• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Silahkan download e-book ini di halaman download pada situs
 Judul: Mashlahat Tidak Dikedepankan Dari Nash Ketika Terjadi Kontradiksi Judul asli
: Al-mashlahah la tuqoddamu ‘ala al-nash ‘inda al-ta’arudh
Penulis: Dr. ‘Ujail Jasim al-Nasymi(Mantan Dekan Fakultas Syari’ah Univ Kuwait)Sumber : Majalah Iqtishad al-Islami (edisi 260 – 261)
Penerjemah : Tim Pakeis
Sebelum kita membahas tentang polemik yang terkandung dalam fatwa
(Majma’ al-Buhust al-Islamiyah),
seharusnya kita terlebih dahulu menentukan titik perbedaan serta
manath al-hukm
(landasan hukumnya) dalam fatwa tersebut. Karena dalam fatwa itu tidak bisa dibedakanantara titik kesepakatan dan perbedaan sementara
manath al-hukm
(landasan hukumnya)
 
belumdi identifikasi dengan tepat.Masalahnya penentuan keuntungan (bunga) di muka tidak bisa dipisahkan dari masalahlainnya, inti perbedaan terletak pada penjaminan serta pensyaratan adanya keuntungan, sertaposisi bank terhadap modal; dalam artian: apakah posisi bank disini
amin
(bersifat pemberikeamanan) atau
dhamin
(menjaminan). Lalu apabila bank disini berperan sebagai wakil, apaimplikasi yang ditimbulkan oleh pola hubungan ini?. jawaban atas pertanyaan-pertanyaan inilahyang semestinya dijadikan landasan dalam mengeluarkan fatwa, agar bisa menghasilakankonklusi yang tepat dari sisi metodologi ilmiah. Setelah ini mari kita mencoba mulai membahasdengan tenang fatwa tersebut, secara ilmiah.
Pertama : Tema Fatwa
Tema fatwa adalah:
“Investasi modal pada bank-bank yang menentukan keuntungan di muka”
 Tema ini mengindikasikan bahwa yang menjadi topik polemik adalah penentuankeuntungan di muka, seakan-akan investasi tersebut halal dan diperbolehkan. Sementara banyakunsur-unsur pokok dalam pertanyaan yang terabaikan dalam fatwa.Seharusnya tema yang tepat adalah:
“Hukum investasi modal pada bank konvensional”
. Agardapat mencakup semua unsur dalam pertanyaan dan apakah keuntungan tersebut benar-benarditentukan dimuka atau tidak ?, juga agar mencakup bank-bank yang menentukan keuntungandi muka dan yang tidak, agar tema di atas tidak di salah fahami
(mafhum mukholif).
Kedua: Pertanyaan
Pertanyaan yang di ajukan kepada
(Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah)
adalah sbb:
“Paranasabah bank (al-Syirkah al-Mashrafiyyah al-‘Arabiyyah al-Dauliyyah) menyimpan uang mereka di bankini, di mana bank
mempergunakan
dan
meninvestasikan
uang tersebut ke dalam transaksi yang legal,dengan konpensasi keuntungan yang telah ditentukan dimuka dalam tempo yang telah disepakati olehnasabah. Kami mohon penjelasan hukum syariat dalam transaksi tersebut di atas.
Tertanda
Ketua Direksi
DR. Hasan ‘Abbas Zaki,
Bersama ini saya lampirkan contoh berkas transaksi antara investor dengan bank.Adapun contohnya sebagai berikut:Bank:
al-Syirkah al-Mashrafiyyah al-‘Arabiyyah al-Dauliyyah
Tanggal: / /2000Nama:…….No. Rekening:
Dengan hormat,
Dengan ini kami memberitahukan kepada anda bahwa jumlah uang simpanan anda berjumlahLE, 100.000 (Seratus ribu pound Mesir) terhitung sejak tanggal 1/1/2002 sampai 31/12/2002
 
dengan bunga 10% pertahun, dan bunga tersebut jumlahnya LE, 10.000. Jumlah simpanan ditambah bunga pada waktu pengambilan berjumlah LE, 110,000 
Pembahasan
Kita akan mengkaji pertanyaan di atas beserta berkas yang dilampirkan dalampertanyaan tersebut:(a). Seharusnya (para anggota Majma’ al-Buhust al-Islamiyah) terlebih dahulu memerincisubstansi pertanyaan di atas, karena bisa mengeluarkan hukum (fatwa) hanya berlandaskanpertanyaan global. Juga seharusnya bank menanyakan kembali perincian dan beberapa keterangan sangatdibutuhkan karena point ini sangat terkait dengan kesempurnaan fatwa. Diantara permasalahan-permasalahan tersebut adalah:Apa posisi bank secara hukum ketika menerima uang dari nasabah, apakah posisi bank sebagai
muqtaridh
(peminjam),
mudhorib
(pihak yang melakukan kerjasama dengan pemilik modaldengan keuntungan sesuai kesepakatan) atau sebagai wakil ??, juga obyek pertanyaan dan alasanmunculnya pertanyaan diatas, adalah karena informasi seperti ini akan menjadi landasandibangunnya hukum.Sebagaimana telah maklum bersama bahwa bank saat menerima uang dari para nasabahadalah sebagai debitor
(muqtaridh). 
