Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
1
PRILAKU ABORSI PADA WANITA USIA SUBURTugas : Bahasa Indonesia
Disusun Oleh :
NAMA : PANDE MADE SRI RAHAYUNIM : 07110207KELAS : C / A4.4
PROGRAM STUDI D3 KEBIDANANSEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RESPATIYOGYAKARTA2008/2009
 
2
BAB I
 
PENDAHULUAN
 
A.
 
LATAR BELAKANG
Diera globalisasi sekarang ini, perubahan begitu cepat terjadinyasehingga kadang kala kita sendiri belum siap untuk menyikapi perubahan tersebut.Perubahan tersebut terjadi karena perkembangan teknologi dalam berbagaibidang kian canggihnya dan kian cepatnya sehingga mau tidak mau kita jugaterkena imbasnya. Dalam segala bidang, manusia terus menerus mengalamiperubahan karena ilmu pengetahuan terus menerus berkembang sehinggacakrawala berpikir kita kian hari kian maju.Namun sebaliknya, imbas dari perkembangan jaman itu sendiri tidak hanya bergerak kearah positif, tetapi juga menawarkan sisi negatifnya kepadaumat manusia karena sebenarnya perkembangan teknologi tersebut sepertipedang bermata dua. Hanya tinggal kita yang diberi akal oleh Tuhan YangMaha Kuasa ini memilih, mau kearah yang benar atau salah demi mewujudkankeinginan kita.Dalam tulisan ini penulis ingin membahas tentang prilaku aborsi padawanita usia subur, dimana kita tahu bahwa wanita usia subur (WUS) terdiri dariremaja, dan wanita dewasa baik yang menikah maupun belum menikah.Berbicara mengenai aborsi akan menimbulkan berbagai tanggapan danpenilaian yang berbeda-beda pada masing-masing individu karena adanyaperbedaan pengetahuan dari diri mereka sehingga sikap yang ditimbulkannya punberbeda. Sarwono (1989) menyatakan mempertahankan kegadisan merupakan halyang paling utama sebelum pernikahan karena kegadisan pada wanita seringdilambangk 
an sebagai “mahkota” atau “tanda kesucian” atau “tanda kesetiaan”
pada suami. Hilangnya kegadisan bisa menimbulkan depresi pada wanita yangbersangkutan. Terlebih lagi bila menimbulkan kehamilan.Hasil studi membuktikan bahwa angka kejadian aborsi pada wanitadewasa yang menikah lebih besar dari pada angka kejadian aborsi pada wanitayang belum menikah termasuk remaja. Penelitian terbaru yang dilakukan
 
3
delapan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan bantuan dari Asia PacificResource and Research for Women (Arrow) terhadap 50 perempuan didaerahkumuh di Jakarta dan sekitarnya ternyata aborsi dilakukan juga oleh istri.Fakta ini sangat memprihatinkan karena selain kita sebagai pemberipelayanan mengalami dilema etik, kita juga tidak dapat memberikanpertolongan karena terbentur dengan hukum maupun norma-norma yang ada.Akibatnya banyak terjadi aborsi ilegal di dukun paraji sehingga dapatmenimbulkan tingkat morbiditas maupun mortalitas yang tinggi pada wanita.Penulis akan lebih mengupas tentang aborsi yang dilakukan dikalangansiswa dan mahasiswa. Menurut hemat penulis perubahan paradigma yangberakibat terjadinya perubahan perilaku itu hanya dapat di lakukanmelalui proses belajar mengajar, baik informal yang dapat berlangsungdilingkungannya maupun disekolah. Jadi jika kita telah memasukan nilai-nilaimoral dalam hal ini aborsi itu adalah tidak benar, maka untuk kemudian hariindividu tersebut tidak akan melakukan perbuatan tersebut sekalipun dia sudahmenikah dan mengalami masalah yang menurut pemikirannya aborsi adalah jalan keluarnya.
B.
 
PERMASALAHAN
1)
 
Untuk mengetahui lebih mendalam faktor-faktor yang menyebabkanterjadinya aborsi pada wanita usia subur.2)
 
Bagaimana wanita dan masyarakat mengantisipasi/mencegah faktortersebut.
C.
 
TUJUAN
Untuk memperoleh gambaran tentang tingkat partisipasi wanita danmasyarakat terhadap pencegahan tindakan aborsi.
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • More From This User

    Notes
    Load more