• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Silahkan download e-book ini di halaman download pada situs
BUNGA BANK DAN FATWA LEMBAGA RISET ISLAM (
 MAJMA’ AL- BUHÛTS AL-ISLÂMIYYAH 
)
Banyak lembaran-lembaran media masa kita penuh dengan berita tentangfatwa lembaga riset Islam Al Azhar (
majma’ buhuts Al Islamiyyah
), khususnya mediamasa Mesir pada selang waktu dekat yang lalu, ditulis oleh banyak penulis, ada yangmendukung dan memandang bahwa pendapat majma’ adalah benar yang keluar dari pandangan cemerlang dan ijtihad yang tepat, serta memproyeksikan suatu sikap yang bersejarah, menonjolkan toleransi dan kecerdasan tujuan syari’at, dapat mengentaskanmasyarakat Islam dari kondisi berbahaya yang diakibatkan oleh penafsiran yang kolotyang membahayakan agama sendiri sebelum membahayakan masyarakat Islam.Ada juga penulis-penulis yang memandang fatwa tersebut sebagai fatwamurahan yang tidak disandarkan kepada dalil yang benar dari syari’at Allah, dapatmembuka pintu riba seluas-luasnya, dan berusaha memperbaiki citra bank-bank konvensional di mata orang-orang Islam pada umumnya yang sudah kehilangankepercayaan terhadap kelegalan bermu’amalat dengannya, bahkan sebagian penulismelihat fatwa ini dikeluarkan dengan rekomendasi politik!Diantara para pembahas fatwa ini ada yang mempunyai kapasitas ilmu syar’i,ada juga para penulis media masa yang dapat menerima dengan tinjauannya akankebenaran fatwa, atau sebaliknya.Ini yang muncul pada lembaran-lembaran media masa, namun yang memenuhimajlis-majlis, berputar di antara pembicaraan orang, dan obrolan orang-orang bergadang sekitar fatwa ini lebih banyak lagi dari ini puluhan bahkan ratusan kali.Sebagian orang yang merasa bersalah dalam berinteraksi dengan bank-bankonvensional dengan fatwa ini serasa mendapatkan sesuatu yang menghilangkan rasa bersalahnya, menenangkan hatinya, dan mantap akan kebenaran interaksinya.Sebagaimana fatwa ini memukul hati orang lain yang berusaha untuk mengadakanIslamisasi aktivitas perbankan, membingkai dengan standar-standar syari’at, danmenjauhkan dari semua yang menjurus kepada riba.
 
Semua ini mendorong saya untuk mengkaji fatwa ini dengan pandangan yang jeli dalam tinjauan dalil-dalil syari’at, kaidah-kaidahnya, dan motiv-motiv realita yangmendorongnya.Saya ingin menetapkan terlebih dahulu bahwa yang terhormat Dr. Thontowi pimpinan majlis Lembaga Riset Islam, Syeikh Al Azhar, adalah seorang yangmempunyai budi pekerti yang lembut dan ramah, saya telah mengenalnya sebelumkurang lebih dua puluh tahun ketika datang pada fakultas syari’ah di Makkah dalamrangka menguji beberapa thesis dan disertasi, saya bertemu setahun yang lalu dalamacara khusus di tempat beberapa teman, beliau adalah lulusan jurusan tafsir padafakultas ushuluddin Universitas Al Azhar, bukannya fakultas Syari’ah seperti asumsisebagian orang, disertasinya berjudul “
 Banû Isrâîl fî Al Qur’ân Al Karîm
” termasuk  buku pertama dan paling bermanfaat dalam menguak kondisi orang-orang Yahudi danmenjelaskan moral-moral mereka, beliau sekarang menduduki jabatan agama tertinggidi negara Mesir, kita mohon kepada Allah semoga mengaruniai kita dan beliaukebenaran, petunjuk, pertolongan dan jalan yang lurus. Namun ini semua tidak menutup kemungkinan untuk mendiskusikan pendapat-pendapatnya dan pendapatkawan-kawannya, karena kebenaran lebih besar dari setiap orang sebagaimana IbnuAl Qayyim berkata, dari Al Harawi semoga Allah memberi Rahmat kepada keduanya:“Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyyah pent.) kami cintai dengan sepenuh hati, namunkebenaran lebih kami cintai.”Untuk itu saya tegaskan dan jelaskan beberapa hal berikut:
