Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Birokrasi Dan Demokrasi

Birokrasi Dan Demokrasi

Ratings: (0)|Views: 159|Likes:
Published by YeniAnjar

More info:

Published by: YeniAnjar on Nov 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2014

pdf

text

original

 
BIROKRASI DAN DEMOKRASI BAGAIMANA IDEALNYA?
Friday, 21 August 2009 00:25
 Diskusi tentang hubungan antara birokrasi dan politik sebenarnya telah berlangsung lama.Pembahasan masalah ini lazim diwarnai oleh keinginan memisahkan fungsi politik dan fungsiadministrasi pemerintahan. Fungsi politik terkait dengan kegiatan pembuatan kebijakan untukmengatasi pelbagai masalah atau menjawab kebutuhan masyarakat, sedangkan fungsiadministrasi pemerintahan lebih terkait dengan pelaksanaan kebijakan tersebut.Tetapi pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa keinginan dan upaya memisahkanfungsi politik dan fungsi administrasi negara ternyata tidak sederhana. Dalam prakteknya,penyelenggaraan pemerintahan negara seringkali diintervensi oleh kepentingan rejimpenguasa, sehingga sangat kental dengan nuansa politik. Itulah sebabnya kemudian dirasakanpenting melakukan penguatan demokrasi (kompetisi sehat, transparansi, partisipasi), supayabirokrasi bisa dikontrol, dan para birokrat dapat bekerja secara efektif, efisien, profesional, danberorientasi pada kualitas pelayanan publik. Hubungan antara birokrasi dan demokrasi tersebutkira-kira dapat digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut:Dalam diagram tersebut digambarkan sedikitnya ada tiga karakteristik birokrasi ketika politisasibirokrasi berpapasan dengan demokrasi. Pertama, ketika tingkat kemandirian birokrasi padakategori rendah, dan demokrasi belum berkembang (tingkat kompetisi, transparansi, danpartisipasi rendah), maka birokrasi diletakkan sebagai instrumen rejim penguasa untukmemobilisasi dukungan politik. Dalam situasi demikian, birokrasi berkembang menjadi institusiyang mengabdi pada kepentingan lembaga politik. Para birokrat juga memposisikan dirinyasebagai client rejim, dan bekerja dalam tradisi dengan bingkai clientelisme. Mereka tidakmemiliki posisi tawar yang kuat terhadap kemauan politisi. Kedua, ketika tingkat kemandirianbirokrasi pada kategori sedang, dan demokratisasi dalam proses transisi, maka birokrasi lebihberkedudukan sebagai institusi yang menjembatani kepentingan rejim penguasa dankepentingan publik. Birokrat lebih memposisikan diri sebagai broker, dan acapkali berusahamelepaskan diri dari tanggung jawab implementasi kebijakan publik.Ketiga, pada saat tingkat kemandirian birokrasi cukup tinggi, dan demokrasi mulai mapan(kompetisi terbuka, transparansi dan partisipasi tergolong tinggi), maka birokrasi mampu
1 / 4
 
BIROKRASI DAN DEMOKRASI BAGAIMANA IDEALNYA?
Friday, 21 August 2009 00:25
memerankan diri sebagai partner. Dalam situasi demikian, birokrasi berusaha bekerja efektifdan efisien, serta berorientasi pada kualitas pelayanan publik. Birokrat kemudian menempatkandiri sebagai agen perubahan yang piawai melaksanakan kebijakan publik, sekaliguspenyelenggara pemerintahan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Pengalaman sejumlah negara memperlihatkan bahwa politisasi birokrasi tidak mudah dihindari.Hanya kadarnya berbeda-beda. Di sejumlah negara intervensi rejim penguasa dan lembagapolitik terhadap birokrasi sangat kuat, sehingga membuat tingkat kemandirian birokrasi beradapada titik rendah. Sementara itu, di sejumlah negara lainnya intervensi tersebut tergolonglemah, sehingga birokrasi dapat menyelenggarakan pemerintahan tanpa diganggu olehkepentingan politik rejim penguasa. Dalam kondisi demikian, para birokrat memiliki posisi tawarpolitik yang relatif tinggi, karena tidak harus mengabdi pada rejim penguasa. Rejim penguasa juga tidak bisa semena-mena karena fungsi politik dan fungsi administrasi pemerintahan dapatdipilahkan dengan jelas.Apakah intervensi politik yang dilakukan oleh rejim penguasa terhadap birokrasi selaluberdampak negatif? Tidak mudah menjawabnya. Satu hal patut dicatat adalah apabilaintervensi politik itu dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme, sehingga penyelenggaraanpemerintahan menjadi lebih efektif dan efisien, boleh jadi mampu menghadirkan pelayananpublik yang berkualitas. Tetapi intervensi politik tersebut bisa menghadirkan ketegangan,bahkan konflik penyelenggaraan pemerintahan, apabila semata-mata hanya ditujukan untukmeraih, mengembangkan, dan mempertahankan kekuasaan.Karena dalam tujuan semacam ini, tolok ukur keberhasilan kinerja birokrasi lebih dibingkai olehtujuan melestarikan kekuasaan rejim, dan mengabaikan kualitas pelayanan publik. Dengan katalain, kebijakan dan program yang mereka canangkan lebih ditujukan untuk memperkuatpengaruh rejim penguasa daripada untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2 / 4
 
