Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Dilema Bisnis dalam Pluralitas Agama.docx

Dilema Bisnis dalam Pluralitas Agama.docx

Ratings: (0)|Views: 4 |Likes:
Published by Afrianto Budi Aan
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Published by: Afrianto Budi Aan on Nov 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2013

pdf

text

original

 
3
 
Agama dan Dilema Bisnis
 
Pendahuluan
 
Agama memiliki pengaruh kuat dalam diri seorang individu. Konsep kereligiusanseseorang mempengaruhi penilaian, keyakinan, dan perilaku individu dalamberbagai situasi. Karena sifat transendentalnya, nilai-nilai moral dan agama yangmuncul dari agama terinternalisasi dalam diri seseorang dan bersifat mutlak 
___
tidak dapat ditawar-tawar. Ketika seseorang memasuki dunia bisnis, seseorang akandihadapkan pada nilai-nilai perusahaan dan sekaligus pada nilai-nilai agama. Duanilai tersebut akan terinternalisasi dan mempengaruhi perilaku bisnis seseorang.Banyak situasi di mana ada dua atau lebih nilai yang saling bertentangan sehinggaseseorang akan mengalami dilema. Di sinilah muncul apa yang disebut dengandilema bisnis.Dilema bisnis muncul karena ada tiga elemen yang saling berkaitan:keyakinan/agama personal, nilai-nilai yang terinternalisasi, dan perilaku bisnis.Dalam paper ini akan dibahas mengenai ketiga elemen tersebut sehingga akantampak keterkaitannya. Dengan memahami keterkaitannya, diharapkan manajermaupun pelaku bisnis dapat meminimalisasi konflik yang berpotensi terjadi dalambisnis.
 
Kerangka Pemikiran
 
Dalam bagian kerangka pemikiran ini, akan dibahas mengenai hubungan antaraagama dan dilema bisnis yang terjadi. Pertama-tama, akan dibahas mengenai konsepagama dan dilema bisnis. Pada dasarnya, ada dua metode untuk mengkategorikandilema bisnis (Johan Graafland, et al, 2006). Pertama, dilema bisnis dapatdikategorikan sesuai dengan standar (nilai-nilai dasariah) yang menghasilkandilema. Pertany
aan yang dapat mewakilinya adalah: “Seberapa sering standar agamamenghasilkan dilema?” Kedua, dilema bisnis dapat dikategorikan sesuai dengan
sumber standar yang menghasilkan dilema. Pembahasan kedua hal tersebut akandiikuti dengan pembahasan mengenai sumber-sumber dilema standar dan dilema
 
3
 
 bisnis tersebut. Pertanyaan yang dapat mewakilinya adalah: “Apakah dilema bisnis
mewakili konflik antara nilai-nilai standar yang terinternalisasi dan orang-orang didalam bisnis atau konflik antar nilai-nilai standar
yang berbeda?”
 
Agama (
 Religion
)
 
Ada banyak definisi mengenai agama. Spiro memberikan definisi mengenai agama
yang menggabungkan antara aspek transendental dan sosial: “
 Religion is aninstitution consisting of culturally patterned interaction with culturally postulated superhuman beings
 
(Spiro, 1966).” Agama merupakan seperangkat jawaban yang
koheren untuk pertanyaan-pertanyaan eksistensial (mendasar) yang dihadapi olehsekelompok manusia (Johan Graafland, 2006). Semua itu terungkap dalam syahadat(pengakuan iman), berbagai perayaan ritual, dan dalam bentuk kelembagaan/institusiagama. Elemen mendasar dari keyakinan religius suatu agama adalah pertanyaaneskatologis dari tujuan akhir hidup manusia (Thakur, 1969).
 
Konsep tentang Tuhan, konsep tentang manusia, dan harapan eskatologis seringterkait dengan keyakinan normatif. Lewis (1947) mengungkapkan bahwa agamatanpa keyakinan normatif tidak akan bertahan. Keyakinan normatif tersebutmerupakan standar bahwa seorang individu telah menginternalisasi dan menjalankanperintah agama. Ketika standar terinternalisasikan, maka seorang individu telah
mengembangkan sebuah “sistem sanksi internal” (Coleman, 1990). Efek dari
pelanggaran standar tersebut adalah ketidaknyamanan atau rasa bersalah (berdosa).Donagan (1996) berpendapat bahwa standar terinternalisasi yang berbasis diperintah ilahi mungkin lebih cenderung untuk menghasilkan dilema. Hal ini terjadikarena kadang terjadi perbedaan prinsipil antara prinsip-prinsip etika dalam agamadengan prinsip-prinsip etika dalam lingkungan, di mana kadangkala seseorangmenduduki peran yang berbeda-beda, baik di keluarga, tempat kerja, dansebagainya.
 
Dilema Bisnis
 
Suatu dilema bisnis dapat diartikan sebagai konflik antara nilai-nilai yang berbeda(Trompenaars dan Hampden-Turner, 1998), idealisme yang berbeda (Railton, 1996),
 
3
 
tugas yang berbeda (Brink, 1996; Donagan, 1996), maupun wilayah yang berbeda.Pada tingkat yang lebih umum, dilema bisnis dapat didefinisikan sebagai konflik antara standar yang berbeda. Standar mencakup nilai, cita-cita, tugas dan norma-norma.
 
Untuk mengklasifikasikan dilema bisnis, kita bisa membuat pembedaan terhadaptiga jenis standar: standar moral, standar agama, dan standar praktis.
Pertama
adalahstandar moral (Velasquez, 1992). Contoh standar moral adalah solidaritas, keadilan,kejujuran, kerjasama. Standar moral ini berbeda dari standar non-moral dalambeberapa aspek (Kaptein dan Wempe, 2002). Perbedaan itu yaitu: pertama, standarmoral ini mengesampingkan standar non-moral; kedua, standar moral tidak memihak dan melampai kepentingan individu atau kelompok tertentu; ketiga,standar moral bersifat universal dan berlaku untuk umum dan berlaku untuk semuaorang dalam kondisi apapun; keempat, standar moral berkaitan erat dengan isu-isuyang berkaitan erat dengan kesejahteraan orang lain.
 
Kedua
adalah standar agama. Banyak standar agama telah memenuhi kriteria standarmoral. Misalnya, keadilan adalah standar penting dalam banyak agama, tetapi telahmenjadi standar moral umum juga. Tetapi ada juga tandar agama yang khusus dantidak ada dalam standar moral. Misalnya, perintah untuk tidak bekerja pada hariMinggu bagi orang Yahudi bukanlah bagian dari standar moral. Hal tersebutmenyiratkan bahwa ada standar-standar moral yang tidak berlaku bagi semua orangyang memiliki agama yang berbeda-beda maupun yang tidak beragama.
 
Ketiga
adalah standar praktis. Standar praktis ini mencakup semua standar yang lain(non-moral dan non-agama). Contohnya adalah profitabilitas, kepentingan dirisendiri dan kebanggaan. Semua standar, yaitu moral, agama, dan praktis dapatterlibat dalam dilema. Dilema di sini dipahami sebagai suatu konflik antara standaryang berbeda. Johan Graafland membagi konflik antar standar itu menjadi enamkategori seperti yang ada di tabel berikut ini:
 
Dilema adalahkonflik antara ...
 
Standar moral
 
Standar agama
 
Standar praktis
 
Standar moral
 
Standar agama
 
Dilema moral
 
Dilema eksistensial agama
 
Dilema keagamaan
 
Dilema motivasi
 
Dilema agama praktis
 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->