Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
DEFINISI

DEFINISI

Ratings: (0)|Views: 42 |Likes:
Published by Yana

More info:

Published by: Yana on Dec 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2013

pdf

text

original

 
DEFINISI
 
Trauma adalah cedera / rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional.Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguanemosional yang hebat.Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus sertatrauma yang disengaja atau tidak disengaja .3
ETIOLOGI
 Ada bermacam-macam penyebab trauma abdomen, diantaranya akibat lukatusuk, lukatembak, pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, dan kompresi pada penggunaan sabuk  pengaman.3
 
KLASIFIKASI
 Trauma pada dinding abdomen terdiri kontusio dan laserasi.
 
 
Kontusio
 
Dinding abdomen disebabkan trauma non-penetrasi. Kontusio dinding abdomen tidak terdapat cedera intra abdomen, kemungkinan terjadi eksimosis atau penimbunan darah dalam jaringan lunak dan masa darah dapat menyerupai tumor.2
 
 
Laserasi
 
Jika terdapat luka pada dinding abdomen yang menembus rongga abdomen harus dieksplorasi atau terjadi karena trauma penetrasi. Trauma Abdomen adalah terjadinyakerusakan pada organ abdomen yang dapat menyebabkan perubahan fisiologi sehinggaterjadi gangguan metabolisme,kelainan imonologi dan gangguan faal berbagai organ.2
 
PATOFISIOLOGI
 Jejas pada abdomen dapat disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam. Pada traumatumpul dengan velisitas rendah (misalnya akibat tinju) biasanya menimbulkan kerusakan satuorgan. Sedangkan trauma tumpul velisitas tinggi sering menimbulkan kerusakan organmultipel, seperti organ padat ( hepar, lien, ginjal ) dari pada organ-organ berongga.2,3 
TANDA DAN GEJALA
 
1.
 
Trauma tembus. Adalah trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritoneumyang menyebabkan hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ,respon stresssimpatis, perdarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri dan kematian sel.
 2.
 
Trauma tumpul. Adalah trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritoneumyang menyebabkan kehilangan darah, memar/jejas pada dinding perut dan kerusakanorgan-organ. Dapat diketahui dengan adanya nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas dankekakuan (rigidity)dinding perut.3
 
KOMPLIKASI
 
 
Perforasi
 
Gejala perangsangan peritonium yang terjadi dapat disebabkan oleh zat kimia ataumikroorganisme. Bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya lambung, maka terjadi
 
 perangsangan oleh zat kimia segera sesudah trauma dan timbul gejala peritonitis hebat.
 
Bila perforasi terjadi di bagian bawah seperti kolon, mula-mula timbul gejala karenamikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak. Baru setelah 24 jam timbulgejala-gejala akut abdomen karena perangsangan peritoneum.
 
Mengingat kolon tempat bakteri dan hasil akhirnya adalah faeses, maka jika kolon terlukadan mengalami perforasi perlu segera dilakukan pembedahan. Jika tidak segera dilakukan pembedahan, peritonium akan terkontaminasi oleh bakteri dan faeses. Hal ini dapatmenimbulkan peritonitis yang berakibat lebih berat.2,3
 
 
Perdarahan
 
Setiap trauma abdomen (trauma tumpul, trauma tajam, dan tembak) dapat menimbulkan perdarahan. Yang paling banyak terkena robekan pada trauma adalah alat-alat parenkim,mesenterium, dan ligamenta; sedangkan alat-alat traktus digestivus pada trauma tumpul biasanya terhindar. Diagnostik perdarahan pada trauma tumpul lebih sulit dibandingkandengan trauma tajam, lebih-lebih pada taraf permulaan. Penting sekali untuk menentukansecepatnya, apakah ada perdarahan dan tindakan segera harus dilakukan untuk menghentikan perdarahan tersebut.2,3
 
Sebagai contoh adalah trauma tumpul yang menimbulkan perdarahan dari limpa.Dalam taraf  pertama darah akan berkumpul dalam sakus lienalis, sehingga tanda-tanda umum perangsangan peritoneal belum ada sama sekali. Dalam hal ini sebagai pedoman untuk menentukan limpa robek (ruptur lienalis) adalah :
 1.
 
Adanya bekas (jejas) trauma di daerah limpa
 2.
 
Gerakkan pernapasan di daerah epigastrium kiri berkurang
 3.
 
 Nyeri tekan yang hebat di ruang interkostalis 9 - 10 garis aksiler depan kiri.8
 
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 
 
Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada usus besar ;kuldosentesi, kemungkinan adanya darah dalam lambung ; dan kateterisasi, adanyadarah menunjukkan adanya lesi pada saluran kencing.
 
 
Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine.
 
 
Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi.
 
 
IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap trauma salurankencing.
 
