Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
27Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsep Bagi Hasil

Konsep Bagi Hasil

Ratings:

4.77

(13)
|Views: 12,878|Likes:
Published by www.ridline.com

More info:

Published by: www.ridline.com on Jan 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

06/17/2013

 
Silahkan download e-book ini di halaman download pada situs
KONSEP BAGI HASIL DALAM PERBANKAN SYARIAHOleh:Ach. Bakhrul Muchtasib
 
PENDAHULUAN
Perbankan syari’ah di Indonesia telah mengalami perkembangan dengan pesat, masyarakat mulai mengenal dengan apa yang di sebut Bank Syari’ah. Dengan diawali berdirinya pada tahun 1992 oleh bank yang di beri nama dengan Bank Mu’amalatIndonesia (BMI), sebagai pelopor berdirinya perbankan yang berlandaskan sistemsyari’ah, kini bank syari’ah yang tadinya diragukan akan sistem operasionalnya, telahmenunjukkan angka kemajuan yang sangat mempesonakan.Bank syaria’h mulai digagas di Indonesia pada awal periode 1980-an, di awalidengan pengujian pada skala bank yang relatif lebih kecil, yaitu didirikannya BaitutTamwil-Salman, Bandung. Dan di Jakarta didirikan dalam bentuk koperasi, yakniKoperasi Ridho Gusti.
1
Berangkat dari sini, Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) berinisiatif untuk memprakarsai terbentuknya bank syari’ah, yang dihasilkan dari rekomendasiLokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, dan di bahas lebih lanjut dengan sertamembentuk tim kelompok kerja pada Musyawarah Nasional IV MUI yang berlangsungdi Hotel Syahid Jakarta pada tanggal 22-25 Agustus 1990.
2
Awal berdirinya bank Islam, banyak pengamat perbankan yang meragukanakan eksistensi bank Islam nantinya. Di tengah-tengah bank konvensional, yang berbasisdengan sistem bunga, yang sedang menanjak dan menjadi pilar ekonomi Indonesia, bank Islam mencoba memberikan jawaban atas keraguan yang banyak timbul. Jawaban itumulai menemukan titik jelas pada tahun 1997, di mana Indonesia mengalami krisisekonomi yang cukup memprihatinkan, yang dimulai dengan krisis moneter yang berakibat sangat signifikan atas terpuruknya pertumbuhan ekonomi Indonesia.
 
Pertumbuhan ekonomi yang mencapai rata-rata 7% per tahun itu tiba-tibaanjlok secara spektakuler menjadi minus 15% di tahun 1998, atau terjun sebesar 22%.
Inflasi
yang terjadi sebesar 78%, jumlah PHK meningkat, penurunan daya beli dankebangkrutan sebagian besar konglomerat dan dunia usaha telah mewarnai krisistersebut.
3
Indonesia telah berada pada ambang kehancuran ekonomi, hampir semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan negatif. Sektor konstruksi merupakan sektor yangmengalami pertumbuhan negatif paling besar, yaitu minus 40% karena di akibatkantingkat bunga yang sangat tinggi, penurunan daya beli, dan beban hutang yang sangat besar. Sektor perdagangan dan jasa mengalami kontraksi minus 21%, sektor industrimanufaktur menurun sebesar 19%. Semua berakibat dari implikasi krisis moneter yangmengguncang Indonesia.
4
Kondisi terparah ditunjukkan oleh sektor perbankan, yang merupakan penyumbang dari krisis moneter di Indonesia. Banyak bank-bank konvensional yangtidak mampu membayar tingkat suku bunga, hal ini berakibat atas terjadinya kreditmacet. Dan
non-performing loan
perbankan Indonesia telah mencapai 70%.
5
Akibat darihal tersebut, dari bulan juli 1997 sampai dengan 13 Maret 1999, pemerintah telahmenutup sebanyak 55 bank, di samping mengambil alih 11 bank (BTO) dan 9 bank lainnya di bantu untuk melakukan rekapitalisasi. Sedangkan bank BUMN dan BPD harusikut direkapitalisasi.Dari 240 bank yang ada sebelum krisis moneter, hanya tinggal 73 bank swastayang dapat bertahan tanpa bantuan pemerintah dan dinyatakan sehat, sisanya pemerintahdengan terpaksa harus melikuidasinya.
6
Salah satu dari 73 bank tersebut, terdapat Bank Mu’amalat Indonesia yangmampu bertahan dari terpaan krisis ekonomi, yang nyata memiliki sistem tersendiri dari bank-bank lain, yaitu dengan memberlakukan sistem operasional bank dengan sistem
bagi
 
hasil
. Sistem
bagi
 
hasil
yang diterapkan dalam perbankan syari’ah sangat berbedadengan sistem bunga, di mana dengan sistem bunga dapat ditentukan keuntungannyadiawal, yaitu dengan menghitung jumlah beban bunga dari dana yang di simpan ataudipinjamkan. Sedang pada sistem
bagi
 
hasil
ketentuan keuntungan akan ditentukan berdasarkan besar kecilnya keuntungan dari
hasil
usaha, atas modal yang telah diberikan
 
hak pengelolaan kepada nasabah mitra bank sayari’ah.Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sistem
bagi
 
hasil
pada perbankansyari’ah, penulis akan mencoba menguraikan bagaimana sistem tersebut diberlakukan.
PEMBAHASAN
 
A.Pengertian
Sistem
bagi
 
hasil
merupakan sistem di mana dilakukannya perjanjian atauikatan bersama di dalam melakukan kegiatan usaha. Di dalam usaha tersebutdiperjanjikan adanya pembagian
hasil
atas keuntungan yang akan di dapat antara kedua belah pihak atau lebih.
Bagi
 
hasil
dalam sistem perbankan syari’ah merupakan cirikhusus yang ditawarkan kapada masyarakat, dan di dalam aturan syari’ah yang berkaitandengan pembagian
hasil
usaha harus ditentukan terlebih dahulu pada awal terjadinyakontrak (akad). Besarnya penentuan porsi
bagi
 
hasil
antara kedua belah pihak ditentukansesuai kesepakatan bersama, dan harus terjadi dengan adanya kerelaan (
 An-Tarodhin
) di

Activity (27)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nopha Setyowati liked this
Muhammad Hafiz liked this
Novianti Arif liked this
msyamsi liked this
Sri Gustina liked this
Liia Irawatii liked this
Harmerita Aja liked this
Erdi Yansah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->