Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Fikih Kontemporer Tentang Hukum Asuransi

Fikih Kontemporer Tentang Hukum Asuransi

Ratings: (0)|Views: 161|Likes:
Published by jiddysuriani

More info:

Published by: jiddysuriani on Dec 02, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/24/2013

pdf

text

original

 
HUKUM ASURANSI
Pertanyaan :
Ustadz Dr. Setiawan Budi Utomo pengasuh rubrik fikih kontemporer yangsaya hormati. Saya seorang konsultan sebuah perusahaan asuransi swasta. Namunsampai kini saya masih ingin mendapatkan penjelasan yang memadai sebagailandasan syar’i sekaligus pijakan bekerja tentang persoalan yang menyangkut profesisaya ini. Mohon penjelasan ustadz mengenai asuransi dan bagaimana hukummengenai profesi saya itu. Terima kasih atas jawabannya. (Nirwana Yudo, Depok,Jawa Barat)
Jawaban :
Menurut Pasal 246 Wetboek van Koophandel (Kitab Undang-undang HukumDagang) asuransi dirumuskan sebagai suatu persetujuan di mana pihak yangmenjamin berjanji kepada pihak yang dijamin untuk menerima sejumlah uang premisebagai pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin karenasuatu peristiwa yang belum jelas akan terjadi. Dalam rumusan itu dipahami bahwadalam asuransi terlibat dua pihak, yaitu penanggung dan tertanggung. Pihak pertama biasanya berwujud lembaga atau perusahaan asuransi, sedangkan pihak kedua adalahorang yang akan menderita karena suatu peritiwa yang belum terjadi. Sebagai kontra prestasi dari pertanggungan ini pihak tertanggung diwajibkan membayar uang premikepada pihak penanggung.Wacana syari’ah tentang asuransi tidak dikenal umat Islam kecuali mulai abadXIII Hijriyah, oleh karena itu kita tidak mendapatkan wacana maupun penyebutanistilah ini dalam terminologi fikih klasik. Ulama fikih yang pertama kali menyinggungmasalah ini adalah Muhammad Amin Ibnu ‘Abidin dalam komentar 
 fiqh khasiyah
-nyayang berjudul
‘Raddul Muhtar ‘Ala Ad Durril Mukhtar’ 
Syarah kitab
‘Tanwir al- Abshar’ 
dimana beliau dalam topik 
al-Musta’man
bab Jihad menamakan kasus
isti’manul kafir 
(pemberian asuransi kepada pebisnis kafir di dunai Islam) sebagai ‘as-Sukarah’. Kata ini diambil dari bahasa Turki yang mirip dengan kata
Security
 (Inggris) dan
Securite
(Perancis) dan lazim digunakan pada hubungan bisnis antar syarikat dagang asing. (Asy-Syinqithy,
 Dirasah Syar’iyyah Li Ahammil ‘Uqud Al- Maliyah al-Mustahdatsah
, 493)Pembahasan tentang asuransi (ta’min) dalam fikih kontemporer tidak terlepasdari klasifikasi asuransi menjadi dua kategori; yakni asuransi yang bersifat komersial
(ta’min tijari)
dan asuransi yang bersifat sosial
(ta’min ta’awuni/takffuli)
.Asuransi pada dasarnya adalah termasuk mu’amalat. Hukumnya boleh(mubah) apabila akadnya bersifat sosial
(‘aqd tabarru’/ta’awuni)
dan selama hal ituterbebas dari unsur 
riba
(sistem bunga), judi
(maisir)
dan penipuan
(gharar)
yangsering terjadi pada asuransi konvensional dan bersifat komersial
(‘aqd tijari)
. Selainitu modal asuransi ta’awuni harus ditanam pada bidang investasi atau usaha yanghalal. Hal itu berdasarkan dalil sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang meletakkanlandasan dan kerangka
ta’awun
dan
takaful 
antarsesama mukmin di antaranya; QS.At-Taubah :7)
 
