memberikan dampak negatif bagi sumberdaya hutan sendiri. Berbagai jenis kayu komersial, bahk an di antaranya termasuk kayu mewah, kini telahmenjadi langka. Kayu eboni (Dyospyros ebenum dan D. celebica), kayu ulin (Eusyderoxylon zwageri), ramin (Gonystylus bancanus), dan beberapa jenis meranti (Shorea spp.) adalah contoh dari beberapa jenis komersial yang harganya tinggi, tetapi sudah sulit ditemukan di alam dan di pasaran. Selain itu, puluhan jenis kayu kurang dikenal (lesser-known species) saat ini mungkin telah menjadi langka atau punah sebelum diketahui secara pastinilai/manfaat dan sifat-sifatnya.B. PENGELOLAAN KEANEKARAGAMAN HAYATI1. Kerangka Kerja Pengelolaan Keanekaragaman HayatiTujuan pengelolaan keanekaragaman hayati adalah untuk menemukan keseimbangan optimum antara konservasi keanekaragaman hayati dengan kehidupan manusia yang berkelanjutan. Untuk mendukung program pembangunan berkelanjutan, pemerintah, masyarakat, organisasi-organisasidi kalangan usaha, harus bekerja sama untuk mendapatkan cara guna mendukung proses-proses alam esensial yang sangat tergantung pada keanekaragaman hayati. Memelihara sebanyak mungkin keanekara-gaman hayati merupakan tujuan sosial dan merupakan komponen strategis utama dalam pembangunan berkelanjutan.Pengelolaan keanekaragaman hayati merupakan upaya manusia untuk merencanakan danmengimplementasikan pendekatan-pendekatan untuk:a. Melindungi dan memanfaatkan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati dan sumberdaya biologis dan menjamin pembagian keuntungan yang diperoleh secara adil.b. Mengembangkan kapasitas sumberdaya manusia, finansial, infrastruktur dan kelembagaan untuk menangani tujuan di atas.c. Menegakkan tata kelembagaan yang diperlukan untuk mendorongkerjasama dan aksi sektor swasta dan masyarakat.Istilah "pengelolaan keanekaragaman hayati" yang digunakan disini bertujuan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati beserta material,kondisi sosial, budaya, spiritual dan nilai-nilai ekosistem yang berkaitan.Dalam hal ini termasuk seluruh aktivitas pengelolaan, mulaidari pengawetan spesies, keanekaragaman genetik, dan pengelolaan habitat dan lansekap, melaluiperbaikan ekosistem dan pemanenan sumberdaya nabati, hewani dan mikrobial untuk kepentingan manusia, hingga upaya mendapatkan dan pemerataan manfaat/keuntungan. Keberhasilan untuk memadukan kepentingan pengelolaan keanekaragaman hayati, yakni: perlindungan, pemanfaatan berkelanjutan dan pembagian keuntungan, tergantung pada dua hal. Pertama, pembuat kebijakan dan manager membutuhkan pemahaman yang memadai terhadap konteks sosial, politik, ekonomi dan budaya dimana tujuan pengelolaan keanekaragaman hayatidiinginkan. Kedua, mereka perlu memilih alat dan metode yang menjanjikan upaya pemaduan duakepentingan di atas.