Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
96Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsep Tuhan Dalam Islam

Konsep Tuhan Dalam Islam

Ratings:

4.0

(3)
|Views: 34,216|Likes:
Published by hudzai83

More info:

Published by: hudzai83 on Jan 28, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

09/30/2013

 
1
 
KONSEP TUHAN DALAM ISLAM
(Telaah Perbandingan)Oleh: Adian Husaini, MA1. Konsep Tuhan yang khas
 Konsep Tuhan merupakan konsep yang mendasar bagi setiap agama. Darikonsep Tuhan inilah, kemudian dijabarkan konsep-konsep lain dalam agama, baik konsep tentang manusia, konsep tentang kenabian, konsep tentang wahyu, konseptentang alam, dan sebagainya. Karena itu, setiap berbicara tentang ”agama”, makamau tidak mau, yang pertama kali perlu dipahami adalah konsep Tuhannya.Sebagaimana konsep
Islamic worldview
yang ditandai dengankarakteristiknya yang otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, menurutProf. Naquib al-Attas
1
, juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhandalam Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam al-Quran yang juga bersifatotentik dan final. Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain, tidak sama dengan konsepTuhan dalam tradisi filsafat Yunani.Sebagai contoh, dalam konsepsi Aristotle, Tuhan disebut sebagai “
unmoved mover 
”, yaitu penggerak yang tidak bergerak. Tuhan Aristotle adalah Tuhan filsafat,Tuhan yang ada dalam pikiran, karena ia harus ada secara logika sebagai penggerak alam semesta yang senantiasa berada dalam keadaan bergerak dan berubah. Karenaitu, tidak ada catatan yang menunjukkan bahwa Aristotle menyembah Tuhan yangdikonsepsikannya. Tuhan Aristotle hanya tahu dirinya sendiri, dan tidak paham apayang ada di luar dirinya.. Dalam metafisika Aristotle disebutkan:
“Consequently, the first heaven must be eternal. There is therefore also something which moves it. And  since a moved mover is intermediate, there is, therefore, also an unmoved mover,being eternal, primary, and in act… It is evident, then, from what has been said, that there is a primary being, eternal and unmovable and separate from sensible things. It has also been shown that this primary being can not have magnitude, but is without  parts and indivisible. For the unmoved mover moves in unlimited time, and nothing limited has unlimited power.”
 
2
Contoh lain dari tradisi filsafat Yunani adalah aliran filsafat Epicureans yangmenyatakan bahwa "
 gods exist, since that is the common opinion of mankind, but theyhave no concern for the world and what happens in it, for that would disturb their divine happiness and tranquility." 
 
3
Epicurus (m. 270 SM), mengajarkan bahwa
"byteaching that the gods do not interfere and that the physical world is explained bynatural causes, it frees us from the fear of the supernatural." 
 
4
1
Syed Muhammad Naquib al-Attas,
Prolegomena to the Metaphysic of Islam
, (Kuala Lumpur:ISTAC, 1995), hal. 3-7.
2
(Metaphysics, Book Lambda, 1072a20-26, 1073a3-8. Lihat,
Aristotle Metaphysics
(translated byRichard Hope), (New York: Columbia University Press, 1952).
3
Dikutip dari diktat mata kuliah
'Greek Phylosophy
' oleh Prof. Dr. Paul Letink, guru besar filsafatYunani, bahasa Yunani dan bahasa Latin, di ISTAC-IIUM Kuala Lumpur.
4
Lihat, Simon Price and Emily Kearns (ed),
The Oxford Dictionary of Classical Myth and Religion
,(Oxford:Oxford University Press, 2004), hal. 192.
 
