• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
KETIKA KEADILAN MERUPAKAN CITA HUKUM YANG DITINGGALKAN
 
oleh:Lambok Hutapea, SH
Hukum dalam perkembangannya, mendorong para akhlihukum untuk menghasilkan suatu definisi mengenai hukum. Dapatditemukan bahwa definisi mengenai hukum yang dihasilkan olehpara akhli memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yanglain. Hal ini memiliki alasan bahwa dalam proses menghasilkandefinisi tersebut para akhli memiliki sudut pandang yang berbeda.Maksudnya, hukum itu mengikuti perkembagan kehidupan manusiasehingga mempengaruhi pola pikir para akhli dalam membentukelemen dasar yang mewujudkan definisi mengenai hukum. Pola pikirini nantinya mengakibatkan unsur-unsur esensial yang membentukhukum.Sebagai contoh, disini akan dijabarkan mengenai pandanganyang berbeda tentang hukum dari 2(dua) orang akhli hukum. Iaadalah John Austin. Dalam bukunya The Providence Of JurisprudenceDetermined (:1831), ia memiliki pemahaman mengenai hukumyakni law is commands, backed by treat of sanctions, from asovereign to whom people have a habbit of obedience. Baginya,hukum itu tidak lain memiliki sifatnya yang imperatif dimanadidukung oleh adanya sanksi sehingga mengakibatkan setiap orangterikat terhadap hukum. Pandangan Austin menghasilkan bahwapemberlakuan hukum memiliki sifat yang sepihak. Hal ini memilikiartian bahwa hukum itu merupakan produk dari seseorang yangmemiliki kekuasaan untuk memberlakukan secara menyeluruh danmengikat.Lebih lanjut, perbandingan mengenai pemahaman akanhukum ditujukan terhadap pandangan Jean-Jacques Rousseau.
 
Menurutnya, but what, after all, is a law? When I say that the objectof laws is always general, i mean the law consider subjects enmesse and action.....on this view we at once see that it can nolonger be asked whose business it is to make laws, since they areacts of the general will ; nor whether the prince is above the law,since he is a member of the state; nor whether the law can beunjust, since no one is unjust to himself; nor how we can both freeand subject to the laws, since they are but register of our wills( Jean-Jacques Rousseau : The Social Contract, Book II : Chapter 6 ).Secara garis besar pemahamannya mengenai hukum ditujukan olehadanya suatu pertemuan kehendak masyarakat. Hal ini memilikimakna bahwa kehendak yang dimiliki masing-masing individudipertemukan dan dipersatukan untuk menghasilkan suatuperaturan yang menjaga ketertiban dalam kehidupan manusia.Kedua konsep mengenai hukum yang dihasilkan oleh paraakhli di atas memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain.Perbedaan ini dilihat pada pandangan yang diutarakan oleh JohnAustin dan J.J.Rousseau mengenai unsur-unsur dasar dalammembentuk konsep mereka mengenai hukum. Hingga sekarang,dapat ditemukan berbagai perbedaan mengenai pembentuk konsephukum di antara para akhli hukum. Akan tetapi, perbedaan itusesungguhnya mengarah kepada cita hukum ( rechtsidee ) yangsama pada pola pikir para akhli hukum dalam membentuk konsepmengenai hukum. Cita hukum ( rechtsidee ) yang dimaksud, yakni :
ketertiban
dapat diperhitungkan (predictable)
kepastian hukum, dan
keadilan.Cita hukum ini harus memiliki bentuk, baik dalam tataranteoritis hingga pada tataran praktis. Pada tataran teoritis, citahukum berawal pada tahap interpretasi yang berujung pada tataran
 
praktis, yaitu implementasi. Pada tahap interpretasi, cita hukum iniberawal dari konsep hukum itu sendiri. Hal ini berkaitan denganunsur-unsur dalam pembentukan hukum yang selanjutnya akandiberlakukan.Selanjutnya, tahap interpretasi ini berakhir pada tahapimplementasi. Pada tahap ini hukum yang telah memiliki suatubentuk akan diberlakukan kepada masyarakat. Akibatnya, setiappihak yang berada dalam yurisdiksi hukum tersebut memiliki hakdan kewajiban berdasarkan hukum.Kedua tahap ini yakni interpretasi dan implementasi, memilikiketerkaitan yang sangat erat. Maksudnya, cita hukum sudah harustampak pada tahap interpretasi sehingga tidak menimbulkankesulitan dalam tahap implementasi.Permasalahan yang dapat terjadi bilamana cita hukum itutidak dapat dicapai baik dalam tataran tersebut di atas. Sebagaicontoh, ada kalanya suatu Undang-Undang (UU) tidak sepenuhnyameliputi keseluruhan dari cita hukum yang ada. Selintas mengenaiUU Pornografi, memang dirasa dapat mewujudkan suatu ketertibanbagi masyarakat dalam meningkatkan moral yang kemudian tujuanitu mendapatkan suatu bentuk kepastian dalam penegakannya.Akan tetapi, bila dilihat lagi, apakah dengan pemberlakuan UUtersebut dapat menciptakan keadilan bagi masyarakat Indonesiayang beranekaragam adat ?Keadilan merupakan permasalahan utama dalam prosespembentukan, pemberlakuan dan penegakan hukum. Keadilanmerupakan salah satu bagian dari cita hukum yang paling sulituntuk dicapai. Hal ini dikarenakan bahwa konsep keadilan sangatbersifat abstrak dan relatif. Maksudnya, setiap orang memilikipenilaian yang bersifat otonom dalam mengaplikasikan keadilan.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...