Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Fungsi Politik Institusi Pendidikan

Fungsi Politik Institusi Pendidikan

Ratings: (0)|Views: 652|Likes:
Published by Muhammad Ghozali

More info:

Published by: Muhammad Ghozali on Dec 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/11/2014

pdf

text

original

 
FUNGSI POLITIK INSTITUSI PENDIDIKAN
Makalah ini disusun untuk memenhui tugas MatakuliahPolitik Pendidikan NasionalDosen Pengampu: Prof. Dr. Hamruni, M. SiDisusun oleh:Agus Sutejo (1220411241)Rifai Kusuma Nurudin (1220411189)PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAMKONSENTRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAMPROGRAM PASCA SARJANAUNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGAYOGYAKARTA
1
 
2012FUNGSI POLITIK INSTITUSI PENDIDIKAN
1
A.Pendahuluan
Hubungan antara pendidikan dan politik bukan sekedar hubungan salingmempengaruhi, tetapi juga hubungan fungsional. Lembaga-lembaga dan proses pendidikan menjalanakan sejumlah fongsi politik yang signifikan. Mungkin yangterpenting dari fungsi-fungsi tersebut bahwa sekolah-sekolah dan lembaga pendidikanlainnya menjadi agen-agen sosialisasi politik. Lembaga-lembaga pendidikan menjaditempat dimana individu-individu, terutama anak-anak dan generasi muda, mempelajarisikap-sikap dan perasaan tentang sistem politik, dan sejenis peran politik yangdiharapkan dari mereka.
B.Pembahasan
Bab ini menjelaskan beberapa fungsi politik pendidikan beserta segalaimplikasinya, baik terhadap dinamika kehidupan politik dan pendidikan itu sendirimaupun implikasinya terhadap tatanan kehidupan masyarakat pada umumnya.
1.Institusi Pendidikan Sebagai alat Kekuasaan?
Berbagai institusi pendidikan yang ada dalam masyarakat dapat berfungsisebagai alat kekuasaan dalam upaya membentuk sikap dan keyakinan politik yangdikehendaki. Berbagai aspek pembelajaran terutama kurikulum dan bahan-bahan bacaan, sering kali diarahkan pada kepentingan politik tertentu. Eliot (1959;1046)menulis sebagai berikut.
 Although political power is centered in group and individuals, itseffectiveness and use are shaped by institutions. The institutional patter of  public education may seem firmly fixed, firmly enough, certainly, so that any proposal, to have a chance of success, must appear to conform to it 
 (Walaupun kekuasaan politik terpusat pada berbagai kelompok dan individu,efektifitas dan kegunaannya dibentuk oleh berbagai institusi. Pola
1 M. Sirozi,
 Politik Pendidikan, Dinamika Hubungan Antara Kepentingan Kekuasaan dan Praktek  Penyelenggaraan Pendidikan,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 37-57
 
institusional pendidikan publik mungkin saja tampak kokoh, cukup mantap,sehingga untuk dapat berhasil. Setiap proposal perlu menyesuaikan diridengannya).Eliot (1959:1047) menambahkan bahwa salah satu komponen terpenting pendidikan, kurikulum, misalnya, dapat menjadi media sosialisasi politik.Menurutnya, kurikulum di suatu lembaga pendidikan memiliki tiga sumber utama.
 Pertama
, pendapat kelompok professional pendidikan yang sangat dipengaruhi olehinstitusi-institusi pelatihan guru dan seringkali merefleksikan atau mengadaptasi idedari individu-individu yang didewa-dewakan seperti John Dewey, John Lock,William Stern.
 Kedua
, kebutuhan akan dana. Kebutuhan ini sering menyebabkanterjadinya modifikasi program untuk mengantisipasi tuntunan publik.
 Ketiga,
aktifitas kelompok-kelompok berpengaruh, seperti asosiasi industri, perserikatan,dan beberapa organisasi kebangsaan yang memiliki semangat patriotik.Berbagai kelompok tersebut sering mempengaruhi isi kurikulum dan sulitdicegah. Fungsi politik pendidikan secara khusus juga dapat diaktualisasikan melalui proses pembelajaran. Menurut Massialas (1969a:18-79 dan 1969b:155), proses pembelajaran bisa bersifat kognitif (misalnya, mendapatkan pengetahuan dasar tentang suatu sistem), bisa bersifat afektif (misalnya, mengetahui sikap-sikap positif dan negative terhadap penguasa atau symbol-simbol), bisa bersifat evaluati(misalnya, menilai peran-peran politik berdasarkan standar tertentu), atau bisa bersifat motivatif (misalnya, penanaman rasa ingin berprestasi). Sebagian besar unsur-unsur pembelajaran tersebut dapat dirancang dan diarahkan sedemikian rupauntuk memenuhi tuntutan politik tertentu.Dibanyak negara totaliter dan negara berkembang, pemimpin politik sangatmenyadari fungsi pendidikan dalam mencapai tujuan-tujuan politik. Merekamelakukan berbagai cara untuk mengontrol sistem pendidikan dan menitipkan pesan-pesan politik melalui metode dan bahan ajar 
(curriculum content)
pendidikan.Di negara-negara Komunis misalnya, metode
brain washing 
digunakan secara luasuntuk membentuk pola pikir kaum muda, agar sejalan dengan doktrin komunisme.Dari generasi ke generasi negarawan dan pemimpin politik telah menyadaridampak yang telah ditimbulkan oleh sistem pendidikan terhadap kehidupan politik.Mereka menyadari bahwa negara tidak dapat mengabaikan sekolah jika ingin3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->