2Konsep Tuhan dalam Islam juga berbeda dengan konsep Tuhan dalam filsafatBarat modern. Prof. Frans Magnis Suseno, guru besar filsafat di Sekolah Tinggi IlmuFilsafat Driyarkara, Jakarta, merangkum tantangan modernitas terhadap keimanan dan'konsep Tuhan ' agama-agama:"Modernitas sebagaimana menjadi kenyataan di Eropa sejak abad ke-17 mulaimeragukan ketuhanan. Reformasi Protestan abad ke-16 sudah menolak banyak klaim Gereja. Dalam abad ke-17
empirisisme
menuntut agar segala pengetahuan mendasarkan diri pada
pengalaman inderawi
. Pada akhir abadke-18 muncul filosof-filosof materialis pertama yang mengembalikankeanekaan bentuk kehidupan, termasuk manusia, pada materi dan menolak alam adi-duniawi. Dalam abad ke-19 dasar-dasar ateisme filosofis dirumuskanoleh Feurbach, Marx, Nietzsce, dan dari sudut psikologi, Freud. Pada saatyang sama ilmu-ilmu pengetahuan mencapai kemajuan demi kemajuan.Pengetahuan ilmiah dianggap harus menggantikan kepercayaan akan Tuhan.Akhirnya, di abad ke-20, filsafat untuk sebagian besar menyangkalkemungkinan mengetahui sesuatu tentang hal ketuhanan, sedangkan dalammasyarakat sendiri ketuhanan semakin tersingkir oleh keasyikan budayakonsumistik. Sebagai akibat, manusia modern menjadi skeptis tentangketuhanan kalau ia tidak menyangkalnya sama sekali. Maka apabila seseorang,atau sekelompok orang, tetap yakin akan adanya Tuhan, mereka mau tak mauharus menghadapi tantangan skeptisisme modernitas itu."
5
Begitu juga, konsep Tuhan dalam Islam berbeda dengan konsep Tuhan dalamtradisi Buddhisme, Hinduisme, atau tradisi mistik Timur dan Barat. Dalam konsepagama Budha, misalnya, seorang Buddhis memiliki enam keyakinan yang disebutSad-saddha, yang terdiri dari keyakinan tentang adanya: (1) Tuhan Yang Maha Esa(2) Tri Ratna (3) Bodhisattva, Arahat dan para Buddha, (4) Hukum Kasunyatan (5)Kitab Suci Tri Pitaka, dan (6) Nirvana. Buddha tidak menyebut nama Tuhannyadengan sebutan tertentu. Tentang "Tuhan Yang Maha Esa" tidak dijelaskan nama-Nyasecara khusus. Dalam buku
Be Buddhist Be Happy
, misalnya, ditulis: "Seorang umatBuddha meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan sbeutan:
"Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkatam
", yang artinya: Sesuatu yang tidak dilahirkan,tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa di dalamagama Buddha adalah
Anatman
(Tanpa Aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yangtidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Hal ini diungkapkan dalam KitabSuci
Udana
VIII ayat 3. Seorang Buddhis meyakini Tuhan Yang Maha Esa sebagaiyang mendasari kehidupan dan alam semesta, dan juga sebagai tujuan atau cita-citanya yang tertinggi atau tujuan hidup akhirnya, yakni yang akan dipahamisepenuhnya bila telah tercapai Nirvana."
6
Agama Hindu, pun memiliki konsep ketuhanan yang khas, yang berbedadengan konsep-konsep agama lain. Tentang Hindu, Alain Danielou, menulis dalam bukunya,
Gods of India: Hindu Polytheism
, (New York: Inner TraditionsInternational, 1985):
"Hinduism, or rather the "eternal religion" (sanata dharma), asit calls irself, recognizes for each age and each country a new form of revelation and 
 
5
Lihat, Frans Magnis Suseno,
Menalar Tuhan
, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hal. 44-45.
6
Lihat, Jo Priastana,
Be Buddhist Be Happy
, (Jakarta: Yasodhara Puteri Jakarta, 2005), hal. 28-29.
 
3
  for each man, according to his stage of development, a different path of realization, adifferent of worship, a different morality, different rituals, different gods." 
 
