Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
8Activity

Table Of Contents

0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 1,054 |Likes:
Published by Agung Kurniawan

More info:

Published by: Agung Kurniawan on Nov 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2014

pdf

text

original

 
1
BAB IPENDAHULUAN
Penelitian yang berjudul
PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT: StudiFormalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah,
menjadi sangat menarik dan penting untuk dilakukan. Akhir-akhir ini, istilah hukum adat, masyarakat hukumadat, hukum lokal (
local law
)
1
dan kearifan lokal (
local wisdom
)
2
telah kerap kalimuncul. Ketiga istilah tersebut secara konseptual sungguh berbeda, tetapi para penulis dalam berbagai kajian hukum, khususnya hukum adat dan pendekatan sosio-legal tampak menjadi campur aduk. Dalam beberapa literatur asing, seperti diAmerika, Australia, Kanada dan Inggris penggunaan istilah hukum lokal merupakan peraturan daerah yang disyahkan oleh pemerintahan negara-negara bagian bersifatumum. Secara tegas di Negara-negara tersebut memisahkan hukum lokal dari hukumkebiasaan (
customary law
) dan hukum kanonik (
canonic law
). Ciri utama hukumlokal adalah peraturan daerah yang disyahkan oleh lembaga legislatif dan pemerintahdaerah sebagai akibat adanya aspirasi dari berbagai suku dan nilai-nilai budaya dankeagamaan tertentu.
3
 Kekeliruan penggunaan istilah hukum adat dengan hukum lokal dijumpai dalam beberapa tulisan ilmiah. Naskah desertasi tentang Sumber Daya Air, dan kearifanlokal. Dalam desertasi itu, dikemukakan bahwa hukum adat adalah hukum lokal,sementara kearifan lokal adalah bagian dari hukum adat. Padahal sudah amat jelas,
1
Konsep Hukum Lokal semula dipergunakan oleh para ahli antropologi hukum yang memaparkan tentang realita politik lokal berusaha mengakomodir kehendak sebagian masyarakat untuk membuat Perda-perda yang berjiwakan hukum adatmelalui mekanisme lembaga legislatif di berbagai daerah. Noubert Roland, 1994,
 Legal Anthropology,
London, TheAthlone Press, Hlm : 313-315
2
 
Lihat Sulistriyono, dalam karyanya “Sumber Daya Air: Tinjauan Terhadap Regulasi Pengaturan Sumber Daya Air “,
Kabupaten Sleman, Yogyakarta, UGM 2011.
3
Lihat beberapa contoh hukum lokal di berbagai Negara dengan sistem hukum common law.
 
2 bahwa hukum lokal adalah peraturan-peraturan daerah yang proses dan mekanisme pembuatannya menggunakan institusi lembaga legislatif daerah, (DPRD bersamaKepala Daerah, Gubernur untuk tingkat provinsi, Bupati dan Wali Kota untuk tingkatkabupaten). Penggunaan istilah yang rancu ini perlu dihindari dengan harapan pemahaman penelitian berguna dalam menjelaskan suatu pengetahuan komprehensif, baik terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan adat secara khusus maupun perkembangan ilmu hukum pada umumnya. Realitas sosial menujukan bukti bahwa perda-perda berbasis hukum adat telah tumbuh dan berkembang tidak dapat dicegahmeskipun pro-kontra di kalangan akademisi masih berlangsung.Para pengajar hukum adat belum sepakat untuk menindakan lanjuti gagasantentang pentingnya pembentukan peraturan perundang-undangan yang melindungikeberadaan hukum adat dan keberadaan masyarakat hukum adat secara tertulis bersifat unifikatif. Mereka tidak setuju berdasarkan pada argumentasi bahwaformalisasi hukum adat, dapat menghilangkan jati diri hukum adat itu sendiri.
4
 Hukum adat terdiri dari kaidah-kaidah, dan pedoman yang menuntun anggotamasyarakat untuk berpikir, bertingkah laku antara sesamanya dengan mengedepankan pola interaksi sosial harmonis. Jika kemudian, masyarakat hukum adat di berbagaidaerah berkewajiban untuk mematuhinya peraturan hukum adat yang tertulis danunifikatif, ada kekhawatiran bahwa fungsi hukum adat ke depan menjadi lebih sempitdan tidak fleksibel.Pandangan pertama terdapat berbagai kelamahan, usulan memformalisasikanhukum adat ke dalam suatu peraturan hukum tertulis terus berlangsung suatu perdebatan. Meskipun proses formalisasi hukum adat dipandang telah bertentangan
4
 
Lihat beberapa pandangan para pengajar hukum adat, dalam suatu seminar Nasional “Urgensi Peraturan Perundang
-Undangan
Hukum Adat”. Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2007.
 
 
3dengan keempat asas dalam hukum adat, seperti
magis
 
religious
, kongkrit, kontandan fleksibel (
mulur mungkret 
)
5
. Penggunaan istilah formalisasi atau positivisasisebagai wujud mengakomodir nilai-nilai dan kaidah-kadiah yang berlaku dalammasyarakat ke dalam suatu sistem peraturan hukum moderen menuntut terpenuhisyarat-syarat juridis formal. Praktek pembentukan Perda-perda Adat, selama ini tidak  jauh berbeda dengan pembuatan perda-perda lainnya. Usul inisiatif diajukan olehPemerintah daerah atau Dewan Perwakilan Daerah (Provinsi atau Kabupaten/Kota),dan diproses dengan mekanisme dan proedur beradasarkan UU No 12/2011 tentangPembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Dengan adanya unifikasi terhadaphukum adat, maka kecenderungan hukum adat yang berbhineka tersebut akanmengalami pergeseran atau bahkan hilang dari kehidupan masyarakat.Mereka percaya jika kedudukan hukum adat harus dipahami sebagai nilai-nilailuhur dan norma-norma yang seharusnya menjiwai peraturan-peraturan tertulistersebut. Sebagaimana halnya UU No 5 Tahun 1960, tentang Pokok-Pokok HukumAgraria yang hingga kini tetap aktual dan berlaku. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak pihak yang menolak usulan perubahan atas UUPA tersebut. Padahal, bukan tanpa argumen yang memadai ketika DPD RI mencoba mengusulkan perubahan muatan materi UUPA tersebut. Upaya untuk menciptakan masyarakatyang agraris sebagai tujuan UUPA tersebut tidak terwujud. Banyaknya petani yangsemakin kehilangan tanah garapannya karena berpindah kepada petani berdasi, danhilangnya status tanah-tanah adat, seperti
tanah ulayat 
di Minangkabau dan
tanahtembawang 
di Kalimantan Barat adalah persoalan kelemahan internal UUPAmenyandarkan pembentukan pada hukum adat.
5
Beberapa pandangan tentang-tentang asas-asas dalam hukum adat yang dijadikan ciri utama yang membedakan dari sistemhukum lainnya. Lihat pandangan Djojodiguno, Iman Sudiyat, Moh Koesnoe dan Hilman, Pengantar Hukum Adat,Bandung.

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
Ren Nyoe Hai liked this
murianda liked this
mega_selvy liked this
Hami Sibagariang liked this
Agung Kurniawan liked this
Agung Kurniawan liked this
Agung Kurniawan liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->