Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Telaah Pemikiran Muh.syahrur

Telaah Pemikiran Muh.syahrur

Ratings: (0)|Views: 26 |Likes:
Published by Abu Zubair

More info:

Published by: Abu Zubair on Dec 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2013

pdf

text

original

 
 
Telaah Pemikiran Muhammad Syah
}
r
ū
rMarjudi
Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel
Abstrak 
Penelitian ini bertujuan untuk mentelaah pemikiran Muhammad Syah
}
ū
r berkaitandengan pendapatnya tentang Sunnah Nabi. Ada beberapa pokok persoalan yang dikajioleh Syah
}
ū
r, diantaranya adalah asal usul, definisi dan fungsi Sunnah Nabi sebagaisumber hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-fenomenologis.Analisis dilakukan untuk mengkaji implikasi gagasannya terhadap upaya pmbaharuanhukum Islam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua bentuk Sunnah, yaituSunnah sebagai konsep metodologis dalam menerapkan hukum al Qur’an, dan Sunnah Nabi sebagai aturan praktis. Sedangkan fungsi Sunnah menurut Syah
}
ū
r adalah sebagaitransformasi (
tahwi
) bagi al Qur’an. Pendapat Syah
}
ū
r ini berimplikasi pada persoalanotoritas Sunnah, menurutnya, Sunnah Nabi mempunyai kekuatan memaksa untuk ditaatioleh umat Islam, namun tingkat ketaatan itu hanya sebatas pada esensi (
madmu
n
) saja.Hal ini dikarenakan, Syah
}
ū
r melihat Sunnah sebagai pengalaman hasil dialektika antaranorma kewahyuan dangan realitas-realitas khusus yang tidak dapat saling menafikan satusama lain, sehingga akan selalu melahirkan tesa-tesa baru yang dinamis sejalan dengan perkembangan sosial kemasyarakatan. Oleh karenanya, model pembaharuan hukum Islamyang ditawarkan oleh Syah
}
ū
r lebih berwajah fundamental, dekonstruktif, danrekonstruktif dengan pola
tajdi
yang banyak menawarkan alternatif hukum, langkah-langkah antisipatif terhadap perubahan, respon positif terhadap semangat modernitasseperti demokrasi, HAM, pluralisme serta dapat mengakomodir unsur-unsur budaya lokalyang partikularstik.
 Kata Kunci
Muhammad Syah
}
ū
r, Sunnah Nabi, Hukum Islam
Pendahuluan
Sunnah memiliki kedudukan istimewa dalam hukum Islam, karena kekuatan otoritatif yang dimilikinya. Posisi yang demikian penting meletakkan Sunnah sebagai salah satusumber yang harus dijadikan referensi dalam pengambilan dan penetapan hampir setiapkeputusan hukum. Jika otoritas Sunnah sebagai sumber hukum telah disepakati olehhampir semua muslim, maka tidak demikian dengan persoalan bagaimana memahamiSunnah tersebut.Dalam pemikiran Islam klasik, persoalan bagaimana memahami Sunnah sebagai sumber yang otoritatif telah menjadi lahan yang luas dan mendalam. Pada abad-abad pertamaIslam telah terjadi pertarungan pemikiran yang sengit antara
ahl al-hadits
dan
ahl ar-ra’yi
dalam melihat persoalan ini. Perdebatan tersebut di satu sisi membawa hukum Islam masaawal dalam suasana pemikiran yang penuh dinamika dan kreativitas. Pada era inilah lahir  puluhan aliran hukum dengan beragam corak kecenderungan metodologis maupun warnakedaerahannya. Sementara di sisi lain, aneka ragam aliran yang muncul tersebutmenyebabkan terjadinya suasana ketidak pastian hukum sebagai akibat perbedaan dalammemberikan fatwa atau mengambil keputusan oleh lembaga yudikatif di berbagai daerah.Walaupun demikian, masing-masing pihak tetap mengklaim putusan hukumnya valid dan berasal dari Sunnah.Suasana di atas, telah mendorong al-Syafi’i (w. 204 H/820 M) untuk membuat konsep baru tentang Sunnah Nabi sebagai sumber hukum Islam. Menurut al-Syafi’i, Sunnah yang
 
