Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kisruh Migas dan Keberpihakan Pemerintah

Kisruh Migas dan Keberpihakan Pemerintah

Ratings: (0)|Views: 680|Likes:
Published by Benny Lubiantara

oil and gas, policy, upstream contract, cost recovery

oil and gas, policy, upstream contract, cost recovery

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Benny Lubiantara on Nov 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

 
1
Kisruh Industri Migas dan Keberpihakan Pemerintah
Benny Lubiantara
(15 November 2012)
Industri hulu migas tidak pernah lepas dari
headline
media nasional belakangan ini, mulai dari isu costrecovery, pengaturan blok migas yang akan berakhir, seperti: Blok Mahakam dan puncaknyapembubaran BPMIGAS berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi.
Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai pelopor penggunaan Production Sharing Contract (PSC) yang dimulai padaawal tahun 60-an. Pada era yang sama di mancanegara, negara negara produsen minyak juga sedangmencari pola pengaturan fiskal dalam kontrak migas yang lebih berimbang bagi negara sebagai pemiliksumber daya alam, termasuk sebagian diantaranya melakukan nasionalisasi.PSC di Indonesia di adopsi dari sistem paron yang biasa dilakukan dalam penggarapan sawah, yangintinya berbagi hasil antara pemilik dan penggarap dengan porsi tertentu (misal: 50% - 50%). Di NegaraTimur Tengah, negara produsen, tetap menggunakan mekanisme konsesi, namun ditambahkan hakpartisipasi progresif dimana porsi bagian pemerintah (diwakili perusahaan minyak milik negara/ Nationaloil Company/NOC) terus meningkat dengan berjalannya waktu. Bahkan akhirnya ada yang mencapai100% seperti Saudi Aramco.
Peran NOC
Sekedar perbandingan, bagian NOC terhadap total produksi nasional untuk NOC dari negara negaraanggota OPEC, seperti: Aramco (Saudi Arabia), NIOC (Iran), KOC (Kuwait), PDVSA (Venezuela) dan QP(Qatar) mencapai lebih dari 90% produksi domestik. Sedangkan NOC dari negara non-OPEC yangmenguasai 90% produksi nasional, antara lain: Pemex (Meksiko) dan Petrobras (Brazil). LNOC (Libya) danSonatrach (Aljazair) menguasai 80% produksi domestik. Petronas (Malaysia), NNPC (Nigeria), ADNOC(UAE) dan CNPC (China) menguasai lebih dari separuh produksi nasional. Bahkan Sonangol (Angola) yangmasih terhitung NOC yang muncul belakangan, bagiannya dari total produksi nasionalnya sudahmencapai sekitar 40%. Sementara Pertamina tidak lebih dari 25% produksi nasional.Kalau kita melihat perspekstif sejarah, tampaknya visi dan keberpihakan negara terhadap NOC dapatdikatakan masih minimal. Partisipasi pemerintah melalui NOC pada PSC Indonesia hanya berupa pilihanopsi untuk berpartisipasi sebesar 10%, dimana besaran tersebut tetap (tidak progresif).PSC secara konsep adalah ide yang brilian karena mengatur bagaimana negara dan investor berbagiimbal hasil yang proporsional, sementara resiko sepenuhnya ditanggung investor. Namun demikian, darisisi peningkatan peran NOC, kelihatannya sejauh ini belum di optimalkan. Rupanya kita masih terpakupada sistem paron, yang secara tegas membedakan mana pemilik dan mana penggarap, jangan janganmemang tidak pernah terpikirkan bahwa kelak suatu saat (seharusnya) NOC sendirilah yang akanmenjadi penggarap utama. Jadi kalau saat ini kontribusi Pertamina masih dibawah 25%, tentu bukansuatu yang mengherankan.
 