BIROKRASI DAN DEMOKRASI BAGAIMANA IDEALNYA?
Friday, 21 August 2009 00:25
Lalu bagaimana pengalaman Indonesia? Selama 32 tahun rejim Orde Baru berkuasa, birokrasidi negeri ini ditempatkan sebagai instrumen rejim penguasa untuk mobilisasi dukungan politik.Ketika itu dibuat kebijakan monoloyalitas yang mewajibkan segenap birokrat (aparatpemerintah) mendukung partai pemerintah. Bahkan ketika itu pemerintah Orde Barumenempatkan birokrasi sebagai salah satu pilar penting kekuasaan, di samping ABRI (meliterdan polisi) dan Golongan Karya. Dalam setiap pemilihan umum, pegawai negeri dankeluarganya wajib memberikan suaranya kepada Golongan Karya. Pegawai negeri juga harusmenjadi juru kampanye untuk kepentingan Golongan Karya. Ketika itu para birokrat (aparatpemerintah) benar-benar mengabdi pada kepentingan rejim penguasa, dan jauh dari orientasipada kualitas pelayanan publik. Kinerja birokrasi juga lebih banyak diukur dari segi loyalitaspada rejim daripada kualitas pelayanan yang diberikan kepada publik.Setelah rejim Orde Baru tumbang, birokrasi berusaha diletakkan kembali sebagai institusipelayan publik, dan dijauhkan dari pelbagai bentuk intervensi politik. Usaha ini sejalan denganide reinventing government, sebuah cita-cita yang ingin meletakkan pelayanan publik sebagaiorientasi utama dari birokrasi pemerintahan. Namun usaha tersebut ternyata tidak berjalanmulus. Beberapa kendalanya adalah sebagai berikut. Pertama, di beberapa tempat birokrasikita masih kental diwarnai oleh kultur ambtenar, ningrat, atau masih sering menempatkan publiksebagai obyek kekuasaan daripada subyek yang harus memperoleh pelayanan yangberkualitas. Seperti dikeluhkan sejumlah kalangan, di beberapa tempat birokrasi kita juga masihsering dilanda sindrom bisnis jabatan, dalam arti jabatan yang diperoleh bukan karena prestasitetapi karena kedekatan dengan rejim penguasa. Implikasinya kemudian adalah mereka bukanhanya mengembangkan hubungan yang saling menghidupi (terutama untuk mengisis danmemperbesar logistik partai), tetapi juga memberi pelayanan yang diskriminatif.Kedua, di beberapa tempat ditengarai terjadi politisasi birokrasi varian baru. Apabila pada jaman Orde Baru dahulu politisasi birokrasi dilakukan dengan menempatkan birokrasi sebagaipilar penting dalam menyangga kelestariaan kekuasaan satu rejim saja (monoloyalitas), padasaat ini birokrasi kita diintervensi oleh kekuatan politik yang bervariasi. Sejumlah pengamatmenengarai bahwa dalam tubuh birokrasi kita tumbuh “multiloyalitas”, artinya loyalitas birokratkita bervariasi mengikuti afiliasi politik rejim penguasa (tidak satu rejim). Penyelenggaraanpemerintahan kemudian banyak diwarnai oleh kepentingan pribadi daripada kepentinganintitusi, karena itu mereka semakin sulit diharapkan mengembangkan pelayanan publik yangberkualitas.
3 / 4

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->