Saya tidak terlalu yakin menganggap berteman dengannya ialah berkah dari fenomenakehidupan, awalnya mungkin sebab begitu ‘mengalir’ hidupnya membuat sayamerasakan ada kenyamanan yang berbeda untuk dapat berinteraksi lebih, selanjutnyalebih mirip dengan dilema berkepanjangan setiap kali bertukar informasi berkenaandengan hidup dan kehidupan, mulai dari konsepsi jelata dan konspirasi ke-negara-an,mang Udin sang penjual siomay dengan keberanian menganggap dirinya adil lantasmenikah dan men-duakan istrinya, perselingkuhan antara press dan politikus, pendidikandan kepentingan pem-bodohannya, sampai dengan gosip-gosip terbaru selebritis. Baginyasemesta ini tak lebih ruang hampa yang dia hanya butuhkan untuk melesakkannya ke
arasy
nirwana, tempat dimana ia akan kekal dengan menggenggam seluruh maknaDewata.Sebab itulah, membicarakan ikhlas dengannya seperti menabur serbuk di angkasa;butirannya jelas memenuhi ranah fikiran namun tanpa jejak lantas tersapu waktu.Sebenarnya bukan sebab ia tidak menanam memori tentang setiap perbincangan, namunikhlas, kelahiran, konsepsi, dalam ontologi ilmiah, apalagi implementasi untuknya adalahsuatu hal yang sangat tidak logis, etis bahkan tanpa moral jika diperbincangkan denganlisan. Ikhlas dalam terminologi idiologinya merupakan bahasa hati yang memiliki artiyang berseberangan dengan ikrar,
term
yang bukan hanya membatasi pola kerja dasarnyatetapi juga pola implementsi serta interaksi dengan apa yang disebut komunikasi. Dalamontologi logikanya, ikhlas bersemayam, bergerak dan terus mengendalikan areakinestetis- psikomotorik, selebihnya, ikhlas hanya meninggalkan jejak di area kognitif dengan pesan besar yang tertera di pintu gerbangnya “selamat datang di alam tanpatendensi”. Dalam kronologi sejarahnya, ikhlas ialah kekuatan yang pernah dilakukannyademi menguji konsepsi dasar
ahimsa
milik agamanya, yang kemudian menuntutnyauntuk tidak melakukan hal yang sama kepada seorang perempuan dimana ia telahmenaruh seluruh kehidupan, hidup dan mimpi masa depan suci lantas dengan semertamembuyarkan semuanya untuk kemudian bersama ‘yang lain’; membunuh kefanaanhidupnya.Untuknya juga, ikhlas tak perlu kembali dibicarakan dalam dialektika, menjadi konsumsisofistifikasi atas lenguhan kelelahan menjawab realitas, retorika dari usaha untuk menyenangkan kepedihan orang lain-yang celakanya kita telah menjadi salah satupenyebabnya. Ikhlas baginya,
ethic-casuistis
yang kerap sekali muncul berwajah manisdengan ratusan fatamogana yang menyelimutinya ketika seseorang mengalami ‘ketidak cocokan’ dengan harapan lalu berada dalam tekanan psiologis, lantas “yang ikhlas yakamu menjalaninya, Tuhan tidak melempar dadu, semua pasti ada hikmahnya, jalanidengan sabar, semoga apa yang telah terjadi membawa kamu lebih baik dari sekarang”terucapkan dengan lancar atau mungkin memang hambar dan sekedar
ethic-casuistis
.Kita tidak benar-benar mengerti apa yang sebenarnya dimaksud dengan ikhlas itu kecualibentuk kasat matanya yang telah menjelma dalam bentuk etika komunikasi, bahkandalam bentuk yang sangat ekstrimnya sebagai media citra untuk membangun danmengembangkan good
profile identity
bagi kita dan komunitas yang menjadikan kitabagiannya baik secara genetis maupun idiologis, geografis maupun ekologis.
Add a Comment