Permintaan penjelasan yang dimaksud dalam ungkapan-ungkapan penanya:
 penggunaan”
dan
“investasi”
dan
“dalam usaha yang legal secara syar’i”
, sebenarnya apa yangdimaksud oleh bank (penanya) dengan investasi yang disebut-sebut sebagai
masyru’ah
(mendapatkan legalitas) itu ???. Lalu dengan menyebutkan kata
“masyru’ah”
sebenarnya pihakpenanya (pihak bank) telah menghukuminya, dan ini berarti telah mendahului hukum dan fatwaitu sendiri, karena dalam kenyataannya bank (penanya) tidak memiliki hak untuk mensipatitransaksinya ini dengan sifat legal secara syariat, karena jika tidak demikian, maka bukantempatnya pertanyaan ini diketengahkan disini. Lebih jauh lagi, apa perbedaan antara
“penggunaan
” dan “
investasi”
??? apakah yang dimaksud adalah bahwa bank mempergunakanharta tersebut untuk keperluan administratif, kebutuhan kantor, gaji para pegawai, sementarainvestasi bermakna lain ???(b). Berkas yang dilampirkan dalam pertanyaan sebenarnya berbeda dengan pertanyaan yangdiajukan, serta tidak mengungkap kandungannya, sebab isi pertanyaan tersebut berkenaandengan investasi modal (dalam artian di sana terdapat pola tertentu dari investasi), sertabeberapa transaksi yang disifati
“masyru’iyyah”
(dibolehkan oleh syari’at), sementara formuliryang dilampirkan, mengandung sesuatu yang sangat berbeda.Kontradiksi ini tentunya akan segera memicu munculnya sebuah pertanyaan yangaksiomatik, karena dalam formulir itu jelas-jelas memuat bentuk
(shighah)
riba, sekaligusmemberikan isyarat bahwa sebenarnya tidak ada hubungan antara bank dan investasi, kecualidalam bentuk investasi
naqdi
(uang) yang mengandung riba karena uang menghasilkan uangkembali.Ini semua secara jelas terdapat dalam berkas lampiran dan tidak memerlukan pemikiranyang dalam Karena disitu tertulis bahwa nasabah menyimpan uang sebesar (L.E. 100.000- seratusribu pound Mesir) terhitung semenjak tanggal 1/1/2002 sampai dengan 31/12/2002 dengankeuntungan 10% pertahun. Sehingga jumlah simpanan ditambah dengan keuntungan 10%diakhir tahun menjadi: LE.110.000,00- pertahun. Dengan demikian dalam lampiran inimenunjukan praktek riba, hanya lampiran ini menamakannya keuntungan. Tetapi seperti yangmenjadi kesepakatan ulama bahwa yang mestinya dijadikan pijakan adalah substansi bukanlafadznya.
Ketiga: Studi kritis atas Fatwa Majma’ al-Buhuts (akan diulas perparagraf)(a). Paragraf
 Pertama
berbunyi
:
“Para nasabah yang berinteraksi dengan
Bank al-Syirkah al-Mashrafiyyah al-‘Arabiyyah al-Daulah
-atau dengan bank-bank lainnya- dan menyerahkan uang dan simpanannya di bank agarbank menjadi wakil mereka dalam menginvestasikan uangnya dalam usaha-usaha yangdibolehkan, kemudian para nasabah mendapatkan keuntungan sebagai kompensasi dari
2
 
kerjasama antara keduanya, dan keuntungan tersebut di tentukan di muka dalam tempo waktuyang telah disepakati oleh para nasabah”.Paragrap di atas mengandung tiga permasalahan:Permasalahan
pertama
: bahwa jawaban tersebut berhubungan langsung dengan bank yangbertanya, juga bank-bank yang lain.
