• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Silahkan download e-book ini di halaman download pada situs
JAMINAN KEUNTUNGAN TIDAK MERUBAHSESUATU YANG HARAM MENJADI HALAL
Para ulama umat melalui berbagai lembaga fiqih menegaskan bahwa bunga bank yang ditentukan di muka oleh bank-bank yang diberikan kepada paranasabahnya merupakan riba yang haram, pernyataan-pernyataan para ulama inidisertai dengan nash dari Al –Qur’an dan as-Sunnah nabawi yang lengkap.Dalam rangka memaparkan kebenaran dan menjelaskan pandangan dihadapanmayoritas kaum muslimin (
 jumhûr muslimîn
) kami sampaikan di sini beberapa dalilakan keharaman bunga bank dengan menyertakan beberapa fatwa dari para ulama besar dalam masalah ini.
Fatwa Imam Besar Syeikh Jad Al-haq
Syeikh Jad Al-haq syeikh Al-Azhar adalah salah seorang mufti negara Mesir sebelum diangkat menjadi Syeikh Al-Azhar. Ketika menjabat mufti beliaumemfatwakan haramnya bunga sertifikat investasi (
 syahâdah al ististmâr 
), giro dan bunga bank.Kita bahas sekarang pendapat beliau dalam masalah bunga, beliaumengatakan: “Konferensi ulama Islam yang diadakan oleh Lembaga Riset Islam AlAl-Azhar (
majma’ al-buhûts al-Islâmiyah
) –misi lembaga ini berdasarkan undang-undang Al-Azhar dan peraturan operasional yang dikeluarkan berdasarkan keputusan pemerintah adalah menjelaskan pendapat dalam kasus-kasus mazhab, perekonomianatau sosial- pada bulan Muharram 1358 H / Mei 1965, konferensi yang diikuti oleh para pakar hukum, ekonomi dan sosial tersebut menetapkan hal-hal sebagai berikut:-Bahwa bunga bank dari berbagai hutang/ kredit (
qardh
) adalah riba yangdiharamkan. Tidak ada perbedaan antara kredit konsumtif (
qardh istihlâkî 
)ataupun kredit produktif (
qardh Intâjî 
) karena teks-teks Al-Qur’an dan As-Sunnah telah mengharamkan keduanya.-Besar kecilnya kadar riba tetap haram hukumnya dalam Islam. Seperti yangdiisyaratkan dengan pemahaman yang benar dalam firman Allah:
َنوُحِلْفُت مكّلع هلا اوقّتا ًةفَض عأ برا اولْت  اوُآ َيِذّا  يأ  ي:نار آ(
130
)
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memakan riba dengan berlipatganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keuntungan."(QS: Ali Imron ayat130)-Memberi kredit/ hutang dengan cara riba haram hukumnya tidak diperbolehkan baik dalam keadaan membutuhkan maupun dalam keadaan sangat mendesak (
dharûrah
), demikian juga menerima kredit/ hutang dengan cara riba haramhukumnya, kecuali ketika dalam keadaan mendesak (
dharûrah/ 
emergency), dandalam mengukur kondisi dharurah setiap orang diserahkan kepada keimananmasing-masing.-Pelayanan bank seperti simpanan-simpanan tanpa bunga (
al-hisâbât al-jâriyah
), pencairan cek, surat-surat kredit (letter of credit), dan nota tagihan domestik yangdilakukan antara pedagang dan bank, transaksi seperti ini boleh–boleh saja dantidak termasuk dalam hukum riba.
 
-Simpanan-simpanan berjangka, pembukaan kredit, dan segala bentuk pemberiankredit yang berbunga adalah riba.Kebimbangan masyarakat mengenai deposito yang ada di bank akan halalharamnya, telah dijelaskan oleh Beliau pada point pertama dari ketetapan- ketetapandiatas, bahwa bunga yang ditentukan oleh bank merupakan hutang/ kredit dalamdefinisi perundang-undangan.Adapun metode pendanaan proyek negara dengan harta yang halal beliaumenyatakan hendaknya bank bekerjasama (
musyârakah
) dalam pembangunan proyek yang dihutangi dari deposito para nasabah sebagai ganti dari kredit dengan bungayang termasuk riba, dan sebagian bunganya diberikan kepada para deposan.Dalam realita pendapat yang mengatakan bahwa bunga bank adalah pembagian dari keuntungan -seperti pendapat Syeikh Tantowi ketika beliau menjabatmufti- pendapat ini tidak dibenarkan dari tinjauan syar’i dan ekonomi. Dari segisyar’i, bunga telah ditentukan terlebih dahulu sekian persen dari modal, sedangkeuntungan mempunyai dua karakteristik:1.Bersifat kemungkinan, bisa jadi sedikit atau banyak, bisa juga tercapai dan bisa tidak.2.Modal tersebut ada kemungkinan untuk rugi, sedang dalam bank-bank modaldan bunganya telah dijamin, seorang yang memberi hutang/ kredit dapatmenarik kembali piutangnya seperti semula, baik pihak yang berhutang dalamkeadaan untung ataupun rugi, ini dari tinjauan syari’at.Adapun dari tinjauan ekonomi, faktor-faktor penentuan harga suku bungatelah diketahui yang tergantung kepada kondisi ekonomi dan politik tertentu, penentuan ini dilakukan oleh lembaga-lembaga keuangan yang besar, dan bank-bank sentral mengharuskan harga ini kepada bank-bank di bawahnya. Inilah yangmenyebabkan bank merubah persentase bunga sertifikat-sertifikat investasi (
 syahâdât al istitsmâr 
), dan bunga itu bukan ditentukan berdasarkan tinggi rendahnyakeuntungan yang diperoleh secara riil. Nah, dengan demikian bunga telah ditentukansemenjak awal nasabah membuka rekening. Katakanlah pihak bank akanmenginvestasikannya tanpa mengetahui hasilnya untung atau rugi kecuali Allah swt,maka bagaimana keuntungan ditentukan terlebih dahulu –padahal ini merupakansesuatu yang belum bisa diketahui-? Bukankah ini tidak bisa dirasionalisasikankecuali sebagai bunga, yakni riba, yang diberikan sebagai kompensasi dari modalyang dibayarkan?
