/  4
 
 By the way
…ikhlas…
 
Oleh : Roni Basa
Friday, 2 Muharram 1429 17:23:07 
Made Gede Yuliasa Wiwaha, hampir saja lutut rampingnyadipuja oleh keseluruhan kerengkahan yang saya miliki. Orangkedua dalam hidup saya yang diidentifikasi sebagai makhluk tanpa hati, yang mampu berkehidupan dengan tidak atau setidaknya belum mau –mungkin- men-fungsikan hatinya untuk berdialog dengan makna, etika dan emosi.Mendekap tangannya di altar depan dupa, aroma wangi daun pandan merebak, menutupmatanya, nafasnya teratur turun-naik menghirup aura kepedihan.“Kamu datang dengan cerita melankolismu tentang resah jiwa akibat…ditinggaloleh…apa…kamu sebut…jiwamu?, lupakan, meditasiku lebih penting!!!”, tanpamerubah sikap apapun dia menyentak sejak pertama kali saya membuka pintu teatrikaldengan hamburan ukiran daun lotus pintu kamarnya. “Bukan tentang itu, akudirekomendasikan untuk bersikap ikhlas, itu yang aku ingin dapatkan pencerahandarimu”, sebisa mungkin saya mengklarifikasi. “Hmm…gak terlalu penting buatku, tohujungnya ialah bagaimana kamu dan manusia yang merekomendasikanmu bersikapikhlas itu mendapat tenang dari realitas yang kalian nafikkan ada dengan berlindungdibalik dogma ikhlas, gak penting..”. Meskipun baru dalam hitungan bulan kamibersahabat, kawan saya yang satu ini memang gak pernah
tendeng aling-aling
kalaubicara. Pernah satu saat ia mengepalkan genggamannya tepat di depan wajah seseorangsebab dengan lugas menyatakan bahwa sejarah adalah romantisme yang menjadikanrasionalisasi manusia menjadi tidak mampu menatap masa depan, sebab romantismetelah selesai masa pengabdiannya saat waktu melewatinya, betapapun indah dan penuhmakna, sejarah tak lebih dari hiperbola, dan hiperbola jelaslah absurd. Dengan intonasisuara tinggi sahabat saya –yang saya kira tak punya nalar kemanusiaan- ini bicara“Bodoh..kamu bodoh...kamu kira kamu bukan makhluk sejarah, kamu kira kamu dapatberada dalam detik waktu saat ini tanpa harus melewati pintu kesejarahan, kamu kiramakna dari setiap realitas dapat hilang dari rasionalitas fikiranmu sebab waktumenerpanya,sungguh, kamu tak lebih cerdas dari para insinyur yang tiap malam
nongkrong
di depan laptopnya dengan ratusan rumus pasti untuk meredam mulut lubanglumpur Lapindo dengan melupakan bahwa Tuhan tidak menciptakan hati untuk tidak dapat merasakan kepedihan rakyat yang dirampas hampir seluruh hajatnya oleh ke-tidakbecus-an mereka menggunakan rasionalitasnya; rumus-rumus pastinya, fikiran, yangdiagungkannya.Pernah memang saya mengutarakan konteks cerita kepedihan yang menguji keseluruhanpotensi hidup saya yang memang menyesakkan dada dengan keseluruhan fungsibiologisnya, sama halnya dengan bau dupa wangi daun pandan diruangannya. Dan babkeikhlasan ini sebenarnya telah saya utarakan pula kepadanya, bagaimana kemudianseharusnya menjadi ikhlas itu, makhluk berasal darimanakah ia, berwujud dan berfungsiuntuk apakah ia sesungguhnya. Lalu kemudian saya sadar, mengutarakan kepadanyamemang tindakan konyol.
 
