Captive society
boleh jadi ada dalam kehidupan yang bersifat kolektif dan
Silent community
sesungguhnya tidak dapat merepresentasikan penuh sikap individunya. Namunseberapapun akut kondisi itu terjadi, terbukti berkali-kali berbicara menempati urutanterpenting dalam kehidupan pribadi. Sejauh setiap kita memiliki kesadaran.
Tentunya kitatidak akan berdiam diri untuk taat dengan menjadi bisu saat kita diberkahi kemampuanberbicara. Tentunya kita tidak akan tunduk pada aturan-aturan yang membatasi hak kitauntuk berbicara. Tentunya pula kita tidak akan membiarkan diri berada dalamketertindasan, ketidaknyamanan, yang secara sengaja ataupun tidak menjadikan kitasubjek dengan elansitas kehidupan jauh dari potensi sesungguhnya.Dikesempatan lain, di komunitas masyarakat yang baru saya jumpai, yang secarageografis berada lebih tinggi dari daerah tempat asal saya, berbicara menempati ruang danbentuk yang istimewa dalam realitas majemuknya. Orang dapat mendengarkan ber jam- jam lamanya hanya untuk mendengarkan orang lain, apalagi orang lain sebagai pendatangbaru di lingkungannya. Awalnya saya kira sebab informasi yang disampaikan baru dansangat menarik untuk mereka, namun kemudian ada nilai lain dari kebiasaanmendengarkan itu.Informasi yang dihasilkan dari proses berbagi bersama kehidupan mereka membawa sayapada salah satu kesimpulan. Berbicara untuk mereka tidak harus dengan mengungkapkata. Berbicara untuk mereka ialah kemampuan untuk mendengarkan. Setiap katadikonsumsi dengan baik, dicerna dengan sempurna melalui mekanisme alamiah manusia,disimpan baik-baik dalam ruang kesadaran untuk kelak di
ejawantah
dalam ungkapan katayang lebih bermakna. Berbicara untuk mereka lebih memiliki nilai pada saat setiapkatanya bernilai maslahat bukan muslihat.Realitas ini teknisnya memang sedikit sulit digambarkan. Anda berbicara dengankomunikan yang terkesan pasif saat pertemuan pertama kali. Dipertemuan kesekiankalinya pun Anda dengan komunikan yang sama bertemu kembali dengan membawaperangkat kata yang mampu men-konstruk lebih dari sekedar kata yang pernah Andasampaikan. Dalam kondisi sedemikian rupa tentunya sulit untuk menemukan kembali nilaidari materi pembicaraan kita sebelumnya. Sebuah indikasi yang cukup jelas bahwa kitaterlalu sering berbicara tanpa berkesadaran. Terlalu asyik dengan setiap kata yang kitapunya saat berbicara, terlena dengan rasionalitas dan etika yang kita yakini sendiri,menjadikan kita berbentuk manusia tanpa kesadaran.Waduh, gawat sekali saya kira jika kita sampai lupa bagaimana seharusnya berbicara. Itusama saja dengan mengulang pertanyaan guru taman kanak-kanak saat mengajak muridnya mengenali panca indera. “ ini apa?”, tanya guru sambil menunjuk indera dibawah hidung. Serentak dijawab oleh muridnya “mulut”. “mulut gunanya untuk apa?”,pertanyaan selanjutnya diajukan. “untuk bicara bu guru….”. dan sayangnya pemahamankita, khususnya saya baru sebatas itu. Naïf benar.Kita tentunya tidak ingin lupa bagaimana berbicara. Sebab
toh
, kamus lupa itu tidak jelasdarimana datangnya, yang ada hanyalah sebab kita ingat yang lainnya. Ingatan kita tentangberbicara ialah seputar hak untuk mengutarakan segala sesuatu yang kita rasa-fikirkanbenar. Kita jadi ‘hilang ingatan’ bahwa berbicara melibatkan juga hak orang lain.
cakra bagaskara manjer kawuryan
Leave a Comment