Kedua
: sifat bank sebagai
wakil
bagi para nasabahnya, danyang
ketiga
: bentuk investasi yang dibolehkan.Kita akan membahas ketiga permasalahan ini, dan khususnya yang kedua dan ketigayang merupakan inti permasalahan.Permasalahan
pertama
: Jawaban ini mencakup seluruh bank yang mempraktikkan sistem riba.Di sini tidak ada perbedaan antara bank penanya dengan bank-bank konvensional lainnya. Inimenunjukan bank tersebut tidak mempunyai karakteristik tersendiri, walaupun sebenarnya adaperberbedaan antara bank ini dengan bank lainnya, Juga bank tersebut menginvestasikan uangnasabah tidak seperti lazimnya yaituinvestasi bank-bank.Oleh karena itu generalisasi ini menunjukan bahwa bank penanya sama dengan bank-bank lainnya, yang dengan demikian bisa dipastikan bahwa hukumnyapun satu.Permasalahan
kedua
: Penambahan sifat “wakil” kepada bank. Masalah ini merupakan(
manath)
landasan dari fatwa tersebut. Jika landasan ini benar, maka benar pulal fatwanya. Inisangat mendasar sekali. Sebab masalah ini akan mengungkap dengan benar posisi bank.Posisi bank sebagai wakil dalam transaksi ini sebenarnya sama sekali tidak bisadibenarkan, sebab para fuqaha sepakat bahwa wakil itu bekerja untuk kemaslahatan
muwakkil
(pihak yang diwakili), sedangkan
muwakkil
dibolehkan untuk membatalkan transaksi dari satufihak, bahkan memecat
(muwakkal)
dari transaksi
wakalah
(perwakilan), karena wakalahmerupakan
'akad jaiz
(boleh membatalkan akad dari sebelah pihak, tanpa persetujuan pihak lain)bukan
akad lazim
(tidak boleh membatalkan akad hanya dari satu pihak, akan tetapi harus melaluikesepakatan dari dua pihak). Wewenang wakil terhadap uang tersebut adalah
yad amanah
(amanat) yang tidak menanggung resiko kerugian dan hilangnya uang, kecuali apabiladisebabkan oleh kelalaiannya sendiri.
Wakil
dalam memegang harta tersebut ada yang bersifat
tabarru'
(sumbangan) danadapula yang mendapatkan upah. Jika wakil mendapatkan upah, maka harus ditentukan jumlahnya secara pasti, sebagian fuqoha membolehkan upah tersebut diambil sesuai denganpresentase dari modal.Ulama pun sepakat bahwa keuntungan harta yang berada di tangan wakil semuanyauntuk
muwakkil
, begitupula kerugiannya ditanggung oleh
muwakkil
. Hal ini tidak sesuai samasekali dalam akad yang tengah kita bahas, sebab bank menginvestasikan uang tersebut sesuaidengan kehendaknya, kemudian bank memberikan keuntungan kepada para nasabah. Ini berartiseluruh keuntungan investasi tersebut untuk bank setelah bank memberikan keuntungan dalam jumlah yang ditentukan kepada para nasabah —sebagaiamana yang dijelaskan fatwa padaparagrap lalu— dan tentunya jumlah keuntungan tersebut tidak terbatas dan tidak diketahui olehpara nasabah sebagai pemilik modal.Dikatakan sebelumnya bahwa bank berperan sebagai wakil bagi nasabah yangmenanggung resiko kerugian, bahkan bank menjamin modal dan juga bank memberikan bungayang ditetapkan di muka.Semua ini bertolak belakang dengan
akad wakalah
. Dengan demikian maka jelaslahbahwa aplikasi bank ini tidak sesuai sama sekali dengan akad wakalah, dan tidak satupun orangyang mampunyai keahlian dalambidang fikih menyatakan bahwa akad ini akad wakalah.Bagitu pula tidak sah jika akad ini dikategorikan ke dalam akad
mudharabah
(bagi hasil),di mana bank sebagai
mudharib
bagi nasabah (para pemilik modal), karena syarat
mudharabah
yang disepakati oleh mayoritas (
 fuqoha’)
adalah : bahwa keuntungan harus diketahui jumlahnya.Dengan demikian maka harus ditentukan keuntungan yang akan diterima oleh
mudharib
, dansisa keuntungan diserahkan kepada pemilik modal. Syarat lain adalah bahwa besarkeuntungan berupa presentase yang diketahui seperti: seperdua, sepertiga, dan seperempat, dst.Namun demikian jika bank telah menetapkan keuntungan yang pasti, atau presentase tertentudari modal, maka
akad mudharabah
seperti ini
bathil
(tidak sah), karena akan mengakibatkankemungkinan terjadinya
(qoth’u al-syirkah fi al-ribh)
pemastian jumlah keuntungan, sementara adakemungkinan
mudharib
tidak mendapatkan keuntungan selain keuntungan yang ditentukandalam akad.
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...