“Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil amri di antara mereka,tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat)mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)” (QS. An Nisa’: 83) Namun ijtihad, meski suatu hal yang besar, bukanlah yang membuat hukumsyar’i, tapi ia hanya menguak dan memunculkannya, ia tidak bisa dilakukan padasemua hal, namun hanya pada hal yang tidak terdapat teks shahih yang membahasnyasecara jelas, sedang permasalahan yang terdapat teksnya, maka harus disandarkankepadanya, bukannya kepada ijtihad. Oleh karena itu para ulama mengatakan:“Sesungguhnya tidak boleh ijtihad dengan adanya teks”, meski ada obyek untuk berijtihad dalam meng
qiyas
kan terhadap hal yang mempunyai teks, atau dalammengecek akan adanya syarat kesesuaian dalam kasus-kasus baru yaitu yangdinamakan “
tahqiq al manath
”.Sudah menjadi aksioma, dengan kondisi ini ijtihad tidak bisa berbenturandengan hukum-hukum yang telah mempunyai teks, tidak boleh membatalkan kaidah-kaidan syari’ah yang telah ditetapkan, dan tidak boleh bertentangan dengan tujuan-tujuan syari’at yang integral (
maqashid al syari’ah al kulliyyah
).Pekerjaan dengan ketentuan seperti ini tidak bisa dilakukan kecuali olehorang-orang yang punya kompetensi melakukan kewajiban ini, dengan memperolehilmu yang cukup, benar-benar mengetahui tujuan-tujuan syari’at, mengetahui pendapat-pendapat ulama, dan lainnya yang wajib dipenuhi bagi sahnya ijtihad. Ini bukannya berlebih-lebihan dan pengkultusan –seperti yang dibilang sebagian orang-namun dalam rangka menghormati ilmu dan menghargai spesialisasi sebagaimanadalam semua ilmu, di mana para ahli dan orang semua menolak dan menganggapcacat campur tangan orang yang tidak mempunyai ilmu dalam masalah tersebut. Danilmu syari’ah tidak lebih remeh dari ilmu-ilmu lainnya, bahkan ilmu syari’at lebihagung dan utama, maka bagi orang yang terjun di dalamnya harus memilikikapabilitas yang sempurna, karena ia menyampaikan (hukum pent.) dari Allah ta’aladan RasulNya Saw. Rasul Saw. telah bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tapi mereka mewariskanilmu, barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil dengan bagian yang banyak.”Barang siapa belum termasuk ulama yang berkompeten dengan kriteria-kriteria tadi, maka ia tidak boleh berijtihad dalam menentukan hukum-hukum, dandalam menentukan mana yang lebih kuat antar pendapat-pendapat para ahli ilmu,
Leave a Comment