Saya tidak terlalu yakin menganggap berteman dengannya ialah berkah dari fenomenakehidupan, awalnya mungkin sebab begitu ‘mengalir’ hidupnya membuat sayamerasakan ada kenyamanan yang berbeda untuk dapat berinteraksi lebih, selanjutnyalebih mirip dengan dilema berkepanjangan setiap kali bertukar informasi berkenaandengan hidup dan kehidupan, mulai dari konsepsi jelata dan konspirasi ke-negara-an,mang Udin sang penjual siomay dengan keberanian menganggap dirinya adil lantasmenikah dan men-duakan istrinya, perselingkuhan antara press dan politikus, pendidikandan kepentingan pem-bodohannya, sampai dengan gosip-gosip terbaru selebritis. Baginyasemesta ini tak lebih ruang hampa yang dia hanya butuhkan untuk melesakkannya ke
arasy
nirwana, tempat dimana ia akan kekal dengan menggenggam seluruh maknaDewata.Sebab itulah, membicarakan ikhlas dengannya seperti menabur serbuk di angkasa;butirannya jelas memenuhi ranah fikiran namun tanpa jejak lantas tersapu waktu.Sebenarnya bukan sebab ia tidak menanam memori tentang setiap perbincangan, namunikhlas, kelahiran, konsepsi, dalam ontologi ilmiah, apalagi implementasi untuknya adalahsuatu hal yang sangat tidak logis, etis bahkan tanpa moral jika diperbincangkan denganlisan. Ikhlas dalam terminologi idiologinya merupakan bahasa hati yang memiliki artiyang berseberangan dengan ikrar,
term
yang bukan hanya membatasi pola kerja dasarnyatetapi juga pola implementsi serta interaksi dengan apa yang disebut komunikasi. Dalamontologi logikanya, ikhlas bersemayam, bergerak dan terus mengendalikan areakinestetis- psikomotorik, selebihnya, ikhlas hanya meninggalkan jejak di area kognitif dengan pesan besar yang tertera di pintu gerbangnya “selamat datang di alam tanpatendensi”. Dalam kronologi sejarahnya, ikhlas ialah kekuatan yang pernah dilakukannyademi menguji konsepsi dasar
ahimsa
milik agamanya, yang kemudian menuntutnyauntuk tidak melakukan hal yang sama kepada seorang perempuan dimana ia telahmenaruh seluruh kehidupan, hidup dan mimpi masa depan suci lantas dengan semertamembuyarkan semuanya untuk kemudian bersama ‘yang lain’; membunuh kefanaanhidupnya.Untuknya juga, ikhlas tak perlu kembali dibicarakan dalam dialektika, menjadi konsumsisofistifikasi atas lenguhan kelelahan menjawab realitas, retorika dari usaha untuk menyenangkan kepedihan orang lain-yang celakanya kita telah menjadi salah satupenyebabnya. Ikhlas baginya,
ethic-casuistis
yang kerap sekali muncul berwajah manisdengan ratusan fatamogana yang menyelimutinya ketika seseorang mengalami ‘ketidak cocokan’ dengan harapan lalu berada dalam tekanan psiologis, lantas “yang ikhlas yakamu menjalaninya, Tuhan tidak melempar dadu, semua pasti ada hikmahnya, jalanidengan sabar, semoga apa yang telah terjadi membawa kamu lebih baik dari sekarang”terucapkan dengan lancar atau mungkin memang hambar dan sekedar
ethic-casuistis
.Kita tidak benar-benar mengerti apa yang sebenarnya dimaksud dengan ikhlas itu kecualibentuk kasat matanya yang telah menjelma dalam bentuk etika komunikasi, bahkandalam bentuk yang sangat ekstrimnya sebagai media citra untuk membangun danmengembangkan good
 profile identity
bagi kita dan komunitas yang menjadikan kitabagiannya baik secara genetis maupun idiologis, geografis maupun ekologis.
 
