Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
70Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Implementasi Manajemen Mutu Terpada Pendis

Makalah Implementasi Manajemen Mutu Terpada Pendis

Ratings:

4.72

(18)
|Views: 25,767|Likes:
Published by Moh. Mujib

More info:

Published by: Moh. Mujib on Feb 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See More
See less

01/14/2013

 
IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU TERPADU PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisri
IPENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia dimana berbagai permasalahan dapat dipecahkan denganupaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain manfaat bagikehidupan manusia di satu sisi perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, makasebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber dayamanusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakankenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani eraglobalisasi tersebut.Berbicara mengenai kualitas sumber daya manusia, pendidikan memegang peran yangsangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitassumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupayamewujudkan amanat tersebut melalui berbagai usaha pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pelatihan bagiguru dan tenaga kependidikan lainnya. Tetapi pada kenyataannya upaya pemerintah tersebut belum cukup berarti dalam meningkatkan kuailtas pendidikan. Salah satu indikator kekurang berhasilan ini ditunjukkan antara lain dengan hasil ujian nasional siswa untuk berbagai bidangstudi pada jenjang SLTP dan SLTA yang tidak memperlihatkan kenaikan yang berarti bahkan boleh dikatakan konstan dari tahun ke tahun, kecuali pada beberapa sekolah/madrasah dengan jumlah yang relatif sangat kecil.Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikanselama ini kurang atau tidak berhasil.
1
 
 Pertama,
strategi pembangunan pendidikan selama inilebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar)dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenagakependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) akandapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan. Ternyatastrategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek,1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah/madrasah), melainkanhanya terjadi dalam institusi ekonomi dan industri.
 Kedua
, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkatmakro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro(sekolah/madrasah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.
1
Dr. Umedi, M.Ed.,
Manajemen Mutu Berbasis Sekolah/Madrasah (MMBS/M)
, (Jakarta: Pusat KajianMutu Pendidikan, 2004).
1
 
Diskusi tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan tetapi juga haruslebih memperhatikan faktor proses pendidikan. Input pendidikan merupakan hal yang mutlak harus ada dalam batas-batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan dapat secara otomatismeningkatkan mutu pendidikan (school resources are necessary but not sufficient condition toimprove student achievement). Disamping itu mengingat sekolah/madrasah sebagai unit pelaksana pendidikan formal terdepan dengan berbagai keragaman potensi anak didik yangmemerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu denganlainnya, maka sekolah/madrasah harus dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannyauntuk mengupayakan peningkatan kualitas/mutu pendidikan. hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah/madrasah dengan berbagai keragamannya itu, diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya. Walaupun demikian, agar mutu tetap terjaga dan agar proses peningkatan mutu tetapterkontrol, maka harus ada standar yang diatur dan disepakati secara nasional untuk dijadikanindikator evaluasi keberhasilan peningkatan mutu tersebut (adanya benchmarking). Pemikiranini telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu pendidikan di masa mendatang harus berbasis sekolah/madrasah sebagai institusi paling depandalam kegiatan pendidikan.Pokok bahasan dalam makalah yang berjudul
 Implementasi Manajemen MutuTerpadu Pendidikan Islam
”, penulis membagi dalam kisi-kisi sebagai berikut :
o
Pengertian Mutu
o
Pengertian dan Prinsip Mutu Terpadu
o
Manfaat Program Mutu Terpadu (TQM)
o
Peranan Pemimpin dan Staf dalam Implementasi Mutu Terpadu (TQM)
o
Hambatan dalam peningkatan kualitas
o
Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Madrasah
IIPEMBAHASAN
A.
Pengertian Mutu
Dalam kerangka umum, mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupunyang intangible. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam "proses pendidikan" yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi(bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah/madrasah, dukungan administrasi dansarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif.Manajemen sekolah/madrasah, dukungan kelas berfungsi mensinkronisasikan berbagaiinput tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajamengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas; baik konteks kurikuler maupun ekstra-kurikuler, baik dalam lingkup subtansi yangakademis maupun yang non-akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Mutu dalam konteks "hasil pendidikan" mengacu pada prestasi yang dicapaioleh sekolah/madrasah pada setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester, akhir tahun, 2 tahun atau 5 tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan(student achievement) dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan2
 
umum, Ebta atau UAN). Dapat pula prestasi di bidang lain seperti prestasi di suatu cabangolah raga, seni atau keterampilan tambahan tertentu misalnya: komputer, beragam jenisteknik, jasa. Bahkan prestasi sekolah/madrasah dapat berupa kondisi yang tidak dapatdipegang (intangible) seperti suasana disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan,dan sebagainya.Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar  proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam arti hasil (ouput) harusdirumuskan lebih dahulu oleh sekolah/madrasah, dan harus jelas target yang akan dicapaiuntuk setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalumengacu pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai. Dengan kata lain tanggung jawabsekolah/madrasah dalam school based quality improvement bukan hanya pada proses,tetapi tanggung jawab akhirnya adalah pada hasil yang dicapai . Untuk mengetahuihasil/prestasi yang dicapai oleh sekolah/madrasah, terutama yang menyangkut aspek kemampuan akademik atau "kognitif" dapat dilakukan benchmarking (menggunakan titik acuan standar, misalnya: NEM oleh KKG atau MGMP). Evaluasi terhadap seluruh hasil pendidikan pada tiap sekolah/madrasah baik yang sudah ada patokannya (benchmarking)maupun yang lain (kegiatan ekstra-kurikuler) dilakukan oleh individu sekolah/madrasahsebagai evaluasi diri dan dimanfaatkan untuk memperbaiki target mutu dan proses pendidikan tahun berikutnya. Dalam hal ini RAPBS harus merupakan penjabaran daritarget mutu yang ingin dicapai dan skenario bagaimana mencapainya.
B.Pengertian dan Prinsip Mutu Terpadu
Mendefinisikan mutu / kualitas memerlukan pandangan yang komprehensif. Ada beberapaelemen bahwa sesuatu dikatakan berkualitas, yakni;
2
 1.Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan2.Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan3.Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah (apa yang dianggap berkualitas saatini mungkin dianggap kurang berkualitas pada saat yang lain)4.Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.Mutu terpadu atau disebut juga Total Quality Management (TQM) dapat didefinisikan daritiga kata yang dimilikinya yaitu: Total (keseluruhan), Quality (kualitas, derajat/tingkatkeunggulan barang atau jasa), Management (tindakan, seni, cara menghendel, pengendalian, pengarahan). Dari ketiga kata yang dimilikinya, definisi TQM adalah:“sistem manajemen yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction)dengan kegiatan yang diupayakan benar sekali (right first time), melalui perbaikan berkesinambungan (continous improvement) dan memotivasi karyawan “ (Kid Sadgrove,1995)
3
 Seperti halnya kualitas, Total Quality Management dapat diartikan sebagai berikut;
4 
1)Perpaduan semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas, dan pengertian serta kepuasan pelanggan (Ishikawa, 1993, p.135). 2) Sistem manajemen yang mengangkat kualitas
2
Fandy Tjiptono & Anastasia Diana,
Total Quality Management 
, (Yogyakarta: Penerbit ANDI, 2003),hlm. 3-4
3
Drs. Zulian Yamit, Msi,
Manajemen Kualitas Produk Dan Jasa
, (Yogyakarta: CV Adipura, 2001), hlm.181.
4
Op cit, hlm. 4
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->