 “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka(adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yangma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat danmereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Al-Maidah : 2“….. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dantaqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”Al-Anfal : 73“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka pelindung bagi sebagianyang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telahdiperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakanyang besar.”Kaidah fikih menegaskan :“Hukum asal transaksi dan mu’amalat adalah boleh sampai ada dalil yangmengharamkannya”.
βθ 
ã
Ζ 
Ï
Β
÷
 σ 
ß
ϑ 
ø
9
 $
#
 ρ
à
 M 
 ≈ 
 o 
Ψ 
Ï
Β
÷
 σ 
ß
ϑ 
ø
9
 $
#
 ρ
ö
Ν 
ß
γ 
à
Ò 
÷
è 
/
â
 !
Š 
Ï
9
÷
 ρ
&
 <
 Ù 
÷
è 
/
 4 
š
χρ
â
 ÷ 
ß
 ∆
ù
ƒ
Å
 ∃ρ
ã
  
÷
è 
y  
ϑ 
ø
9
 $
 Î
/
β
ö
 θ 
y  
γ 
÷
Ζ 
ƒ
 ρ
Ç
  
ã
Ì
  
 3Ζ 
ß
ϑ 
ø
9
 $
#
š
χθ 
ß
ϑŠ 
É
ã
ƒ
 ρ
 n 
ο
4
 θ 
 n 
¢
Á 
9
 $
#
š
χθ 
 è
 ?
÷
 σ 
ã
ƒ
 ρ
 n 
ο
4
 θ 
x  
 . 
¨
 “ 
9
 $
#
š
χθ 
ã
è 
Š 
Ï
Ü 
ã
ƒ
 ρ
 ©
!
 $
#
ÿ
ã
 !
 θ 
ß
 ‘
 ρ
 4 
y  
 7 
Í
× 
 ¯
 ≈ 
9
'
 ρ
 é
&
ã
Ν 
ß
γ 
 ç
Η 
x  
 q 
÷
 
z  
  
y  
 ª
!
 $
#
 3 ¨
β
 Î
)
 ©
!
 $
#
î
 “ 
ƒ
Í
 • 
ã
Ò
 ΟŠ 
Å
 3 
y  
 m
∩∠⊇∪
 
 ¢ (
#
 θ 
 ç
Ρ
 ρ
y  
è 
 ?
 ρ’ 
 n 
 ? 
ã
 Îh
 
É
 9 
ø
9
 $
#
3
 θ 
ø
 −
9
 $
#
 ρ
Ÿ
ω
 ρ
(
#
 θ 
 ç
Ρ
 ρ
y  
è 
 ?
’ 
 n 
 ? 
ã
É
 Ο 
ø
O
M
}
 $
#
È
β≡
 ρ
ô
‰ 
ã
è 
ø
9
 $
#
 ρ
 4 
(
#
 θ 
à
¨
 ?
 $
#
 ρ
 ©
!
 $
#
¨
β
 Î
)
 ©
!
 $
#
ß
‰ 
ƒ
Ï
‰ 
x  
©
É
 >$ 
Ï
è 
ø
9
 $
#
∩⊄∪
 
 
Ï
©
 !
 $
#
 ρ
(
#
 ρ
ã
  
x  
 
x  
 . 
ö
Ν 
 å
κ 
Ý
 Õ 
÷
è 
/
â
 !
Š 
Ï
9
÷
 ρ
&
 C
 Ù 
÷
è 
/
 4 
ā
ω
 Î
)
 ç
νθ 
 è
y  
è 
ø
 
 ?
  
