Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Suku Bunga, Inflasi Dan Ketidakadilan Ekonomi

Suku Bunga, Inflasi Dan Ketidakadilan Ekonomi

Ratings:

4.5

(2)
|Views: 306 |Likes:
Published by www.ridline.com

More info:

Published by: www.ridline.com on Jan 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

09/25/2012

 
Silahkan download e-book ini di halaman download pada situs
Oleh: Andi Irawan
Uang bekerja secara alami ketika ia membiayai kegiatan produksi danmembuahkan keuntungan dari produksi tersebut. Karenanya, jumlah uang akan bertambah sesuai dengan pertambahan hasil produksi. Dengan kata lain, penambahankesejahteraan haruslah berbanding lurus dengan usaha yang dilakukan. Penambahan jumlah uang yang tidak diimbangi dengan penambahan jumlah produksi barang dan jasaakan mengakibatkan nilai uang menurun terhadap barang dan jasa. Kita menyebutnyainflasi.
Inflasi Vs. Suku Bunga
Pandangan umum yang berlaku saat ini, suku bunga memiliki hubungan negatif dengan inflasi, menaikkan suku bunga berarti menurunkan inflasi. Ketika suku bungadinaikkan, maka orang akan tertarik untuk menyimpan uang di bank, sehingga akanmengurangi jumlah uang beredar, akibatnya saat itu inflasi turun. Tetapi konsekuensi dari penerapan suku bunga ialah adanya besaran tertentu yang nilainya sudah ditentukan diawal. Nilai itu harus dibayar bank kepada nasabah pada saat bunga tersebut jatuh tempo.Misal, pada awal proses ekonomi terdapat uang beredar sebanyak Rp 3.000triliun, lalu dengan bunga sebesar 10%, sektor perbankan berhasil menyerap sepertigadari dana tersebut atau setara dengan Rp 1.000 triliun. Maka terjadi deflasi, jumlah uang beredar dalam perekonomian tersebut turun menjadi duapertiganya atau Rp 2.000 triliun.Tapi, setahun kemudian, ketika bunga telah jatuh tempo, perbankan harus membayar sejumlah 10% dari Rp 1.000 triliun atau Rp 100 triliun kepada perekonomian. Maka, totaluang dalam perekonomian dan perbankan menjadi Rp 3.100 triliun. Jadi, alih-alih untuk mengurangi inflasi, penerapan suku bunga justru berpotensi mendatangkan inflasi yanglebih besar di kemudian hari.
 
Melanjutkan contoh tadi, sebetulnya tidak menjadi masalah ketika jumlah uangdalam perekonomian tersebut bertambah Rp 100 triliun, asalkan perekonomian itu jugamampu menghasilkan tambahan produksi barang dan jasa senilai Rp 100 triliun dalamtempo yang sama. Jika hal itu dilakukan, maka tidak akan terjadi inflasi karena penambahan jumlah uang diikuti dengan penambahan jumlah barang dan jasa. Tapi yang jadi masalah saat ini, tidak adanya keterkaitan antara sektor riil dengan sektor finansial.Dalam contoh di atas, melalui suku bunga sebesar 10%, sektor finansialmenentukan bahwa dalam setahun ke depan jumlah uang akan bertambah sebanyak Rp100 triliun, sedangkan yang menentukan bertambahnya jumlah barang dan jasa adalahsektor riil, yang belum tentu mampu memproduksi barang dan jasa senilai Rp 100 triliundalam setahun. Ketika sektor riil tidak mampu menandingi ‘kinerja’ sektor finansial,maka yang terjadi adalah inflasi. Karena itu, perlu dikoreksi pendapat yang menyebutkantingkat suku bunga berbanding terbalik dengan tingkat inflasi.
Ketidakadilan Suku Bunga
Dalam buku pengantar ilmu ekonomi selalu disebutkan ketika pemerintahmencetak uang terlalu banyak, maka yang terjadi adalah inflasi. Tapi seringkali kita lupa, bank juga dapat ‘mencetak’ uang dengan cara menyalurkan kredit dan mengenakan bungaatasnya,
money creation by the bank 
, dan itupun dapat menyebabkan inflasi. Inflasi akanmerugikan orang yang berpenghasilan tetap, yakni naiknya nominal harga tidak diikutinaiknya nominal pendapatan kita. Tetapi akan menguntungkan mereka yang memilikideposito dalam jumlah besar di bank konvensional.Penerapan suku bunga akan menambah jumlah uang ke dalam suatu perekonomian, tetapi yang jadi masalah adalah uang yang baru masuk ke dalam perekonomian tersebut tidak terdistribusikan secara merata kepada seluruh pelakuekonomi, melainkan ke tangan segelintir pemilik modal saja, yaitu mereka yang memilikisejumlah besar uang di bank. Akibatnya, biaya inflasi sebagian besar ditimpakan kepadaorang yang tidak menerima uang baru tersebut, yaitu orang-orang miskin yang tidak memiliki uang di bank.Kita mengenal
inflation tax
sebagai pajak yang diambil pemerintah dari orang
 
yang memegang uang dengan cara pemerintah mencetak lebih banyak uang untuk membiayai kebijakan ekspansi ekonomi. Tapi ternyata
inflation tax
bisa juga bermaknasebagai ‘pajak’ yang diambil pemilik modal dari masyarakat umum, ketika perbankan‘mencetak’ uang dengan cara menyalurkan kredit dan mengenakan sejumlah bungaatasnya. Bahkan, kita harus lebih mewaspadai efek inflasi akibat penciptaan uang oleh bank daripada penciptaan uang oleh pemerintah, karena bank selalu menciptakan uang,sedangkan pemerintah lebih jarang.Menarik untuk diteliti tentang kemunculan para milyuner dunia pada abad ke-20.Apakah hal ini terkait dengan terjadinya industrialisasi ataukah lebih terkait dengan berubahnya sistem finansial dunia, dimana praktik pembungaan uang dan lepasnya nilaiuang dari nilai emas sudah disahkan? Pasalnya, industrialisasi sendiri sudah dimulai beberapa abad sebelumnya, tapi mengapa para milyuner itu baru muncul sekarang?Ditambah lagi kemunculan mereka diikuti dengan meluasnya kemiskinan di seluruhdunia. Apakah sekarang sedang terjadi penambahan kesejahteraan akibat industrialisasiataukah sedang terjadi eksploitasi kesejahteraan alias konsentrasi kekayaan akibat praktik  pembungaan uang?
 Back It to It’s Nature
Dunia perbankan yang menjalankan fungsi intermediasinya dengan benar seharusnya memiliki tingkat suku bunga yang kompetitif terhadap
return
investasi disektor riil. Karena menurut cara kerja alamiahnya, sektor riil-lah yang ‘memberi makan’sektor finansial, sektor riil-lah yang menentukan penghasilan sektor finansial, bukansektor finansial yang menentukan berapa harga yang harus dibayar oleh sektor riilkepadanya.Jika suku bunga terlalu tinggi, sektor riil yang bekerja dan menanggung risikousaha justru hanya mendapat sedikit dari hasil usahanya, sebagian besar habis untuk membayar bunga yang tinggi. Sedangkan sektor finansial yang tidak bekerja dan tidak menanggung risiko justru mencetak laba yang tinggi. Seperti dikatakan WillemHoogendijk, sektor perbankan saat ini disebut mesin transfer yang memindahkan uangsecara otomatis dari tempat yang kekurangan uang (debitor) ke tempat yang kelebihan

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Good Job liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->