Edited by : Bon Edited by : Bon Edited by : Bon Edited by : Bon- -- -q97 q97 q97 q97
371
”Oh tidak, bue... bue! Kak Azzam!” Jerit Lia dengan tangis meledak.”Ya Allah, kuatkan! Ya Allah jangan kau panggil mereka ya Allah!”Lirih Husna dalam isak tangisnya.”Maaf Mbak, kami tahu kalian bersedih. Keadaan sedang kritis.Kalian harus ada yang ikut kami ke rumah sakit sekarang!” Katapolisi itu.Husna segera sadar. Dalam sedih, ia harus bergerak cepat!”Dik, kau beritahu Pak Mahbub dan Pak RT. Beritahu siapa yangmenurutmu diberi tahu. Aku mau ikut Pak Polisi ini dulu!” KataHusna sambil menyeka air matanya.”I... iya Mbak.” Jawab Lia dengan lidah kelu.”Sebentar Pak.” Husna masuk mencari dompetnya. Ia masukkandompet itu ke dalam tasnya lalu bergegas keluar menerobos hujan kemobil sedan polisi.Sepanjang jalan Husna menangis. Ia memandang ke jendela denganbasah air mata. Polisi berkumis tipis itu memperhatikan Husnasesaat. Ia merasa iba pada Husna.”Menurut saksi mata kakak anda sama sekali tidak salah. Dia sudahmepet ke pinggir. Bus ugal-ugalan itu yang salah. Bus itu jugasempat lari tapi sekarang sudah tertangkap dan sedang kami tangani.Kita doakan semoga kakak dan ibumu bisa di selamatkan.” KataPolisi menenangkan Husna.
* * *
Sampai di rumah sakit Husna langsung menghambur ruang gawatdarurat.
Leave a Comment