberbedaan antara bank ini dengan bank lainnya, Juga bank tersebut menginvestasikan uangnasabah tidak seperti lazimnya yaituinvestasi bank-bank.Oleh karena itu generalisasi ini menunjukan bahwa bank penanya sama dengan bank-bank lainnya, yang dengan demikian bisa dipastikan bahwa hukumnyapun satu.Permasalahan
kedua
: Penambahan sifat “wakil” kepada bank. Masalah ini merupakan(
manath)
landasan dari fatwa tersebut. Jika landasan ini benar, maka benar pulal fatwanya. Inisangat mendasar sekali. Sebab masalah ini akan mengungkap dengan benar posisi bank.Posisi bank sebagai wakil dalam transaksi ini sebenarnya sama sekali tidak bisadibenarkan, sebab para fuqaha sepakat bahwa wakil itu bekerja untuk kemaslahatan
muwakkil
(pihak yang diwakili), sedangkan
muwakkil
dibolehkan untuk membatalkan transaksi dari satufihak, bahkan memecat
(muwakkal)
dari transaksi
wakalah
(perwakilan), karena wakalahmerupakan
'akad jaiz
(boleh membatalkan akad dari sebelah pihak, tanpa persetujuan pihak lain)bukan
akad lazim
(tidak boleh membatalkan akad hanya dari satu pihak, akan tetapi harus melaluikesepakatan dari dua pihak). Wewenang wakil terhadap uang tersebut adalah
yad amanah
(amanat) yang tidak menanggung resiko kerugian dan hilangnya uang, kecuali apabiladisebabkan oleh kelalaiannya sendiri.
Wakil
dalam memegang harta tersebut ada yang bersifat
tabarru'
(sumbangan) danadapula yang mendapatkan upah. Jika wakil mendapatkan upah, maka harus ditentukan jumlahnya secara pasti, sebagian fuqoha membolehkan upah tersebut diambil sesuai denganpresentase dari modal.Ulama pun sepakat bahwa keuntungan harta yang berada di tangan wakil semuanyauntuk
muwakkil
, begitupula kerugiannya ditanggung oleh
muwakkil
. Hal ini tidak sesuai samasekali dalam akad yang tengah kita bahas, sebab bank menginvestasikan uang tersebut sesuaidengan kehendaknya, kemudian bank memberikan keuntungan kepada para nasabah. Ini berartiseluruh keuntungan investasi tersebut untuk bank setelah bank memberikan keuntungan dalam jumlah yang ditentukan kepada para nasabah —sebagaiamana yang dijelaskan fatwa padaparagrap lalu— dan tentunya jumlah keuntungan tersebut tidak terbatas dan tidak diketahui olehpara nasabah sebagai pemilik modal.Dikatakan sebelumnya bahwa bank berperan sebagai wakil bagi nasabah yangmenanggung resiko kerugian, bahkan bank menjamin modal dan juga bank memberikan bungayang ditetapkan di muka.Semua ini bertolak belakang dengan
akad wakalah
. Dengan demikian maka jelaslahbahwa aplikasi bank ini tidak sesuai sama sekali dengan akad wakalah, dan tidak satupun orangyang mampunyai keahlian dalambidang fikih menyatakan bahwa akad ini akad wakalah.Bagitu pula tidak sah jika akad ini dikategorikan ke dalam akad
mudharabah
(bagi hasil),di mana bank sebagai
mudharib
bagi nasabah (para pemilik modal), karena syarat
mudharabah
yang disepakati oleh mayoritas (
fuqoha’)
adalah : bahwa keuntungan harus diketahui jumlahnya.Dengan demikian maka harus ditentukan keuntungan yang akan diterima oleh
mudharib
, dansisa keuntungan diserahkan kepada pemilik modal. Syarat lain adalah bahwa besarkeuntungan berupa presentase yang diketahui seperti: seperdua, sepertiga, dan seperempat, dst.Namun demikian jika bank telah menetapkan keuntungan yang pasti, atau presentase tertentudari modal, maka
akad mudharabah
seperti ini
bathil
(tidak sah), karena akan mengakibatkankemungkinan terjadinya
(qoth’u al-syirkah fi al-ribh)
pemastian jumlah keuntungan, sementara adakemungkinan
mudharib
tidak mendapatkan keuntungan selain keuntungan yang ditentukandalam akad.
3
Leave a Comment