Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perkembangan Pendidika Swasta Di Indonesia

Perkembangan Pendidika Swasta Di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 17|Likes:
Published by Suwanto Doank

More info:

Published by: Suwanto Doank on Dec 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2013

pdf

text

original

 
 No. 3/XIX/2000 Ki Suprayoko, Filsafat, KebijakanMimbar Pendidikan
14
Filsafat, Kebijakan Dasar dan Perkembangan Pendidikan Swasta di Indonesia
 
 Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.Pd.
 Direktur Pan-Pasific Association of Private Education (PAPE)
eski bukan satu-satunya determinan, filsafat dankebijakan dasar pendidikan nasional suatu negarasangat menentukan kinerja pendidikan negara yang bersangkutan. Demikian juga akan halnya dengan filsafatdan kebijakan dasar pendidikan nasional Indonesia,kejelasan filsafat dan ketetapan kebijakan pendidikannasional amat menentukan kinerja pendidikan nasionalIndonesia.Selanjutnya oleh karena sistem pendidikan nasionalIndonesia terbangun atas dua jenis pendidikan sekaligus,yaitu pendidikan negeri yang manifestasi kelembagaannyadislenggarakan pemerintah serta pendidikan swasta yangmanifestasi kelembagaannya diselenggarakan masyarakat,maka filsafat pendidikan negeri serta filsafat pendidikanswasta secara tidak langsung sangat menentukan kinerja pendidikan nasional serta kebijakan dasar pendidikan swastasangat menentukan kinerja pendidikan nasional Indonesia.Jadi, filsafat dan kebijakan dasar pendidikan swasta sebagai bagian dati filsafat dan kebijakan dasar pendidikan nasionalsecara tidak langsung menentukan kinerja pendidikan na-sional Indonesia.Kiranya tidak dapat dipungkiri bahwa sampai hari ini kinerja pendidikan nasional Indonesia masih belum memuaskan.Pada kahir tahun 1998 yang lalu, Bank Dunia dalam publikasinya
 Education in Indonesia : From Crisis to Re-covery
” secara jelas dan transparan telah menggambarkankegagalan pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Tingkat
drop-out 
yang tinggi, angka melanjutkan yang kurangmaksimal, angka partisipasi pendidikan yang tidak optimal, prestasi belajar siswa yang rendah, dsb, adalah bagian dariindikator belum memuaskannya kinerja pendidikan nasionalIndonesia. Dari laporan setebal 174 halaman yang dibagi didalam tujuh bab tersebut hanya ada satu kata kuncinya:
unsatisfactory.
 Beberapa bulan kemudian muncul dua publikasi yang banyak diacu oleh para pakar pendidikan dan pemimpinnegara. Yang pertama, UNDP menerbitkan satu laporan berjudul
 Human Development Report 1999
” dan yangkedua WEF menerbitkan laporan yang bertitel “
Global Competitiveness report 1999”.
Kedua laporan tersebut memang tidak secara eksplisitmenulis mengenai kegagalan pendidikan di Indonesia;akan tetapi secara tidak langsung memangmenyatakan hal yang demikian. Dari laporan UNDPdiketahui bahwa Indonesia hanya ada di urutan ke-105dari 174 negara dalam hal pembangunan manusianya;dan kita berada di bawah Singapura (22), Brunai (25),malaysia (56), dsb. Sementara itu dari laporan WEFdikatahui bahwa Indonesia hanya berada pada rankingke-37 dari 59 negara dalam hal daya saing; dan kitaada di bawah Singapura (1), Malaysia (16), Thailand(30), dsb.Berbagai laporan tersebut sesungguhnya hanya meru- pakan sebagian kecil dari informasi atau data yangmenunjukkan kebelumberhasilan pelaksanaan dansekaligus hasil pendidikan di Indonesia. Memangharus diakui bahwa kinerja pendidikan nasionalIndonesia sampai saat ini belum memuaskan; dan belum memuaskannya kinerja pendidikan nasional ini bisa dirunut penyebabnya sampai ke filsafat pendidikan, yaitu filsafat pendidikan nasional padaumumnya serta filsafat pendidikan swasta padakhususnya.
 
