Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
EPISTAKSIS

EPISTAKSIS

Ratings: (0)|Views: 1,018|Likes:
Published by Nita Andriyani
EPISTAKSIS

DEFINISI Epistaxis adalah perdarahan dari cavum nasi, baik yang keluar dari nares anterior atau nares posterior. Epistaksis merupakan gejala atau manifestasi penyakit lain, penyebabnya bisa lokal atau sistemik. EPIDEMIOLOGI Epistaksis atau perdarahan hidung dilaporkan timbul pada 60% populasi umum. Puncak kejadian dari epistaksis didapatkan berupa dua puncak (bimodal) yaitu pada usia 50 tahun. Kira-kira 10% dari penduduk dunia mempunyai riwayat hidung berdarah beberapa
EPISTAKSIS

DEFINISI Epistaxis adalah perdarahan dari cavum nasi, baik yang keluar dari nares anterior atau nares posterior. Epistaksis merupakan gejala atau manifestasi penyakit lain, penyebabnya bisa lokal atau sistemik. EPIDEMIOLOGI Epistaksis atau perdarahan hidung dilaporkan timbul pada 60% populasi umum. Puncak kejadian dari epistaksis didapatkan berupa dua puncak (bimodal) yaitu pada usia 50 tahun. Kira-kira 10% dari penduduk dunia mempunyai riwayat hidung berdarah beberapa

More info:

Published by: Nita Andriyani on Dec 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2014

pdf

text

original

 
EPISTAKSISDEFINISI
Epistaxis adalah perdarahan dari cavum nasi, baik yang keluar dari nares anterior ataunares posterior. Epistaksis merupakan gejala atau manifestasi penyakit lain, penyebabnya bisalokal atau sistemik.
EPIDEMIOLOGI
Epistaksis atau perdarahan hidung dilaporkan timbul pada 60% populasi umum. Puncakkejadian dari epistaksis didapatkan berupa dua puncak (bimodal) yaitu pada usia <10 tahun dan>50 tahun.Kira-kira 10% dari penduduk dunia mempunyai riwayat hidung berdarah beberapakali dalam hidupnya. Sekitar 30% anak-anak umur 0-5 tahun, 56% umur 6-10 tahun, dan 64 %berumur 11-15 tahun mengalami sekurang-kurangnya satu kali epistaksis. Sebagai tambahan,56% orang dewasa dengan perdarahan hidung berulang pernah mengalami kejadian serupapada saat kecil.Epistaksis jarang terjadi pada bayi, namun terdapat kecenderungan peningkatan insidenepistaksis seiring dengan pertambahan usia. Epistaksis anterior lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda, sedangkan epistaksis posterior lebih sering terjadi pada usia yang lebihtua, terutama pada laki-laki berusia ≥50 tahun dengan penyakit hipertensi dan arteriosklerosis.Pasien yang menderita alergi, inflamasi hidung, dan penyakit sinus lebih rentan terhadap resikoterjadinya epistaksis karena mukosanya lebih mudah kering dan hiperemis yang disebabkanoleh reaksi inflamasi.
KLASIFIKASI
Epistaksis dibedakan atas dasar sumber pendarahan atau tempat pendarahan. Sumberperdarahan dapat berasal dari bagian anterior atau bagian posterior hidung.
Epistaksis AnteriorEpistaksis ini dapat berasal dari Pleksus Kiesselbach, merupakan sumber perdarahanpaling sering dijumpai pada anak-anak. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dandapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.
Epistaksis PosteriorEpistaksis posterior dapat berasal dari arteri sfenopalatina (area Woodruff, dibawahbagian posterior konka nasalis inferior) atau arteri etmoid posterior. Perdarahan biasanyahebat dan jarang berhenti dengan sendirinya. Pasien terus mengeluhkan darah mengalirdibelakang tenggorokkannya, dapat menyebabkan anemia, hipovolemi dan syok.Epistaksis ini sering ditemukan pada pasien hipertensi, arteriosclerosis atau pasiendengan penyakit kardiovaskuler. Posterior bleeding biasanya tidak berhenti spontan,perdarahan dapat hebat dan sumber perdarahan sukar dideteksi secara langsung,sehingga penanggulangannya pun juga lebih sukar.
 
