Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ALIRAN ilmu kalam

ALIRAN ilmu kalam

Ratings: (0)|Views: 47 |Likes:
Published by Fauzy Nurcholis

More info:

Published by: Fauzy Nurcholis on Dec 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/27/2013

pdf

text

original

 
ALIRAN ASY ‘ARIYAH DAN MATURIDIYAH
1.
 
PERKEMBANGAN ALIRAN AL-
ASY’ARIAH
 
A.
 
Aliran Asy’Ariah
 
Kaum Asy‟Ariah adalah aliran sinkretis yang berusaha
mengambil sikap tengah-tengah
antara dua kutub akal dan naql, antara kaum salaf dan mu‟tazilah.
Titik tengah yang sebenarnya,
selamanya, tidak jelas dan tak terbataskan. Asy‟ariyah adalah aliran kalam yang dinisbatkan
kepada Abu Mansur al-Maturidi yang berpijak kepada Abu al Hasan yang berdasarkanpengakuan secara teoritis pertama berdasarkan naqli atau wahyu yang terdiri dari Al Qur`an dan
Al Hadits Al Mutawatir, dan kedua berdasarkan akal. Tujuan dari gerakan Asy‟ariyah samadengan aliran maturidiyah adalah sebagai reaksi terhadap aliran mu‟tazilah yang dianggap tidak 
sesuai dengan kaidah yang benar menurut akal dan syara.
Kaum asy‟ ariah benar 
-
 benar banyak mengambil pendapat mu‟tazilah, yang kemudian
diramu dengan pendapat-
 pendapat kaum salaf. Sebagai contoh, bias dikatakan bahwa mu‟tazilahdan kaum asy‟ ariah walaupun diantara mereka ada unsure per 
musuhan pada abad kelimahijriyah bertemu dalam arti tertentu. Misalnya, imam al-haramain mengambil walaupun
terkadang dari mu‟tazilah teori al
-ahwal. Al-qhadi abd al-jabbar mengambil teori sifat-sifatAllah, dari orang-
orang asy‟ ariah, dan nyaris meneguhkan teori ini seperti kaum asy‟ariah
sendiri. ( Madkour, 1995:63)B.
 
Sejarah Munculnya Aliran Asy’ariyah
 Gerakan al-
asy‟ariah mulai pada abad ke
-4 H. aliran ini terlibat dalam konflik dengankelompok-
kelompok lain, khususnya Mu‟tazilah. Dalam konfl
ik keras ini, al Baqillanimemberikan andil besar, ia dinggap sebagai pendiri kedua bagi aliran al-
asy‟ariah. Permusuhan
ini mencapai puncaknya pada abad ke-5 H atas perakarsa al-Kundari ( 456 H ), yang membela
Mu‟tazilah. Ia mengobarkan fitnah yang berl
ansun selama 10 tahun dan menyebabkan imam al-
Haramain pindah ke Hijaz. Kemudian kaum asy‟ariah berhasil meraih kesuksesan kembali pada
tahun 484 H. pendapat-pendapat mereka pada abad ke-6 H kira-kira menjadi mazhabsatu-satunyadan akidah yang resmibagi daulah sunni.(Madkour, 1995:65)
C.
 
Metode Asy’ariah
 
 
Mazhab asy‟ariah bertumpuh pada Al
-
Qura‟an dan Al
-Sunnah. Mereka amat teguhmemenggangi Al-
Ma‟sur. Al
-
Asy‟ari mengatakan: “pendapat yang kami ketengahkan dan aqidah
yang kami pegangi adalah sikap berpegang teguh kepada kitab Allah, sunnah nabinya SAW dan
apa yang diriwayatkan oleh sahabat, tabi‟in dan imam
-imam hadis. Kami mendukung semua itu,kami mendukung pendapat Ahmad Bin Hambal, semoga Allah mencerahkan wajahnya,mengangkat derajatnya dan meneguhkan kedudukannya. Sebaliknya kami menjauhi orang-orang
yang menyalahi pendapatnya” (Madkour, 1995:66)
 
Asy‟ariah memasukkan semua penyebab horizontal ke dalam penyebab vertical, yakni
kehendak Tuhan. Dengan demikian cara menyederhanakan alam semesta menjadi sejumlah atomyang bergerak dalam waktu dan ruang yang diskontinu di dunia, disini berarti tidak adasesuatupun yang memiliki sifat-
sifat khusus. Tidak mengherankan bila kemudian Asy‟ariah
menjadi bertentangan dengan filsafat islam, yang mencoba mengenalkan penyebab segalasesuatu akhirnya mengarah pada Penyebab Tertinggi. ( Nasr, 1996, 14 )
D.
 
