/  12
 
Review Hasil Penelitian Islam Perspektif Ekonomi
(PARADIGMA EKONOMI ISLAM SYED NAWAB HAIDIR NAQVI)
Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisri
IPENDAHULUAN DAN METODE PENELITIAN
Pemikiran ekonomi Islam diawali sejak Muhammad saw dipilih sebagai seorangRasul (utusan Allah). Rasulullah saw mengeluarkan sejumlah kebijakan yangmenyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan hidup masyarakat,selain masalah hokum (fiqh), politik (siyasah), juga masalah perniagaan atau ekonomi(muamalat). Masalah-masalah ekonomi umat menjadi perhatian Rasulullah saw,karena masalah ekonomi merupakan pilar penyangga keimanan yang harusdiperhatikan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah saw bersabda,“kemiskinan membawa orang kepada kekafiran”. Maka upaya untuk mengentaskemiskinan merupakan bagian dari kebijakan-kebijakan social yang dikeluarkanRasulullah saw.Selanjutnya kebijakan-kebijakan Rasulullah saw menjadi pedoman oleh para penggantinya Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin AbiThalib dalam memutuskan masalah-masalah ekonomi. Al-Qur’an dan Al-Haditsdigunakan sebagai dasar teori ekonomi oleh para khalifah juga digunakan oleh para pengikutnya dalam menata kehidupan ekonomi Negara.Perkembangan pemikiran ekonomi Islam pada masa Nabi Muhammad saw belum berkembang, hal ini disebabkan karena masyarkat pada saat itu langsungmempraktekannya dan apabila menemui persoalan dapat menanyakan langsungkepada Nabi. Sementara secara kontekstual persoalan ekonomi pada masa itu belum begitu kompleks. Secara mikro praktek ekonomi yang dilakukan oleh Nabi dan parasahabat pada masa itu sarat dengan unsur economic justice dalam kerangka etika bisnis yang Qur’ani.Pemikiran ekonomi baru menunjukkan sosoknya sepeninggal Nabi dan kehidupansocial ekonomi masyarakat semakin berkembang. Pemikiran ekonomi Islam mulaididokumentasikan kurang lebih sejak tiga abad semenjak wafatnya Nabi. Beberapayang cukup terkenal antara lain Abu Yusuf 
1
(731-798), Yahya ibn Adham (818), El-Hariri (1054-1122), Tusi ((1201-1274), Ibn Taymiyah (1262-1328), Ibn Khaldun(1332-1406) dan Shah Waliullah (1702-1763). Setelah itu muncul pemikir-pemikir kontemporer abad ke-20 antara lain Fazlur Rahman, Baqir As-Sadr, Ali Shariati,Khurshid Ahmad, M. Nejatullah Shiddiqi, M. Umar Chapra, M. Abdul Mannan, Anas
1
Dikenal sebagai Qadi (hakim), bahkan Qadi Al-Qudah, Hakim Agung, sebuah jabatantertinggi dalam lembaga peradialan . Nama lengkapnya ialah Ya’qub bin Ibrahim bin Habib al-Ansarilahir di Kufah tahun 113 H. Hadits diperolehnya dari Abu Ishaq al Syaibani, Sulaiman al Taymi, Yahya bin Said al-Anasari, A’masi, Hisyam bin Urwah, Ata’ bin Sa’ib dan Muhammad Sihaq bin Yasir. Lihatdi Abdullah Mustofa Al-Maraghi,
 Review Penelitian Islam Dalam Perspektif Ekonomi Oleh Mujib Zunun @l-Misri@2008
1
 
Zarqa, Monzer Kahf, Syed Nawab Haider Naqvi, M. Syafii Antonio. M. Azhar Basyir.Sistem ekonomi Islam mempunyai ciri ketuhanan dan moral, selain itu juga berkarakter kemanusiaan. Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa kemanusiaan bertolak belakang dengan ketuhanan sehingga keduanya tidak bisa digabungkan.Persepsi tersebut tidak benar. Setidaknya, mereka yang menduga seperti itu lupa bahwa ide kemanusiaan berasal dari Allah. Allahlah yang memuliakan manusia danmenjadikannya khalifah di bumi.Tujuan ekonomi Islam adalah menciptakan kehidupan manusia yang aman dansejahtera. Yang dimaksud
manusia
di sini ialah semua golongan manusia, baisebagai individu atau sebagai anggota masyarakat. Jika sistem ekonomi Islam itu bersandarkan pada nash Al-Qur’an dan as-Sunnah yang berarti nash ketuhanan makamanusia berperan sebagai yang diserukan dalam nash itu. Dalam ekonomi manusiaadalah tujuan dan sarana. Manusia diwajibkan melaksanakan tugasnya terhadapTuhannya, terhadap dirinya, keluarganya, umatnya dan seluruh umat manusia.Manusialah yang menjadi wakil Allah di bumi ini,
2
 serta memakmurkannya.
3
Dalam buku ini, Prof. Naqvi memperluas metodologinya untuk mengkaji danmenjelaskan prilaku ekonomi muslim “teladan” dalam sebuah kehidupan nyata dankhas masyarkat muslim. Ini merupakan langkah maju yang penting menuju pengembangan ilmu ekonomi Islam suatu disiplin ilmiah. Implikasi pendekatan inicukup menantang. Dengan tajam, pendekatan ini menyoroti sejumlah dimensi yangtetap tersembunyi di bawah metodologi “abstraksi” dan asumsi “universalitas” prilaku ekonomi.Dengan demikian, dalam ekonomi Islam, manusia dan faktor kemanusiaanmerupakan unsur utama. Faktor kemanusiaan dalam ekonomi Islam terdapat dalamkumpulan etika yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan hadis serta tertulis di dalam buku-buku klasik (
turāts
) yang mencakup etika, kebebasan, kemuliaan, keadilan,sikap moderat, dan persaudaraan sesama manusia.Islam juga menganjurkan kasih sayang sesama manusia terutama kaum lemah, anak yatim, miskin papa, dan yang terputus dalam perjalanan. Islam mengajarkan sikap bertenggang rasa kepada para janda, tua renta, dan orang yang tidak sanggup bekerja.Buah yang dipetik dari etika ini ialah diakuinya oleh Islam milik individu, dengansyarat barang itu diperoleh dengan jalan halal. Islam juga menjaga milik individudengan segala undang-undang dan etika. Adalah hak manusia untuk menjaga hak milik dan hartanya dari siapa saja yang ingin merusak.Salah satu tanda yang jelas tentang ciri kemanusiaan pada ekonomi Islam ialah penyediaan sarana yang baik untuk manusia. Sebagai tatanan ekonomi, Islammenganjurkan manusia bekerja dan berusaha. Bekerja dan berusaha yang dilakukanoleh manusia itu diletakkan Allah pada timbangan kebaikan mereka. Tidak aneh
2
 QS. al-Bqarah: 30
3
 QS. Hūd: 61
 Review Penelitian Islam Dalam Perspektif Ekonomi Oleh Mujib Zunun @l-Misri@2008
2
 