 
valid hanya terdapat dalam teks hadits yang diperoleh lewat metode transmisi periwayatan tertentu, dan bukan dengan cara yang lain. Dengan batasan demikian berartiSunnah identik dengan hadits, yaitu informasi tentang Nabi sebagaimana yang terdapatdalam kitab-kitab koleksi hadits yang umumnya ditulis pada abad ke 3 H. oleh karenahadits yang menjadi media untuk mengakses Sunnah diekspresikan dalam bahasa Arab,maka pemahaman yang benar tentang Sunnah Nabi adalah yang sesuai dengan logika dari bahasa Arab itu sendiri, padahal jelas logika suatu bahasa sangat dipengaruhi olehkarakter budaya dan lingkungan pemakainya dan belum tentu sesuai bagi pengguna bahasa yang berbeda.Kensep al-Syafi’i tentang Sunnah seperti di atas, sangat berpengaruh terhadap model pemahaman Sunnah, sekaligus dalam pembentukan corak hukum Islam di masa berikutnya. Pemahaman Sunnah dengan penekanan pada
qaidah lughawiyah
yangditawarkannya, pada satu sisi semakin mengkokohkan dominasi kelompok 
ahl al-hadits
 yang cenderung tekstualis, namun pada saat bersamaan justru memperlemahkecenderungan rasional dan kontekstual yang diwakili oleh kelompok 
ahl al-ra’yi.
 Realitas ini, terlihat dalam literatur usul al-fiqh klasik yang pembahasannya lebih banyak  berkutat pada pencarian makna lafal dan implikasi petunjuk yang dikandungnya.Pemahaman Sunnah dengan pendekatan yang cenderung tekstual atau
bayani
memanglebih praktis, untuk tidak mengatakan pragmatis, dan siap pakai dalam menjawab persoalan sederhana sehari-hari, namun dalam perkembangan jangka panjang, pendekatanini tenyata dirasakan sulit untuk merespon realitas sosial dan politik umat Islam yangterus berubah dengan cepat. Berbagai persoalan baru yang selalu bermunculanmembutuhkan ketetapan hukum secara lebih dinamis, kreatif dan inovatif.Oleh karena itu, pada abad-abad pertengahan mulai terjadi pergeseran pemahaman. Al-Syatibi misalnya, menawarkan metode
istiqra’i
(induktif), atau
al-qarafi
mengajukankonsep tiga klasifikasi perilaku Nabi. Walaupun demikian, konsep pemahaman yangmereka tawarkan masih tidak dapat melepaskan diri dari metodologi hermeneutika klasik yang literal dan terikat oleh dunia teks. Oleh karena itu, pemikiran hukum Islam yangmereka tawarkan tidak banyak bergeser dari struktur fundamental pemikiran sebelumnya,sehingga sulit untuk menjawab berbagai perubahan sosial yang cepat dalam masyarakatIslam.Memasuki era modern umat Islam dihadapkan kepada tantangan ganda. Di satu sisi harus berjuang melepaskan diri dari kolonialisme, untuk kemudian berusaha mengejar ketertinggalan melalui modernisasi. Di sisi lain umat Islam harus menerima dampak modernisasi tersebut dengan masuknya ide-ide pembaharuan serta budaya Barat modernseperti egaliterianisme, sekularisasi, dan isu-isu gender. Nilai dan tatanan yang terkandung dalam modernitas ini, jauh berbeda dari suasana eraklasik atau abad tengah, ketika konsep hukum Islam dirumuskan atau ketika Sunnahsebagai sumber hukum ditetapkan. Masuknya berbagai nilai ini, membawa perubahanmendasar dan drastis terhadap norma maupun struktur tradisi dalam masyarakat muslimyang telah mapan, baik sosial, politik maupun budaya. Perubahan yang cepat itu,menyebabkan terjadinya kesenjangan antara teori hukum Islam yang telah dianggap stabildan realitas sosial, politik yang terus berubah. Bahkan lebih mendasar lagi, perubahan itutelah mendorong terjadinya anomali dalam hukum Islam, baik teori maupun materi,karena konsep-konsep yang ditawarkan tidak mampu memberikan jawaban yang relevandan kontekstual terhadap persoalan hukum yang dihadapi di dunia modern.Dihadapkan pada realitas demikian, reformasi hukum merupakan salah satu cara yangmutlak harus dilakukan, agar dapat menyelasaikan krisis pemikiran dan keterbelakanganumat Islam. Pembaharuan hukum dimaksud tentu harus berangkat dari upaya memahamisecara tepat teks-teks yang menjadi sumber hukum itu sendiri, terutama teks Sunnah
 