7
Kaum Hindu Bali menyebut Tuhan Yang Maha Esa sebagai "Ida Sang HyangWidhi Wasa", atau "Brahman". Sebuah buku menulis: “Agama Hindu berkembang pertama kali di lembah sungai suci Sindhu di Bharatawarsa (India). Di lembah sungaisuci Sindhu inilah para maharsi menerima wahyu Brahman, San Hyang Widhi Yasa,dan kemudian diabadikan dalam bentuk pusaka suci Weda… Di antara sekian banyak gelar Sang Hyang Widhi, ada tiga yang paling terkenal yaitu Brahma, Wisnu, danSiwa yang terkenal dengan sebutan Trimurti.”
8
 
Tentang “nama Tuhan”
 Bait pertama dalam
Aqidah Thahawiyah
yang ditulis oleh Abu Ja'far ath-Thahawi (239-321H), dan disandarkan pada Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, ImamSyaibani, menyatakan: "
 Naquulu fii tawqiidillaahi mu'taqidiina – bitawfiqillaahi: Innallaaha waahidun laa syariikalahu." 
Dalam Kitab
Aqidatul Awam
– yang biasadimadrasah-madrasah Ibtidaiyah -- ditulis bait pertama kitab ini:
"Abda'u bismillaahiwa-arrahmaani—wa birrahiimi daa'imil ihsaani.
" Ayat pertama dalam al-Quran juga berbunyi "
 Bismillahirrahmaanirrahiimi
", dengan nama Allah Yang Maha Pengasihlagi Maha Penyayang.Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz 'Allah' ( )
 
ﷲﺍ
 
dibacadengan bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapiharus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaanayat-ayat dalam al-Quran.
9
Dengan adanya
ilmul qiraat 
yang berdasarkan pada sanad – yang sampai pada Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapimasalah dalam penyebutan nama Tuhan. Umat Islam juga tidak berbeda pendapattentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah. Dengandemikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga bersifat otentik dan final, karenamenemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepadaRasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan 'spekulasi filosofis' untuk menyebutnama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melaluial-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (
 proper name
) dari Dzat YangMaha Kuasa, yang memiliki nama dan sifat-sifat tertentu. Sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya pun sudah dijelaskan dalam al-Quran, sehingga tidak memberikan
7
Alain Danielou,
Gods of India: Hindu Polytheism
, (New York: Inner Traditions International, 1985),hal. x.
8
Lihat, IB Suparta Ardhana,
Sejarah Perkembangan Agama Hindu
, (Denpasar: Paramita, 2002), hal.1-4.
9
Salah satu syarat qiraah yang sahih dalam al-Quran adalah bahwa bacaan itu harus ditetapkan berdasarkan sanad yang mutawatir atau shahih, bukan berdasarkan spekulasi akal. Qiraat ditetapkan berdasarkan sanad-sanadnya sampai kepada Rasulullah saw. Karena itu, ketika bertemu dengan huruf Alif Lam Lam ha (Allah), orang Islam pasti akan membaca dengan "
 Alloh
", bukan "
 Allah
". Ketika bertemu dengan huruf Alif Lam Mim, maka akan dibaca dengan "
 Alim Lam Mim
" dengan panjang pendek tertentu. Tentang
ilmul Qiraat 
bisa dilihat dalam berbagai Kitab
Ulumul Qur'an
. Ali As-Shabuni, misalnya, menulis bahwa qiraat "
tsabitatun bi asanidiha ila Rasulillahi shallallahu 'alaihi wa sallam" 
. (Lihat, Muhammad Ali as-Shabuni,
at-Tibyan fi Ulumil Quran
, (Beirut: Darul Irsyad, 1970),hal. 249). Tradisi Islam dalam qiraat berdasarkan sanad ini sangat menarik jika dibandingkan dengantradisi Yahudi-Kristen yang tidak mengenal 'sanad' sehingga mereka kehilangan jejak untuk menentukan bagaimana membaca satu manuskrip, termasuk dalam mengucapkan nama Tuhannya.

Activity (96)

You've already reviewed this. Edit your review.
M Soni L liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Tha Gadies liked this
k_maran liked this
Ludianti liked this
Erma Sinambella liked this
hreesty liked this
Safwan Yusof liked this
Randy Setiabudi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->