Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
7Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
KRONOLOGI TRAGEDI AMBON

KRONOLOGI TRAGEDI AMBON

Ratings:

4.83

(6)
|Views: 7,546|Likes:
Published by ss

More info:

Categories:Types, Research
Published by: ss on Feb 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

03/28/2012

 
KRONOLOGI TRAGEDI AMBON-MALUKU BERDARAHDesember 1998 s.d. Desember 2000BAGIAN 1-1: SEBELUM AMBON
Tragedi berdarah di Ambon dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Menurut MajelisUlama Indonesia (MUI), sebelum peristiwa Iedul Fithri 1419H berdarah, tercatat beberapa peristiwa penting yang dianggap sebagai pra-kondisi, bahkan jauh ke belakang pada tahun 1995.Beberapa peristiwa itu (sebagian) adalah sebagai berikut.1)
15 Juni 1995
: Desa berpenduduk Islam, Kelang Asaude (Pulau Manipa), diserang warga KristenDesa Tomalahu Timur, pada waktu Shubuh. Penyerangan dikoordinasikan oleh empat orangyang nama-namanya dicatat oleh MUI.
21 Pebruari 1996
(Hari Raya Iedul Fithri) : Desa Kelang Asaude diserang lagi. Serangandilakukan oleh warga Tomahalu Timur dengan menggunakan batu dan panah. Tiga harisebelumnya, serombongan orang yang dipimpin oleh sersan (namanya tercatat) datang ke DesaAsaude, menangkap raja (kepala desa) berikut istri dan anak-anaknya. Mereka menggeledah isirumah dan menginjak-injak peralatan keagamaan.
18 Nopember 1998:
Korem 174 Pattimura didemo. Sejumlah besar mahasiswa Unpatti(Universitas Pattimura) dan UKIM (Universitas Kristen Indonesia Maluku), yang dimotori olehorganisasi pemuda dan mahasiswanya menghujat Danrem Kolonel Hikayat. Demonstrasi berlangsung dua hari. Mereka membakar beberapa mobil keamanan, melukai tukang becak, danmerusak serta melempari kaca kantor PLN Cabang Ambon. Jatuh korban luka-luka, baik di pihak mahasiswa maupun kalangan ABRI.Beberapa bulan sebelumnya, berlangsung desas-desus dan teror. Isu pengusiran orang-orangBugis-Buton-Makassar (BBM) sudah beredar di tengah masyarakat yang membuat gelisah banyak orang. Mereka kurang bisa membedakan suku Bugis dan Makassar. Kedua suku inisebenarnya adalah satu. Orang-orang Muslim suku lain (non-Maluku) juga diisukan untuk diusir.Produksi pesanan senjata tajam ditengarai sangat tinggi. Pesanan dilakukan oleh kelompok tertentu.Isu pengusiran BBM memang berbau SARA, terutama yang menangkut suku dan agama. Entah bagaimana awalnya dari dalam Gereja. yang tepat, isu BBM bertiup dengan kencang darikalangan Kristen, bahkan kabarnya disuarakan oleh Gereja.Menjelang akhir Nopember 1998: Sekitar 200 preman Ambon dari Jakarta, yang bekerja sebagai penjaga keamanan tempat judi pulang kampung. Merekalah yang memulai bentrok dengan penduduk Ketapang (Jakarta). Karena umat Islam Jakarta marah, mereka dikepung. Beberapadarinya tewas. Sejumlah besar yang lain diminta masyarakat agar dievakuasi oleh aparatkeamanan. Sebagian dari mereka - sekitar 200 orang - inilah yang pulang ke Ambon.
 
Beberapa 'Test Case' Sebelum Iedul Fithri Berdarah
Setidaknya, ada tiga peristiwa penting yang dapat dianggap sebagai bagian dari tragedi IedulFithri berdarah 1999. Ketiga peristiwa itu adalah peristiwa Wailete tanggal 13 Desember 1998, peristiwa Air Bak 27 Desember 1998, dan peristiwa Dobo 14 dan 19 Januari 1999.Peristiwa-perista di atas adalah sebuah 'test case' yang dinilai berhasil mendeteksi keberanian, persatuan dan kesatuan serta kesiapan Ummat Islam se-Ambon untuk berperang. KesabaranUmmat Islam yang tengah menyongsong bulan Ramadhan itu dianggap suatu kelemahanterutama penilaian terhadap suku Bugis-Buton-Makassar yang kurang kompak. Atas dasar  penilaian demikian itu tampaknya dijadikan peluang untuk mengobarkan Tragedi Iedul FithriBerdarah. Hal ini terbukti dengan tiba-tiba didatangkan ratusan preman dari Jakarta, eks-konflik Jalan Ketapang, Jakarta sebagai pelaku di lapangan.
Serangan Massa Kristen ke Desa Wailete
13 Desember 1998 : Desa Wailete yang merupakan perkampungan Muslim masyarakat asalBugis-Buton-Makasar (BBM) diserang oleh warga Kampung Hative Besar (Kristen). Ratusanmassa Kristen menyerbu dengan batu, dan membakar kampung Wailete. Serangan dilakukan duakali pada malam itu dimana tahap kedua dilakukan secara tuntas membakar habis semua rumahsehingga penghuni hanya menyelamatkan diri dengan baju yang melekat di badan saja. Empatrumah dilaporkan terbakar dan satu kios bensin milik orang Bugis terbakar dan meledak.Penduduk desa tersebut mengungsi.2)Tidak pernah ada kejelasan penyelesaian dalam peristiwa itu. Bahkan polisi tampak ragumenghadapi ancaman warga desa Hative Besar. Keraguan aparat ini tampak jelas sebagai hasil penghujatan selama demo dengan pecahnya insiden Batu Gajah. Dalam rangkaian penghujatanlewat berbagai media massa sebagian berpendapat bahwa oknum Polri telah berhasil digalanguntuk melaksanakan rencana mereka. Surat kabar Suara Maluku tidak memberitakan peristiwa besar ini secara proporsional, dua kali pemberitaan yang tidak jelas kemudian menghilang, padahal kasus Batu Gajah diberitakan luar biasa bahkan tulisan-tulisan dengan ungkapan Anjingdan Babi masih berulang selama sebulan.Ummat Islam yang menjadi panas karena solidaritas Islamiyahnya sebenarnya mengharapkanadanya reaksi protes, pembelaan dan pertolongan yang memadai tetapi hal itu tidak terjadikarena para pemimpinnya memang lemah dan tidak ada tokoh pemersatu. Warga masyarakatdesa Hative Besar telah membuktikan secara nyata isu yang berkembang bahwa suku Bugis-Buton-Makassar dan Jawa-Sunda akan diusir dari Ambon.Setelah aksi pembakaran itu para tokoh desa Hative Besar mengeluarkan pernyataan bahwamereka tidak akan menerima kedatangan suku Bugis-Buton-Makasar lagi ke desa Wailete,karena itu desa Wailete tidak pernah dibangun lagi, bahkan parapenghuni yang telah melarikandiri itu tak berani mengunjungi bekas kampungnya. Pemerintah daerah tida
 