Teori ketuhanan
 
Pemaparan ini akan menjelaskan bagaimana kaum asy‟ariah memegangi benar pendapat
guru mereka, disamping mengungkapkan berbagai aspek yang mereka usahaakan untuk ditonjolkan. Kita tidakakan pernah bisa mengulas semua kaum asy ariah disepanjang fase sejarahmereka. Untuk itu kita cukup menjelaskan tokoh-tokoh besar mereka, juga orang-orng yangmemepunyai andil besar dalam menyebarluaskan danmemperkuat mazhab ini.a.
 
Abu al Hasan al Asy`ary dan Mu`tazilahPada mulanya, selama hampir 40 tahun, beliau menjadi penganut Mu`tazilah yangsetiamengikuti gurunya seorang tokoh Mu`tazilah yang juga ayah tirinya. Dengan hidayah Allahsetelah beliau banyak merenungkan ayat-ayat Al Qur`an danhadits-hadits Rasulullah, beliaumulai meragukan terhadap ajaran Mu`tazilah. Apalagi setelah dialog yang terkenal denganpertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawaboleh Abu `Ali al Jubba`i dan setelah mimpibeliau bertemu dengan Rasulullah, beliausecara tegas keluar dari Mu`tazilah.Inti ajaran faham Mu`tazilah adalah dasar keyakinan harus bersumber kepada suatuyangqath`i dan sesuatu yang qath`i harus sesuatu yang masuk akal (rasional). Itulahsebabnya makakaum Mu`tazilah menolak ajaran Al-Qur`an apalagi as Sunnah yangtidak sesuai dengan akal(yang tidak rasional). Sebagaimana penolakan mereka terhadapmu`jizat para nabi, adanya
 
malaikat, jin dan tidak percaya adanya takdir. Merekaberpendapat bahwa sunnatullah tidak mungkin dapat berubah, sesuai dengan firmanAllah:
“Tidak akan ada perubahan dalamsunnatullah” 
(Al Ahzab:62; lihat jugaFathir:43 dan Al Fath:23).Itulah sebabnya mereka tidak percaya adanya mu`jizat, yang dianggapnya tidakrasional.Menurut mereka bila benar ada mu`jizat berarti Allah telah melangar sunnah-Nya sendiri.Sudahtentu pendapat seperti ini bertentangan dengan apa yang dikajinya darial Qur`an dan as Sunnah.Bukankah Allah menyatakan bahwa:
“(Allah) melakukan segala apa yang Dia kehendaki 
” (Hud
: 107).Untuk kehidupan manusia Allah telah memberikan hukum yang dinamakansunnatullahdan bersifat tetap. Tetapi bagi Allah berlaku hukum pengecualian, karenasifat-Nya sebagaiPencipta yang Maha Kuasa. Allah adalah Penguasa mutlak. Hukumyang berlaku bagi manusia jelas berbeda dengan hukum yang berlaku bagi Allah.Bukankah Allah dalam mencipta segalasesuatu tidak melalui hukum sunnatullah yangberlaku bagi kehidupan manusia ? Allah telahmenciptakan sesuatu yang tidak adamenjadi ada, menciptakan dari suatu benda mati menjadibenda hidup. Adakah yangdilakukan Allah dapat dinilai secara rasional ?Salah satu dialog beliaudengan Abu Ali Al Jubba`i yang terkenal adalah mengenai,apakah perbuatan Allah dapatdiketahui hikmahnya atau di ta`lilkan atau tidak. FahamMu`tazilah berpendapat bahwa perbuatanAllah dapat dita`lilkan dan diuraikanhikmahnya. Sedangkan menurut pendapat Ahlus Sunnahtidak. Berikut ini dialog antaraAbu Al Hasan dengan Abu Ali al Jubba`i:
 A :“Bagaimana kedudukan orang mukmin dan orang kafir menurut tuan?”
 
 B :“Orang mukmin mendapat tingkat tinggi di dalam surga karena imannya danorang kafir masuk ke dalam neraka”.
 
 A :“Bagaimana dengan anak kecil?”
 
 B :“Anak kecil tidak akan masuk neraka”.
 
 A :“Dapatkah anak kecil mendapatkan tingkat yang tinggi seperti orang mukmin?”
 
 B :“Tidak, karena tidak pernah berbuat baik”.
 
 A :“Kalau demikian anak kecil itu akan memprotes Allah kenapa ia tidak diberi umur panjang untuk berbuat kebaikan”.
 
 B :“Allah akan menjawab, kalau Aku biarkan engkau hidup, engkau akan berbuat 
 
kejahatan atau kekafiran sehingga engkau tidak akan selamat”.
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->