 
Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul perut yang diragukanadanya kelainan dalam rongga perut atau trauma tumpul perut yang disertai dengantrauma kepala yang berat, dilakukan dengan menggunakan jarum pungsi no 18 atau20 yang ditusukkan melalui dinding perut didaerah kuadran bawah atau digaris tengahdibawah pusat dengan menggosokkan buli-buli terlebih dahulu.
 
 
Lavase peritoneal : pungsi dan aspirasi/bilasan rongga perut dengan memasukkancairan garam fisiologis melalui kanula yang dimasukkan kedalam rongga peritonium.8
 
PENATALAKSANAAN ANESTESI TRAUMA ABDOMENA. PEMERIKSAAN AWAL
 Pemeriksaan awal untuk pasien trauma dapat dilakukan di tempat kejadian, diruang gawat
 
darurat, atau lebih jarang, di kamar operasi. Perawatan distandarisasi berdasarkan AdvancedTrauma Life Support (ATLS), yang dikembangkan oleh American Collage of Surgeon, yang protocol pertamanya berlaku tahun 1980. Idealnya, evaluasi trauma meliputi evaluasi yangterkoordinasi dengan baik oleh dokter jaga dan atau dokter bedah, perawat khusus danradiografer dengan kapabilitas yang sesuai. Dokter bedah saraf dan bedah ortopedi harus siapkapanpun diperlukan. Tujuan utama anestesiologis adalah untuk mempertahankan fungsisistem saraf, memelihara pertukaran gas respirasi yang adekuat dan homeostasis sirkulasi.7Berdasarkan protocol ATLS, eveluasi awal harus meliputi tiga komponen, penilaian cepat,survey primer dan survey sekunder :
 
 
Penilaian cepat : fase ini harus mengambil waktu beberapa detik saja dan harus dapatmenentukan apakah pasien stabil, tidak stabil, meninggal atau kritis.
 
 
Survey primer: evaluasi yang lebih detail dalam hal fungsi fisiologis yang pentinguntuk kehidupan, yang meliputi jalan napas, pernapasan dan sirkulasi. Jika terdaptganguan dari ketiga fungsi ini maka tindakan penanganan harus dilkukan segera.Penilaian disabilitas yang difokuskan pada pemeriksaan neurologis juga dilakukan pada fase ini.
 
 
Survey sekunder: evaluasi yang detail dan sistemik dari setiap regio anatomi.Disposisi ditentukan. Informasi dari pasien atau dari orang-orang di sekitar pasiendidapatkan untuk memperoleh data tentang penyakit lain yang dialaminya.7
 
B. MANAGEMEN JALAN NAFAS
 Anestesiologis memainkan peran penting dalam manjemen dini untuk pasien trauma untuk mengamankan jalan napasnya dan berperan pula sebagai konsultan untuk personel kegawatanyang lain. Evaluasi membutuhkan diagnosis trauma jaringan lunak, penilaian potensiobstruksi akut dan prediksi bertambah parahnya cidera yang mungkin akibat intervensi jalannapas yang menyebabkan:
Hipoksia
 Hipoksia pada sering trauma pada umumnya disebabkan oleh obstruksi jalan napas, apneu,cidera thorax, dan status sirkulasi yang buruk. Sianosis kadang sulit untuk dideteksi pada pasien yang anemis, hipovolemik dan pasien yang berpigmen kulit gelap. Pulse oxymetrisering diperlukan untuk menilai oksigenasi dan analisis gas darah arterial harus didapatkansecara dini jika terdapat keraguan. Oksigen supplemental harus diberikan, dan intervensi jalan napas definitif diambil jika terdapat kecurigaan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat.6Obstruksi jalan napas sering disebabkan oleh laserasi, sekresi, benda asing, fraktur, ataulaksitas jaringan pada pasien yang tidak sadar. Intrervensi awal meliputi oksigensupplemental, chin lift dengan jaw thrust, pembersihan orofaring dan pamasangan jalan napasoral atau nasal. Ventilasi harus dibantu jika diperlukan dengan menggunakan kantung yangdapat mengembag sendiri serta imobilisasi spinal cervical. 6
Manajemen Jalan Napas Definitif 
 Kontrol definitif jalan napas adalah penting untuk melindungi pasien dari aspirasi pulmoner dan obstruksi jalan napas, serta untuk mempertahankan perrtukaran gas selama dilakukannyaresusitasi. Indikasi mutlak untuk intubasi segera antara lain GCS kurang dari 9, ancamanshock, obstruksi jalan napas, pasien yang gelisah dan membutuhkan sedasi, trauma dadadengan hipoventilasi, hipoksia, dan henti jantung. Jika keputusan untuk melakukan intubasitelah dibuat, peran selang napas oral atau nasal hanya diberikan sementara untuk 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->