Nilai substansialnya belum dengan serius kita tengok dengan kalbu, nilai substansialnyasementara ini hanya mampu kita ajak jalan-jalan di taman spiritualitas yang penuhkeindahan agung tanpa noda, kita biarkan keikhlasan hanya mampu men-up datekepentingan telinga kita mendengarkan keindahan janji yang ditawarkannya di sisiTuhan. Adapun informasi mengenai ikhlas memang berbatas pada sikap dan perilakukeseharian para nabi dan rasul,
the messengers
, perjalanan hidup yang kemudiandipertegas kebenarannya melalui kitab suci Tuhan, yang kemudian sampai di telinga kitamenjadi petuah tetua dan orang tua, lebih- lebih saat ikhlas seringkali diucapkan olehpenerus
the messengers;
alim ulama dan cendekia. Darisanalah ikhlas menempatikhasanah kehidupan kita, sebagi sebuah khasanah tentunya setiap orang memiliki hak untuk menempatkannya dimana saja yang ia mau, yang ia suka, sesuai dengan kondisi,disesuaikan dengan kebutuhannya, bahkan tidak dipakai sama sekali.Duplikasi seluruh informasi tersebut lantas kita –terkadang dengan genit - diadopsimenjadi bagian dari kehidupan keseharian, untuk sanak famili yang tengah berdukakarena satu dan lain hal, kita ungkapkan ikhlas, seperti layaknya Tuhan mendekap penuhkasih para kekasihnya saat dera-an duka dialaminya. Untuk teman kerja kita yangterancam diberhentikan sebab progress kerjanya tidak memenuhi standar kebutuhanperusahaan, ikhlas disampaikan untuk menenangkan sekaligus bentuk solidaritas. Kepadateman-teman dalam kehidupan kita dengan varian kondisi yang menjadi beban hidupnya,ikhlas kita sampaikan agar eksistensi nilai persahabatan tetap terjaga utuh. Kepadakekasih dalam kehidupan kita, ikhlas kita sampaikan sebagai ungkapan penyesalan akanapa yang sudah terjadi sekaligus dukungan moril bagi kehidupannya agar mampubergerak kembali setelah kita memastikan diri meninggalkannya untuk satu dan lain halyang terkadang justru dipermanis atas dasar ikhlas itu sendiri. Ikhlas disampaikan kepadasiapapun, untuk apapun, dimanapun, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi.Menyampaikan dan mengingatkan ikhlas-keikhlasan berarti kita punya moralitas dalamhidup. Menyampaikan dan mengingatkan ikhlas-keikhlasan berarti kita memiliki etikaberkomunikasi dan hidup sosial. Menyampaikan dan mengingatkan ikhlas-keikhlasanberarti kita melakukan juga perbuatan kekasih-kekasih Tuhan yang sudah pasti kelak berada disisiNya. Menyampaikan dan mengingatkan ikhlas-keikhlasan berarti jugamelakukan nilai baik seperti yang telah diajarkan tetua dan orang tua kita.Atau, menyampaikan dan mengingatkan ikhlas-keikhlasan berarti kita berselingkuhdengan kepanikan yang berada jauh di dasar realitas kehidupan kita sendiri,menyampaikan dan mengingatkan ikhlas-keikhlasan berarti masih tersedia celah bagikita untuk tetap menjaga citra baik dikehidupan sosial, menyampaikan dan mengingatkanikhlas-keikhlasan berarti kita punya kesempatan untuk meneguhkan eksistensi di tengah-tengah identitas baru pada komunitas tertentu, menyampaikan dan mengingatkan ikhlas-keikhlasan berarti ada peluang kita untuk –mungkin- melakukan perbuatan yangmenyakitkan bagi orang lain. Siapa tahu?.Saya sendiripun masih berada diarena mistis entah apa jika membicarakan tentang ikhlasini kepada Made, setelah hari saat saya menyampaikan bahwa seseorang mengingatkandan merekomendasikan bersikap ikhlas dalam menghadapi ujian kehidupan, maka setalahitu juga segan untuk saya mengutarakan hal ini lagi kepadanya.

Share & Embed

More from this user

Recent Readcasters

Add a Comment

Characters: ...