Filsafat Pendidikan
Diyakini bahwa sebenarnya bangsa Indonesia telahmemiliki nilai-nilai filosofis dan nilai-nilai edukatif yangmendasari perilaku kehidupannya; namun demikianformulasi dari nilai-nilai filosofis tersebut yang dijadikansebagai filsafat pendidikan nasional haingga sekarang masihterus dicari untuk detemukan.Pembicaraan mengenai filsafat pendidikan swastasebenarnya tidak berbeda dengan filsafat pendidikannasional karena dalam tataran ini tidak ada perbedaan antarafilsafat pendidikan swasta, filsafat pendidikan negeri, danfilsafat pendidikan swasta, filsafat pendidikan negeri, danfilsafat pendidikan nasional. Atau tepatnya, baik pendidikanswasta maupun pendidikan negeri menggunakan filsafatyang sama dalam menjalankan roda-roda pendidikan (dan
 
 No. 3/XIX/2000 Ki Suprayoko, Filsafat, KebijakanMimbar Pendidikan
15
 pengajaran) yaitu filsafat pendidikan nasional. Sementara itudi sisi yang lain filsafat pendidikan nasional tersebut sampaikini masih terus dicari untuk ditemukan.Meskipun dalam realitasnya sangat sukar merumuskanfilsafat pendidikan nasional Indonesia tetapi dasar-dasarnya bisa ditemukan dari tiga aspek sekaligus; masing-masingadalah filsafat manusia itu sendiri, nilai dasar manusiaIndonesia, dan nilai dasar pendidikan nasional Indonesia.Manusia Indonesia memiliki struktur dasar, meminjamistilah Battista Mondin, yang universal sebagaimana yangterjadi dengan manusia lain pada umumnya; yaitu sebagaimakhluk jasmaniah-rahaniah, sebagai makhluk individual-sosial, dan sebagai makhluk alam-lingkungan. Beberapastruktur dasar yang mengandung nilai-nilai filosofis inilahyang mendasari bangunan filsafat manusianya yang bersifat personlistik.Setiap manusia itu hidup di dalam dua alam sekaligus, yaitudi alam jasmani dan rohani. Tidak pernah ada manusia yanghidup badannya tetapi mati rohaninya, sebaliknya tidak  pernah ada pula manusia yang hidup secara rohani tetapimati badannya.Manusia juga hidup di dua dunia sekaligus; yaitu dunia kecilyang bersifat kesendirian dan dunia besar yang bersifatkebersamaan. Dalam kesendiriannya, manusia harus dapatmenolong dirinya sendiri; sedangkan dalam kebersamaan,manusia harus pandai ber-tolong-tolongan dengan manusiayang lainnya. Setiap manusia juga hidup di dalam dua jenis pergulatan , yaitu pergulatannya dengan alam (
nature
) serta pergulatannya dengan lingkungan (
nuture
). Setiap manusiaakan dibesarkan secara alamiah sehingga harus bisa bersahabat dengan “alam”. Misalnya dengan iklim, yangsekaligus dibesarkan secara rekayasa sehingga harus bisa bersahabat dengan “lingkungan”, misalnya denganteknologi.Aspek kedua menyangkut nilai-nilai dasar manusiaIndonesia yang antara lain adalah jujur, santun, ramah, berani, indah, dan cakap. Pada dasarnya manusia Indonesiaadalah manusia yang jujur dan tidak suka bersikap berbohong; bahkan kejujurannya seringkali digunakan olehorang atau bangsa lain untuk memperlemah posisi manusiaIndonesia itu sendiri.Manusia Indonesia juga memiliki sifatsantun terhadap