Wacana good governance mendapatkan relevansinya di Indonesia dalam pandangan mesyarakat transparasi Indonesia ( MTI), 2002: vii) paling tidak dengan tiga sebab utama :
Pertama
, krisis ekonomi dan politik yang masih terus menerus dan belkum adatanda-tanda akan segera berakhir;
Kedua
, masih banyaknya korupsi dan berbagai bentuk penyimpangan dalam penyelenggaraan negara;
Ketiga
, kebijakan Otonomi Daerah yang merupakan harapan besar bagi prosesdemokratisasi dan sekaligus kekhawatiran akan kegagalan program tersebut.Alasan lain adalah masih belum optimalnya pelayanan birokrasi pemerintahan dan juga sektor swasta dalam memenuhi kebutuhan dan kepentingan publik.Meskipun istilah good governance sering disebut dalam berbagaikesempatan, istilah tersebut dimaknai secara berlainan. Satu sisi ada yangmemaknai good governance sebagai kinerja suatu lembaga, misalnya kinerja suatu pemerintahan, perusahaan atau organisasi masyarakat. Menurut MM. Billah,istilah ini merujuk atau mengendalikan atau mempengaruhi masalah publik untuk mewujudkan nilai-nilai itu dalam tindakan dan kehidupan keseharian. Dengandemikian
ranah good governance
tidak terbatas pada negara atau birokrasi pemerintahab, tetapi juga pada ranah masyarakat sipil yang direpresentasikan olehorganisadsi non-pemerintah (ORNOP) seperti Lembaga Swadaya Mesyarakat(LSM) dan juga sektor swasta. Singkatnya, tuntutan terhadap good governanecetidak selayaknya hanya ditujukan kepada penyelenggara negara atau pemerintahan, melainkan juga pada masyarakat di luar struktur birokrasi
Leave a Comment