Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Manufacturing Hope 40-49

Manufacturing Hope 40-49

Ratings: (0)|Views: 106|Likes:
Published by Fahmi Arif

More info:

Published by: Fahmi Arif on Dec 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/26/2014

pdf

text

original

 
Tidak bayi tergencet, akuarium pun Jadi
Senin, 3 September 2012
Manufacturing Hope 41
 Hari itu wartawan foto berbondong ke Stasiun Pasar Senen, Jakata.Semua wartawan (he he he, saya pun dulu begitu) sudah hafal ini:stasiun Senen adalah objek berita yang paling menarik di setiapmenjelang lebaran.Tidak usah menunggu perintah redaksi, wartawan pun tahu. KeSenenlah cara terbaik untuk mendapat foto terbaik (baca: foto yangmenyedihkan): antrean yang mengular, bayi yang terjepit di gendongan,orang tua yang tidur kelelahan di dekat toilet, anak kecil yang dinaikkankereta lewat jendela, wanita yang kegencet pintu kereta, dan sejenisnya.Menjelang lebaran tahun ini objek-objek yang “seksi” di mata wartawanfoto itu tiba-tiba lenyap bak ditelan bumi. Tidak ada lagi desakan,himpitan, gencetan, dan jenis penderitaan lain yang menarik untukdifoto. Para wartawan pun banyak yang terlihat duduk hanya menunggumomentum. Dan yang ditunggu tidak kunjung terlihat.Maka dengan isengnya, seorang petugas stasiun mengirimkan foto keHP saya. Rupanya dia baru saja memotret kejadian yang menarik:seorang wartawan yang karena tidak mendapatkan objek yang menarik,memilih memotret akuarium yang ada di stasiun. Foto “wartawanmemotret” itu pun dia beri teks begini: tidak ada objek foto, wartawanpun memotret akuarium!Seorang penumpang jurusan Malang, yang sehari sebelumnya ikutupacara HUT Kemerdekaan RI di kantornya, mengirimkan SMS ke saya:seumur hidup mudik lebaran, baru lebaran tahun ini saya merasakankemerdekaan!Tentu, saya merasa tidak layak mendapat SMS pujian setinggi langitseperti itu. SMS itu pun segera saya forward ke Direktur Utama PTKereta Api Indonesia (PT KAI) Ignasius Jonan. Jonanlah (dan seluruh jajaran direksi dan karyawan kereta api) yang lebih berhak mendapatpujian itu.
 
Banyak sekali SMS dengan nada yang sama. Semua saya forward keJonan. Pak Dirut pun menyebarkannya ke seluruh jajaran kerata api dibawahnya.Keesokan harinya memang terlihat tidak satu pun koran memuat fotoutama mengenai keruwetan di stasiun kereta api. Harian Kompasbahkan menurunkan tulisan panjang di halaman depan: memberikanpujian yang luar biasa atas kinerja kereta api tahun ini. Banyak pembacamengirimkan versi online tulisan di Kompas itu itu ke email saya,khawatir saya tidak membacanya.Tentu saya sudah membacanya. Dan meski saya pun tahu Jonan pastisudah pula membacanya, tetap saja saya emailkan juga kepadanya.Beberapa hari kemudian, Kompas kembali mengapresiasi kerja kerasitu. Sosok Jonan, ahli keuangan lulusan Harvard USA itu, ditampilkannyaris setengah halaman.Di hari yang sama, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia,Tulus Abadi, menulis artikel panjang di Suara Pembaruan: juga memujiperbaikan layanan KAI belakangan ini.Membenahi kereta api, saya tahu, bukan perkara yang mudah. Jonansendiri sebenarnya “kurang waras”. Betapa enak dia jadi eksekutif bankAmerika, Citi, dengan ruang AC dan fasilitas yang menggiurkan.Di BUMN awalnya dia memimpin BUMN jasa keuangan PT Bahana. Kinidia pilih berpanas-panas naik KA dari satu stasiun ke stasiun lainnya.Dekat dan jauh. Besar dan kecil. Dia benahi satu per satu. Mulailayanan, kebersihan, dan perkara-perkara teknis.Padahal membenahi kereta api itu musuhnya banyak dan lengkap: luar,dalam, atas, bawah, kiri, kanan, muka, belakang. Bahkan kanan-luardan kiri-luar.Kanan dalam dan kiri dalam. Bisa saja terjadi, gawangnya jebol bukankarena hebatnya serangan bola dari musuh, tapi karena barisanbelakang kereta apinya yang bikin gol sendiri.
 
Tapi sorak-sorai supporter yang menginginkan kereta api terus bisamencetak gol tidak henti-hentinya bergema. Para penyerang di barisandepan kereta api pun tidak lelah-lelahnya membuat gol.Membuat gol sekali, kebobolan gol sekali. Membuat lagi gol dua kali,kebobolan gol lagi sekali. Tapi gol-gol berikutnya lebih banyak yangdibuat daripada yang masuk ke gawang sendiri.Jonan, sebagai kapten tim kereta api terus memberi umpan ke depansambil lari ke muka dan ke belakang. Untung badannya kecil dan kurussehingga larinya lincah. Untung gizinya baik sehingga tidak perluminggir untuk minum. Untung (meski si kapten kadang main kayu dannada teriaknya kasar), wasitnya tidak melihat, atau pura-pura tidakmelihat.Kalau saja timnya tidak bisa bikin banyak gol, pastilah dia sudah terkenakartu merah: baik karena tackling-nya yang keras maupun teriakan-teriakannya yang sering melanggar etika bermain bola.Saya tahu Jonan orang yang tegas, lurus, dan agak kosro (saya tidakakan menerjemahkan bahasa Surabaya yang satu itu, karena Jonanadalah arek Suroboyo). Tapi dalam periode sekarang ini kereta apimemang memerlukan komandan yang seperti itu. Saya kagum denganMenteri BUMN Sofyan Djalil, kok dulu bisa menemukan orang unikseperti Jonan.Untuk menggambarkan secara jelas sosok orang yang satu ini, mottomajalah Tempo “enak dibaca dan perlu” bisa dikutip, tapi harusdimodifikasi sedikit: “menyebalkan dilihat dan perlu”.Tapi kereta api memang memerlukan orang yang “menyebalkan” sepertiJonan. Dia menyebalkan seluruh perokok, karena sejak awal tahun inidia melarang merokok di kereta api. Bahkan di kelas ekonomi yang tidakber AC sekali pun! Bayangkan betapa besar gejolak dan resistensi yangtimbul. Sesekali Jonan hanya kirim SMS ke saya. “Pak Dis, iniditeruskan atau tidak?”. Jawaban saya pun biasanya pendek saja:Teruuuuus!

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->