Gambar. Epistaksis anterior (atas) dan Epistaksis posterior (bawah)
ETIOPATOGENESIS
Perdarahan hidung diawali dengan pecahnya pembuluh darah di selaput mukosa hidung.Delapan puluh persen perdarahan berasal dari pembuluh darah pleksus Kiesselbach. PleksusKiesselbach terletak di septum nasi bagian anterior, di belakang persambungan mukokutaneustempat pembuluh darah yang kaya anastomosis.Epistaksis dapat disebabkan oleh sebab-sebab lokal dan umum atau kelainan sistemik.
Lokal
a.TraumaEpistaksis dapat terjadi setelah trauma ringan, misalnya waktu mengeluarkan ingusdengan kuat, bersin, mengorek hidung atau sebagai akibat trauma yang hebat, sepertiterpukul, jatuh, dan sebagainya. Trauma yang terus menerus dapat merusak perikondrium sehingga menyebabkantulang rawan terekspos dan terjadinya perforasi. Perforasi septum menyebabkanturbulensi; aliran udara laminar merusak terjadi turbulensi, dan menghasilkanpengeringan, menyebabkan terbentuknya keropeng, dan perdarahan berikutnya.b.InfeksiInfeksi hidung dan sinus paranasal, rhinitis, sinusitis, serta granuloma spesifik sepertisifilis, lepra, dan lupus dapat menyebabkan epistaksis. Hal ini dikarenakan reaksiinflamasi lokal akibat infeksi saluran pernapasan akut, sinusitis kronis, rhinitis alergi,dan iritasi lingkungan, seperti asap tembakau, dapat mengubah selimut protektif normal mukosa dan mukosa yang mendasari, memungkinkan untuk kering, krusta,eksposur, dan perdarahan.c.Neoplasma
 
Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya sedikit dan intermiten,kadang-kadang disertai mucus yang bernoda darah. Hemangioma, karsinoma, danangiofibroma dapat menyebabkan epistaksis berat.d.Kelainan kongenitalKelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis adalah teleangiektasishemoragik herediter. Penyakit ini adalah penyakit autosomal dominan. Kelainannyaterletak pada minimnya elemen kontraktil (jaringan elastik dan muskular) pada dindingpembuluh darah mulai dari kapiler hingga arteri, yang kemudian menimbulkan formasitelengiektasia (dilatasi venula dan kapiler) dan malformasi arteriovenous pada kulitatau lapisan mukosa saluran aerodigestivus. Keadaan ini menyebabkan mudahnyaterjadi perdarahan, bahkan oleh trauma kecil sekalipun.e.Sebab-sebab lain termasuk benda asing dan perforasi septumBenda asing intranasal biasanya ditemui pada anak-anak atau individu cacat mental.Persistent gejala hidung sepihak perdarahan, Rhinorrhea, atau berbau nasal dischargesangat menyarankan benda asing atau tumor. Tubuh asing dapat merangsang responinflamasi yang intens dengan pembentukan jaringan granulasi rapuh. Contoh tumorterkait dengan epistaksis pada laki-laki remaja yang angiofibroma remaja dan orangdewasa adalah karsinoma nasofaring.Perforasi septum dan benda asing hidung dapat menjadi predisposisi perdarahanhidung. Bagian anterior septum nasi, bila mengalami deviasi atau perforasi, akanterpapar aliran udara pernafasan yang cenderung mengeringkan aliran sekresi hidung.Pembentukan krusta yang keras dan usaha pelepasan krusta dengan jari dapatmenimbulkan trauma. Pengeluaran krusta berulang menyebabkan erosi membranemukosa septum dan menyebabkan perdarahan. Epistaksis sering juga terjadi karenaadanya spina septum yang tajam. Perdarahan dapat terjadi di tempat spina itu sendiriatau pada mukosa konka yang berhadapan bila konka itu sedang mengalamipembengkakan.f.Faktor lingkunganMisalnya tinggal di daerah tinggi, tekanan udara rendah atau lingkungan udaranyasangat kering.
Sistemik 
a.
Gangguan koagulasi dan pembuluh darahKelainan darah penyebab epistaksis, misalnya trombositopenia, hemofilia danleukemia. Obat-obatan seperti terapi antikoagulan, aspirin dan fenilbutazon dapat pulamempredisposisi epistaksis berulang.Herediter telangiectasia hemoragik (HHT), juga dikenal sebagai Osler-Weber-Rendupenyakit, adalah gangguan autosomal dominan yang diwariskan yang patognomonikdengan riwayat keluarga positif, telangiectasias mukokutan, dan epistaksis.Patologi yang ditandai oleh tipinya dinding pembuluh tanpa otot polos, yangmeningkatnya angiogenesis mengakibatkan proliferasi vaskuler, fistula arteriovenosa,

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->