Kapan dilakukan ijtihad
1- Ijtihad –mengeluarkan tenaga untuk mengetahui sebuah hukum syar’i- adalahkewajiban syari’at dan amanat, dibebankan oleh Allah kepada para ulama yang berkompeten, dan akan dipertanggung jawabkan atas kelalaiannya dalammenuanaikan amanat ini, Allah Ta’ala berfirman:ُهَنوُمُتْكَ َلَ ِساّِ ُهّُيَبُتَ َاَتِكْ ْوُُأ َِذّ َقاَثيِ  َذَخَأ إ :رمع آ)187( “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab(yaitu): hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlahkamu menyembunyikannya.”Allah Ta’ala berfirman juga:ُهْِ ُهَنوُطِبَتْَ َِذّ ُهَمِََ ْُْِ ِرْَ ِْُأ ىَِإَ ِوُّر ىَِإ ُدَ ْوََ :ءا)83(
 
“Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil amri di antara mereka,tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat)mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)” (QS. An Nisa’: 83) Namun ijtihad, meski suatu hal yang besar, bukanlah yang membuat hukumsyar’i, tapi ia hanya menguak dan memunculkannya, ia tidak bisa dilakukan padasemua hal, namun hanya pada hal yang tidak terdapat teks shahih yang membahasnyasecara jelas, sedang permasalahan yang terdapat teksnya, maka harus disandarkankepadanya, bukannya kepada ijtihad. Oleh karena itu para ulama mengatakan:“Sesungguhnya tidak boleh ijtihad dengan adanya teks”, meski ada obyek untuk  berijtihad dalam meng
qiyas
kan terhadap hal yang mempunyai teks, atau dalammengecek akan adanya syarat kesesuaian dalam kasus-kasus baru yaitu yangdinamakan “
tahqiq al manath
”.Sudah menjadi aksioma, dengan kondisi ini ijtihad tidak bisa berbenturandengan hukum-hukum yang telah mempunyai teks, tidak boleh membatalkan kaidah-kaidan syari’ah yang telah ditetapkan, dan tidak boleh bertentangan dengan tujuan-tujuan syari’at yang integral (
maqashid al syari’ah al kulliyyah
).Pekerjaan dengan ketentuan seperti ini tidak bisa dilakukan kecuali olehorang-orang yang punya kompetensi melakukan kewajiban ini, dengan memperolehilmu yang cukup, benar-benar mengetahui tujuan-tujuan syari’at, mengetahui pendapat-pendapat ulama, dan lainnya yang wajib dipenuhi bagi sahnya ijtihad. Ini bukannya berlebih-lebihan dan pengkultusan –seperti yang dibilang sebagian orang-namun dalam rangka menghormati ilmu dan menghargai spesialisasi sebagaimanadalam semua ilmu, di mana para ahli dan orang semua menolak dan menganggapcacat campur tangan orang yang tidak mempunyai ilmu dalam masalah tersebut. Danilmu syari’ah tidak lebih remeh dari ilmu-ilmu lainnya, bahkan ilmu syari’at lebihagung dan utama, maka bagi orang yang terjun di dalamnya harus memilikikapabilitas yang sempurna, karena ia menyampaikan (hukum pent.) dari Allah ta’aladan RasulNya Saw. Rasul Saw. telah bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tapi mereka mewariskanilmu, barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil dengan bagian yang banyak.”Barang siapa belum termasuk ulama yang berkompeten dengan kriteria-kriteria tadi, maka ia tidak boleh berijtihad dalam menentukan hukum-hukum, dandalam menentukan mana yang lebih kuat antar pendapat-pendapat para ahli ilmu,
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...