apabila seorang muslim yang menjunjung kehidupan yang baik ini akan mendapatkanganjaran bila ia tekun bekerja. Dalam rangka menjunjung kehidupan, manusia telahdikaruniai berbagai kenikmatan untuk memenuhi kebutuhannya baik materialmaupun spiritual.
IIHasil Penelitian dan Pembahasan
 Sistem Ekonomi Islam
Ekonomi Islam dapat didefinisikan sebagai sebuah studi tentang pengelolaan harta benda menurut perpektif Islam
4
. Ekonomi Islam sebagai ilmu ekonomi didasarkanatas sumber hukum Islam; Al-Qur’an dan Al-Hadits.
5
Secara epistemologis, ekonomi Islam dibagi menjadi dua disiplin ilmu;
6
 Pertama
,
ekonomi Islam normatif 
, yaitu studi tentang hukum-hukum syariah Islam yang berkaitan dengan urusan harta benda (al-mâl). Cakupannya adalah: (1) kepemilikan(al-milkiyah), (2) pemanfaatan kepemilikan (tasharruf fi al-milkiyah), dan (3)distribusi kekayaan kepada masyarakat (tauzi’ al-tsarwah baina al-nas).
 Kepemilikan (al-milkiyah)
, artinya bahwa Keinginan untuk memiliki hartamendorong adanya berbagai aktivitas ekonomi dalam masyarakat. Berbagai aktivitasekonomi muncul agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembangseiring dengan semakin maju kehidupan masyarakat. Keinginan untuk memiliki hartayang banyak mendorong seseorang untuk mau bekerja keras dari pagi sampai malam pada berbagai bidang ekonomi. Fenomena ini juga ditegaskan oleh Allah Swt dalamAl-Qur’an Surat Ali Imron ayat 14 :
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenagan hidup di dunia dandisisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”
Islam memiliki pandangan yang khas mengenai masalah harta di mana semua bentuk kekayaan pada hakekatnya adalah milik Allah SWT. Demikian juga harat atau
4
An-Nabhani, Taqiy Al-Din. 1990.
 An-Nizham Al-Iqtishadi fi Al-Islam
.. Beirut : Dar Al-Ummah. Lihat juga : Muhammad Abdul Mannan, (1993)
Teori dan Praktek Ekonomi Islam
(terj),
Dana Bakti Wakaf, Yogyakarta, 19. Lihat juga : M.M. Metwally (1995),
Teori dan Model  Ekonomi Islam
(terj)
, Bangkit Daya Insani, Jakarta, 1
5
Selain Al-Qur’an, Al-Hadits, sumber hukum lain adalah Ijma’ Ijtihad, dan Qiyas,sedangkan sumber hukum ekonomi Islam lainyang diakui oleh empat madzhab adalah Istihsan,Istislah, dan Istishab. Lihat Muhammad Abdul Mannan, (1993)
Teori dan Praktek Ekonomi  Islam
(terj),
Dana Bakti Wakaf, Yogyakarta, 34-38. Selain itu Mashlahah Musrsalah dan ‘urf (adatkebiasaan) merupakan sumber hukum yang juga harus diperhatikan. Lihat Ahamad Azhar Basyir,(1987)
Garis Besar Sistem Ekonomi Islam
, BPFE, Yogyakarta, 16-18
6
Muhammad Abdul Mannan, (1993)
Teori dan Praktek Ekonomi Islam
(terj),
DanaBakti Wakaf, Yogyakarta, 9-17. Lihat juga : Heri Sudarsono,
 Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar 
, Ekonisia UII Yogayakarta, 2002, 53
 Review Penelitian Islam Dalam Perspektif Ekonomi Oleh Mujib Zunun @l-Misri@2008
3

Share & Embed

More from this user

Recent Readcasters

Add a Comment

Characters: ...

brurrleft a comment

i like it