Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
9Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Di Hutan Alam Produksi

Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Di Hutan Alam Produksi

Ratings:

4.33

(6)
|Views: 13,502|Likes:
Published by anfieldadorer

More info:

Published by: anfieldadorer on Jan 28, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

11/09/2012

 
Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Hutan Alam Produksi
Oleh: Ir. Akhmad A. PENDAHULUANMenurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, konservasi sumberdaya alam hayati, diberi batasandengan pengelolaan sumberdaya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksanauntuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkankualitas keanekaragaman dan nilainya. Konservasi sumberdaya alam hayati dilakukan melalui tigakegiatan, yaitu:(1) perlindungan sistem penyangga kehidupan;(2) pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; dan(3) pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam konteks ini, konservasi keanekaragaman hayati (biodiversity) merupakan bagian tak terpisahkan dari pengertiankonservasi sumberdaya alam hayati. Selain itu, dengan ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Convention) oleh Pemerintah Indonesia melalui Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994, konservasi keanekaragaman hayati telah menjadi komitmen nasional yang membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat. Luas hutan hujan tropika di duniahanya meliputi 7 % dari luas permukaan bumi, tetapi mengandung lebih dari 50 % total jenis yang ada di seluruh dunia.Kenyataan ini menunjukkan bahwa hutan hujan tropika merupakan salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di dunia. Laju kerusakan hutan hujan tropika yang relatif cepat (bervariasimenurut negara) telah menyebabkan tipe hutan ini menjadi pusat perhatian dunia internasional.Meskipun luas Indonesia hanya 1.3 % dari luas bumi, tetapi memiliki keanekaragaman hayati yangtinggi, meliputi : 10 % dari total jenis tumbuhan berbunga, 12 % dari total jenis mamalia, 16 % dari total jenis reptilia, 17 % dari total jenis burung dan 25 % dari total jenis ikan di seluruh dunia.Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi pusat perhatian dunia internasional dalam hal keanekaragaman hayatinya.Indonesia memiliki luas hutan hujan tropika yang terluas di Asia tropis.Pada saat ini, luas kawasan hutan Indonesia adalah 144 juta hektar, 64.4 juta hektar di antaranyaberstatus hutan produksi (tetap dan terbatas). Menurut laporan resmi (Ministry of Forestry GOI and FAO, 1990; 1991), dari seluruh kawasan hutan ini, 108.6 juta ha di antaranya masih berhutan dan meliputi 7 tipe utama hutan dengan variasi hingga 18 tipe hutan, termasuk hutan bambu,hutan nipah, hutan sagu danhutan savana.Eksploitasi hutan alam produksi secara besar-besaran yang telah berlangsung sejak tahap awal pembangunan jangka panjang pertama (1969) telah memberikan kontribusi besar bagi pembangunan nasional melalui produk utamanya kayu danhasil hutan ikutan (non-kayu) seperti rotan, damar, tengkawang, cendana dan gaharu.Tanpa mengabaikan dampak positif tersebut,eksploitasi hutan alam produksi juga disadari telah
 
memberikan dampak negatif bagi sumberdaya hutan sendiri. Berbagai jenis kayu komersial, bahk an di antaranya termasuk kayu mewah, kini telahmenjadi langka. Kayu eboni (Dyospyros ebenum dan D. celebica), kayu ulin (Eusyderoxylon zwageri), ramin (Gonystylus bancanus), dan beberapa jenis meranti (Shorea spp.) adalah contoh dari beberapa jenis komersial yang harganya tinggi, tetapi sudah sulit ditemukan di alam dan di pasaran. Selain itu, puluhan jenis kayu kurang dikenal (lesser-known species) saat ini mungkin telah menjadi langka atau punah sebelum diketahui secara pastinilai/manfaat dan sifat-sifatnya.B. PENGELOLAAN KEANEKARAGAMAN HAYATI1. Kerangka Kerja Pengelolaan Keanekaragaman HayatiTujuan pengelolaan keanekaragaman hayati adalah untuk menemukan keseimbangan optimum antara konservasi keanekaragaman hayati dengan kehidupan manusia yang berkelanjutan. Untuk mendukung program pembangunan berkelanjutan, pemerintah, masyarakat, organisasi-organisasidi kalangan usaha, harus bekerja sama untuk mendapatkan cara guna mendukung proses-proses alam esensial yang sangat tergantung pada keanekaragaman hayati. Memelihara sebanyak mungkin keanekara-gaman hayati merupakan tujuan sosial dan merupakan komponen strategis utama dalam pembangunan berkelanjutan.Pengelolaan keanekaragaman hayati merupakan upaya manusia untuk merencanakan danmengimplementasikan pendekatan-pendekatan untuk:a. Melindungi dan memanfaatkan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati dan sumberdaya biologis dan menjamin pembagian keuntungan yang diperoleh secara adil.b. Mengembangkan kapasitas sumberdaya manusia, finansial, infrastruktur dan kelembagaan untuk menangani tujuan di atas.c. Menegakkan tata kelembagaan yang diperlukan untuk mendorongkerjasama dan aksi sektor swasta dan masyarakat.Istilah "pengelolaan keanekaragaman hayati" yang digunakan disini bertujuan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati beserta material,kondisi sosial, budaya, spiritual dan nilai-nilai ekosistem yang berkaitan.Dalam hal ini termasuk seluruh aktivitas pengelolaan, mulaidari pengawetan spesies, keanekaragaman genetik, dan pengelolaan habitat dan lansekap, melaluiperbaikan ekosistem dan pemanenan sumberdaya nabati, hewani dan mikrobial untuk kepentingan manusia, hingga upaya mendapatkan dan pemerataan manfaat/keuntungan. Keberhasilan untuk memadukan kepentingan pengelolaan keanekaragaman hayati, yakni: perlindungan, pemanfaatan berkelanjutan dan pembagian keuntungan, tergantung pada dua hal. Pertama, pembuat kebijakan dan manager membutuhkan pemahaman yang memadai terhadap konteks sosial, politik, ekonomi dan budaya dimana tujuan pengelolaan keanekaragaman hayatidiinginkan. Kedua, mereka perlu memilih alat dan metode yang menjanjikan upaya pemaduan duakepentingan di atas.
 