 
 Nabi. Persoalan Sunnah Nabi sebagai sumber hukum Islam penting dikaji, sebab memangSunnah merupakan sumber terbanyak dalam menyediakan materi hukum Islam, lebihdetail, operasional, dan banyak dirujuk oleh kalangan hukum Islam masa lalu. Selain itu,al-Sunnah juga menjadi wilayah paling kontroversial antara perspektif optimis dan pesimis terhadap nilai relevansinya pada masa modern.Dalam kerangka upaya tersebut, Syah Wali Allah al-Dahlawi (w. 1762 M.) dari kalanganmodernis awal misalnya, telah membedakan antara Sunnah Risalah dalam bidang hukumdan ibadah yang harus diikuti, dan Sunnah Non Risalah dalam kehidupan praktis sehari-hari yang tidak mengikat. Konsep serupa kemudian juga dikemukakan oleh MahmudSyaltut, seorang modernis abad ke 21 M., namun konsep pemahaman Sunnah yangmereka kemukakan ternyata tidak berimplikasi kepada pembaharuan hukum Islam yangessensial fundamental melainkan bersifat partikular prosedural. Pemikiran hukum yangdihasilkan, tidak banyak bergeser dari nuansa pemikiran klasik, bersifat tambal sulamatau hanya berkutat dalam wilayah persoalan hukum yang praktis, eksklusif dan berlakuinternal bagi umat Islam. Konsep demikian tentu tidak siap merespon tantanganmodernitas sehingga mengalami kegamangan ketika berhadapan dengan persolankontemporere yang serba pluralistis dan belum ada pada zaman Nabi atau pada era ketikaSunnah diformulasikan dalam bentuk hadits. Hal ini tentu saja tidah banyak membantudalam memberikan kontribusi perubahan atau menciptakan solusi terhadp problem besar yang serba komplek yang dihadapi umat Islam sekarang.Menghadapi tiga problema tersebut, di kalangan pemikir Islam kontemporer munculupaya keras untuk mereformasi hukum Islam yang secara eksklusif dilakukan denganmemahami dan mengkonsep ulang Sunnah Nabi yang menjadi salah satu sumber essensial hukum Islam tersebut. Di antara pemikir muslim terkemuka saat ini adalamMuhammad Syah
}
ū
r , ia merupakan salah seorang pemikir Islam liberal saat ini.Syah
}
ū
r berpendapat bahwa Sunnah merupakan sumber penting bagi pembinaan hukumIslam modern. Ia melihat bahwa fungsi Sunnah tidak lain hanya sebagai penjelas dan penafsir bagi al-Qur’an dalm bentuk praktis. Pola pembaruan dan metodologi pemahamanSunnah yang dikemukakan menarik untuk dikaji, karena berimplikasi terhadap modelhukum Islam yang ia konsepsikan mampu menjawab persoalan kontemporer, strategisdan aktual yang dihadapi umat Islam saat ini, terutama yang terkait dengan demokrasi,gender dan hak asasi manusia, sebab tiga persolan inilah yang banyak disorot danmenjadi titik krusial dalam hukum Islam era modern. Menurut Syah
}
ū
r ada 4 (empat)masalah pokok yang membentuk kerangka dasar dalam memahami Sunnah sebagaisumber hukum Islam, yaitu hakekat asal usul Sunnah sebagai wahyu atau ijtihad,definisinya, fungsinya, dan otoritas dalam menetapkan hukum.Muhammad Syah
}
ū
r , adalah seorang pemikir Islam yang lahir pada tahun 1931 M diSyiria, ia mengemukakan pemikiran keislaman yang unik sekaligus kontroversial,terutama dalam menafsirkan Sunnah. Menurutnya, dasar asasi hukum Islam adalah al-Qur’an dan al-Sunnah bukan al-Qur’an dan al-Hadits. Definisi Sunnah Nabi menurutSyah
}
ū
r , adalah metode ijtihad Nabi dalam menerapkan hukum-hukum al-Qur’an, secaramudah dan ringan, dengan memperhatikan realitas obyektif yang menjadi wadah penerapan hukum tersebut, baik dengan ketetapan yang masih berkisar di antara
h
udu
 (batas maksimal dan minimal) dalam al-Qur’an, atau langsung mengambil
h
udu
yangtelah ada atau membuat
h
udu
sementara dalam masalah yang tidak diatur secara khususdalam al-Qur’an.Sejalan dengan pengertian tersebut, Nabi berfungsi untuk mentransformasikan sesuatuyang mutlak, yaitu wahyu atau al-Qur’an, menjadi sesuatu yang nisbi, yaitu Sunnah.Dengan pengertian demikian, Sunnah hanya muncul dalam bentuk metodologi untuk membangun sistem hukum, dan tidak menyediakan ketetapan hukum untuk kasus-kasus

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->