Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Adab Imam & Makmum Dalam Shalat Berjamaah

Adab Imam & Makmum Dalam Shalat Berjamaah

Ratings: (0)|Views: 37 |Likes:
Published by widjanarko

More info:

Published by: widjanarko on Dec 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2012

pdf

text

original

 
Adab Imam & Makmum
dalam
Shalat Berjama'ah
(Oleh: Armen Halim Naro) Seorang muslim yang baik, senantiasa berupaya untukmenyempurnakan setiap amalnya, karena hal itu merupakan buktikeimanannya. Kesempurnaan pelaksanaan shalat berjama'ahmerupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Persatuandan kesatuan umat Islam terlihat dari lurus dan rapatnya suatu shaf (dalam shalat berjama'ah), sebagaimana yang disabdakan olehRasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam:Hendaklah kalian luruskan shaf kalian,atau Allâh akan memecah belah persatuan kalian.
Pembahasan ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama,
Adab-adabImam
dan kedua,
Adab-adab Makmum
. Tidak diragukan lagi, bahwa tugas imam merupakan tugaskeagamaan yang mulia, yang telah diemban sendiri oleh Rasûlullâhshallallâhu 'alaihi wasallam dan juga Khulafa‘ ArRasyidin
radhiyallâhu'anhum
setelah beliau shallallâhu 'alaihiwasallam wafat.Banyak hadits yang menerangkan tentang fadhilah imam.Diantaranya sabda Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam, “Tigagolongan di atas unggukan misik pada hari kiamat,” kemudianbeliau menyebutkan, diantara mereka, (ialah) seseorang yangmenjadi imam untuk satu kaum sedangkan mereka (kaum tersebut)suka kepadanya. Pada hadits yang lain disebutkan, bahwa diamemperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang shalat dibelakangnya.
Akan tetapi –dalam hal ini– manusia berada di dua ujungpertentangan.Pertama, menjauhnya para penuntut ilmu dari tugas yang mulia ini,tatkala tidak ada penghalang yang menghalanginya menjadi imam.Dan yang kedua, –sangat disayangkan– masjid pada masa sekarangini telah sepi dari para imam yang bersih dan berilmu dari kalanganpenuntut ilmu dan ahli ilmu –kecuali orang-orang yang dirahmatioleh Allâh Ta'âla–.Bahkan kebanyakan yang mengambil posisi ini dari golongan orang-orang awam dan orang-orang yang bodoh. Semisal, dalam halmembaca al-Fatihah saja tidak tepat, apalagi menjawab pertanyaantentang sebuah hukum dalam agama. Mereka tidaklah maju kedepan, kecuali dalam rangka mencari penghasilan.
 
Secara tidak langsung, –para imam seperti ini– menjauhkan orang-orang yang semestinya layak menempati posisi yang penting ini.Hingga, –sebagaimana yang terjadi di sebagian daerah kaummuslimin– sering kita temui, seorang imam masjid tidak memenuhikriteria kelayakan syarat-syarat menjadi imam.Oleh karenanya, tidaklah aneh, kita melihat ada diantara merekayang mencukur jenggot, memanjangkan kumis, menjulurkanpakaiannya (sampai ke lantai) dengan sombong, atau memakaiemas, merokok, mendengarkan musik, atau bermu’amalah denganriba, menipu dalam bermua`amalah, memberi saham dalam halyang haram, atau istrinya ber-tabarruj, atau membiarkan anak-anaknya tidak shalat, bahkan kadang-kadang sampai kepadaperkara yang lebih parah dari apa yang telah kita sebutkan diatas”.
Berikut ini, akan dijelaskan tentang siapa yang berhak menjadiimam, dan beberapa adab berkaitan dengannya.
Pertama: Menimbang diri, apakah dirinya layak menjadiimam untuk jama’ah, atau ada yang lebih afdhal darinya?
Penilaian ini tentu berdasarkan sudut pandang syari’at. Diantarayang harus menjadi penilaiannya ialah:
Jika seseorang sebagai tamu, maka yang berhak menjadi imam ialah tuan rumah, jika tuan rumah layak menjadi imam.Penguasa lebih berhak menjadi imam, atau yang mewakilinya. Maka tidaklah bolehmaju menjadi imam, kecuali atas izinnya. Begitu juga orang yang ditunjuk oleh penguasa sebagai imam, yang disebut dengan imam rawatib.Kefasihan dan kealiman dirinya. Maksudnya, jika ada yang lebih fasih dalammembawakan bacaan Al Qur'an dan lebih ‘alim, sebaiknya dia mendahulukanorang tersebut. Hal ini ditegaskan oleh hadits yang diriwayatkan Abi Mas`ud AlBadri
radhiyallâhu'anhu
.Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:Yang (berhak) menjadi imam (suatu) kaum,ialah yang paling pandai membaca Kitabullah.Jika mereka dalam bacaan sama,maka yang lebih mengetahui tentang sunnah.
 
Jika mereka dalam sunnah sama,maka yang lebih dahulu hijrah.Jika mereka dalam hijrah sama,maka yang lebih dahulu masuk Islam(dalam riwayat lain: umur).Dan janganlah seseorang menjadi imam terhadap yang laindi tempat kekuasaannya (dalam riwayat lain: di rumahnya).Dan janganlah duduk di tempat duduknya,kecuali seizinnya.
 Seseorang tidak dianjurkan menjadi imam, apabila jama’ah tidak menyukainya.Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu
radhiyallâhu'anhu
disebutkan:Tiga golongan yang tidak terangkat shalat merekalebih satu jengkal dari kepala mereka:(Yaitu) seseorang menjadi imam suatu kaumyang membencinya...
Berkata Shiddiq Hasan Khan
rahimahullâh
:”Dhahir hadits yang menerangkan hal ini, bahwa tidak ada perbedaan antara orang-orang yang membenci dari orang-orang yang mulia (ahli ilmu, pent), atau yanglainnya. Maka, dengan adanya unsur kebencian, dapat menjadi udzur bagi yanglayak menjadi imam untuk meninggalkannya.Kebanyakan, kebencian yang timbul –terkhusus pada zaman sekarang ini– berasaldari permasalahan dunia. Jika ada di sana dalil yang mengkhususkan kebencian,karena kebencian (didasarkan, red.) karena Allâh, seperti seseorang membenciorang yang bergelimang maksiat, atau melalaikan kewajiban yang telah dibebankankepadanya, maka kebencian ini bagaikan kibrit ahmar (ungkapan untuk menunjukkan sesuatu yang sangat langka, pen.). Tidak ada hakikatnya, kecuali pada bilangan tertentu dari hamba Allâh.(Jika) tidak ada dalil yang mengkhususkan kebencian tersebut, maka yang lebihutama, bagi siapa yang mengetahui, bahwa sekelompok orang membencinya –tanpasebab atau karena sebab agama– agar tidak menjadi imam untuk mereka, pahalameninggalkannya lebih besar dari pahala melakukannya.
Berkata Ahmad dan Ishaq:”Jika yang membencinya satu, dua atau tiga, maka tidak mengapa ia shalat bersamamereka, hingga dibenci oleh kebanyakan kaum.”
Kedua: Seseorang yang menjadi imam harus mengetahuihukum-hukum yang berkaitan dengan shalat, dari bacaan-bacaan shalat yang shahih, hukum-hukum sujud sahwi danseterusnya.
Seringkali kita mendapatkan seorang imam memiliki bacaan yangsalah, sehingga merubah makna ayat, sebagaimana yang pernahpenulis dengar dari sebagian imam yang sedang membawakan

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->