melakukan kekerasan, kejahatan, dan penyerangan. Ia selalu melanggar hukum,norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.Pada tulisan ini akan diuraikan khususnya pada pelanggaran para
defisiensimoral
terhadap norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Pelanggaran terhadap Norma
Maran (2000:41) berpendapat, ”Norma adalah suatu aturan khusus, atauseperangkat peraturan tentang apa yang harus dan apa yang tidak dilakukan olehmasyarakat.” Norma adalah standar yang ditetapkan sebagai garis pedoman bagisetiap aktivitas manusia. Namun demikian, secara aktual, perilaku manusia dapatmenyimpang dari norma-norma yang ada. Pelanggaran terhadap norma bagi para
defisiensi moral
tanpa selembar rasa belas kasihan dan perikemanusiaan bahkansampai dua kali lipat dari para pembunuh moral.Mengingat kejamnya para
defisiensi moral
sehingga ia tidak lagi mengakuiadanya norma yang berlaku, membuat kita harus dapat berhati-hati terhadap mereka.Sewaktu-waktu bahaya maut akan selalu mengancam kita.Menurut hasil penelitian bahwa kurang dari 18% para
defisiensi moral
menjadi penjahat disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan. Maka menjadi jelas bagi kita bahwa pengaruh lingkungan itu sangat kecil pengaruhnya untuk menjadikan orangmenjadi
defek
moral. Dalam
defek
moral itu lebih banyak ditentukan oleh faktor
disponsisional
dan
konstitusional
dari kejujurannya. Itulah sebabnya para
defisiensimoral
dapat dikategorikan pada tipe
psikopat
.
Pelanggaran terhadap Nilai-Nilai yang Berlaku
Nilai mempunyai makna abstrak yang merupakan suatu standar kebenaran yangharus dimiliki, yang diinginkan dan yang layak dihormati. Meskipun mendapat pengakuan luas, nilai-nilaipun jarang ditaati oleh setiap anggota masyarakat. Nilai mengandung suatu kepercayaan manusia yang berhubungan denganTuhan. Dari sini muncullah nilai-nilai agama yang harus diyakini kebenarannya olehsemua orang. Akan tetapi, bagi para
defisiensi moral
keyakinan terhadap nilai-nilaiagama semakin luntur bahkan sudah hilang sama sekali.Pelaku kejahatan atau
defisiensi moral
tidak mau mengikatkan diri kepadakhaliknya. Mereka jelas melupakan suatu kebenaran dan kewajibannya kepada sang penciptanya. Kesehari-hariannya, ia bergelut dengan dosa tanpa adanya rasa penyesalan sedikit pun.