memasukanpembakaran desa Wailete ini kedalam program rehabilitasi, dianggap bukan dalamrangka kerusuhan Ambon.3)
Serangan Massa Kristen ke Desa Air Bak Akhir Desember 199827 Desember 1998
: Desa Air Bak, yang hanya berpenduduk sekitar 8 keluarga beragama Islam(desa kecil) diserbu warga Desa Tawiri yang mayoritas beragama Kristen. Pertikaian ini diawaliketika ada Babi peliharaan masyarakat Tawiri memasuki kebun masyarakat desa Bak Air, halseperti ini biasa terjadi. Menghalau dengan lemparan batu saja Babi akan keluar dari kebun. Kaliini, kejadian ini dijadikan masalah oleh orang Kristen Tawiri. Orang-orang Muslim dilempari batu. Tidak ada penyelesaian, malah warga Muslim yang ditahan polisi.
5 Januari 1999
: Di tengah masyarakat beredar isu akan tejadinya kerusuhan pada Hari RayaIedul Fithri, meski beberapa penyampaian di antaranya dengan bahasa yang disamarkan. Di bagian lain bisa dibaca bagaimana isu itu berkembang di Kampung Batu Gantung Waringin.Seluruh rumah di situ dibakar dan diruntuhkan. Kampung ini dihuni oleh mayoritas orang Bugis.
Tragedi Berdarah di Dobo, Maluku Tenggara14 Januari 1999
: Kerusuhan pecah di Dobo, kecamatan Pulau Aru (Kepulauan Tanimbar,Maluku Tenggara). Korban tewas delapan orang. Penyerangan dilakukan oleh kelompok Kristentersebut bukanlah yang pertama kali. Sekitar satu bulan sebelumnya sempat terjadi kontak senjata tradisional meski dengan skala yang lebih kecil di tempat yang sama.
19 Januari 1999
: Hari Raya Iedul Fithri. Kerusuhan pecah lagi di Dobo, setelah umat Islammelaksanakan sholat Ied. Dikabarkan 14 orang terbunuh, 10 orang di antaranya adalah orangKristen. Sebanyak 55 rumah habis terbakar.Ketiga peristiwa di atas jelas telah direncanakan sebelumnya dalam rangka mencoba rencana besar mereka, yakni pembantaian Muslim Ambon di Hari Raya Iedul Fithri. Kerusuhan Dobo(14/1) layak dianggap sebagai awal meletusnya Kerusuhan Ambon. Cukup banyak anggota TNIyang dikirim ke Dobo sehingga kekuatan TNI di Ambon berkurang dalam jumlah yang berarti.Jumlah sisanya tidak mampu berbuat apa-apa di kota Ambon pada tanggal 19 dan 20 Januari,sebelum datangnya bala bantuan TNI dari tempat lain. Apalagi kemudian, di Dobo, pada IedulFithri, juga pecah kerusuhan lanjutan yang cukup besar.4)Dikaitkan dengan Tragedi Iedul Fithri Berdarah, rentetan ketiga peristiwa di atas harus dianggapsebagai bagian yang tak terpisahkan, atau sebagai 'babak pertama' dari seluruh babak yang berjudul 'Tragedi Iedul Fithri Berdarah'. Seandainya ummat Islam di Ambon menyatakan proteskeras kepada pihak Kristen yang berpura-pura tidak tahu maka mereka akan ragu memasuki'babak kedua', yaitu adegan 'Tragedi Iedul Fithri Berdarah'. Dengan kata lain Tragedi Iedul FithriBerdarah itu belum tentu bisa terjadi karena uji cobanya tidak berhasil, Ummat Islam masih siapdan kompak, siaga menghadapi setiap kemungkinan.

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Gilang Ramadhan liked this
Fuad Ubaidillah liked this
Ismail Marzuki liked this
angger_bas liked this
Abi Thufeil H A liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->