orang lain, ramah kepada sesama, beranimembela kebenaran, pencinta kehindahan dan cakapmenghadapi kehidupan.Sementara itu aspek yang ketiga menyangkut nilai-nilaidasar pendidikan nasional yang antara lain berisi tujuh nilaidasar; yaitu kemerdekaan, kebangsaan, keseimbangan,kebudayaan, kemandirian, kemanusiaan dan kekuluargaan.Tentang kemerdekaan misalnya. Pelaksanaan pendidikandidasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang azasi;dengan demikian pengembangan ide, pemikiran dankreativitas tidak dikalahkan oleh hal-hal yang sifatnya pragmatis. Kemerdekaan untuk mengembangkan diri itulahhakekat pendidikan. Pada hakekatnya pendidikan itu tidak dapat dibatasi oleh tirani kekuasaan, politik atau kepentingantertentu. Nilai dasar kemerdekaan inilah yang menjadilandasan pengembangan semangat demokrasi anak didik.Tentang kebangsaan, keseimbangan, kebudayaan,kemandirian, kemanusiaan, dan kekeluargaan dapatdijelaskan dalam bahasa yang sama.Ramuan filosofis ketiga aspek tersebut di atas, yaitu filsafatmanusia, nilai dasar manusia Indonesia, dan nilai dasar  pendidikan nasional Indonesia akan mewarnai filsafat pendidikan nasional Indonesia yang masih dicari danditemukan.
 Kebijakan Dasar pendidikan
Kebijakan dasar pendidikan merupakan determinan lain ataskinerja pendidikan nasional suatu negara. Filsafat pendidikan memang amat berpengaruh terhadap kinerja pendidikan, meski begitu kebijakan dasar pendidikan jugatidak kalah pengaruhnya. Filsafat pendidikan yang jelas sertakebijakan dasar pendidikan yang tepat dapat mengarahkankinerja pendidikan yang memuaskan. Sebaliknya, filsafat pendidikan yang tidak jelas dan kebijakan pendidikan yangtidak tepat tidak sanggup menghantarkan kinerja pendidikanyang memuaskan meskipun pelaksanaannya memadai.Filsafat pendidikan yang tidak jelas, kebijakan dasar kependidikan yang tepat, serta pelaksanaan pendidikanyangtidakmemadai merupakan kombinasi yang sempurnauntuk menghantarkan kinerja pendidikan yang rendah, jelek,dan hancur.Kebijakan dasar pendidikan memiliki alur yang jelas denganfilsafat pendidikan karena kebijakan dasar pendidikan itulazimnya dipertimbangkan dari tujuan pendidikan;sementara tujuan pendidikan itu diterjemahkan dari misi danvisi pendidikan yang berhulu kepada filsafat pendidikan itusendiri. Kebijakan dasar pendidikan suatu negara biasanyalebih bersifat kondisional disesuaikan dengan berbagaifenomena yang sedang berkembang pada saat itu.Menurut Kelompok Kerja Filosofi Pendidikan yangdibentuk oleh Bappenas, Depdiknas dan Bank Dunia;sekarang terdapat lima kebijakan dasar pendidikan nasional,yaitu desentralisasi pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan pendidikan, relevansi kurikulum, sertaakuntabilitas publik.Kebijakan dasar yang pertama tentang desentralisasi pendidikan. Memang selama ini pendidikan di Indonesia pengaturan serta kebijakannya terlalu terpusat atausentralistik. Hampir semua kebijakan pendidikan, baik yangdiberlakukan di pusat, daerah maupun pusat dan daerah
 