ä
 3 
 ?
 ×
π 
Ζ 
÷
Ï
ù
† 
 Î
 û
Ç
 Ú
ö
 ‘
F
{
 $
#
 ×
Š$ 
|  
¡ 
ù
 ρ
 ×
 
  
 Î
Ÿ
2∩∠⊂∪
 
 
Hukum mubah tersebut dapat meningkat menjadi sunnah bahkan wajib tatkalakondisi umat sangat membutuhkan adanya asuransi
ta’awuni/takafuli
yang berlandaskan syariah agar terhindar dari jeratan praktik ribawi pada asuransikonvensional. Dalam hal ini pemerintah berkewajiban mengembangkannya pertamakali.Unsur riba yang terdapat dalam asuransi terletak pada adanya kelebihan penerimaan jumlah santunan atas pembayaran premi bukan dari investasi
mudharabah
 yang halal. Sedangkan unsur judi yang terdapat di dalamnya adalah sifat untung-untungan bagi tertanggung yang menerima jumlah tanggungan yang lebih besar daripada premi. Atau sebaliknya penanggung akan menerima keuntungan jika dalammasa pertanggungan tidak terjadi peristiwa yang telah ditentukan dalam perjanjiandan premi yang terbayarkan tidak dapat dimanfaatkan oleh pemegang polis bilamembutuhkan. Sementara itu yang termasuk unsur penipuan adalah adanyaketidakpastian apa yang akan diperoleh si tertanggung sebagai akibat dari apa yang belum terntu terjadi, ataupun hangusnya premi yang disetor karena tidak dapatmelanjutkan pembayaran premi atau pihak perusahaan asuransi berusaha untuk mengelak dari klaim pemegang polis, atau sebaliknya pemegang polis merekayasakerugian untuk menuntut klaim dan pembayaran santunan yang lebih besar.Asuransi
ta’awuni
termasuk 
‘uqud tabarru’ 
yang tidak sama dengan judi(gambling), karena asuransi
ta’awuni
bertujuan mengurangi resiko
(reducing of risk)
 dan bersifat sosial serta membawa mashlahat bagi pribadi dan keluarga. Sementara judi justru menciptakan risiko
(creating of risk)
, tidak sosial, membawa masalah, dan petaka bagi keluarga. Di samping itu penjudi selalu mengharap keuntungan danmenang dalam taruhannya. Sedangkan dalam asuransi ini pemegang polis tidak inginmemperoleh sejumlah uang dengan memikuk resiko mati atau peristiwa yangmerugikan lainnya. Dia lebih memilih selamat.Kemudian dalam judi biasanya akan timbul rasa permusuhan dan kebencianantara sesama penjudi atau dengan bandarnya yang hal itu tidak dikenal pada asuransi
ta’awuni
. Bahkan sebaliknya asuransi
ta’awuni
justru memberikan ketentraman bagi para pemegang polis. Ini karena di dalam asuransi
ta’awuni
terdapat unsur tolongmenolong dalam kebaikan
(ta’awun ‘alal birri)
dan terdapat manfaat yang dirasakanoleh penanggung maupun tertanggung. Bahkan ditegaskan syariah bahwa usahamencari dan mendapatkan ketentraman, ketenangan serta rasa aman adalah usahayang sangat penting, dibutuhkan oleh setiap orang dan dapat digolongkan padamasalah
dharuriyat 
. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Sa’id bin AbiWaqas disebutkan :
“Sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismudalam keadaan berkecukupan daripada mereka menjadi beban tanggungan orang banyak.”
Guru besar hukum Islam Fakultas Syariah Universitas Syria, Musthafa AhmadZarqa serta Muhammad Al Bahi, Muhammad Yusuf Musa, Abdurrahman Isa danMuhammad Abu Zahrah termasuk yang membolehkan asuransi
ta’awuni
dengansyarat terbebas dari unsur-unsur yang ditentang syariah. Demikian pula fatwa yangdikeluarkan oleh Konferensi Internasional Ekonomi Islam I yang diadakan di Makkah pada tahun 1976 M dan fatwa Lembaga Fikih Liga Dunia Islam
(Rabithah ‘Alam Islami)
tahun 1398 H serta Dewan Pengawas Bank Islam Faishal Sudan. Semualembaga tersebut memutuskan haramnya asuransi konvensional komersial
(ta’min

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->