2
Tata Kelola Migas
Terkait dengan hubungan antara tata kelola industri migas dan kinerja sektor hulu migas, Mark Thurberdan kawan kawan dari Universitas Stanford melakukan studi (2011) sejauh mana pengaruh pemisahantiga fungsi (kebijakan, regulasi dan komersial) terhadap kinerja produksi migas di beberapa negaraeksportir minyak. Negara yang dipilih sebagai sampel adalah: Aljazair, Brazil, Meksiko, Nigeria danNorwegia yang mewakili negara yang memisahkan ketiga fungsi tersebut. Sementara: Angola, Malaysia,Russia, Saudi Arabia dan Venezuela, mewakili negara yang tidak melakukan pemisahan. Kesimpulanstudi menunjukkan sedikit korelasi, dimana hanya dua negara, yaitu: Norwegia dan Brazil yang secarameyakinkan menunjukkan bahwa pemisahan tiga fungsi tersebut berkorelasi positif terhadap kinerjasektor hulu migas. Sebaliknya, Saudi Arabia dan Malaysia, yang tidak memisahkan ketiga fungsi diatas,ternyata juga mempunyai kinerja sektor hulu migas yang baik. Negara negara yang juga melakukanpemisahan ketiga fungsi tersebut, seperti: Nigeria dan Aljazair sejauh ini dianggap kurang berhasilkarena pemisahan tersebut hanya formalitas dan banyak menghadapi tantangan internal. SementaraMeksiko berpotensi untuk melakukan perbaikan kinerja sektor hulu, namun efektivitas pemisahanfungsi masih harus diuji mengingat fungsi regulasi (Komisi Hidrokarbon Nasional) baru dibentuk padatahun 2008. Perlu dicatat bahwa dari sepuluh negara yang dijadikan sampel pada studi ini, semua NOCnya mempunyai bagian yang sangat besar terhadap produksi minyak domestik mereka.Model tata kelola dari negara lain ini tentunya dapat dijadikan pembelajaran. Keinginan untuk´´mensterilkan´´ Pemerintah dari kemungkinan tuntutan di arbitrase internasional ketika terjadisengketa bisnis dengan tidak terlibat langsung sebagai pihak yang berkontrak perlu dikaji denganseksama. Perkembangan belakangan menunjukkan bahwa model
Business to Business
(B 2 B) tidakselalu menjamin bahwa Pemerintah bisa sama sekali steril. Hal ini dapat dilihat ketika terjadi sengketaantara ExxonMobil vs. PDVSA untuk salah satu blok di Venezuela dimana Pemerintah Venezuela jugadituntut oleh Exxon Mobil, padahal Pemerintah bukan pihak yang berkontrak. Perkembangan sengketamigas internasional belakangan sebaiknya di observasi sebagai bahan pertimbangan nantinya.
Gejala dan akar masalah
Salah satu penyebab maraknya berbagai isu migas ditanah air adalah kegagalan memahami perbedaanantara gejala dan akar permasalahan. Ketika isu cost recovery muncul, banyak yang serta mertamenuding bahwa PSC adalah akar masalahnya sehingga harus dicari sistem atau mekanisme baru.Padahal masalah cost recovery ini tidak terjadi di industri migas di negara lain. Seandainya ada masalah
mark-up
dan semacamnya, yang tentu saja dapat terjadi pada model kontrak migas selain PSC (konsesidan
service contract 
), bukankah oknumnya yang harus ditindak?. Kenapa memaksakan penggunaanmekanisme lain yang bisa jadi malah mengakibatkan penurunan penerimaan bagian negara(
Government Take
)?.Dalam satu kesempatan workshop dalam rangka pertukaran informasi dan pengalaman dengan negaraprodusen migas terkait pelaksanaan kontrak migas di masing masing negara. Penulis sempatmengangkat ramainya isu cost recovery di tanah air. Para pakar ekonomi migas dari negara lain tersebutcukup heran, mereka mengatakan: ´´kami tidak ada masalah dengan cost recovery, kalau ada indikasipenggelembungan biaya dan terbukti, tentu kami kirim ke penjara´´. Sementara di tanah air,permasalahan ini dijawab dengan mencari cari model kontrak migas lain. Siapa yang menjamin tidakakan terjadi masalah yang sama?. Rupanya kita lebih memilih membakar lumbungnya ketimbangmembunuh oknum tikusnya.

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
lolikpelipurlara liked this
Nizar San liked this
Aswin Tino liked this
gundulp liked this
Agus Haryanto liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->