2. Konteks Pengelolaan Keanekaragaman HayatiIsi kebijakan dan rencana mengenai keanekaragaman hayati nasional akan mempengaruhi keputusan mengenai pemilihan metode dan alat yang paling sesuai dengan kondisi budaya, sejarah, sosial, ekonomi dan realitas ekologis negara tersebut.Keberhasilan program aksi keanekaragaman hayati tergantung pada kemampuan untuk mendorong berbagai pihak dan disiplin keilmuan untuk bekerja secara terpadu. Namun program aksi yang secara biologis maupun teknis baik, seringkalimengalami kegagalan karena mengabaikan peranan vital dan pengaruh tingkat kesadaran masyarakat, tidak menghargai pengetahuan lokal/tradisional,gagal dalam mengalamatkan isu kemiskinandan pembangunan ekonomi, serta gagal dalam mempertimbangkan isu kebijakan kontemporer. Secara kelembagaan kegagalan utama terletak pada kurang dipertimbangkannya biaya informasi (information cost) dan biaya kontrak antara pihak-pihakterkait (contract cost).Pilihan metode dan alat pengelolaan keanekaragaman hayati tergantung pada kesadaran dan pemahaman masyarakat, sikap kepemimpinan swasta dan pemerintah.Bila kesadaran masyarakat rendah, aktivitas dan investasi awal sebaiknya difokuskan pada penyiapan dan distribusi informasi dan pembiayaan peragaan-peragaan yang berguna. Sebaliknya bila kesadaran masyarakat tinggi, program aksi sebaiknya ditu jukan untuk penguatan pengelolaan kawasan konservasi, pengembangan program pengasaan keanekaragaman hayati atau praktek-praktek pengelolaan hutan lestari.Kearifan tradisional dan pengetahuan lokal dapat memberikankepada pengelola keanekaragaman hayati pengalaman dan observasi jangka panjang, sedangkan teknik pertanian, kehutanan dan perikanan modern penting untuk pemenuhan kebutuhan pangandan serat kini dan masa datang, serta untuk pengembangan potensi pemanfaatan berkelanjutandan mengawetkan pilihan baru seperti pengasaan (prospecting) farmasi.Pendekatan pengelolaan keanekaragaman hayati juga bervariasi menurut kondisi pembangunan ekonomi suatu negara. Negara yang sebagian besar rakyatnya miskin akan menghadapi prioritas yang berbeda dibandingkan negara kaya dalam hal pengunaan dana masyarakat.Persaingan lahan dan sumberdaya tinggi di negara berkembang sehingga banyak menyebabkan konflik sosial.Prioritas pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan harus mempertimbangkan prinsip pemerataan ekonomi dan partisipasi masyarakat.Efektivitas juga tergantung pada lingkungan kelembagaan dan kebijakan dimana aksi akandilakukan. Banyak pemerintah telah menandatangani kesepakatan dan konvensi international yangmembatasi dan berorientasi pada konservasi serta pemanfaatan sumberdaya alam, termasuk keanekaragaman hayati.Di tingkat nasional, hal tersebut dapat menguntungkan atau merugikanaksi konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati, bahkan secara sengaja atau tidak,merangsang konversi habitat penting atau memicu pemanfaatan tak berkelanjutan sumberdaya biologis serta meningkatkan pencemaran dan degradasi lingkungan.Melihat kompleksitas permasalahan tersebut, perencanaan dan implementasi pengelolaan keanekaragaman hayati seyogyanya dimulai dalam konteks yang mencerminkan kisaran konflik yang mungkin terjadi di tingkat internasional maupun nasional.

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
MaLyda AriaNi liked this
Chipie Jo liked this
Tumbur Sihaloho liked this
Nova Samosir liked this
ZELIO FERNANDEZ liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->