Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Objektivitas Dan Subjektivitas Dalam Penulisan Sejarah

Objektivitas Dan Subjektivitas Dalam Penulisan Sejarah

Ratings: (0)|Views: 54 |Likes:
Published by binbinadi

More info:

Published by: binbinadi on Dec 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/07/2013

pdf

text

original

 
OBJEKTIVITAS DANSUBJEKTIVITAS DALAM PENULISANSEJARAH
Oleh
LALU MURDIA.
 
Makna Obyektivitas dan Subyektivitas dalamPenulisan Sejarah
Dalam sebuah kuliah umum di Hotel Grage Yogyakarta,
Prof.Dr.Bmbang Purwanto
mengatakan bahwa subyektifitasdalam penulisan sejarah selalu hadir, karena penulis sejarah(sejarawan) tidak akan mampu mengungkapkan peristiwa sejarah yang begitu komleks yang pernah terjadi pada masa lampau,hanyalah bagian kecil dari peristiwa yang dilakukan oleh manusiatersebut dapat teridentifikasi oleh penulisan sejarah. Karenamerupakan hasil rekonstruksi dan bukan aslinya maka sejarahdikatakan subjektif. Adapun sejarah yang obyektif sepertikesepakatan dari sejarawan adalah adalah apa yang sebenrnyaterjadi atau peristiwanya itu sendiri dan tidak bisa terulanglagi, dengan demikian untuk mendapatkannya sejarawanmemerlukan dokumen, wawancara (sejarah lisan) danpengungkapan kembali tradisi lisan untuk masa prasejarah.Setiap pengungkapan atau atau penganggapan telah
melewati proses “
 pengolahan 
” dalam pikiran dan angan
-anganseorang subjek. Kejadian sebagai sejarah dalam arti objektifatau aktualitas di amati, dialami, atau dimasukkan ke pikiran
subjek sebagai persepsi, sudah barang tentu sebagai „masukan”
tidak akan pernah tetap murni atau jernih sebagai
Ding an sich 
 (benda tersendiri)
tetapi telah diberi “
warna 
” atau “
rasa 
sesuai dengan “
kacamata 
” atau “
selera 
” subjek (Srtono
Kartodirdjo, 1992: 62).Walaupun pada dasarnya perasangka dalam arti subyektifindividu tidak pernah lepas namun yang tidak diinginkan adalahadalanya perasangka yang ekstrim, dalam artian perasaan suka-tidak suka, senang-tidak senangharis di hindari, kesimpulan atau
 
penjelasan ilmiah harus mengacu hanya pada fakta yang ada,sehingga setiap orang dapat melihatnya secara sama pula tanpamelibatkan perasaan peribadi yang ada pada saat itu (UharSuharsaputra, 2004: 49). Artinya bahwa dalam penulisan ilmiahprasangka memang ada namun kecendrungan untuk suka-tidaksuka yang ditunjukkan untuk menggambarkan sesuatu misalnyaadalah suatu kesalahan.Sejalan dengan itu berbicara tentang sikap atau pendangansuatu bangsa sudah barang tentu hal itu dihubungkan dengankonteks kebudayaan masyarakatnya, yaitu ikatan kulturalnya.Umum mengetahui bahwa individu dijadikan anggota masyarakatlewat proses sosialisasi atau enkulturasi, suatu proses yangmembudidayakan pada diri individu serta membentuk seluruhpikiran. Perasaan, dan kemauannya dengan menolaknya menurutstruktur ideasional, estetis, dan etis yang berlaku dalammasyarakat. Kesemuanya perlu melembaga dalam diri individu,sehingga tidak berlebihan apabila dia ada dalam keterikatanpada kebudayaannya. akibatnya ialah bahwa ada padanyasubyektivitas kultural yang sangat mempengaruhi pandangannyaterhadap sejarah (Kartodirdjo, 1992: 63-64).Lebih lanjut dikatakan bahwa subjektivitas kultural telahmencakup subjektivitas waktu atau zaman oleh karenakebudayaan bereksistensi dalam waktu tertentu.Dalam banyakkarya sejarah subyektivitas zaman disebut tersendiri, bahkansering dipakai pula istilah jiwa zaman atau
Zeitgeist 
. Pengertian yang sangat abstrak ini menunjuk pada suasana atau iklimmentral yang dominan pada suatu waktu dan berpengaruh padasegala macam manifestasi gaya hidup masyarakat, antara lainmaterialistis atau idealistis, tredisionalistis atau moderinistis,religious atau sekuler, dan lain sebagainya (Sartono Kartodirdjo,1992: 64). Pandangan ini memberikan wawasan pada kita bahwapada dasarnya dalam penulisan sejarah bukan untuk masalampaunya, akan tetapi untuk masyarakat yang sejaman untukmemahami masa lalu tersebut dan untuk generasi yang akandatang yang mungkin dengan pengaruh nilai yang berbeda akanberbeda pula dalam menapsirkan masa lalu yang sama. Namunbagaimanapun seorang sejarawan supaya tidak terjadi
antikuarian 
dalam istilah Sartono, maka pemahaman jiwa zaman
 
 yang di lalui oleh pelaku dan peristiwa zamannya harus di pahamidengan benar.Subjektivitas waktu akan terasa amat sulit untuk diatasi,terutama dalam usaha menggarap sejarah kontemporer (masakini). Jarak waktu yang amat dekat membuat perspektif sejarahkurang jelas dan kabur, terutama karena orang belum dapatmembuat distansi dengan peristiwa yang hendak ditulis.Keterlibatan penulis sendiri secara langsung masih besar. Masihbanyak pelaku yang masih hidup atau sanak saudaranya, dan lainsebagainya. Lagi pula, banyhak dokumen belum terbuka untuk diteliti. Penafsiran mudah tercampur dengan pandangan partisan yang mengakibatkan kesepihakan. Sering pula pandangan sertainterpretasi bertentangan dengan versi pihak yang sedangberkuasa (
establishment 
). Secara mudah subjektivitasmemasuki penulisan sejarah (Kartodirdjo, 1992: 64-65). Bukanhanya itu, ada juga kesalahan sejarawan yang menganggappendapat prinadi sebagai fakta. Sejarawan yang melihatpendapat dan kesenangan pribadi berlaku umum dan sebagaifakta sejarah. Misalnya pada tahun 1910-an di Surakarta adawanita yang pandai memainkan musik barat, prestasi pribadisemacam itu tidaklah dapat dianggap sebagai bukti bahwa padazaman itu sudah pandai memainkan musik. Inilah contohSubjektivitas pembenaran oleh pandangan pribadi (Kuntowijoyo,2005: 172-173).Memang secara transparan kita bisa melihatnya pada karya-karya sejarah yang banyak di keritisi pada zaman reformasi ini,sebut saja sejarah national indinesia terutama jilid VI banyakmendapatkan keritikan karena di dalamnya hanya membenarkanpihak yang berkuasa, dan sekaligus menunjukkan satu dominasidalam sejarah kemerdekaan Indonesia adalah pihak militer, danapapun yang dilakukan oleh Negara adalah suatu kebenaranmutlak. Dengan demikian dalam kaitan ini perlu dicatat bahwapenulisan sejarah yang dilakukan atas perintah penguasa tidakmudah menghindari subjektivitas tertentu. Dalam hal inimungkin akan condong pada sejarah yang berbau polotik,sedangkan penulisan sejarah kebudayaan misalnya yang secaralokal tidak akan tereduksi oleh pembenaran sepihak daripesanan penguasa karena merupakan gambaran dari masyarakat

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->