Anggapan Bahwa Bunga Bank Bukan Riba Yang Diharamkan Dalam Al-Qur’anDan Sunnah
Istilah bunga dalam perekonomian adalah sejumlah harta yang ditambahkan pada modal hutang, ini suatu fenomena ekonomi yang tidak didapatkan kecualidengan akad hutang yang berkaitan dengan model interaksi tertentu yaitu kredit,dengan hitungan persen dari modal hutang yang tidak ada hubungannya antara untungdan rugi, dan ditambahkan ke modal pada saat pelunasan.Maka ia bercirikan ditentukan di muka dan dijamin akan diberikan beserta jaminan pelunasan modal hutang/ kredit.Simpanan atau deposito pada bank konvensional tidak berdasarkan pada sifatdan hakikat akad titipan (
wadî’ah
). Dinamakan titipan karena sebagai perpanjangandari asal berkembangnya. Secara syari’at dan undang-undang titipan (
wadî’ah
) adalahakad penjagaan (
hifdz 
), baik dengan upah maupun tidak, saat ini diimplementasikandalam operasional bank-bank dengan penyewaan penyimpanan harta (
ta’jîr al 
 
khazâin
), pada dasarnya titipan tidak boleh digunakan oleh orang yang dititipi (
al-mûda’ ladaihi
), tapi disimpan sebagai amanat, apabila terjadi kerusakan pada barangtersebut karena dipakai oleh orang yang dititipi melalui izin pemilik ataupun tidak,maka harus diganti dan menjadi tanggungan orang yang dititipi.Simpanan bank/ deposito pada hakikatnya bukanlah titipan (
wadî’ah
), karenatelah menjadi tradisi perbankan simpanan tersebut dianggap sebagai hutang/ kreditterjamin yang menjadi tanggungan bank, dan dia dapat mempergunakannya sesuaidengan kehendaknya, apabila diinvestasikan maka uang tersebut akan kembali pada bank dan bukan pada nasabah, nasabah hanya berhak meminta modal dan bunganya pada waktu yang telah disepakati, maka modal dan bunganya menjadi tanggungan bank, dengan demikian bank menjadi pihak yang menerima kredit (
madîn
), deposanmenjadi pihak yang memberi kredit sampai waktu tertentu, dan bunga ini telahdisyaratkan secara tradisi, operasional dan tulisan.Dari sini pendapat yang mengatakan bahwa transaksi ini bukanlah hutang- piutang/ kredit tidak dibenarkan, kalau tidak dinamakan hutang-piutang, jadi apatabi’at hutang-piutang itu, dan tidak disyaratkan dalam hutang-piutang adanya permintaan dari yang dihutanginya, jika seorang kaya mengetahui ada orang yangmembutuhkan, kemudian diberinya hutang dengan kesadarannya, maka ini adalahhutang-piutang selagi dilakukan secara sukarela. Bahkan kebutuhan pihak yang berhutang bukanlah syarat juga, karena diperbolehkan si kaya berhutang kepada sikaya yang lain dengan alasan apa saja. Beginilah yang telah terjadi dalam kehidupankita sehari-hari, Allah swt berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 280:
ٍرس ىإ ٌرِظ ٍرسُ  َن نإ:رقا(
280
)
”Dan jika (orang berhutang) itu dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan”.Jadi, seseorang yang berhutang ketika mampu membayarnya pada tempo yangditentukan ia harus segera membayarnya tanpa menunggu.Bank konvesional tidak menjalankan proses investasi, akan tetapi hanyamelalui kredit atau mengkomersialkan uang dengan menerima dan memberi. Secaraaturan perundang-undangan, bank dilarang melakukan spekulasi dengan hartanasabah dalam proses investasi yang bisa untung dan rugi. Esensi operasional perbankan adalah menerima kredit/ hutang berbunga dan memberikan kredit dengan bunga yang lebih tinggi, sehingga memperoleh untung dari selisih kedua kredit. Itulahunsur esensi sistem ekonomi kapitalis, dalam dua kondisi di atas bank sebagai penerima kredit atau pemberi kredit, tidak ada perbedaan dalam dalam prosesmenerima uang atau proses mendistribusikannya kepada para pemilik proyek yangmembutuhkan, bank berfungsi sebagai mediator riba yang memperoleh profit dariselisih antara dua indek suku bunga.Dari paparan di atas dapat kita ambil kongklusi bahwa bunga bank yangdibayarkan atau yang diambil oleh pihak bank adalah riba, terpenuhi substansi,hakikat dan semua unsurnya. Para pakar ekonomi menegaskan hal ini denganmenyatakan: Bunga bank adalah upah ataupun harga penggunaan uang, yangobyeknya yang sebenarnya adalah kredit, komoditas yang terpenting dalam proseskredit adalah uang. Para pakar hukum perundang-undangan menambahkan pada bunga sifat pengganti, hanya saja nama ini tidak sesuai dengan bunga, karena tidak disyaratkan dalam pemberian bunga terjadinya kerugian sama sekali, di mana merekamenganggap terhalanginya pemberi kredit untuk mempergunakan uang tersebut suatukerugian meski tidak membutuhkannya. Banyak pakar hukum perundang-undanganmenetapkan bahwa bunga adalah riba, hanya saja mereka mencari justifikasi bebasnyadari sisi operasional.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...