Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
18Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Defisiensi Moral Terhadap Pelanggaran Nilai Dan Norma

Defisiensi Moral Terhadap Pelanggaran Nilai Dan Norma

Ratings: (0)|Views: 6,349|Likes:
Published by Tarmizi Ramadhan

More info:

Published by: Tarmizi Ramadhan on Feb 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2013

pdf

text

original

 
defisiensi moral
seringmenimbulkan kecemasan sosial karenaeksesnya dapat menimbulkan
 gap generation”
sebab para generasi muda yangdiharapkan sebagai kader-kader penerusmenjadi calon-calon pemimpin bangsa(
revitalising agent)
banyak tergelincir dalamlumpur kehinaan, bagaikan kuncup bungayang berguguran sebelum mekar menyerbakkan wangi.Hampir setiap surat kabar, baik nasional maupun lokal, terendus berita tentangkejahatan, perkosaan, pembunuhan dan lain-lain sehingga membuat prihatin berbagai pihak. Si pelaku tidak ada belas kasihan sedikit pun terhadap korbannya. Adapun sikorban, baik yang menimpa orang dewasa, remaja, maupun anak-anak, akanmengalami depresi yang berat, stres, dan traumatis. Jadi, dalam hal ini semua orangmenjadi rentan terhadap korban kejahatan.Kejahatan adalah suatu tindakan antisosial yang menjijikan, tidak pantas, tidak dapat dibiarkan, yang dapat menimbulkan kegoncangan dalam masyarakat. Ini berarti bahwa setiap kejahatan bertentangan dengan kesusilaan. Adapun pelaku tindak kejahatan ini telah mengalami
defisiensi moral
.Menurut Kartono (1997:205), “Defisiensi moral adalah kondisi individu yanghidupnya
delingment 
(nakal, jahat), selalu melakukan kejahatan dan bertingkah lakuasosial atau antisosial. Ciri-ciri orang yang mengalami
defisiensi moral
cenderung
 psikotis
dan mengalami regresi, dengan penyimpangan-penyimpangan relasikemanusiaan. Sikapnya dingin, beku, tanpa afeksi. Emosinya labil, munafik, jahat,sangat egoistis,
 self centered 
, dan tidak menghargai orang lain. Di sisi tingkah laku,orang yang mengalami
defisiensi moral
selalu salah dan jahat (
misconduct)
, sering
 
melakukan kekerasan, kejahatan, dan penyerangan. Ia selalu melanggar hukum,norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.Pada tulisan ini akan diuraikan khususnya pada pelanggaran para
defisiensimoral
terhadap norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Pelanggaran terhadap Norma
Maran (2000:41) berpendapat, ”Norma adalah suatu aturan khusus, atauseperangkat peraturan tentang apa yang harus dan apa yang tidak dilakukan olehmasyarakat.Norma adalah standar yang ditetapkan sebagai garis pedoman bagisetiap aktivitas manusia. Namun demikian, secara aktual, perilaku manusia dapatmenyimpang dari norma-norma yang ada. Pelanggaran terhadap norma bagi para
defisiensi moral
tanpa selembar rasa belas kasihan dan perikemanusiaan bahkansampai dua kali lipat dari para pembunuh moral.Mengingat kejamnya para
defisiensi moral
sehingga ia tidak lagi mengakuiadanya norma yang berlaku, membuat kita harus dapat berhati-hati terhadap mereka.Sewaktu-waktu bahaya maut akan selalu mengancam kita.Menurut hasil penelitian bahwa kurang dari 18% para
defisiensi moral
menjadi penjahat disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan. Maka menjadi jelas bagi kita bahwa pengaruh lingkungan itu sangat kecil pengaruhnya untuk menjadikan orangmenjadi
defek 
moral. Dalam
defek 
moral itu lebih banyak ditentukan oleh faktor 
disponsisional 
dan
konstitusional 
dari kejujurannya. Itulah sebabnya para
defisiensimoral
dapat dikategorikan pada tipe
 psikopat 
.
Pelanggaran terhadap Nilai-Nilai yang Berlaku
 Nilai mempunyai makna abstrak yang merupakan suatu standar kebenaran yangharus dimiliki, yang diinginkan dan yang layak dihormati. Meskipun mendapat pengakuan luas, nilai-nilaipun jarang ditaati oleh setiap anggota masyarakat. Nilai mengandung suatu kepercayaan manusia yang berhubungan denganTuhan. Dari sini muncullah nilai-nilai agama yang harus diyakini kebenarannya olehsemua orang. Akan tetapi, bagi para
defisiensi moral
keyakinan terhadap nilai-nilaiagama semakin luntur bahkan sudah hilang sama sekali.Pelaku kejahatan atau
defisiensi moral
tidak mau mengikatkan diri kepadakhaliknya. Mereka jelas melupakan suatu kebenaran dan kewajibannya kepada sang penciptanya. Kesehari-hariannya, ia bergelut dengan dosa tanpa adanya rasa penyesalan sedikit pun.
 
Pelanggaran terhadap nilai-nilai agama termasuk dalam pengingkaran ataskeesahan Allah. Para
defisiensi moral
hanya menginginkan adanya kebebasan,adanya aturan-aturan di dalam ajaran agama dianggap sebagai pembatasan terhadapkebebasan baginya. Mereka ingin bebas tanpa
 frame
nilai-nilai agama. Membunuh,memperkosa, mencuri, dan lain sebagainya yang termasuk dalam perbuatan yang bertentangan dengan agama sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Itulahsebabnya, peran kiyai dan ulama kini mendapatkan tantangan yang berat untuk memberi kesadaran bagi kaum
defisiensi moral
.Pada akhir tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa tindak kejahatan para
defisiensi moral
marak terjadi di masyarakat bahkan bisa merambah ke lingkungankita. Mereka jadi brutal dan tidak berperikemanusiaan, sering melakukan pelanggaran baik moral maupun nilai-nilai agama. Tindakan ini harus dicegah sedini mungkinagar generasi bangsa yang sedang mekar dapat diselamatkan. Para penegak hukumdan penegak ajaran agama mendapatkan tantangan yang terberat guna menghadapi para
defisiensi moral
ini. Akankah jumlah mereka berkurang? Atau setidak-tidaknyadapat memberi kesadaran baginya? ini semua kita kembalikan kepada pribadi merekasendiri. Masih tersisa secuil harapan yang optimis bahwa generasi muda yang kitacintai akan terhindar dari defisiensi moral ini. Hal ini dapat terjadi jika para generasimuda benar-benar menyadari bahwa dirinya mempunyai potensi sehingga mampumenggerakkan sejumlah cita-cita untuk negara dan bangsa. Ada sedikit harapan jikaAllah membukakan mata hati bagi para
defisiensi moral
sehingga virus ini tidak melekat dan menular pada generasi muda Indonesia.
 Insya Allah
.
DAFTAR PUSTAKA
Maran, Rafael Raga. 2000.
Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar 
. Jakarta: Rineka Cipta.Kartono, Kartini. 1997.
 Patologi Sosial 
. Bandung: CV Rajawali=============================================================
MOHON DOA RESTUNYA.ARTIKEL INI DIIKUTKAN DALAM LOMBABLOG COMPETITION 2009
=============================================================

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->