• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Speechless…
Oleh : Roni Basa
Sukabumi, 29 Muharram 1429 10:55:15
Saya sangat beruntung dan sepatutnya bahagia. Dipekerjaansaya, bertemu dan berbincang panjang lebar dengan oranglain jelas tidak terelakan. Proses pembelajaran yangmenjadikan saya dan orang lain yang memiliki ‘kelainan’dapat saling berbicara, mendengar dan tentunya berbagi pengalaman. Dari sekian banyak pertemuan, tidak semua teknisnya diiringi dengan keramah-tamahan, bertabur senyumpertanda kami saling berbagi tanpa syarat.Layaknya saat ini, Anda pun sebenarnya bisa saja membaca tulisan ini dengan berbagairespon. Anda boleh mengemukakan persetujuan, ke-tidak setuju-an, setengah setuju untuk beberapa hal, setuju untuk hal yang lainnya, atau bahkan tidak dibaca sama sekali.Apapun yang menjadi sikap saya dan respon Anda atau sebaliknya, perbincangan kita initentunya boleh disikapi dengan bentuk apapun. Faktanya memang masing-masing kitaunik, itulah yang mengakibatkan kita sah untuk berlaku bagaimanapun dalam kehidupan.Sebagai individu yang lahir dan dibesarkan dengan tradisi masyarakat pesisir, awalnyasaya sangat sulit untuk beradaptasi dengan komunikasi gaya ambigu. Pertanyaan saya,kenapa tidak tiap manusia berbicara dengan sesungguhnya tanpa perlu merasa khawatirapalagi takut kepentingan orang lain terusik oleh tiap katanya?, selama yang kita utarakanmerupakan buah refleksi atas pemahaman kebenaran dan akibat pemahaman itu kitamerasakan nyaman untuk mengutarakannya.Budaya berbicara verbal dengan keterpenuhan transparansinya memang selalu menggodauntuk dilakukan. Terlebih apabila kepentingan dan posisi berkehidupan kita menjadi subordonansi realitas. Kita merasa sangat berhak untuk menyampaikan segala sesuatu yangmenindas-nindas hak hidup, tentunya tanpa merasa khawatir dengan resiko apapun. Kitaberbicara dengan motif subjektif, logika yang kita yakini alurnya benar, rasionalisme yangmenurut kita dapat dipertanggungjawabkan korelasi antar kesimpulannya. Lumrah.Saya pernah berada dan hidup bersama kehidupan kolektif masyarakat yang berbicara –tentang apapun- sama dengan mempertaruhkan nyawa. Singkatnya, kata ialah nyawa,nyawa sang pemilik kata, nyawa anak-istrinya, nyawa keluarganya, nyawakeberlangsungan hidup
trah
–nya dimasa depan. Anda tentunya akan sangat kaget saatmenyadari hidup dalam posisi semua orang atau seseorang sangat membenci Anda dankeluarga, dikarenakan menanggungjawabi perbuatan seorang moyang berpuluh-puluhtahun lalu yang tanpa sengaja melempar anak ayam milik seorang tetangga hingga mati.Dikarenakan itu pula Anda ditandai sebagai individu tanpa memiliki hak untuk berbicarasama sekali dalam masyarakat, begitupun saat masyarakat tengah bermusyawarahmenentukan sikap kolektifnya untuk Anda.Anda boleh menilai apa yang saya utarakan berlebihan, namun begitulah adanyapengalaman saya merasakan. Namun berbicara ternyata menjadi hal yang wajib rupanya.Seberapa besar resiko yang dipertaruhkan saat mengutarakan kata, tetap dinilai lebih kecil jika dibandingkan dengan sikap membisu.
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
 
Captive society
boleh jadi ada dalam kehidupan yang bersifat kolektif dan
Silent community
sesungguhnya tidak dapat merepresentasikan penuh sikap individunya. Namunseberapapun akut kondisi itu terjadi, terbukti berkali-kali berbicara menempati urutanterpenting dalam kehidupan pribadi. Sejauh setiap kita memiliki kesadaran.
 
