Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
58Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Riwayat Habaib Dan Kyai

Riwayat Habaib Dan Kyai

Ratings:

4.79

(34)
|Views: 62,686|Likes:
Published by Ahmad Khoiron
sejarah, riwayat para habib, sayyid,dan kyai mulai dari kelahiran,karamahnya,karangannya
sejarah, riwayat para habib, sayyid,dan kyai mulai dari kelahiran,karamahnya,karangannya

More info:

Published by: Ahmad Khoiron on Jan 31, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

 
Riwayat Habaib dan Kyai(diambil dariwww.ahlussunnah.com)Dikumulkan oleh;Ahmad Khoiron MalangPP Miftahul HudaJl. Gading Pesantren No. 38, Malang65115(0341) 582174
 
Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih Al-Alawy
Hafal Ribuan HaditsDi Kota Bunga, Malang, Jawa Timur, ada seorang auliya’ yang terkenal karena ketinggianilmunya. Ia juga hafal ribuan hadits bersama dengan sanad-sanadnya.Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, padahari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salahseorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu SulthanulAuliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkankitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikankepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmadmendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malamaku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemuSyekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku.Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWTmemberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah(tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangatcerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orangyang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggikepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahliilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dandiperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelahmemahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru mintamaaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukulmuka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam dirihamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, HabibAlwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, HabibMuhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh ImamMuhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy,Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telahmendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepadahamba pilihan-Nya.Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab,menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkandalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempatmendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah danJami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan
 
 berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dansinggah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura.Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus,dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkatsebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga PendidikanMadrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesiatanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah danPerguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir  pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmukalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra).Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafalribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat haditsyang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giatmendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama diSawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh danulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib MuhammadBa’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (Ponpes Al-KhairatJakarta Timur), K.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perludisebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”…Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu,Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkandi Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.diringkas dari manakib tulisan Habib Soleh bin Ahmad Alaydrus, pengajar Ponpes DarulHadits Malang, Jawa Timur 

Activity (58)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Muhammad Adib liked this
Eyank Zastrow liked this
sblackto12 liked this
Ali Muchtar Zein liked this
yusupd liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->