kekritisaan dan kerusakan ekosistem mangrove. Kerusakan pesisir dan mangrove sebagaisuatu habitat yang menjadi buffer dan bamper akan mengganggu kestabilan ekosistemdaratan termasuk ekosistem kepulauan.Beberapa fakta yang ditampilkan dalam tulisan ini tentang kerusakan dan hilangnyaekosistem pulau. Kerusakan dan hilangnya ekosistem pulau dapat dilihat dari beberapaindikator yaitu : (1) luasnya ekosistem mangrove di propinsi Riau dan Kepulauan Riauyang termasuk kedalam kategori jarang dan sangat jarang. Dari hasil analisis citra satelit2006 didapatkan data bahwa dari luas kawasan ekosistem mangrove dan pesisir diPropinsi Riau adalah yang berhutan lebat adalah 4.298,85 ha, kerapatan sedang seluas123.869,52 ha, kerapatan jarang seluas 13.147,68 ha dan kerapatan sangat jarang seluas119.969,28 ha. Sedangkan untuk potensi kerapatan ekosistem mangrove di KepulauanRiau adalah yang berhutan lebat adalah 6.772,59 ha, kerapatan sedang seluas 25.446,33ha, kerapatan jarang seluas 18.733,59 ha dan kerapatan sangat jarang seluas 127.465,04ha. Dari luasan mangrove berdasarkan tingkat kerapatan mangrove maka kondisiekosistem mangrove cenderung didominasi oleh tingkat kerapatan jarang sampai sangat jarang. Ekosistem yang sangat jarang berarti potensi tanaman mangrovenya nyaris tidak terlihat alias gundul total. (2) tingginya lahan kritis mangrove. Dari hasil pengamatan dilapangan tingkat kekritisan maka untuk propinsi Riau, ekosistem mangrove yang masuk kedalam kategori tidak rusak adalah 4.298,85 ha, kondisi rusak seluas 123.869,52 ha danrusak berat seluas 133.116,96 ha. Sedangkan untuk propinsi Kepulauan Riau , ekosistemmangrove yang masuk kedalam kategori tidak rusak adalah 6.772,59 ha, kondisi rusak seluas 25.446,33 ha dan rusak berat seluas 146.198,63 ha. Untuk itu dapat dikatakansebagian besar ekosistem pesisir dan mangrove di Propinsi Riau dan kepulauan Riautermasuk kedalam kategori kritis dan sangat kritis.Kenapa hal tersebut sampai terjadi di Propinsi Riau dan kepulauan Riau. Hal yang paling mudah diungkapkan adalah pada ekosistem pesisir dan mangrove sering terjadi (1)teki/Cerucuk, masalah teki/cerucuk muncul karena pemanfaatan kayu berdiameter < 10cm yang digunakan untuk pondasi rumah. Selain bermasalah terhadap regenerasi hutan, juga dapat menyebabkan terhambatnya proses suksesi hutan mangrove. Hal inimenyebabkan terjadi abrasi, dan hilangnya beberapa ekosistem pulau. Dan sangatdisayangkan teki juga dilakukan di daerah-daerah jalur hijau hutan mangrove. (2)Konversi hutan untuk pemukiman, pabrik, perkebunan dan sawah tanpa melihat danmemperhatikan fungsi dan keberadaan hutan mangrove bagi kestabilan ekosistem. (3)Rusaknya habitat akibat kegiatan konversi dan eksploitasi yang berlebihan Indikatornyaadalah makin sedikitnya jenis-jenis yang tumbuh di hutan mangrove, hutan rawa danrawa gambut, terjadinya pendangkalan lumpur, abrasi, dan erosi, serta tingkatsedimentasi yang tinggi. Ciri khas ekosistem rusak adalah ada invasi
Acrosticum aureum
,
Acanthus ilicifolius
, serombong laut dan rumput lidi, hilangnya dan berkurangnya jenis- jenis komersial, terjainya abrasi pantai dan sedimentasi yang tinggi. (4) Pencemaran.Pencemaran terjadi akibat berdirinya pabrik-pabrik seperti pabrik sagu, dan pabrik sawit.Hal yang sama juga terjadi di Seram Bagian Timur. Dari hasil penelitian di daerahBula, Nama Timor, Hokor, Sesar, Englas, Silohan, Hote, Benggoi, Salas, dan Bolifar,didapatkan Hasil sebagai berikut : (1) Tingkat kerapatan diekosistem mangrove di daerahBula termasuk jarang. pH umumnya asam, permeabilitas lambat, dengan C organik rendah, top soil tipis (<10 cm), salinitas 29.86 (tinggi). Kondisi tanah dengan pH yang