Tentunya kitatidak akan berdiam diri untuk taat dengan menjadi bisu saat kita diberkahi kemampuanberbicara. Tentunya kita tidak akan tunduk pada aturan-aturan yang membatasi hak kitauntuk berbicara. Tentunya pula kita tidak akan membiarkan diri berada dalamketertindasan, ketidaknyamanan, yang secara sengaja ataupun tidak menjadikan kitasubjek dengan elansitas kehidupan jauh dari potensi sesungguhnya.Dikesempatan lain, di komunitas masyarakat yang baru saya jumpai, yang secarageografis berada lebih tinggi dari daerah tempat asal saya, berbicara menempati ruang danbentuk yang istimewa dalam realitas majemuknya. Orang dapat mendengarkan ber jam- jam lamanya hanya untuk mendengarkan orang lain, apalagi orang lain sebagai pendatangbaru di lingkungannya. Awalnya saya kira sebab informasi yang disampaikan baru dansangat menarik untuk mereka, namun kemudian ada nilai lain dari kebiasaanmendengarkan itu.Informasi yang dihasilkan dari proses berbagi bersama kehidupan mereka membawa sayapada salah satu kesimpulan. Berbicara untuk mereka tidak harus dengan mengungkapkata. Berbicara untuk mereka ialah kemampuan untuk mendengarkan. Setiap katadikonsumsi dengan baik, dicerna dengan sempurna melalui mekanisme alamiah manusia,disimpan baik-baik dalam ruang kesadaran untuk kelak di
ejawantah
dalam ungkapan katayang lebih bermakna. Berbicara untuk mereka lebih memiliki nilai pada saat setiapkatanya bernilai maslahat bukan muslihat.Realitas ini teknisnya memang sedikit sulit digambarkan. Anda berbicara dengankomunikan yang terkesan pasif saat pertemuan pertama kali. Dipertemuan kesekiankalinya pun Anda dengan komunikan yang sama bertemu kembali dengan membawaperangkat kata yang mampu men-konstruk lebih dari sekedar kata yang pernah Andasampaikan. Dalam kondisi sedemikian rupa tentunya sulit untuk menemukan kembali nilaidari materi pembicaraan kita sebelumnya. Sebuah indikasi yang cukup jelas bahwa kitaterlalu sering berbicara tanpa berkesadaran. Terlalu asyik dengan setiap kata yang kitapunya saat berbicara, terlena dengan rasionalitas dan etika yang kita yakini sendiri,menjadikan kita berbentuk manusia tanpa kesadaran.Waduh, gawat sekali saya kira jika kita sampai lupa bagaimana seharusnya berbicara. Itusama saja dengan mengulang pertanyaan guru taman kanak-kanak saat mengajak muridnya mengenali panca indera. “ ini apa?”, tanya guru sambil menunjuk indera dibawah hidung. Serentak dijawab oleh muridnya “mulut”. “mulut gunanya untuk apa?”,pertanyaan selanjutnya diajukan. “untuk bicara bu guru….”. dan sayangnya pemahamankita, khususnya saya baru sebatas itu. Naïf benar.Kita tentunya tidak ingin lupa bagaimana berbicara. Sebab
toh
, kamus lupa itu tidak jelasdarimana datangnya, yang ada hanyalah sebab kita ingat yang lainnya. Ingatan kita tentangberbicara ialah seputar hak untuk mengutarakan segala sesuatu yang kita rasa-fikirkanbenar. Kita jadi ‘hilang ingatan’ bahwa berbicara melibatkan juga hak orang lain.
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
 
Anda boleh menjadi orang yang kesekian kalinya memprotes pernyataan saya yangterakhir tentang ‘hilang ingatan’ dan korelasi komunal berbicara. Coba saja Andamenyengaja pergi ke taman kota, lalu bicaralah sekehendak nurani, gunakan logika danseluruh rasionalitas yang Anda miliki, sendiri. Menurut Anda, bagaimana pendapat oranglain tentang rasionalitas fikiran yang diutarakan atas kepentingan sendiri?.Lantas jika berbicara merupakan refleksi dari pemahaman kita tentang kebenaran, bentuk keyakinan kita terhadap korelasi-korelasi premis dalam alam logika kita, keteguhan kitauntuk merasakan nyaman dan berkebebasan; kata dari nurani. Lantas, apa ada yang salahdari berbicara sehingga kita lupa setiap katanya dapat menjadi luka?. Luka kolektif yang –percaya atau tidak- dapat hidup dan membayangi kehidupan komunal beratus-ratus tahunlamanya. Seringkali kita juga lupa, berbicara dapat berbuah duka personal yang umurnyatak berbatas.Sampai disini berbicara tidak lagi berkaitan dengan kepentingan kita untuk mengungkapkan seluruh apa yang kita rasa-fikirkan. Berbicara di ruangan publik artinyakita tidak melulu merefleksikan pemahaman kebenaran milik kita sendiri. Ini bukantentang seberapa jernih fikiran kita yang didukung oleh premis logis rasionalitas. Initentang seberapa etis logika itu dihantarkan ke area yang dihuni oleh keberanan-kebenaran dan logika-logika orang lain.Berbicara dengan ‘yang lain’ dan ‘berkelainan’ bagi seorang Heraclitus sekalipunmemerlukan pehamaman menyeluruh berkenaan dengan –yang disebut olehnya- akaluniversal. Sebuah tatanan nilai yang didasarkan pada sifat dan sikap berkesadaran bahwahidup bukanlah tentang kita yang parsial dari yang lainnya, pemahaman yang menyeluruhtentang setiap orang ialah bagian dari satu akal yang sama.Dalam tradisi masyarakat pesisir yang membesarkan dan turut membangun entitas -identitas saya, kita tidak perlu
sungkan
mengungkapkan apa yang kita yakinikebenarannya sejauh kita berkesanggupan untuk tidak sungkan memberikanpenghormatan kepada kebenaran lainnya. Sejarah membuktikan perlakuan masyarakatpesisir terhadap budaya berbicara mampu menghantarkannya menjadi bernas kebudayaanpolitik-kebangsaan, hubungan diplomatik dan bisnis perdagangan. Setidaknya sejarahmencatat kerajaan-kerajaan besar selalu tumbuh dan berkembang di area
 pasisiran.
Tapitentunya juga tidak dapat digeneralisir. Bukankah generalisir ialah salah satu bentuk 
intellectual culdesac
?.Memberikan ruh kesadaran kritis pada setiap kata saat berbicara saja menurut saya tidak cukup bijak untuk dilakukan. Berbicara bukan hal yang dapat dianggap selesai urusannyaketika buah dari maknanya adalah luka personal dan atau duka komunal yang untuk mengobatinya membutuhkan waktu tanpa batas. Kita kadang juga terlalu genit untuk berbicara, bahkan untuk hal-hal yang tidak berada di area publik pun kita dengan sungguh-sungguh men-seriusi nya.
 cakra bagaskara manjer kawuryan 
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...