 No. 3/XIX/2000 Ki Suprayoko, Filsafat, KebijakanMimbar Pendidikan
16 
selalu ditentukan dari Jakarta. Akibatnya banyak kebijakan pendidikan yang dianggap valid oleh birokrasi pusat akantetapi tidak dapat diberlakukan di daerah. Kebijakan yangterlalu sentralistik ini tidak saja mematikan kreativitas didaerah, termasuk di sekolah-sekolah, tetapi juga kurangmemberikan motivasi kepada para praktisi pendidikan didaerah untuk melakukan usaha maksimal dan inovasi dalammelaksanakan pendidikan nasional.Kebijakan desentralisasi pendidikan memberikankesempatan bagi daerah, sekolah, atau praktisi pendidikan ditingkat pelaksana untuk secara aktif menentukan kebijakan pendidikan bagi dirinya sendiri. Adapun filosofinya ialah bahwa daerah, sekolah atau praktisi di tingkat pelaksanalebih tahu akan dirinya sendiri.Meskipun bagi pendidikan negeri yang kelembagaannyadiselenggarakan oleh pemerintah hal seperti itu masih relatif  baru akan tetapi bagi pendidikan swasta, kebijakan itu samasekali bukan hal yang baru. Sekolah-sekolah swasta dan praktisi di lapangan sudah terbiasa mengambil kebijakan dankeputusan pendidikan mengenai apa yang dianggap baik serta memberikan benefit. Sekolah-sekolah Tamansiswamisalnya; meskipun pusatnya ada di Yogyakarta tetapisekolah yang ada di Aceh, Palembang, Jakarta, Surabaya,Malang dsb. Sudah biasa membuat kebijakan dan keputusanyang dianggap baik tanpa harus menunggu pengarahan dariYogyakarta. Kebijakan ini bisa menyangkut kurikulum,keuangan, kehumasan, dsb.Mengenai kebijakan pemberdayaan masyarakat jugademikian adanya. Bagi pemerintah dan jajaran pendidikannegeri, kebijakan pemberdayaan masyarakat dapatdikatakan relatif baru. Selama ini pemerintah sebagai penyelenggara lembaga pendidikan negeri tidak atau kurangdapat menarik partisipasi dan peran masyarakat, apa lagimemberdayakannya.Di negara-negara maju, Jepang misalnya hampir tidak adasekolah yang tidak melibatkan anggota masyarakat (sekitar)dalam penyelenggaraannya. Masyarakat senantiasa diberikesempatan dan peluang untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan sekolah, baik baik dalam hal finansialmaupun dalam hal akademis; sudah barang tentu denganrambu-rambu yang proporsional, misalnya masyarakat disi-lakan memberikan masukan tentang kurikulum dan hal-halakademis lainnya tetapi keputusan tetap ada pada pihak sekolah. Di Indonesia, di dalam hal ini untuk pendidikannegeri, hal seperti itu masih merupakan barang baru.Pendidikan swasta di Indonesia sudah terbiasa menghadapikebijakan dasar seperti itu. Pemberdayaan masyarakatmemang merupakan pilar bagi penyelenggaraan pendidikanswasta di Indonesia sehingga tidak pernah ada sekolahswasta yang dalam penyelenggaraannya tidak melibatkanmasyarakat.Pemberdayaan pendidikan merupakan kebijakan dasar lainnya yang sedang ditempuh pemerintah. Dalam konteksini, sistem pendidikan nantinya diharapkan akan menjadisistem yang lebih komprehen dan integral. Sistem pendidikan yang tidak saja didominasi oleh soal-soal pendi-dikan formal persekolahan tetapi merupakan sistem pendidikan yang benar-benar komprehensif dan integral atas berbagai permasalahan sekaligus; dari pendidikan keluargasampai pendidikan sekolah dan pendidikan masyarakat.Sistem pendidikan seperti tersebut di atas diharapkan akanmemungkinkan semua unsur masyarakat dapatmenyampaikan akses untuk mencapai pengembangan potensi diri secara optimal dengan menghidupkan
community-based life learning 
hingga akhirnya terbentuk masyarakat belajar yang diidamkan.Meskipun keberhasilannya masih jauh dari optimal, pendidikan swasta selama ini memang brush dengan berbagai metode untuk mencapai terbentuknya masyarakat belajar sebagaimana yang dicita-citakan oleh semua bangsayang ingin maju.Mengenai kebijakan dasar relevansi kurikulum yangdiangkat oleh pemerintah selama ini lebih terkesanmerepotkan pendidikan swasta sebagai bagian dari pendidikan nasional. Masalahnya, sudah menjadi kewajibansekolah swasta untuk menyesuaikan kurikulumnya dengankurikulum pemerintah (nasional); dengan demikian setiapsekolah swasta brush menyesuaikan kurikulumnya dengankurikulum pemerintah. Di sisi lain, kurikulum pemerintahsendiri sering tidak relevan dengan tuntutan kemajuan.Pendekatan yang digunakan oleh peme-rintah sendiri didalam pembaruan ataupun penggantian kurikulum selamaini banyak keliru daripada benarnya. Pemerintah terkesanmeng-anggap kurikulum sebgai bagian yang tersendiridaripada terintegrasi dengan faktor pendidikan lainnyaseperti guru, sarana pendidikan, fasilitas belajar, dsb.Akibatnya sangat sering kurikulum sekolah diperbarui ataudiganti sama sekali tetapi guru tidak diapresiasi, secara tidak dilengkapi dan fasilitas belajar tidak disentuh.Selama ini kebijakan dasar pendidikan swasta menyangkutrelevansi kurikulum bisa dikatakan stagnan oleh karena pemerintah memang kurang memberikan ruang gerak bagi pendidikan swasta untuk berkreasi. Benar bahwa di dalamundang-undang pendidikan disebutkan secara ikplisit bahwa pendidikan swasta bebas mengemabngkan identitasnya akantetapi dengan sangat padatnya beban kurikulum pemerintahmenyebabkan identitas pendidikan swasta banyak yangtidak berkembang sebagaimana mestinya. Pengembanganidentitas hanyalah terjadi pada sekolah-sekolah swasta yangsecara historis telah mempunyai nama seperti Tamansisiwa,Muhammadiyah, Katolik, Kristen, dan sebagainya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->